Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
W.R.O.N.G

W.R.O.N.G

Bajuri | Bersambung
Jumlah kata
27.3K
Popular
125
Subscribe
20
Novel / W.R.O.N.G
W.R.O.N.G

W.R.O.N.G

Bajuri| Bersambung
Jumlah Kata
27.3K
Popular
125
Subscribe
20
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeCinta SekolahMusuh Jadi CintaRomansa Manis
Tahun 2004 adalah tahun kutukan bagi Ibas. Hidupnya yang tenang di perpustakaan mendadak dijajah oleh Helda, siswi baru bermata sipit yang cantiknya mirip tepung beras Rosebrand tapi kelakuannya kayak setan pohon Gayam. Helda itu paradoks. Di kelas sok kalem, tapi ketika berdua hobi banget bikin Ibas kena serangan jantung karena ulah ajaibnya. Ibas pun terjebak dalam dilema. Apakah Helda beneran naksir dia, atau Ibas cuma cukup bego buat dijadiin mainan? Sebuah kisah tentang cinta monyet dan usaha keras Ibas agar tidak mati konyol karena ulah ajaib Helda.
Am I Stupid Enough For You? (Part 01)

I remember when we first met

It was the day that I would never forget

Doing those crazy things so you notice me

Hoping someday that you'll be family

"Hey jangan bercanda" Ucapku pada seseorang yang mendekapkan kedua telapak tangannya menutupi kedua mataku.

"Tebak dulu, siapa?" Balasnya konyol dengan mencoba menyamarkan suaranya. Ya, tentu itu dia. Aku sangat mengenal keberadaan ini, harum tubuh ini, dan hangat telapak tangan yang seperti sweater di musim dingin.

"Helda" Jawabku datar. Lalu kedua tanganku memegang pergelangan tangannya yang mungil, menariknya perlahan, menjauhkan telapak tangannya yang menghalalangi pandangan mataku.

"Yah ,lagi-lagi langsung ketebak. Padahal suaraku udah disamarin" Ucapnya sedikit kesal. Namun yang membuatnya kesal bukan karena gagal mengerjaiku, tapi karena aku membuat permainan menjadi tidak asik. Itulah cara kita saling bertanya apa kabar. Memang aneh, tapi itu telah berlangsung bertahun-tahun. Tepat sejak pertama aku mengenalnya.

Ya, aku masih sangat mengingat momen itu. Saat pertama kali bertemu dengannya. Senin 12 Januari 2004, seperti biasa cuaca kala itu memang susah ditebak. Pagi hari hujan namun memasuki siang hari panas matahari sangat terik, membuat retakan pada tanah yang kulewati berangkat sekolah. Masuk siang merupakan hal yang menyebalkan bagiku saat masih SMP, ditambah cuaca siang hari yang mendadak panas seolah mendukungku untuk bolos sekolah. Namun itu tidak kulakukan. Mungkin ada benarnya juga apabila sebagian orang menyebut 'Monday' sebagai 'Monster Day', apalagi jam pertama siang ini pelajaran Fisika yang sebenarnya tidak terlalu membosankan tapi cukup melelahkan. Semakin menyebalkan karena suasana kelas yang kacau akibat tidak adanya guru yang semestinya mengajar Fisika di jam pertama ini, suara obrolan para cewek saling bersahutan, suara sebagian cowok benyanyi ria dengan gitarnya, dan sebagian lagi yang paling menyebalkan bermain bola di dalam kelas. Gila, cuma di Indonesia ada yang seperti itu.

Aku juga bukan siswa yang rajin, tapi aku masih lebih waras dibanding mereka yang bermain bola dan jrang-jreng-jrong di kelas. Aku melangkah keluar kelas, meninggalkan kebisingan itu. Memasuki jam setengah dua siang panasnya semakin terik. Kondisi panas seperti ini memang paling menyenangkan tidur di ruang kesehatan, tapi siang ini aku lebih tertarik menghabiskan waktu di perpustakaan. Di sana aku bisa membaca buku hingga bosan lalu tertidur. Ya, ujung-ujungnya memang tidur siang lalu kembali bugar saat terbangun di jam istirahat. Melewati ruang TU langkahku terhenti, terdengar beberapa orang mengobrol, salah satunya suara yang tak asing, suara Pak Solichin wali kelasku sekaligus guru Fisika yang seharusnya mengajar pada siang ini di kelasku. Karena penasaran aku pun mendekati kaca jendala yang gelap, berusaha melihat ke dalam. Ternyata Pak Solichin sedang mengobrol dengan seorang lelaki tua bermata sipit khas wajah etnis keturunan Tionghoa dengan tampilan jas hitam, dasi merah, dan gaya rambut klimis layaknya seorang pengusaha. Di sampingnya duduk seorang gadis berambut pendek sebahu mengenakan seragam sekolah namun dilihat dari rok sekolahnya sepertinya dia bukan siswi sekolah ini, mungkin gadis itu anak dari pria tua tersebut. Terlihat mirip dari bentuk wajah dan matanya yang sipit khas etnis Tionghoa. Atau mungkin aku yang salah, menyamakan semua orang bermata sipit adalah etnis Tionghoa, lalu melihat semua orang etnis Tionghoa itu memiliki wajah yang mirip. Entahlah.

Raut wajah gadis itu terlihat bosan, matanya menatap ke sekeliling ruangan berusaha menemukan hal menarik yang dapat mengusir rasa bosannya. Terkadang kakinya dihentakan pelan berulang-ulang, atau mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari-jarinya yang mungil. Tiba-tiba aktivitasnya terhenti, sepertinya dia menemukan hal yang menarik. Aku pun menyadari kini sorot matanya tertuju ke arahku mengintip. Dan detik itu juga pandangan mata kita bertemu, tapi aku tak yakin karena kaca yang memisahkan ini cukup gelap, atau mungkin di dalam terlihat tidak terlalu gelap. Beberapa saat kemudian aku pun yakin dia melihat kearahku. Dia menatapku, tersenyum lalu melambaikan tangannya. Konyol sekali. Aku pun beranjak pergi, melanjutkan langkahku ke perpustakaan.

Saat jam pelajaran seperti ini tentu saja perpustakaan sepi, dan sepertinya memang hanya aku saja yang berpikir membolos di perpustakaan. Yang sangat aku sesalkan saat itu adalah minimnya buku di perpustakaan sekolah menengah pertama yang berkaitan dengan silabus pembelajaran yang diberikan guru, aku menyadari itu saat memasuki bangku kuliah. Menurutku tempat paling nyaman di perpustakaan adalah bangku di sebelah jendela dekat rak paling pojok. Baru saja membaca beberapa halaman buku 'Jangka Sabda Palon' tiba-tiba saja gelap menyergap pandangan mataku, sepasang tangan mendekapku dari belakang. Bisa kurasakan halus kedua telapak tangan itu, Perasaan hangat yang tersampaikan melalui telapak tangan itu, dan harum yang membuatku terdiam untuk beberapa saat.

"Siapa?" Tanyaku.

Hanya diam, tak ada jawaban.

Aku pun menggenggam pergelangan tangannya, menariknya menjauh dari pandangan mataku, lalu menengok ke belakang.

"Aku" Ucap seorang gadis dengan senyumnya yang ramah. Ya, aku ingat. Dia gadis yang tadi tersenyum kearahku di ruang TU tadi.

"Toiletnya di sebelah mana ya?" Tanyanya mengejutkan.

"Katanya deket-deket sini, kebetulan lihat kamu, jadi bisa nanya." Ucapnya ramah, sementara aku masih diam.

"Ini masih jam pelajaran kan? Bolos ya?" Lanjutnya menyindir. Dia masih akan terus bicara jika aku tak segera memotongnya.

"Dari pintu keluar belok kanan, lurus terus. Toilet cewek di sebelah kiri." Jawabku santai.

"Oh, itu buku apa? Kayaknya bagus, boleh lihat?" Tanyanya membingungkanku, dan langsung mengambil buku di mejaku tanpa menunggu persetujuanku.

Dia membacanya sebentar lalu mengambil sesuatu di saku seragamnya, lalu dia memberi lipatan pada halaman yang tadi kubaca sebelum menutup buku dan mengembalikannya padaku.

"Itu jangan diii..." Hanya itu reaksiku saat dia melipat halaman buku pinjamanku, karena sudah terlanjur.

Dia hanya cengengesan melihat reaksiku saat memngembalikan buku itu padaku. Belum hilang rasa terkejutku, aku sudah mendapat kejutan lagi saat membuka buku pinjamanku. Pada halaman yang terlipat itu kutemui coretan pulpen merah di pojok kanan atas, bertuliskan 'Makasih ya, Tukang Bolos hihi... ^-^V'

Aku hendak memarahinya, tapi saat melihat kesamping ternyata dia sudah kabur terlebih dahulu. Hah, ya sudahlah. Belum hilang rasa kesalku, terdengar suara ketukan dari kaca jendela di dekatku. Aku menoleh dan menemukan gadis itu mengejekku dengan menjulurkan lidahnya lalu berlari dengan tawa puas telah mengerjaiku.

Sesaat sebelum jam istirahat usai aku kembali ke kelas, karena aku mengira suasana kelas sudah lebih tenang. Ternyata malah lebih berisik dari tadi siang, nampak teman-teman sekelasku sedang mengerubungi sesuatu entah apa itu. Pemandangannya seperti segerombolan semut menemukan gula. Namun pemandangan itu hanya berlangsung sesaat karena guru mata pelajaran berikutnya telah memasuki kelas, semuanya bubar kembali ke bangku masing-masing. Barulah aku mengerti gula itu adalah dia, gadis yang tadi siang memberi kesan padaku, kesan yang kurang menyenangkan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca