Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Menangis Tanpa Bersuara

Menangis Tanpa Bersuara

Lyca Wu | Bersambung
Jumlah kata
98.3K
Popular
216
Subscribe
71
Novel / Menangis Tanpa Bersuara
Menangis Tanpa Bersuara

Menangis Tanpa Bersuara

Lyca Wu| Bersambung
Jumlah Kata
98.3K
Popular
216
Subscribe
71
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeMengubah Nasib21+
Di balik gemerlap kota yang tampak hidup, Arga menjalani hari-hari yang perlahan terasa semakin hampa. Ia bukan hanya kehilangan ibunya—ia juga kehilangan arah hidupnya sendiri. Duka yang awalnya hanya terasa seperti kesedihan, perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap: kehampaan yang menekan, kecemasan yang mencekik, dan pikiran-pikiran yang tak bisa ia kendalikan. Konflik mental Arga semakin memburuk ketika ia mulai mengalami depresi berat. Ia kehilangan minat pada segala hal yang dulu ia sukai. Di sisi lain, kehadiran Nara menjadi satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Nara, yang perlahan memahami kondisi Arga, mencoba mendekatinya dengan empati. Ia menyadari bahwa ini bukan sekadar kesedihan biasa—ini adalah luka psikologis yang dalam. Ia mencoba mengajak Arga untuk mencari bantuan profesional, tetapi Arga menolak keras. Baginya, meminta bantuan adalah tanda kelemahan—sesuatu yang sejak kecil diajarkan untuk dihindari. akankah Arga mampu bangkit kembali?
Bab 1: Malam yang Tidak Pernah Benar-Benar Sepi

Hujan turun tanpa jeda, seperti langit yang tidak tahu kapan harus berhenti menangis.

Lampu-lampu jalan memantul di permukaan aspal yang basah, menciptakan kilauan yang samar, seolah kota ini sedang berpura-pura indah. Di antara suara kendaraan yang melintas dan gemuruh hujan yang menghantam trotoar, duduk seorang lelaki di bangku taman yang dingin—Arga.

Tubuhnya basah kuyup. Jaket yang ia kenakan sudah tidak lagi mampu menahan dingin. Air hujan merembes masuk, menempel di kulitnya, namun ia tidak bergerak. Tidak menghindar. Tidak berlindung.

Seolah-olah ia memang pantas berada di sana.

Kedua tangannya menutup wajahnya. Bahunya bergetar pelan. Ia menangis.

Tapi tidak ada suara.

Tangisnya tertelan oleh hujan.

Napasnya tidak teratur—tersengal, terpotong-potong, seperti seseorang yang baru saja berlari jauh, padahal ia tidak ke mana-mana. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Jantungnya berdetak terlalu cepat, terlalu keras.

“Aku… capek…”

Kalimat itu hampir keluar, tapi berhenti di tenggorokan. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang perlu mendengar.

Arga sudah terlalu terbiasa diam.

Hari itu seharusnya berjalan seperti biasa.

Bangun pagi. Berangkat kerja. Duduk di depan layar komputer selama berjam-jam. Menatap angka-angka, laporan, dan email yang tidak ada habisnya. Menjawab seperlunya. Berbicara seperlunya. Hidup seperlunya.

Tapi sesuatu berubah.

Atau mungkin, sesuatu akhirnya pecah.

Semua dimulai dari hal kecil—sebuah kesalahan dalam laporan yang ia kirim. Hal yang sebenarnya bisa diperbaiki dengan cepat. Hal yang bagi orang lain mungkin hanya sekadar kelalaian biasa.

Namun bagi Arga, itu seperti vonis.

“Aku memang bodoh.”

Pikirannya langsung menyerang, tanpa ampun.

“Aku selalu bikin masalah.”

“Kenapa aku nggak bisa benar sedikit saja?”

Suara itu muncul begitu saja. Tidak keras, tapi cukup untuk menguasai seluruh ruang di kepalanya. Ia mencoba fokus kembali, tapi huruf-huruf di layar mulai terlihat kabur. Tangannya gemetar saat mengetik.

Salah lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Seolah-olah semakin ia berusaha memperbaiki, semakin ia membuktikan bahwa ia tidak mampu.

“Arga, ini bisa kamu revisi sekarang?”

Suara atasannya terdengar biasa saja. Netral. Tidak marah.

Tapi di telinga Arga, itu terdengar seperti kekecewaan yang disembunyikan.

Ia mengangguk cepat, meskipun matanya tidak berani menatap. Tenggorokannya kering.

“Iya, Pak.”

Singkat. Seperti biasa.

Selalu seperti itu.

Siang hari menjadi semakin berat.

Ruang kantor terasa lebih sempit dari biasanya. Suara keyboard rekan kerja terdengar terlalu keras. Tawa kecil di sudut ruangan terasa mengganggu. Bahkan suara AC yang berdesis pelan terasa seperti tekanan tambahan di kepalanya.

Arga mulai kesulitan bernapas.

Awalnya pelan. Lalu semakin cepat.

Dadanya naik turun dengan ritme yang tidak teratur. Tangannya terasa dingin. Keringat muncul di telapak tangan, meskipun ruangan cukup sejuk.

“Aku kenapa…”

Ia menunduk, mencoba menenangkan diri.

Tapi pikirannya justru semakin kacau.

“Semua orang lihat aku gagal.”

“Mereka pasti sadar aku nggak kompeten.”

“Aku bakal dipecat.”

Napasnya semakin pendek.

Pandangan mulai berputar.

Suara-suara di sekitarnya menjadi jauh, seperti datang dari tempat lain.

Arga berdiri tiba-tiba.

Kursinya bergeser, menimbulkan suara yang cukup keras. Beberapa orang menoleh. Ia tidak peduli. Ia tidak bisa peduli.

Ia berjalan cepat ke arah toilet.

Atau setidaknya, mencoba.

Langkahnya tidak stabil. Kakinya terasa lemas. Seperti kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya sendiri.

Begitu sampai di dalam toilet, ia langsung mengunci pintu.

Dan saat itu juga—

Ia jatuh.

Duduk di lantai dingin, bersandar pada pintu, dengan napas yang hampir tidak bisa ia kendalikan.

“Tarik napas… tarik napas…”

Ia mencoba.

Gagal.

Udara terasa tidak cukup.

Seolah-olah ruangan itu menyempit.

Tangannya mencengkeram dadanya.

Sakit.

Bukan sakit fisik yang jelas, tapi sesuatu yang dalam. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Air mata mulai mengalir.

Lagi.

Tanpa suara.

Butuh waktu hampir dua puluh menit sampai Arga bisa berdiri lagi.

Wajahnya pucat. Matanya merah. Rambutnya sedikit berantakan.

Ia menatap dirinya di cermin.

Siapa ini?

Lelaki di depannya terlihat seperti orang asing. Wajahnya lelah. Matanya kosong. Tidak ada kehidupan di sana.

“Aku harus balik kerja.”

Tapi kakinya tidak bergerak.

Ia tidak sanggup.

Akhirnya, tanpa banyak pikir, Arga mengambil tasnya dan pergi.

Tanpa pamit.

Tanpa alasan.

Langit sudah gelap saat ia sampai di taman.

Hujan mulai turun perlahan.

Tempat itu sepi. Hanya ada beberapa lampu jalan dan suara kendaraan dari kejauhan.

Arga duduk di bangku yang sama seperti biasanya.

Ia tidak tahu kenapa selalu kembali ke sini.

Mungkin karena di sini, tidak ada yang mengenalnya.

Tidak ada yang bertanya.

Tidak ada yang peduli.

Dan itu… terasa aman.

Hujan semakin deras.

Air mulai membasahi pakaiannya.

Tapi Arga tetap diam.

Ia membiarkan dirinya basah.

Membiarkan dingin meresap.

Membiarkan semuanya terjadi.

Karena untuk pertama kalinya hari itu—

Ia tidak ingin melawan.

Pikirannya kembali berisik.

Selalu seperti itu saat ia sendirian.

“Aku gagal hari ini.”

“Aku selalu gagal.”

“Kenapa aku masih ada?”

Kalimat itu muncul tiba-tiba.

Dan membuatnya membeku.

Kenapa aku masih ada?

Pertanyaan itu tidak terasa seperti sekadar pikiran.

Lebih seperti… dorongan.

Halus.

Tapi berbahaya.

Arga menunduk lebih dalam.

Tangannya kembali menutup wajahnya.

Air mata mengalir lebih deras.

Ia tidak ingin mati.

Ia tahu itu.

Tapi…

Ia juga tidak ingin merasa seperti ini lagi.

Dan itu yang membuatnya takut.

Bayangan ibunya muncul di kepalanya.

Senyum hangat itu.

Suara lembut itu.

“Arga, kamu nggak harus kuat terus.”

Kalimat itu pernah ia dengar.

Dulu.

Saat semuanya masih terasa lebih ringan.

Saat rumah masih terasa seperti rumah.

Saat ia masih punya tempat untuk pulang.

Tapi sekarang—

Tidak ada lagi.

Ibunya pergi terlalu cepat.

Dan sejak itu, dunia terasa seperti kehilangan warna.

“Ayahmu nggak akan suka lihat kamu seperti ini.”

Suara lain muncul.

Dingin.

Kaku.

Seperti ayahnya.

“Laki-laki nggak menangis.”

Kalimat itu tertanam terlalu dalam.

Sehingga bahkan sekarang, saat tidak ada siapa-siapa—

Arga masih mencoba menahan.

Masih mencoba diam.

Masih mencoba kuat.

Dan justru itu yang menghancurkannya.

Napasnya kembali tidak teratur.

Bukan seperti di kantor tadi.

Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa berat.

Ia menunduk.

Membiarkan hujan menutupi wajahnya.

Membiarkan dunia berpikir bahwa air di pipinya hanyalah air hujan.

Bukan air mata.

Di kejauhan, seseorang berdiri.

Seorang perempuan.

Memegang payung.

Memperhatikan dari jauh.

Ia tidak mendekat.

Tidak langsung.

Hanya berdiri.

Mengamati.

Seolah memahami bahwa lelaki di bangku itu—

tidak butuh pertanyaan.

Hanya butuh… waktu.

Namanya Nara.

Dan tanpa Arga sadari—

ini adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah hidupnya.

Arga masih duduk di sana.

Sendirian.

Di tengah hujan.

Dengan dunia yang terus berjalan tanpa menunggunya.

Dengan pikiran yang tidak pernah benar-benar diam.

Dengan luka yang tidak terlihat.

Dan tangisan—

yang tidak pernah bersuara.

Lanjut membaca
Lanjut membaca