
Romansa Terlarang Dengan Ibu Tiri
mamiekbobo|Bersambung
- Jumlah kata
- 173.2K
- Popular
- 2.2K
- Subscribe
- 446
- Jumlah kata
- 173.2K
- Popular
- 2.2K
- Subscribe
- 446
Sinopsis
Di balik kemegahan dinasti Manggala, Yudistira terjebak dalam pusaran gairah berbahaya dengan Adiratna, ibu tirinya yang mempesona namun terasing. Hubungan terlarang ini bukan sekadar romansa, melainkan perlawanan terhadap dominasi kejam sang ayah, Prayoga. Saat rahasia mereka terancam, pelarian berdarah membawa mereka dari hutan perbatasan hingga ke jantung kekuasaan Jakarta. Di tengah pengkhianatan dan intrik korporasi, Yudistira harus memilih: menghancurkan nama keluarganya atau kehilangan wanita yang ia cintai. Sebuah kisah tentang cinta yang menentang norma, perebutan tahta, dan penebusan dosa di bawah bayang-bayang singgasana yang mulai runtuh.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1. Benang Merah yang Menjerat
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, seolah ingin mencuci bersih dosa-dosa yang tersembunyi di balik dinding marmer kediaman Manggala. Di dalam ruang kerja yang remang-remang, Yudistira Manggala berdiri mematung di depan jendela besar, dengan tatapan kosong.
Rahangnya mengeras, memperlihatkan gurat kemarahan yang tertahan. Pemuda berusia dua puluh satu tahun itu baru saja kembali dari kampusnya, hanya untuk menemukan aroma parfum mawar yang menyengat di ruang pribadinya, aroma yang ia benci. Aroma milik Adiratna Rinjani, ibu tirinya. Umurnya hampir memasuki tiga puluh tahun, di fase kematangan jiwa dan energi biologisnya yang membara, ia tidak bisa hanya menunggu suaminya, Prayoga Manggala yang selalu sibuk dengan dunia bisnisnya.
"Keluar dari sini, Ratna," suara Yudistira rendah, hampir menyerupai geraman. Ia mengepalkan kedua tangannya dan menekankannya di atas meja. Rahangnya berdecit menahan geram.
Di belakangnya, seorang wanita cantik dengan gaun tidur sutra berwarna merah marun duduk dengan anggun di tepi meja kerja jati milik Prayoga Manggala. Adiratna, yang baru dinikahi ayahnya enam bulan lalu, tidak tampak terusir. Malah, ia menyilangkan kakinya dengan perlahan, membiarkan kain sutra itu tersingkap sedikit, memperlihatkan kulit porselennya yang kontras dengan kegelapan ruangan.
"Sopan santunmu ke mana, Sayang? Aku ini ibumu sekarang," ucap Adiratna dengan nada bicara yang manis namun beracun. Ia memutar-mutar sebuah pulpen mahal milik Prayoga di antara jemari lenturnya, sambil terus memandang Yudistira dari belakang.
Yudistira berbalik, matanya berkilat penuh kebencian. "Kau bukan ibuku. Kau hanya wanita pemuas yang kebetulan berhasil meyakinkan ayahku untuk memasang cincin di jarimu. Jangan pernah menginjakkan kaki di ruangan ini lagi."
Adiratna tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting gelas kristal yang pecah. Ia berdiri, berjalan mendekati Yudistira dengan langkah yang pelan dan penuh perhitungan. Setiap langkahnya seolah-olah sedang menabur benih ketegangan di udara. Yudistira tidak mundur; ia menolak untuk terlihat lemah di depan wanita yang ia anggap sebagai parasit ini. Ibu tiri yang ia anggap hanya mau mengeruk harta ayahnya yang ada dimana-mana.
"Ayahmu sedang di Singapura untuk urusan bisnis selama seminggu ke depan," bisik Adiratna saat jarak mereka hanya tersisa beberapa inci. Ia mendongak, menatap tajam mata Yudistira. "Rumah ini terlalu besar untuk kita berdua saling membenci, Yudis. Tidakkah kau merasa kesepian di kamar dingin ini? Tidak ada teman bicara itu membosankan, bukan? Di sini hanya ada aku yang siap untuk kamu mengadu, tentang masalah di kampus, atau mungkin tentang masalah dengan pacarmu?"
"Aku tidak punya pacar. Jangan coba-coba menggodaku, Ratna," ancam Yudistira, tangannya mengepal di samping tubuhnya. "Aku tahu permainanmu. Kau ingin menghancurkan keluarga ini dari dalam setelah kau menguras harta Ayah, bukan? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak akan pernah terjadi."
Adiratna justru tersenyum lebar. Ia mengangkat tangan kanannya, mencoba merapikan kerah kemeja Yudistira yang sedikit berantakan. Yudistira dengan kasar menepis tangan itu, namun Adiratna tidak menyerah. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, ia justru menarik kerah kemeja Yudistira, sedikit keras, tapi tetap lembut, memaksa pemuda itu untuk menunduk sejajar dengannya.
"Kau sangat mirip dengan Prayoga saat dia masih muda," bisik Adiratna, napasnya yang hangat menerpa wajah Yudistira. "Keras kepala, penuh amarah, dan... sangat menarik. Tapi bedanya, Prayoga sudah tua dan membosankan. Dia hanya peduli pada angka di bursa saham. Sedangkan kau? Aku melihat api di matamu, Yudis. Api yang bisa membakar kita berdua."
Adiratna dengan senyum lebar dan kerlingan matanya, sengaja menggoda anak tirinya untuk tunduk padanya. Ia masih melihat kebencian di mata Yudistira, tapi ia juga merasakan ada sedikit guncangan di jantung si anak tiri, bukan karena ketakutan tapi karena bara api yang mulai tersulut.
"Kau gila," desis Yudistira. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena kasih sayang, melainkan karena kombinasi antara kemarahan yang meluap dan insting purba yang mencoba ia tekan sekuat tenaga.
Adiratna melepaskan kerah kemejanya, lalu berjalan mundur menuju pintu, namun pandangannya tetap mengunci mata Yudistira. "Mungkin aku gila. Tapi gila itu menyenangkan, bukan? Percayalah, suatu saat kamu akan menikmati kegilaan itu. Oh, satu lagi... jangan lupa minum susu hangat yang kubuatkan di meja makan. Aku tahu kau sulit tidur sejak ibumu pergi."
"Aku tidak akan menyentuh apa pun yang berasal darimu!" teriak Yudistira saat Adiratna sudah berada di ambang pintu.
Wanita itu hanya menoleh sedikit, dengan penuh percaya diri ia memberikan kerlingan nakal yang membuat darah Yudistira mendidih. "Kita lihat saja, Yudistira. Pada akhirnya, semua orang di rumah ini akan berlutut padaku. Termasuk kau." Adiratna berlalu meninggalkan kesan menggoda di jantung Yudistira yang kini masih berdegup kencang.
Pintu tertutup dengan suara pelan yang terasa seperti dentuman di telinga Yudistira. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Sial. Mengapa wanita itu begitu percaya diri? Mengapa ayahnya bisa begitu buta hingga membawa ular seperti Adiratna ke dalam rumah mereka?
Yudistira melirik ke arah meja kerja. Di sana, terletak sebuah amplop cokelat yang dibawa Adiratna tadi. Dengan ragu, ia membukanya. Isinya adalah foto-foto lama milik ibunya yang seharusnya sudah disimpan di gudang. Di bawah tumpukan foto itu, ada sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang rapi:
Beberapa kenangan memang manis, tapi masa depan bersamaku akan jauh lebih manis dan menggairahkan. Sampai jumpa di sarapan besok pagi, Anakku sayang.
Yudistira meremas kertas itu hingga bentuknya hancur. Ia tahu ini baru permulaan. Adiratna bukan sekadar ibu tiri yang genit; dia adalah predator yang sedang memainkan mangsanya. Dan malam ini, Yudistira sadar bahwa dinding pertahanan yang ia bangun selama ini mulai menunjukkan retakan kecil yang berbahaya. Ia mencoba mematahkan pikirannya yang memungkinkan untuk tergoda oleh wanita predator itu. Ia mengusap mukanya, berharap agar bisa mengalihkan fokus pada hal lain, tapi kerlingan nakal Adiratna terus menggodanya.
Kegelapan malam di luar sana seolah setuju, dengan petir yang menyambar, menandai dimulainya permainan kucing dan tikus yang akan mengubah hidupnya selamanya. Ia membayangkan kalau ayahnya sampai tahu, istrinya yang baru dinikahinya, mulai menggoda pria lain, yaitu anaknya sendiri. Yudistira mengusap mukanya berkali-kali, berharap kemungkinan itu tidak akan pernah terjadi. Ia mencoba mengingat Siska, teman kampus yang sedang mencoba mendekati Yudistira.
"Kalau aku dekat dengan Siska, Adiratna tidak akan menggodaku. Baiklah, besok aku akan dekati Siska." gumam Yudistira pada diri sendiri, memaksa diri untuk menerima Siska yang selama ini ia tolak mentah-mentah, tanpa berpikir kemungkinan Siska akan balik menolaknya karena sakit hati berkali-kali ditolak oleh Yudistira. Tapi di satu menit kemudian ia sadar akan kemungkinan itu, seketika ia membatalkan rencana mendekati Siska.
Yudistira ingat Sania, satu lagi teman wanita yang lain yang ditunjukkan oleh Aldy, teman sekelas. "Pendekatan ke Siska batal, takut tertolak, dan pendekatan Sania, besok pagi dimulai." bisik Yudistira sambil tersenyum seolah ia menemukan jalan untuk memecahkan masalahnya.
Daftar bab
148 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
148 bab








