

"Kamu yakin Sep, mau jual rumah ini sama bapak aku?"
Asep menatap rumahnya yang kecil dan sudah seperti kandang kambing, alasnya hanya tanah. Atapnya pun hanya beratap jerami, luas rumah itu juga tidak besar.
Asep sudah menjadi yatim piatu sejak dia duduk di bangku SMP, dia berjuang sendiri untuk kehidupannya dan juga biaya sekolahnya.
Pria itu mau tidak mau harus sekolah sambil berjualan, semangat juangnya sangatlah besar. Untuk sekolah pun perjuangannya sangatlah besar, karena dari desanya yang masih pelosok itu harus menempuh waktu perjalanan selama 2 jam untuk sampai di sekolah.
Kini dia dapat beasiswa kuliah di kota, dia berharap kalau dirinya kuliah nanti akan sukses. Makanya dia menjual rumah peninggalan kedua orang tuanya untuk biaya hidup di kota.
"Yakin, Ta. Siapa tahu dengan pergi ke kota nanti nasib aku bisa berubah, Siapa tahu pulang dengan membawa gelar dan juga membawa uang yang melimpah."
Walaupun rumah itu ditawar dengan harga sepuluh juta, Asep tak masalah. Karena memang harganya hanya segitu, rumah itu tidak bisa diuangkan. Hanya tanahnya saja.
"Tapi, Sep. Uang sepuluh juta itu kalau di kota sedikit, mau makan apa nanti kamu di sana kalau uangnya sudah habis?"
"Aku akan mencari pekerjaan, aku dengar di kota itu apa saja bisa jadi uang. Kalau belum dapat pekerjaan bisa mengamen, atau bisa juga menjadi pemulung."
"Ya Allah Gusti, nekat sekali kamu itu. Ya udah ayo kita ke rumah bapak aku," ajak Karta.
Desa tempat tinggal Asep itu merupakan pelosok desa, rata-rata di kampung itu semuanya merupakan orang miskin. Karta merupakan teman sekolahnya yang berasal dari luar desa, mereka berteman selama SMA.
"Ayo, aku sudah tak sabar untuk segera menjual rumah ini dan kamu tahu kalau aku harus segera pergi ke kota. Minggu depan sudah harus masuk, pengennya besok aku berangkat."
Dia harus segera berangkat ke kota dan mencari kontrakan yang murah, tak apa mengontrak di pinggiran kota. Yang penting dia bisa kuliah dengan benar di sana.
"Iya, ngebet banget pengen kuliah di kota. Terus, si Indah gimana? Mau putus?"
"Paling putus, toh dia maunya nikah. Aku mana bisa nikah sama dia, aku masih sangat kecil dan belum bisa menikahi wanita itu."
"Iya juga sih, ayolah kita ke rumah bapak aku aja."
Karta dan juga Asep akhirnya pergi ke desa sebelah, keduanya langsung bertemu dengan Wira. Pria itu langsung memberikan uangnya karena tahu kalau Asep itu begitu membutuhkan uang tersebut.
Dia juga menyemangati anak itu agar sekolah dengan baik dan benar, agar bisa hidup dengan baik tanpa terpengaruh oleh lingkungan yang katanya tak baik kalau di kota itu.
"Iya, Pak Wira. Makasih doa dan juga petuahnya, besok Asep bakal langsung berangkat ke kota. Paling nginep semalem doang di rumah," ujar Asep.
"Iya, jangan lupa kasih kabar. Nggak punya hp masih bisa kirim surat," ujar Wira.
"Siap," ujar Asep.
Uang sepuluh juta itu tak banyak, dimasukan ke dalam tas kecil milik Asep saja tidak penuh. Pria itu diantarkan kembali oleh Karta ke rumahnya.
Setelah kepergian Karta, Asep pergi ke tempat pemakaman umum untuk menemui kedua orang tuanya. Dia berpamitan terlebih dahulu sebelum besok pergi ke kota.
"Semoga Asep bisa jadi orang sukses ya Bu, Pak. Asep pamit, semoga pulang bisa bikin Bapak sama ibu bangga."
Keesokan harinya Asep pergi ke terminal dengan menggunakan ojek, dia menghabiskan waktu selama 2 jam dari rumahnya menuju terminal. Setelah itu dia pergi ke kota dengan menggunakan bis.
Delapan jam perjalanan sangatlah melelahkan bagi Asep, dia merasa kalau pantatnya sampai tipis karena seharian menghabiskan waktu di jalan.
Untuk mengirit uang, selama di perjalanan dia hanya memakan ubi yang sudah direbus di rumah. Dia juga membawa sebotol air mineral yang sudah direbus dari rumah, Asep benar-benar menekan biaya selama perjalanan.
Dia hanya membayar ongkos ojek dan ongkos bis saja, hal itu dia lakukan agar uangnya tidak berkurang banyak. Karena Asep sadar kalau keperluannya di kota nanti pasti sangatlah banyak.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di kota."
Saat Asep turun dari bis yang dia tumpangi, langit sudah berubah menjadi jingga. Walaupun seperti itu, suasana di terminal itu malah semakin ramai.
Dia melihat kalau di terminal itu begitu padat. Bis-bis besar mengaum, mengeluarkan asap knalpot yang mengepul. Ada banyak kang ojek yang menghampiri dan menawarkan jasanya.
Suara klakson tidak henti-hentinya bergaing dengan teriakan pedagang kaki lima yang menawarkan dagangan mereka.
"Minum dingin-dingin! Es teh manis, es jeruk!"
Di sudut lain, seorang penjaga parkir mengarahkan mobil dengan semacam tongkat panjang, sambil berteriak. "Lurus, lurus! Jangan parkir di sini!"
Orang-orang berlari mengejar bis yang hampir berangkat, sementara yang lain duduk santai di bangku-bangku, menunggu giliran. Bau makanan yang lezat mengambang di udara, membuat perut keroncong.
"Ya ampun, ternyata di kota itu sangat ramai."
Mata Asep terus aja berkeliling melihat apa yang bisa dia lihat, saat dia menengadahkan wajahnya, dia bisa melihat tingginya gedung-gedung pencakar langit. Asep kagum dengan ciptaan Tuhan itu.
Walaupun memang udaranya tak sesegar yang ada di desa, di sana dia merasa kalau udara sudah dipenuhi dengan polusi. Namun, dia harus berusaha bersahabat dengan kondisi itu.
"Laper banget, makan dulu aja kali ya?"
Asep memperhatikan pedagang-pedagang yang ada di terminal tersebut, semuanya nampak enak. Namun, Asep bukan mencari makanan yang terenak. Dia mencari makanan yang termurah.
"Baksonya satu porsi berapa, Pak?"
"Dua puluh lima ribu, Dek."
"Mahal," ujar Asep yang segera berlalu dari sana.
Dia kembali bertanya harga beberapa makanan yang ada di sana, dia merasa kalau makanan yang ada di sana semuanya mahal. Akhirnya dia menemukan penjual gorengan dan juga lontong.
"Gorengan sama lontong 1 berapa, Bu?"
"Goceng, Dek."
"Goceng itu berapa?" tanya Asep polos.
"Lima ribu," jawab pedagang itu sambil tersenyum meledek.
Ini lebih murah dibandingkan dengan satu porsi nasi ataupun satu porsi bakso, akhirnya Asep mengeluarkan uang lima ribu rupiah dan menikmati gorengan dan juga lontong yang sudah dia beli.
Asep tak membeli air mineral, tetapi dia meminta segelas air putih di warung itu. Demi mengirit pengeluaran, dia rela.
"Bu, maaf. Di dekat sini ada kontrakan murah nggak ya?"
Langit sudah berubah gelap, dia harus segera mencari tempat tinggal. Namun, Ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di kota. Dia belum tahu apa-apa.
"Ada, kamu keluar aja dari terminal. Di sebelah kanan ada kali, di sana banyak berderet kontrakan yang murah."
"Oh gitu ya, Bu. Berapa kira-kira sebulannya?"
"Paling murah tiga ratus sebulan, tergantung dari tempatnya juga. Nanti kamu nanya-nanya aja di sana," jawab pedangan itu.
"Siap, Bu. Makasih banget," ujar Asep senang.
Asep segera keluar dari terminal itu dengan langkah semangat, kemudian dia berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh pemilik warung. Asep memang melihat di sepanjang kali itu ada rumah petak yang temboknya terbuat dari triplek.
Jalanan menuju tempat itu juga begitu becek, tapi Asep tidak peduli, yang terpenting bagi dirinya dia menemukan tempat tinggal yang murah dan bisa kuliah.
Saat dia sedang asik berjalan menuju tempat yang ingin dia tuju, tiba-tiba saja ada dua orang pria kurus yang mendekat ke arahnya.
"MALING!!!" teriak Asep ketika salah satu orang itu menarik tas ransel yang dipakai oleh Asep dan berlari dengan begitu kencang.