

'Segera selesaikan tagihan Anda yang telah melewati batas waktu!’
Edgar tertawa pelan. Tawa yang lebih terdengar seperti luapan kelelahan. Ia duduk di balik kemudi mobil, menatap kosong jalanan kota yang basah. Matanya sesekali melirik ke arah ponsel yang terus memunculkan notifikasi tagihan utang.
Dreett dreett!
Ponsel Edgar kembali berbunyi.
Nomor tidak dikenal. Satu tarikan napas berat keluar dari mulutnya. Edgar menerima panggilan itu.
Belum juga menyapa, ia sudah diserbu dengan cacian hinaan.
"Bayar utang lo! Ini sudah tenggat waktu! Bayar segera atau gue bakar rumah lo!" teriak orang di seberang telepon.
Rumah?
Bahkan Edgar sudah tidak tahu di mana rumahnya.
Edgar menggenggam setir lebih erat. Tidak ada lagi yang bisa ia gunakan untuk membayar utang, yang tersisa hanya hidup yang sudah nyaris hancur.
"Heh! Lo denger suara gue nggak!" teriaknya lagi.
"Iya." Hanya itu yang bisa Edgar katakan.
"Bayar atau gue habisin lo!"
Edgar tersenyum tipis lalu mengusap pelan keningnya yang masih memar. Ya, sore tadi ia baru saja dihajar oleh sejumlah orang. Tentu saja preman penagih utang.
‘Habisi saja aku kalau itu bisa membuat semua siksaan ini berakhir,’ batin Edgar. Ingin rasanya ia mengatakan itu, namun ia tak punya nyali.
“Lo jangan berani-berani kabur dari kita!” teriak penagih utang.
Lima tahun lalu, saat memutuskan pindah ke kota untuk membangun bisnisnya, Edgar pikir ia sudah hampir berhasil. Bisnis yang ia bangun dari nol akan berkembang pesat. Ia bahkan sudah membayangkan mempunyai rumah, mobil, dan beragam kemewahan yang dapat menunjukkan bahwa anak desa juga bisa sukses.
Tapi, ada pepatah Jawa yang mengatakan ‘Manungsa mung ngunduh wohing pakarti, kabeh wis ginaris’ alias, ‘Manusia hanya memetik hasil perbuatan, semua sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.’
Sayangnya, Edgar tak cukup kuasa untuk memaknainya. Usaha yang sudah ia jalankan dengan penuh tekad, pengorbanan, dan keyakinan, kini lenyap seketika. Orang yang Edgar percaya untuk berjalan bersamanya justru menjadi orang pertama yang menghancurkannya. Rekan bisninya menghilang tanpa kabar. Meninggalkan tumpukan utang yang bahkan Edgar tidak tahu ke mana perginya. Semua beban itu kini jatuh sepenuhnya ke pundaknya.
Awalnya, Edgar menduga rekan bisnis sekaligus teman baiknya itu hanya pergi membawa uang perusahaan. Namun nyatanya, semua sudah dilahap habis. Bahkan, orang itu sengaja menggadaikan perusahaan Edgar untuk mendapat pinjaman uang.
Semua lenyap. Tidak ada lagi mobil mewah, rumah megah, dan uang berlimpah. Bahkan, mimpinya untuk sukses sebelum usia 30 tahun pun pupus. Kini, yang tersisa hanya mobil tua, setumpuk tagihan utang, dan ancaman dari penagih utang yang datang silih berganti.
Edgar mengusap kasar rambutnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun merantau di kota, kini pikirannya justru melayang ke tempat yang selama ini sengaja Edgar hindari.
Desa Sidoagung.
Desa kecil dengan hamparan sawah luas dengan aliran sungai yang begitu bening dan penuh ikan. Tempat ia tumbuh besar. Tempat ia menghabiskan waktu, mandi di sungai dan main layangan di sawah. Rasanya sudah begitu lama ia tidak merasakan hangatnya kehidupan. Tempat yang sengaja ia tinggalkan demi mengejar hidup yang menurutnya lebih besar.
Edgar kembali teringat masa di mana ayahnya rela menjual sebidang sawah milik keluarga supaya Edgar bisa membuka usahanya di kota. Sawah yang katanya akan diwariskan turun temurun. Sawah yang selama bertahun-tahun digarap oleh bapaknya. Sawah yang akhirnya dijual kepada Paman Ro, yang katanya untuk bekal dirinya.
“Pergilah. Jika kamu berhasil, simbok dan bapak pasti bangga dan senang. Kami Ikhlas. Hati-hati. Doa simbok dan bapak teiring selalu untukmu, anakku.” Kalimat terakhir Simbok kembali terngiang di telinga Edgar.
Ia meraih ponsel dan mencari foto yang tersimpan jauh dalam galerinya.
Ada sebuah foto yang jarang, bahkan tidak pernah ia lihat.
Foto keluarganya.
Kedua orang tuanya tersenyum lebar dan memancarkan aura bangga kepada anak laki-laki yang berhasil menyelesaikan sekolah menengah.
Mata Edgar terasa panas.
Ia masih teringat lima tahun lalu saat merintis bisnisnya di kota.
Saat itu ia sibuk menghadiri berbagai meeting, mengejar target, bertemu investor, dan terus membangun koneksi. Telepon dari kedua orang tuanya pun mulai jarang diangkat. Pesan dari ibunya sering dibalas singkat, bahkan kadang dibiarkan tanpa balasan berhari-hari.
"Edgar… simbokmu sakit. Apa kamu bisa pulang sebentar?" ucap Bapak terdengar samar di seberang telepon.
“Bapak antar Simbok ke rumah sakit saja,” sahut Edgar ketus.
Ia tidak pulang. Ia bilang dirinya terlampau sibuk. Ia selalu berpikir masih ada waktu untuk pulang. Masih ada waktu untuk membalas kedua orang tuanya.
Beberapa hari kemudian telepon kedua kembali mengusiknya.
Kali ini bukan permintaan pulang untuk menjenguk simbok. Melainkan kabar simboknya sudah berpulang.
Akhirnya Edgar pulang. Ia kembali ke desa yang penuh dengan kerinduan. Tapi semuanya sudah selesai. Pemakaman sudah berlangsung. Bapaknya bilang sebenarnya semua menanti kedatangan Edgar lebih dulu, namun Edgar tidak kunjung datang. Ketua kampung juga menganjurkan untuk segera melanjutkan proses pemakaman. Simbok sudah terlalu lama menunggu.
Ia hanya bisa berdiri di depan makam tanah merah yang masih basah.
Tidak ada kata terakhir.
Tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada pelukan hangat dari seorang ibu yang menyambut kepulangan anaknya.
Seolah belum cukup, dua bulan kemudian bapaknya menyusul ibunya. Hal yang semakin menusuk hatinya, ketika ia tahu bahwa bapak dan simboknya sakit karena ulah rentenir desa yang terus mengusik orang tuanya. Edgar terkejut, ia sama sekali tidak tahu akan hal tersebut. Selain dari hasil menjual sawah, ternyata uang untuk bekal dirinya merantau dan membangun bisnis di kota adalah hasil meminjam dari rentenir.
Edgar menutup mata.
"Kalau saja aku tidak mementingkan urusan bisnis. Andai aku bisa pulang lebih cepat."
Hujan semakin deras menghantam kaca mobil.
Lampu jalan memanjang seperti garis kuning yang kabur oleh hujan.
Mobil melaju semakin cepat.
Pikirannya terasa begitu berat.
Tentang kepergian bapak dan ibunya.
Tentang sawah keluarga yang rela dijual untuk modal bisnisnya.
Tentang pengkhianatan.
Tentang bisnisnya yang hancur.
Semua itu terasa seperti pisau yang menghujam dadanya.
Edgar menggengam setir lebih erat.
"Seandainya..."
Sebuah cahaya tiba tiba muncul dari arah depan. Cahaya yang begitu menyilaukan mata.
Terlalu dekat. Terlalu cepat.
Edgar baru menyadari saat suara klakson keras menggema di telinga.
TRANGGG!!!
Sebuah benturan keras tidak dapat dihindari.
Semuanya gelap.
Dalam kegelapan itu, Edgar hanya terbesit satu pikiran. "Tuhan, izinkan aku memperbaiki semuanya.”
***
Suara ayam memecahkan keheningan.
Edgar mengerutkan kening. Ia mencoba membuka mata, namun cahaya begitu menyilaukan matanya.
Ia menyipit, penglihatannya mulai jelas.
Langit-langit kayu. Dinding papan. Lantai tanah.
Dada Edgar tiba-tiba terasa sesak. Ia segera bangun dan duduk di atas tempat tidur dengan dipan kayu serta kasur tipis. Ia mengedarkan pandangan. Matanya langsung tertuju pada sebuah lampu teplok di pojok ruangan dan kalender usang di samping pintu.
Desember 2001
“Desember 2001? Bagaimana mungkin?” ucapnya pelan, Edgar menatap tajam angka tersebut.
Suara langkah kaki terdengar dari luar kamar.
“Nak ayo bangun. Nanti kamu telat sekolah loh.”
Tubuh Edgar menengang.
Suara itu?
Mustahil.