

Tetesan darah segar berwarna merah pekat jatuh satu demi satu di atas lantai keramik yang dingin.
Suasana malam yang biasanya sunyi kini terasa mencekam, seolah-olah maut baru saja lewat memberikan salam.
Di atas lantai, sebuah tubuh pria terbujur kaku dengan mata melotot lebar seperti bulan purnama.
Tangan Yoga masih mencengkeram lehernya sendiri, berusaha menahan nyawa yang sudah terbang entah ke mana.
Garis-garis merah di matanya penuh dengan kebencian dan rasa tidak percaya.
Dia tidak pernah menyangka akan mati di tangan pemuda yang berdiri di hadapannya sekarang.
Bimo Ariseto berdiri tegak dengan rambut hitam pekat yang kontras dengan sepasang mata perak yang bersinar murni.
Dia tidak mengenakan sehelai benang pun, hanya memegang sebilah pedang perak yang masih meneteskan darah Yoga.
Wajahnya yang tampan dihiasi senyum tipis yang sangat lembut, seolah dia bukan baru saja mencabut nyawa orang.
Aroma amis darah yang menyengat masuk ke hidungnya, tapi Bimo sama sekali tidak terganggu.
Dia justru menunduk, menatap satu-satunya tubuh hangat yang tersisa di ruangan itu.
Seorang gadis muda bersimpuh di depannya tanpa busana, hanya berjarak beberapa inci dari kaki Bimo.
Mulut gadis itu masih terbuka lebar, menyisakan sisa cairan yang masih menetes di dagunya yang gemetar.
Matanya bergetar hebat, air mata siap tumpah kapan saja karena syok yang luar biasa.
"Ka-kak Yoga..." suaranya pecah, penuh dengan kepedihan dan kehancuran mental.
Ingatan masa lalu berputar di kepalanya, tentang pagi musim gugur saat mereka pertama kali bertemu di gerbang perguruan.
Yoga adalah pahlawannya, pria yang selalu melindunginya sejak perguruan mereka dihancurkan oleh musuh.
Dia percaya sepenuhnya bahwa Yoga akan datang menyelamatkannya dari cengkeraman Bimo.
Harapan itu sempat mekar saat Yoga mendobrak pintu dengan gagah berani beberapa saat lalu.
Namun, neraka justru datang dalam satu tebasan pedang yang mematikan.
Bimo tersenyum tipis, menatap gadis itu seolah nyawa kekasihnya hanyalah sampah tak berharga.
"Silakan lanjutkan," bisik Bimo pelan dengan nada yang sangat tenang.
Suara itu membuat tubuh si gadis gemetar hebat, rasa pahit di mulutnya kembali terasa nyata.
Bimo bisa merasakan aroma gairah yang bercampur dengan rasa takut yang sangat kental di udara.
Kebencian mendalam mulai membakar mata si gadis, niat membunuh yang liar muncul untuk membalas dendam Yoga.
Namun, saat matanya bertemu dengan kilauan pedang perak Bimo, keberaniannya menciut seketika.
Realitas menghantamnya; dengan kekuatan yang lemah, dia hanya akan berakhir mati jika mencoba menyerang.
Tiba-tiba, mata gadis itu tertuju pada kejantanan Bimo yang luar biasa besar dan kokoh, karya Tuhan yang paling sempurna.
Pikiran gelap muncul; jika dia harus mati, maka pria ini tidak boleh hidup dengan tenang!
Dengan sisa tenaga, dia menerjang maju, bermaksud merobek bagian yang paling berharga bagi seorang pria.
"Sigh..." desahan halus terdengar seperti bisikan dewa kematian dari bibir Bimo.
Sebelum gigi gadis itu menyentuh targetnya, cahaya perak melintas dengan kecepatan cahaya di lehernya.
Tubuh gadis itu membeku seketika, sebelum akhirnya kepalanya merosot dari bahu dan jatuh ke lantai.
Suara 'gedubrak' yang berat menggema saat kepala itu menggelinding pelan menuju mayat Yoga.
Mata mereka saling berhadapan untuk terakhir kalinya dalam genangan darah yang mendingin.
"Setidaknya di alam baka, kalian bisa bersatu kembali," gumam Bimo sambil mengibaskan pedangnya.
Darah yang menempel terlempar jauh, menyisakan bilah pedang perak yang kembali bersih mengkilap.
Tiba-tiba, sebuah layar biru transparan muncul di depan mata Bimo, memberikan sensasi dingin yang menyegarkan.
$$Ding! Sistem Pendosa Terhebat Aktif!$$
$$Kriteria Terpenuhi: Membunuh Sepasang Kekasih di Puncak Keputusasaan.$$
$$Hadiah: Poin Dosa +100, Pemulihan Energi Instan!$$
Bimo merasakan aliran tenaga baru mengalir di pembuluh darahnya, rasa lelahnya hilang seketika.
"Bimo, apa kau sudah rapi?" sebuah suara merdu namun maskulin menggema dari arah pintu.
Seorang pria berotot besar dengan kulit perunggu dan jubah bulu merah masuk ke dalam aula.
Bimo menatap pria itu dengan tatapan tidak sabar, itu adalah Chandra, rekan satu perguruannya yang bermuka dua.
"Sepertinya teknik Gema Yin milikmu sudah mencapai puncak baru," sindir Bimo sambil memakai jubah merahnya.
Jubah itu memiliki lambang Serigala Gunung yang sedang menerjang, simbol kebanggaan Padepokan Surya Merah.
Chandra tertawa keras, tapi matanya menunjukkan kilatan kekecewaan saat melihat Bimo masih hidup dan bugar.
"Chandra, apa kau yang memancing Yoga ke sini? Tidak mungkin dia bisa menembus pertahanan tanpa bantuanmu."
Bimo bertanya dengan nada dingin sambil mengancingkan jubahnya dengan gerakan perlahan.
Chandra berakting acuh tak acuh, tapi Bimo tahu pria ini sengaja membiarkan Yoga masuk untuk membunuhnya.
Bimo berjalan melewati Chandra tanpa menoleh lagi, namun saat jarak mereka sangat dekat, matanya berkilat haus darah.
Srett!
Sebelum Chandra sempat bereaksi, bilah pedang Bimo sudah menembus pelipisnya dan menghancurkan otaknya.
Chandra jatuh berdebu, kepalanya hancur berantakan tanpa sempat mengucapkan kata-kata terakhir.
Bimo meludah di atas mayat itu dengan rasa jijik yang sangat nyata.
"Kau merusak kesenanganku, jadi buat apa kau hidup? Sampah."
Bimo melangkah keluar dengan santai, menemui para penjaga yang sudah gemetar ketakutan di depan pintu.
"Letnan Chandra tewas karena serangan mendadak penyusup. Aku sudah menghabisi pelakunya, sekarang bereskan mayatnya."
Mata Bimo yang perak menatap langit musim gugur yang indah, merasa sangat haus dan lapar.
Angin malam yang dingin berhembus membelai kulit dada Bimo yang masih sedikit terbuka di balik jubah merahnya.
Aroma daun pinus dan darah kering bercampur menjadi satu, menciptakan sensasi memabukkan yang memancing senyum buas di bibirnya.
Langkah kakinya menggema pelan di sepanjang koridor batu, membuat para pelayan wanita yang berpapasan dengannya langsung menunduk gemetar ketakutan.
Namun, dari balik bulu mata mereka yang lentik, tatapan penuh damba tak bisa disembunyikan saat melihat lekuk otot perut Bimo yang sempurna.
Bimo hanya mendengus geli menyadari hal itu; kekuasaan dan kekuatan di padepokan ini memang selalu menjadi afrodisiak paling ampuh bagi para wanita.
Dia meraba dadanya yang bidang, merasakan detak jantungnya yang kini berpacu jauh lebih kuat dan stabil dari biasanya.
Kehadiran Sistem Pendosa Terhebat di dalam jiwanya terasa seperti aliran magma hangat yang terus-menerus memompa vitalitas.
"Seratus Poin Dosa... sebuah permulaan yang sangat manis untuk malam ini," batin Bimo sambil membayangkan batas kekuatan misterius ini.
Jika membunuh sepasang kekasih malang saja bisa memberinya energi sebesar ini, apa yang akan terjadi jika dia membantai musuh yang lebih kuat?
Pikiran gelap nan sadis itu membuat kejantanannya sedikit berdenyut, sebuah respons alami dari hasrat membunuh yang menggelegak di darah mudanya.
Dedaunan kering berwarna keemasan berguguran di halaman paviliun, seolah menyambut langkah sang predator baru yang lahir dari kubangan dosa.
Bimo menengadah, membiarkan cahaya bulan perak memantul di kornea matanya yang menyala dipenuhi oleh ambisi penaklukan.
Tidak ada penyesalan, tidak ada rasa bersalah di hatinya sedikit pun.
Di dunia persilatan yang kejam dan busuk ini, belas kasihan hanyalah tiket jalur cepat menuju liang lahat.
"Yoga, sayang sekali kau harus berakhir di tanganku," bisiknya pelan pada angin malam yang berhembus sunyi.
Bimo akan memastikan bahwa darah mereka malam ini menjadi batu pijakan pertama yang kokoh untuk takhta kekuasaannya di masa depan.