

Di tengah kebisingan mesin mobil dan aroma oli yang khas, bengkel "Autocare Prestige" berdiri tegak di salah satu kawasan elit di pusat kota Jakarta.
Tempat ini menjadi surga bagi pemilik mobil mewah yang menginginkan perawatan terbaik untuk kendaraan mereka, dan di antara sekian banyak montir yang bekerja di sana, tidak ada yang lebih dikenal karena keahliannya dalam menangani mobil kelas atas selain Rizki Pratama.
Pemuda berusia 25 tahun itu, memiliki wajah yang tampan rupawan. Ia dikenal sebagai orang yang dingin dan cuek – jarang berbicara lebih dari yang diperlukan, selalu fokus pada pekerjaannya, dan jarang terlibat dengan obrolan tidak penting di antara rekan kerjanya.
Bagi banyak orang, dia tampak seperti seseorang yang hanya peduli dengan mesin dan baut, namun ada sedikit juga yang tahu bahwa di balik sikapnya yang tertutup itu ada masa lalu yang membuatnya belajar untuk tidak mudah mempercayai orang.
Pada suatu pagi yang cerah, sebuah mobil mewah berwarna putih perak masuk ke bengkel dengan suara mesin yang sedikit tidak biasa.
Dari dalam mobil itu keluar seorang wanita cantik dengan wajah yang tampak lelah namun tetap memancarkan aura kemewahan.
Dia adalah Gladis Anastasya, istri dari Johan Wijaya, seorang konglomerat ternama yang memiliki berbagai bisnis di bidang properti dan juga perdagangan.
Gladis adalah salah satu langganan tetap bengkel tersebut, karena mobil mewah miliknya selalu dipercayakan kepada Rizki untuk diperbaiki, maka hari ini ia juga ingin Rizki yang mengerjakan perbaikan mobil itu.
Ketampanan Rizki yang alami dan sikapnya yang rendah hati telah lama menarik perhatian Gladis, namun yang lebih membuatnya tertarik adalah kebaikan hati pemuda itu yang tersembunyi di balik sikap dinginnya.
Gladis sering kali melihat bagaimana Rizki dengan sabar mengajari anak-anak baru di bengkel, atau bagaimana ia selalu memberikan penjelasan yang jelas kepada pelanggan tanpa dirinya merasa sombong.
"Rizki."
"Sepertinya mesin mobilku ada masalah. Suaranya terdengar berbeda dari biasanya," ujar Gladis dengan suara lembut saat mendekati Rizki yang sedang memeriksa sebuah mobil sport milik orang lain.
Rizki hanya mengangguk sebentar, kemudian menghampiri mobil milik Gladis untuk memeriksanya.
"Saya akan cek sistem mesin dan transmisinya, Nyonya. Anda bisa tunggu di ruang tunggu dulu," ujarnya dengan nada yang datar, tanpa melihat wajah Gladis secara langsung.
Kali ini Gladis tidak langsung pergi ke ruang tunggu seperti biasanya. Ia berdiri di dekat Rizki, melihat bagaimana tangannya yang kuat itu dengan terampil membongkar bagian mesin dan memeriksa setiap komponennya dengan cermat.
"Emmm... apa kamu suka minum kopi, Rizki?" tanya Gladis tiba-tiba, membuat Rizki sedikit terkejut. Ia berhenti sejenak, lalu mengangguk sebentar tanpa menoleh kearahnya.
"Saya ada rekomendasi kedai kopi yang bagus di dekat sini. Maukah kamu menemani saya minum kopi? Nanti saya yang bayar sebagai ucapan terima kasih karena kamu selalu merawat mobil saya dengan baik," lanjut Gladis dengan penuh harapan di matanya.
"Maaf, Nyonya. Saya masih bekerja." jawab Rizki dengan nada datar, tetap fokus pada bagian mesin yang sedang diperbaiki.
Jawaban itu membuat Gladis nampak kecewa, "Apa yang membuatmu begitu fokus pada pekerjaanmu ini, Rizki?" tanya Gladis lagi.
Rizki merasa sedikit terganggu lalu ia berhenti sejenak, menatap wajah Gladis sebelum memberi jawaban.
"Pekerjaan adalah satu-satunya hal yang tidak akan mengecewakan jika kita mengerjakannya dengan benar, Nyonya," ucapnya dingin.
Terlihat jika Gladis merasa tidak puas mendengar jawaban itu. Rizki memang merasakan adanya ketertarikan Gladis terhadapnya, namun ia sengaja menjaga jarak dengannya.
Ia tahu bahwa Gladis masih memiliki suami, dan meskipun ia tidak tahu rincian masalah perkawinannya, ia tidak ingin terlibat dalam sesuatu yang tidak benar. Ia lebih memilih untuk menjaga hubungan mereka sebatas pelanggan dan montir. Agar kedepannya tidak terjadi masalah besar.
****
Setelah bengkel tutup, Gladis masih belum pergi dari sana. Ia duduk di bangku luar bengkel, sambil menatap langit yang mulai gelap. Rizki yang akan pulang tiba-tiba berhenti ketika tak sengaja melihatnya.
"Nyonya, bengkel sudah tutup, Nyonya tidak ingin pulang?" tanya Rizki dengan suara yang dingin namun lebih lembut dari sebelumnya.
Gladis menoleh padanya, matanya sedikit merah karena habis menangis. "Aku menunggumu," ucapnya santai.
Gladis menggeser tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Rizki, membuat pemuda itu tidak nyaman akhirnya ikut menggeser tubuhnya menjauh.
"Rizki, aku tahu kamu sedang terlilit hutang kedua orang tuamu. Aku juga mengetahui tentang kondisi keluargamu yang berantakan." Gladis menatap wajah Rizki dengan senyum menyeringai.
Mendengar ucapan itu, Rizki nampak tak senang. "Jangan berbelit-belit, katakan saja sebenarnya apa maumu," ucapnya dengan suara yang lebih dingin.
"Jangan terburu-buru, Sayang." Gladis dengan berani meraba dada bidang Rizki. Membuat pemuda itu refleks menepis tangannya dengan kasar.
Gladis tertawa kecil menangapi perlakuan Rizki. Rasa kecewa terhadap suaminya yang berselingkuh dengan banyak wanita, kini telah merusak akal sehatnya. Gladis yang selalu kalem dan menjaga martabatnya, kini harus bersikap murahan terhadap pemuda asing yang baru dikenalnya.
"Aku bisa memberikan gaji besar untukmu, jadilah kekasihku maka aku akan memberimu bayaran yang fantastis. Bahkan uang itu lebih dari cukup untuk menutupi semua hutang-hutang orang tua mu," ucapnya to the point.
Rizki seketika menoleh, ia tak percaya dengan apa yang diucapkan wanita yang nampak berkelas itu.
"Maaf, Nyonya. Saya bukan pria murahan. Saya tidak akan pernah menjual tubuh saya hanya untuk mendapatkan bayaran besar. Lagi pula Anda sudah bersuami, rasanya tidak pantas jika memiliki hubungan dengan pria lain," Rizki dengan tegas menolak.
Gladis yang mendengar penolakan itu tampak tak terima, sebab Rizki adalah laki-laki pertama yang berani menolak keinginannya. Gladis yang merasa kesal tiba-tiba bangkit, lalu menyeret Rizki menuju toilet belakang bengkel yang gelap.
Rizki berusaha memberontak, namun Gladis nampak sulit untuk dikendalikan. "Jangan seperti ini, Nyonya." Rizki menahan kedua tangan Gladis lalu mengungkungnya.
Gladis yang sudah kehilangan akal sehatnya, lantas menendang tubuh bagian bawah Rizki. Detik itu juga Rizki seketika refleks melepaskan tangan Gadis, ia meringis kesakitan memegangi alat vitalnya yang terasa sakit akibat terkena tendangan dari Gladis.
Melihat adanya kesempatan baik, Gladis yang merasa yakin jika Rizki tidak akan mampu menghindar akhirnya naik ke atas pangkuan pemuda itu. Dengan berani Gladis melumat bibir Rizki, membuat pemuda itu refleks memelototkan matanya.
"Apa yang Anda lakukan?!" Rizki melepas kasar tautan bibirnya hingga sudut bibirnya berdarah akibat tergigit.
"Aku sudah bilang, aku ingin kamu menjadi kekasih ku. Tidak gratis, Rizki. Aku akan memberikan kehidupan layak untukmu." Gladis membelai lembut wajah tampan yang nampak lelah dihadapannya.
Pemuda dingin yang super cuek itu akhirnya tak tahan lagi dengan tingkah wanita di pangkuannya.
Rizki dengan kasar mendorong tubuh Gladis agar wanita itu turun dari pangkuannya.
"Perempuan gila!" umpatnya, lalu pergi meninggalkan Gladis yang masih terduduk di lantai yang dingin itu.
Gladis tersenyum miring, ia bertekad untuk tidak menyerah begitu saja demi mendapatkan hatinya. Sebab hanya pemuda itu yang membuatnya tertarik, sejak awal mereka bertemu.
'Aku pasti akan mendapatkanmu, Rizki. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang,' batin Gladis menatap punggung Rizki yang mulai menghilang di balik tembok.