
Dosa Terindah: Wangi Susu di Kaki Bukit
El Nino|Tamat
- Jumlah kata
- 48.3K
- Popular
- 34.8K
- Subscribe
- 2.8K
- Jumlah kata
- 48.3K
- Popular
- 34.8K
- Subscribe
- 2.8K

El Nino|Tamat
Di sebuah gubuk kayu yang selalu dikepung kabut dingin kaki bukit, hanya ada mereka berdua. Saras (30 thn), wanita dengan kecantikan yang melampaui batas desa—berkulit seputih susu, berambut hitam lebat, dan memiliki tubuh yang mengundang pemujaan, namun harus merelakan masa depannya terkubur bersama kakinya yang cacat akibat tragedi kecelakaan maut. Satu-satunya cahaya dalam hidup Saras adalah Bram (20 thn), keponakan yang ia rawat sejak kecil. Namun, Bram bukan lagi bocah ingusan. Ia telah tumbuh menjadi pemuda liar dengan bahu kokoh dan tangan kasar yang kini menjadi penopang utama hidup Saras. Bram-lah yang menggendongnya, Bram-lah yang membasuh tubuhnya, dan Bram-lah yang menjaga rahasia mereka dari gunjingan orang desa. Namun, pengabdian Bram perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Di balik dinginnya malam dan remangnya lampu minyak, Bram mulai menjelajah batas-batas yang terlarang. Ia memuja setiap jengkal kulit bibinya yang sehalus sutra, menyentuhnya dalam diam saat Saras terlelap. Saras tahu. Ia menyadari setiap sentuhan itu. Ia merasakan napas Bram yang memburu di ceruk lehernya. Namun, rasa syukur dan ketergantungan yang mendalam membuatnya terjepit dalam dilema: haruskah ia menolak, atau justru membiarkan dirinya tenggelam dalam dosa yang terasa begitu manis? Di antara aroma bunga kenanga dan dinginnya kaki bukit, sebuah rahasia besar mulai tumbuh. Sebuah hubungan yang tidak hanya menantang moral, tapi juga membakar jiwa. Karena bagi mereka, neraka terasa begitu jauh saat surga ada di depan mata. "Satu sentuhan adalah pengabdian. Seribu sentuhan adalah dosa yang paling indah."
6 ulasan
Escampur Dia Es Duba
6/9/26 07:20
mantap danseru sebagai yg baca crita ini enakklu buatsantai dibaca lanjut dan terus kancerita nya yg paling seru dan lebih hot
Kenong Kenong
9/8/26 03:32
betapa bahagianya si bram setelah menikmati tubuh mungil bibi nya,betapa liarnya si bram menjelajahi tubuh bibi nya yang mungil itu
Haya Alex
3/8/26 14:10
sayang pakai koin lanjut lanjut lanjut lanjut lanjutgghhhhhhbnjjnnnnnnnnnnnnnnnnn jnjnnnnnnnnext next
Suara derit lantai kayu rumah panggung di kaki bukit Girisepuh itu selalu terdengar seperti rintihan panjang setiap kali Bram melangkah. Pagi itu, kabut turun lebih tebal dari biasanya, menyelinap masuk melalui celah-celah dinding papan yang mulai lapuk, membawa hawa dingin yang sanggup membekukan tulang.
Bram, pemuda berusia dua puluh tahun dengan bahu lebar dan telapak tangan yang mengeras karena kapalan, berdiri di depan jendela kecil yang menghadap ke arah lembah. Pikirannya melayang jauh ke peristiwa tiga tahun silam. Peristiwa yang mengakhiri masa mudanya secara paksa dan mengikat hidupnya selamanya pada satu-satunya wanita yang tersisa di dunia ini.
Kecelakaan kereta api itu.
Bram masih bisa mencium aroma besi yang terbakar dan jerit histeris penumpang setiap kali ia memejamkan mata. Ayah dan ibunya tewas seketika di gerbong depan saat mereka hendak mengantar Saras—bibi angkatnya—pergi ke kota untuk mulai bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan besar. Saras adalah anak kandung dari kakek-nenek Bram, sementara ibu Bram adalah anak angkat yang dirawat sejak bayi oleh orang tua Saras. Secara hukum dan darah, mereka sama sekali tidak memiliki ikatan biologis, namun takdir telah memaksa mereka menjadi satu-satunya "keluarga" yang selamat dari tragedi berdarah itu.
Saras selamat, namun ia harus membayar mahal. Kaki kirinya tertindih reruntuhan gerbong, membuat tulang penyangganya hancur dan meninggalkan cacat permanen yang membuatnya harus berjalan pincang seumur hidup. Impian kota besar dan karir cemerlang sirna seketika, digantikan oleh kesunyian gubuk kayu di kaki bukit ini.
Bram menoleh ke arah dipan di sudut ruangan. Di sana, Saras masih terlelap di balik kelambu kusam.
Bram menarik napas panjang, aroma bunga kenanga yang layu di atas meja berpadu dengan wangi sabun mawar yang samar dari arah dipan. Baginya, Saras bukan sekadar bibi. Saras adalah tanggung jawabnya, hutang nyawanya, dan... obsesinya.
Sejak kecelakaan itu, Bram bersumpah tidak akan membiarkan Saras kekurangan apa pun. Ia bekerja di ladang orang, membelah kayu di hutan, dan melakukan apa saja agar wanita seputih susu itu tetap bisa makan dan mendapatkan obat-obatannya. Namun, seiring berjalannya waktu, cara Bram menatap Saras mulai berubah. Ia bukan lagi bocah sepuluh tahun yang dulu sering digendong Saras. Kini, ia adalah pria dewasa dengan hormon yang meledak-ledak, sementara wanita yang ia rawat setiap hari itu memiliki kecantikan yang seolah-olah tidak memudar dimakan penderitaan.
Bram mendekat ke arah dipan. Langkahnya sangat hati-hati.
Dalam tidurnya yang pulas, Saras tampak begitu rapuh namun sekaligus menggoda tanpa ia sadari. Daster katun tipisnya tersingkap hingga ke pangkal paha, memperlihatkan kulit kakinya yang putih bersih—kontras dengan kain jarik kasar yang menutupi bagian kakinya yang cacat. Rambut hitam lebatnya menutupi sebagian bantal, kontras dengan kulit lehernya yang halus.
Dan yang paling membuat napas Bram tertahan setiap pagi: bagian dada Saras yang mencuat dengan bulat dan kencang di balik kain daster yang menegang setiap kali wanita itu menarik napas.
Bram berlutut di samping dipan. Tangannya bergetar. Pagi ini, ia hanya berani menatap. Ia tahu batasannya. Ia tahu bahwa Saras adalah sosok yang suci dalam hidupnya, namun darah mudanya berbisik lain. Hasrat primitif itu menuntut untuk diakui.
"Bibi..." bisik Bram nyaris tak terdengar. Suaranya berat dan serak.
Ia hanya berani mengulurkan tangan untuk membenarkan letak selimut yang melorot, memastikan kulit halus itu tidak terpapar udara dingin terlalu lama. Namun, saat jemarinya tanpa sengaja bersentuhan dengan ujung tumit Saras yang dingin, Bram merasakan aliran listrik yang menyengat hingga ke perut bagian bawahnya.
Ia segera menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh bara api. Bram berdiri dengan tergesa, lalu melangkah keluar menuju dapur untuk menyalakan tungku. Ia harus menyibukkan diri sebelum pikiran-pikiran kotor itu menguasai logikanya sepenuhnya.
Di atas dipan, Saras tetap terlelap. Pagi ini, ia benar-benar belum sadar akan apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala keponakannya. Namun, di dalam kegelapan dan kesunyian rumah itu, benih-benih dosa terindah mulai disemai, menunggu saat yang tepat untuk mekar dan menghancurkan segala batasan yang ada.
Suara kertak api dari kayu bakar di dapur mulai merambat, memecah kesunyian rumah panggung itu. Bram sibuk meniup bara, membiarkan asap tipis menyelimuti wajahnya yang tegas. Di atas tungku, sebuah teko aluminium tua mulai mendesis, mengeluarkan aroma teh melati yang pekat—teh kesukaan Saras yang selalu Bram usahakan ada, meski harganya sedikit lebih mahal dari teh pasar biasa.
Di dalam kamar, kelopak mata Saras perlahan bergerak. Ia mengerang pelan, sebuah suara serak khas bangun tidur yang bagi pendengaran Bram di dapur terdengar seperti undangan yang berbahaya.
Saras mencoba bangkit. Setiap pagi adalah perjuangan fisik baginya. Kaki kirinya yang cacat terasa kaku dan nyeri akibat udara dingin pegunungan yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Ia menyibakkan kelambu, membiarkan rambut hitam lebatnya jatuh menutupi separuh wajahnya yang masih sembap namun tetap terlihat sangat cantik.
"Bram..." panggilnya lembut. Suaranya halus, sedikit parau.
Bram segera meletakkan kayu bakarnya. Ia melangkah masuk ke kamar dengan sigap, namun matanya tetap tertuju pada lantai kayu—sebuah bentuk pertahanan diri agar ia tidak langsung menatap daster tipis yang dikenakan bibinya.
"Saya di sini, Bi," jawab Bram pendek.
Ia mendekat ke tepian dipan. Tanpa perlu diminta, Bram mengulurkan tangannya yang kokoh. Saras menyambutnya, jemari wanita itu yang seputih susu dan lentur tenggelam dalam genggaman tangan Bram yang kasar dan gelap. Saat kulit mereka bersentuhan, Bram merasakan otot perutnya menegang. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Saras yang baru saja bangun tidur merambat melalui telapak tangannya.
"Pelan-pelan, Bi," bisik Bram.
Bram melingkarkan lengannya di bawah ketiak Saras untuk membantunya duduk tegak. Di posisi sedekat ini, hidung Bram hanya berjarak beberapa sentimeter dari ceruk leher Saras. Aroma tubuh bibinya—campuran keringat tipis dan wangi sabun mawar—terasa begitu memabukkan. Dari sudut matanya, Bram tidak bisa tidak melihat bagaimana daster itu merosot sedikit, memperlihatkan bagian atas dadanya yang putih dan kencang. Dada yang bulat itu tampak naik turun dengan ritme napas Saras yang sedikit terengah karena usaha untuk bergerak.
Saras sedikit meringis saat kaki kirinya menyentuh lantai. "Dingin sekali pagi ini, Bram."
"Iya, Bi. Saya sudah buatkan teh hangat dan merebus singkong," sahut Bram sambil terus memegang pinggul Saras, menstabilkan posisi wanita itu agar tidak jatuh. Pinggul Saras terasa penuh dan empuk di bawah telapak tangan Bram yang lebar, sebuah lekukan yang membuat Bram seringkali sulit untuk bernapas dengan normal setiap pagi.
Mereka melangkah perlahan menuju meja makan kayu kecil di sudut dapur. Bram praktis menopang separuh berat tubuh Saras. Setiap langkah pincang yang diambil Saras membuat tubuh mereka bergesekan—pinggul bertemu pinggul, lengan bertemu dada. Bram mengatupkan rahangnya kuat-kuat, mencoba menekan gejolak "darah muda" yang mulai memberontak di balik celana kainnya yang kusam.
Setelah Saras duduk di kursi kayu, Bram menuangkan teh ke dalam cangkir seng. Uap panas mengepul di antara mereka.
Saras menatap Bram yang kini duduk di hadapannya. Ia memperhatikan wajah keponakannya yang kini tampak jauh lebih dewasa daripada ingatannya. Rahang Bram yang kuat, bahunya yang bidang, dan cara pemuda itu menatapnya dengan intensitas yang aneh—sebuah tatapan yang terkadang membuat Saras merasa tidak nyaman, namun di saat yang sama, merasa sangat dilindungi.
"Kau tidak ke ladang Pak Haji hari ini?" tanya Saras sambil menyesap tehnya.
"Nanti agak siang, Bi. Saya mau membetulkan atap yang bocor di belakang dulu. Biar Bibi tidak kedinginan kalau hujan lagi," jawab Bram tanpa berani menatap mata Saras. Ia justru fokus melihat bagaimana bibir merah alami Saras menyentuh pinggiran cangkir, lalu menyisakan sedikit bekas basah yang berkilau.
Saras tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat matanya yang sayu tampak bersinar. "Kau terlalu rajin, Bram. Terkadang Bibi merasa bersalah... kau harus menghabiskan masa mudamu di desa ini hanya untuk mengurus wanita cacat seperti Bibi."
Bram mendongak tiba-tiba. Matanya yang tajam dan gelap bertemu langsung dengan mata Saras yang sayu. Ada kilatan protektif yang tidak bisa disembunyikan pemuda itu.
"Jangan pernah bicara begitu lagi, Bi. Bibi bukan beban," suara Bram berat, menekan setiap kata. "Ibu saya memang hanya anak angkat di keluarga ini, tapi kakek dan nenek merawatnya seperti anak sendiri. Dan sekarang, setelah mereka semua tidak ada... hanya Bibi yang saya punya. Tidak ada darah yang sama di antara kita, tapi itu tidak mengubah apa pun. Saya akan tetap di sini."
Kalimat "Tidak ada darah yang sama di antara kita" menggantung di udara dapur yang lembap. Kata-kata itu seolah menjadi pengingat yang telanjang bahwa mereka bukanlah mahram, bahwa batasan di antara mereka sebenarnya hanyalah sekat tipis bernama "sebutan Bibi".
Saras terdiam, jari-jarinya yang putih pucat meremas pinggiran cangkir teh yang masih panas. Ia bisa merasakan tatapan Bram beralih dari matanya, turun perlahan ke arah bibirnya, lalu berhenti sejenak di lekukan dadanya yang naik turun karena napas yang mulai tidak beraturan.
Saras merasa wajahnya memanas. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya—rasa sesak yang mulai sering muncul setiap kali ia menyadari bahwa keponakannya ini telah berubah menjadi pria dewasa yang bertenaga.
"Terima kasih, Bram," bisik Saras akhirnya, suaranya nyaris hilang ditelan suara kayu bakar yang meletup di tungku. "Tapi kau juga butuh hidupmu sendiri. Kau butuh... wanita yang bisa menemanimu, bukan wanita cacat yang hanya bisa merepotkanmu seperti ini."
Bram tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru berdiri, membuat kursi kayu itu berderit keras di atas lantai. Ia melangkah mendekat ke arah Saras, berhenti tepat di samping kursi bibinya hingga bayangan tubuhnya yang tinggi besar menutupi sosok Saras yang mungil.
Bram membungkuk sedikit, tangannya bertumpu pada sandaran kursi, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Aroma keringat maskulin Bram yang bercampur dengan bau tanah segar menyerbu indra penciuman Saras.
"Saya tidak butuh wanita lain, Bi," ucap Bram dengan nada rendah yang bergetar. "Cukup Bibi. Hanya Bibi."
68 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







