

Hujan badai mengguyur ibu kota malam itu, seolah alam sedang ikut menangis meratapi nasib Daniel Reed. Dengan jas murah yang sudah basah kuyup, Daniel berlari menembus pelataran parkir Hotel Grand Hyatt. Tangannya mencengkeram erat selembar kertas hasil diagnosis rumah sakit yang kini sudah kusut dan basah.
Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena lari maraton yang baru saja ia lakukan, tapi karena kenyataan pahit yang tertulis di kertas itu.
Clara. Putri kecilnya. Enam tahun.
Gagal jantung stadium akhir. Vonis: tiga bulan.
Daniel tidak peduli lagi pada penampilannya yang kacau. Ia menerobos lobi hotel yang mewah, mengabaikan tatapan jijik dari para tamu kalangan atas yang melihatnya seperti gelandangan. Di pikirannya hanya ada satu nama: Olivia. Istrinya. Ia harus segera memberitahu Olivia. Mereka harus mencari jalan keluar bersama.
"Tuan! Anda tidak bisa masuk tanpa kartu akses!" teriak resepsionis mencoba mencegatnya.
"Aku suaminya! Istriku ada di atas!" Daniel membentak dengan suara parau, matanya merah karena kurang tidur dan air mata yang tertahan.
Ia mengikuti sinyal GPS dari ponsel Olivia. Selama beberapa minggu terakhir, Olivia selalu pulang larut malam dengan alasan rapat proyek besar. Daniel, sebagai suami yang percaya, hanya bisa mendukung dan menjaga Clara sendirian di rumah sakit. Tapi malam ini, di tengah kondisi kritis putri mereka, Daniel butuh sandaran.
Pintu lift terbuka di lantai 22. Daniel melangkah cepat menyusuri koridor berkarpet merah yang kedap suara. Langkah kakinya yang basah meninggalkan jejak di lantai mewah itu. Ia berhenti di depan kamar 2205.
Tangannya yang gemetar terangkat untuk mengetuk.
Tidak ada jawaban. Hanya sayup-sayup suara tawa dari dalam.
Daniel mencoba memutar gagang pintu. Hatinya mencelos saat menyadari pintu itu tidak terkunci. Dengan sisa keberaniannya, ia mendorong pintu itu terbuka perlahan.
Dan saat itulah, dunia Daniel Reed hancur berkeping-keping.
Di dalam kamar presidential suite yang megah itu, aromanya dipenuhi parfum mahal dan sisa alkohol. Di dekat jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota, Olivia—istrinya yang seharusnya sedang "rapat"—sedang berdiri dalam dekapan seorang pria.
Tangan pria itu, yang mengenakan jam tangan Rolex berlapis emas, melingkar posesif di pinggang ramping Olivia. Pakaian Olivia sedikit berantakan. Mereka berdua menoleh, menatap Daniel dengan ekspresi yang sangat tenang, seolah Daniel hanyalah seorang pelayan yang salah masuk kamar.
Hening. Hanya suara deru hujan yang menghantam kaca jendela.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Daniel?"
Bukan nada panik. Bukan nada bersalah. Suara Olivia terdengar sangat dingin, bahkan penuh dengan nada jijik.
Daniel mematung. Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mengangkat kertas diagnosis yang sudah basah itu dengan tangan gemetar. "Olivia... aku... aku harus bicara. Ini tentang Clara..."
Pria di samping Olivia tertawa kecil, suara tawa yang sangat merendahkan. "Oh, jadi ini 'beban' yang sering kamu ceritakan itu, Liv?"
Olivia mendesah panjang, seolah kehadiran Daniel adalah gangguan besar bagi hidupnya. "Daniel, bukankah aku sudah bilang jangan mencariku saat aku sedang bekerja?"
"Bekerja?" Daniel tertawa getir, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Bekerja di kamar hotel dengan pria lain saat anakmu sekarat di rumah sakit?! Olivia, Clara divonis hanya punya waktu tiga bulan! Dia butuh ibunya!"
Wajah Olivia tidak berubah. Tidak ada kilat kesedihan. Ia justru melipat tangan di dada. "Aku sudah tahu, Daniel. Pihak rumah sakit sudah meneleponku siang tadi."
Langkah Daniel goyah. "Kamu... sudah tahu? Dan kamu tetap di sini? Bersama pria ini?"
"Lalu aku harus apa?" Olivia membentak, matanya berkilat tajam. "Menangis di samping ranjangnya seharian? Itu tidak akan mengubah kenyataan kalau dia akan mati! Aku sudah menerima kenyataan itu, Daniel. Seharusnya kamu juga begitu."
"Dia anak kita, Olivia!" teriak Daniel hancur.
"Dia hanya anak yang lahir dari kesalahan masa lalu," potong Olivia telak. "Dan pria di sampingku ini adalah Julian Sterling, pewaris Sterling Group. Dia adalah masa depanku. Sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh dokter puskesmas miskin sepertimu."
Julian melangkah maju, berdiri tegak di depan Daniel yang tampak begitu kecil di matanya. "Dengar, Dokter Kecil. Keluar dari sini sekarang, atau aku akan memastikan izin praktikmu dicabut besok pagi."
"Kau bajingan..." Daniel mencoba merangsek maju, namun sebuah pukulan keras mendarat di rahangnya.
Daniel tersungkur ke lantai. Rasa amis darah langsung memenuhi mulutnya. Sebelum ia sempat bangun, sebuah tendangan keras menghantam perutnya, membuatnya mengerang kesakitan.
"Berani sekali sampah sepertimu mengumpat di depanku," ucap Julian dingin sambil mengelap sepatunya yang terkena noda air dari baju Daniel.
Daniel menatap Olivia, berharap ada secercah empati di mata istrinya. Namun, Olivia hanya berdiri di sana, menatapnya seperti melihat sampah di pinggir jalan.
"Kita bercerai, Daniel," ucap Olivia datar. "Clara adalah satu-satunya alasan aku bertahan di pernikahan yang memuakkan ini. Karena dia akan segera pergi, maka tidak ada lagi yang mengikat kita. Aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku menjadi istri seorang pecundang yang bahkan tidak sanggup membayar biaya pengobatan anaknya sendiri."
Kepala Daniel berdengung. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan hancurnya harga diri dan hatinya.
"Keluar. Sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu seperti anjing," ancam Julian.
Daniel bangkit dengan tertatih. Ia tidak membalas. Ia menatap kertas diagnosis Clara yang terinjak-injak di bawah sepatu Julian. Dengan sisa martabat yang tersisa, ia berbalik dan berjalan keluar dari kamar itu.
Setiap langkah di lorong hotel terasa seperti berjalan di atas duri. Dunia seolah menutup pintunya untuk Daniel. Ia kehilangan segalanya dalam satu malam: istrinya, hartanya, dan harapan untuk anaknya.
Saat ia sampai di depan lift, ponselnya bergetar keras. Panggilan dari Rumah Sakit Pusat, tangannya gemetar saat mengangkat.
“Halo?”
“Pak Daniel! Cepat kembali! Kondisi Clara memburuk! Detak jantungnya turun drastis!” suara perawat terdengar panik.
Dunia Daniel seperti berhenti.
“Saya… saya dalam perjalanan.”
“Pak, dokter bilang kemungkinan terburuk bisa terjadi kapan saja!”
Hujan terasa semakin deras ketika Daniel menuruni anak tangga hotel karena lift terasa terlalu lambat untuk napasnya yang sudah nyaris habis.
Sepatunya terpeleset di marmer basah. Ia hampir jatuh, tapi ia tidak peduli. Tangannya berpegangan pada dinding, napasnya patah-patah, dada kirinya terasa seperti diremas sesuatu yang tidak terlihat.
Di luar, suara petir menggelegar. Daniel berlari ke tengah hujan tanpa melindungi kepalanya, orang-orang berteduh sementara ia tidak.
Ia berlari ke arah parkiran dengan pandangan kabur oleh air hujan dan air mata yang tidak sempat ia hapus. Ponselnya kembali bergetar, tertera jelas nama Rumah sakit dilayar ponselnya membuat jantungnya terasa berhenti. Ia menjawab sambil tetap berlari.
“Pak Daniel… di mana Anda?” suara perawat terdengar lebih panik dari sebelumnya.
“Saya di jalan… lima menit lagi…”
“Pak, Clara terus memanggil Anda.”
Langkah Daniel terhenti, seolah dunia seperti membeku.
“Apa… apa yang dia katakan?”
Suara di seberang terdengar pecah.
“Dia bilang… Papa jangan lama-lama… Clara takut gelap…”
Kaki Daniel melemas, ia bersandar di mobilnya, tubuhnya gemetar hebat. Air hujan mengalir di wajahnya, bercampur dengan tangis yang akhirnya pecah tanpa bisa ia tahan.
“Aku datang, sayang… Papa datang…” suaranya hancur.
Tiba-tiba suara perawat kembali terdengar, lebih tergesa.
“Pak Daniel! Dokter bilang kalau Anda tidak sampai sekarang… mungkin Anda tidak akan sempat bicara lagi dengannya!”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari pukulan Julian, Daniel membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.Sebelum masuk, ia berbisik pelan pada dirinya sendiri dengan suara serak yang dipenuhi keputusasaan.
“Clara… tunggu Papa…”
Lalu ia masuk, menyalakan mesin, dan melesat menembus hujan badai. Ponsel di tangannya masih tersambung dan kalimat terakhir yang ia dengar sebelum sambungan itu terputus membuat darahnya seperti berhenti mengalir.
“Pak Daniel… detak jantung Clara… tinggal satu garis…”