

Hujan turun di halaman kampus pagi itu. Di belakang kantin, seorang pemuda berdiri di depan bak cuci penuh piring kotor. Tangannya pucat dan berkerut karena terlalu lama berada di dalam air, tapi ia tetap menggosok satu per satu piring dengan sabar.
Pemuda itu bernama Joko Nugroho. Mahasiswa semester tiga Jurusan Manajemen Bisnis, dan di kampus itu… semua orang mengenalnya dengan satu julukan.
“Si tukang cuci piring.”
Beberapa mahasiswa yang lewat di belakang kantin tertawa kecil sambil mengejek.
“Eh lihat tuh… ada sih Joko lagi nyupir.”
"Nyupir?”
"Iya... nyuci... piring.”
“Hahahaha.”
Mereka tertawa puas, tanpa merasa bersalah.
Joko mendengar semuanya, tapi seperti biasa dia hanya menunduk dan terus mencuci piring. Tanpa menghiraukan ucapan mereka.
Air sabun menetes dari tangannya. Bajunya sedikit basah. Di sampingnya ada keranjang plastik penuh piring kotor dari warung-warung kantin.
Joko bukan hanya sekedar mahasiswa di kampus itu. Setiap pagi sampai siang dia membantu beberapa penjual makanan di kantin kampus.
Dari mengantar pesanan, membersihkan meja, sampai mencuci piring yang paling sering ia lakukan. Upahnya tidak besar, tapi cukup untuk membayar kos dan makan sehari-hari.
Joko adalah pemuda miskin yang tinggal di Desa Sukaharja, dan merantau ke kota hanya untuk mengejar beasiswanya.
Ibu Ratih sipemilik warung tiba-tiba keluar dari dapur. “Joko, sebaiknya kamu makan dulu?”
Joko tersenyum sambil menoleh kearahnya, “nanti saja Bu, saya mau selesaikan ini dulu.”
Bu Ratih menghela napas. “Kamu jangan kerja terus. Jaga kesehatan itu penting Jok.”
Joko hanya tersenyum. Tanpa ia sadari ada sekelompok mahasiswa lewat di belakangnya. Salah satu dari mereka menunjuk kearah Joko sambil tertawa meledek.
“Bro… liat tuh maskot kampus kita.”
“Maskot?”
“Iya... si Joko, mahasiswa paling rajin… cuci piring.” Tawa mereka pecah. "Hahahahaha."
Joko pura-pura tidak mendengar. Padahal tangannya berhenti sebentar di dalam air. Dia hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali menggosok piring lagi. Hati Joko seakan kebal dengan perkataan mereka semua.
Tidak terasa sore hari telah tiba, kini Joko sudah duduk di bangku paling belakang di kelasnya. Dia sudah mengganti pakaiannya yang basah dengan kemeja putih yang tidak terlalu cerah, dan tasnya yang lusuh sudah berada diatas meja.
Di depan kursi Joko, ada beberapa mahasiswa sedang berbicara...
“Eh nanti kalau lo ada acara, jangan lupa undang Joko."
“Buat apa?"
"Ya buat nyuci piringlah."
Mereka tertawa lagi. Seorang dari mereka menoleh ke belakang.
“Eh... ada Joko,” ucapnya sedikit kencang, tanpa merasa bersalah.
Semua orang menoleh kearah Joko.
Mahasiswa itu tersenyum sinis. “Nanti kalau kita buat Party lo jangan lupa dateng ya, Jok. Lo kan bisa jadi tukang cuci di sana.”
Beberapa orang langsung tertawa keras. “Hahahaha!”
Joko tersenyum kecil, lalu menjawab dengan santai. “Iya… nanti saya bantu.”
Jawaban itu justru membuat mereka makin tertawa puas. “Denger nggak? Dia bilang... nanti saya bantu.”
“Anjir... sopan banget tukang cuci piring.”
Tiba-tiba...
“Stop! Kalian masih belum puas buat Joko malu?" Suara seorang wanita memotong tawa mereka.
Kelas langsung sedikit sunyi... semua menoleh. Di barisan depan duduk seorang gadis cantik dengan rambut panjang hitam dan wajah dingin.
Dia adalah Clara, mahasiswi paling populer di kampus itu. Ia menatap mereka semua dengan kesal.
“Enak banget ya ngerendahin orang?”
Salah satu mahasiswa terkekeh. “Lah santai aja, Ra. Kita cuma bercanda ko.”
Clara melipat tangannya di dada. “Bercanda! Ngerendahin orang lo bilang bercanda! Nggak punya otak lo semua."
Mereka terdiam dan ada yang mendengus kesal.
Clara lalu menoleh ke belakang… ke arah Joko. “Jangan dengerin mereka, Jok.”
Joko terdiam sesaat. Lalu dia tersenyum dan gugup. “I-iya… makasih.”
Sejak saat itu, Joko mulai memperhatikan Clara. Hari-hari berikutnya, Clara sering melakukan hal yang sama. Jika ada yang mengejek Joko, Clara akan menegur mereka.
Jika ada yang menertawakan pekerjaannya, Clara akan berkata, "seenggaknya Joko kerja keras. Bukan cuma minta ke ortunya... kaya kalian!”
Bagi orang lain mungkin itu hal biasa saja. Tapi bagi Joko, Clara seperti malaikat penyelamatnya. Clara satu-satunya wanita di kampus yang tidak memandangnya rendah.
Beberapa hari kemudian...
Di kantin kampus Joko sedang mengantar minuman ketika Clara datang bersama teman-temannya.
Clara melihatnya, lalu bertanya. “Capek ya, Jok?
Joko sedikit gugup, “Eh... nggak kok.”
Clara mengambil satu botol air dari tasnya, lalu memberikannya pada Joko. “Nih Jok, minum dulu.”
Joko terdiam beberapa detik, lalu ia menerimanya. “Terima kasih, Ra…”
Teman-teman Clara saling pandang, salah satu dari mereka menutup mulut menahan tawa. Tapi Joko tidak menyadarinya. Dia terlalu sibuk menatap Clara, di kepalanya hanya ada satu pikiran.
'Mungkin… Clara memang benar-benar peduli padaku'
Hari demi hari berlalu, perasaan Jokopun tumbuh, semakin dalam dan besar. Setiap senyum Clara terasa seperti harapan. Pembelaannya terasa seperti perhatian.
Sampai akhirnya… Joko memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Clara. Hari itu halaman kampus sangat ramai. Banyak mahasiswa berkumpul di depan gedung fakultas.
Joko berdiri di tengah kerumunan dengan wajah gugup. Di tangannya ada satu buket bunga sederhana yang dia beli dari penjual pinggir jalan.
Agus... penjaga kantin yang sekarang jadi teman dekat Joko sempat berkata, “serius kamu Jok, mau nembak Clara?”
Joko mengangguk penuh keyakinan, “iya, Gus. Aku serius. Clara itu baik, beda sama yang lain.”
Agus hanya menggelengkan kepala, tanpa banyak komentar. Joko tetap pada pendiriannya kalau dia harus mengutarakan perasaannya pada Clara, tidak peduli apapun resikonya.
Kini Clara sudah berdiri beberapa meter di hadapannya. Teman-temannya mengelilingi mereka.
Joko menarik napas dalam sebelum berkata, “Clara…”
Clara menoleh dengan cepat. “Iya?”
Suara Joko sedikit gemetar. “Aku… aku mau ngomong sesuatu.”
Kerumunan mulai memperhatikannya.
"Mau ngomong apa Jok," jawab Clara.
“Aku… tahu aku bukan siapa-siapa di kampus ini.”
Beberapa mahasiswa sudah mulai berbisik. "Ikh, si Joko mau ngapain sih."
“Tau tukang cuci piring nggak jelas banget.”
Joko melanjutkan ucapannya. “Selama ini kamu satu-satunya orang yang baik sama aku.”
Clara hanya memperhatikan Joko.
“Clara… aku suka sama kamu,” katanya sambil mengangkat buket bunga itu.
Kerumunan langsung gaduh.
"Gillaaa... dia nembak dong.”
“Waaahh... berani banget si Joko nembak Clara.”
Joko tidak memperdulikan ucapan mereka semua. Joko hanya menatap Clara dengan penuh harap.
“Kalau kamu mau... kamu bisa ambil bunga ini,” lanjutnya.
Clara tiba-tiba tertawa dan mengejek. Kerumunan langsung ikut tertawa.
Seketika Joko membeku.
“Hahaha... lo serius nembak gue Jok?” katanya sambil tertawa.
Beberapa temannya ikut tertawa sampai membungkuk. "Hahahaha.”
Joko tidak mengerti, dia menatap Clara bingung, “Clara, kamu kenapa ketawa. Memangnya ada yang lucu."
Clara menatapnya dengan senyum mengejek. “Joko… Joko... lo pikir gue baik sama lo, itu karena gue suka sama lo!”
Tawa di sekitar mereka semakin keras.
Salah satu teman Clara berteriak, “kasih paham, Ra!”
Clara menoleh ke arah mereka, lalu kembali menatap Joko. “Denger ya, Jok.” Dia melipat tangannya di dada. “Semua ini cuma... taruhan.”
Dunia Joko terasa berhenti. “Taruhan…?”
Clara mengangguk santai. “Iya. Teman-teman gue bilang, kalau lo itu gampang di bodohin.”
Seseorang dari belakang berteriak, “akhirnya lo menang juga, Ra.”
Tawa meledak.
Clara melanjutkan perkataannya dengan santai, “taruhannya simpel. Kalau gue bisa buat lo jatuh cinta… mereka semua akan traktir gue selama sebulan.”
Mereka tertawa lebih keras. “Hahahaha!”
Joko masih berdiri memegang buket bunga itu. Tangannya perlahan gemetar. Clara mendekat sedikit lalu menepuk bahunya.
“Dan ternyata… gampang banget buat lo jatuh cinta sama gue.”
Mereka semua bersorak dan bertepuk tangan, “yeee... Clara menang.”
“Heh... tukang cuci piring, lain kali ngaca dulu kalau mau nembak cewek!"
Tawa mereka seperti pisau. Bunga di tangan Joko jatuh ke tanah. Joko hanya terdiam dan berdiri di tempat, sementara semua orang di halaman kampus menertawakannya.
Clara berbalik pergi bersama teman-temannya, sambil tertawa. Meninggalkan Joko sendiri di tengah kerumunan.
Hujan mulai turun dan membasahi wajah Joko. Beberapa mahasiswa merekam dengan ponselnya.
“Wah... bisa viral ini mah."
“Judulnya: tukang cuci piring nembak dewi kampus dan di tolak.”
“Hahaha...”
Joko perlahan membungkuk, mengambil buket bunga yang jatuh. Bunga itu sudah basah dan banyak kelopaknya yang lepas.
Dia menatapnya beberapa detik. Lalu menjatuhkannya kembali ke tanah, dan untuk pertama kalinya…
Joko mengangkat kepalanya, tatapannya berubah... dingin dan kosong. Tidak ada lagi rasa malu, dan harapan dihatinya.
Hanya satu kalimat yang terlintas di pikirannya.
Tidak apa-apa, kalau dunia menganggapku sampah, semoga suatu hari nanti… mereka semua akan menyesal pernah menertawakan aku yang hanya seorang tukang cuci piring.