Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Berondong Kesayangan Janda Muda

Berondong Kesayangan Janda Muda

ZENlyzz | Bersambung
Jumlah kata
37.2K
Popular
1.7K
Subscribe
490
Novel / Berondong Kesayangan Janda Muda
Berondong Kesayangan Janda Muda

Berondong Kesayangan Janda Muda

ZENlyzz| Bersambung
Jumlah Kata
37.2K
Popular
1.7K
Subscribe
490
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeKonglomeratPria Miskin21+
Ghevan adalah seorang budak di keluarga Winata. Walaupun dia seorang budak, Ghevan memiliki wajah rupawan yang bahkan membuat anak sang majikan merasa iri dan tak senang. Dan untuk melampiaskan rasa iri itu, David seringkali menyiksa Ghevan. Penyiksaan itu terus berlanjut hari ke hari sampai pada akhirnya Ghevan dipertemukan dengan Fianna, seorang pengusaha muda di bidang fashion yang baru saja bercerai dengan saudara David. Fianna yang usianya lebih tua dari Ghevan, membeli Ghevan dari David untuk dirinya sendiri. Awalnya hubungannya dengan Ghevan hanya karena alasan tertentu. Tetapi, lama kelamaan, Fianna justru semakin menginginkan Ghevan seutuhnya!
Berikan Budak Tampan Ini Padaku

"Berhentilah bersikap lembek seperti itu! Cepat, jilat kotoran di sepatuku!"

Menyedihkan!

Satu kata itu benar-benar menggambarkan situasi Ghevan saat ini. Bagaimana tidak? Ghevan adalah manusia biasa, tetapi sayangnya di kediaman Winata, Ghevan hanyalah seorang budak tanpa harga diri tersisa. Bahkan, harga diri binatang mungkin lebih besar jika dibandingkan dengannya.

Sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Ghevan. Setiap hari, tak pernah ia lalui tanpa siksaan David. Entah apa yang membuat David begitu membenci Ghevan. Bahkan sepertinya, David tidak akan bisa tidur tenang sebelum menyiksa Ghevan.

"Hey, Budak! Jangan diam saja! Cepat jilat kotoran di sepatuku!" titahnya lagi dengan suara yang meninggi.

"Kenapa kau diam saja? Kau tidak ingin melakukannya?" David menujukkan ekspresi wajah tak senang, melipat kedua tangan di depan dada. "Kalau kau tidak mau, lakukan hal lain saja untukku."

David tampak berpikir untuk beberapa saat. Tak lama setelah itu, dia tersenyum. Senyuman itu terlihat sangat menyeramkan bagi Ghevan. Di balik senyuman itu, entah ide gila apa lagi yang akan David lakukan.

"Tidak perlu takut," ujar David. "Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya akan membuatmu menjadi jauh lebih bersih," lanjutnya.

Menjadi lebih bersih? Entah apa yang ada di dalam pikiran David. Rasanya, sekujur tubuh Ghevan merasa merinding; takut memikirkan hal keji apa lagi yang akan David lakukan kepada dirinya.

Setelah mengatakan hal itu, David pergi untuk beberapa saat. Dan tak lama kemudian, Ghevan kembali bersama dua orang lain. David memasang senyuman menakutkan di wajahnya.

"Baiklah. Sekarang, kalian berdua lakukan tugas kalian. Ingat ya, potongnya jangan sampai salah sasaran!" titah David dengan tawa kecil, duduk di kursi di saat Ghevan bersujud di hadapannya.

"Kalian ingin apa?" Ghevan tampak takut, terlebih lagi ketika salah seorang memegangi tubuhnya dengan erat, dan satu orang lainnya tampak memegang alat cukur.

"Tenang saja. Mereka tidak akan memotong bijimu. Mereka hanya ingin membersihkan rumputnya saja, agar lebih bersih," ucap David dengan tawa lepas yang sangat puas.

Mendengar apa yang dikatakan David dengan ringannya, Ghevan merasa bulu kuduknya merinding. Selama ini David memang sudah sering menyiksa Ghevan, tetapi kali ini tindakannya benar-benar sudah keterlaluan. Bagaimana bisa dia memiliki pikiran seperti itu?!

"Ya Tuhan! Tuan... tolong maafkan aku. Tolong jangan lakukan itu. Kumohon." Ghevan putus asa memohon kepada David, tetapi David tak peduli dengan keputusasaan Ghevan kala itu.

Ghevan benar-benar tak bisa melakukan apa pun lagi. Dia hanya bisa memejamkan matanya, berusaha untuk pasrah menerima hal apa yang akan menimpa dirinya beberapa saat lagi. Dan tepat di saat-saat menegangkan itu, tiba-tiba terdengar seruan seorang wanita.

"David, berhenti!"

Wanita cantik dengan potongan rambut panjang berjalan dengan anggun mendekati David dan Ghevan.

Hanya dengan mendengar suaranya, Ghevan sudah mengenali siapa wanita yang telah berani memerintahnya. Wanita itu tidak lain adalah Fianna, kakak ipar David, istri dari Dion, kakanya.

"Wah, lihat siapa yang datang kemari." David bersikap sok asyik, berniat memberikan pelukan selamat datang untuk sang kakak ipar. Namun, niat itu ditolak mentah-mentah oleh Fianna.

"Jangan menyentuhku! Kau membuatku jijik!" cetusnya dengan berani.

Dihadapkan dengan keberanian Fianna, David tidak bisa berkutik.

Di tengah suasana yang memanas di antara Fianna dan David, Ghevan berusaha untuk diam, tidak ingin kembali menjadi fokus David. Berharap David akan melepaskan dirinya secepat mungkin. Ghevan benar-benar tidak ingin menjadi pusat perhatian siapa pun lagi.

Namun, nasib sial tidak pernah mau menjauh dari Ghevan. Setelah lepas dari David, kini ia justru menarik perhatian Fianna.

"Ngomong-ngomong... siapa pemuda tampan ini?" tanya Fianna sambil memandangi sekujur tubuh Ghevan dengan saksama.

"Tampan? Menurutmu budak ini... tampan?"

"Iya. Dia tampan. Jauh lebih tampan jika dibandingkan dengan kakakmu, Dion. Apalagi jika dibandingkan denganmu. Sangat jauh!" jawab Fianna dengan tawa.

Melihat keberanian Fianna saat berhadapan dengan David, membuat Ghevan merasakan perasaan lega... entah kenapa, tetapi jauh di dalam lubuk hati kecil Ghevan, ia sedikit berharap Fianna bisa menyelamatkan dirinya dari neraka ini.

Tak bisa dipungkiri. Jelas terlihat bahwa saat ini David benar-benar sangat marah, tetapi sialnya dia tak bisa menujukkan amarah itu. Dia tak bisa bersikap seenaknya kepada Fianna; alasannya jelas—status Fianna jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan dirinya.

"Kita terlalu banyak membuang-buang waktu. Kau datang ke sini karena ingin bertemu dengan Ayah, 'kan? Ayo, aku antarkan ke dalam." David cepat-cepat mengganti topik, tak ingin terus menambah amarahnya terhadap Fianna.

"Oh, tidak-tidak. Aku datang ke sini bukan karena ingin bertemu dengan ayahmu," ungkap Fianna.

"Jika bukan? Lalu, siapa? Aku?"

Fianna tertawa. "Bodoh! Kau pikir dirimu orang penting? Tidak mungkin aku datang jauh-jauh ke sini hanya untuk bertemu denganmu!"

Tawa Fianna menular kepada Ghevan, dan tanpa sadar, Ghevan pun ikut tertawa sampai pada akhirnya ia menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal!

David yang mendengar tawa Gheva, langsung melotot. "Sialan! Kau tertawa budak?! Kau? Berani?! Kau cari mati?! Hah?!" teriak David, melampiaskan amarahnya kepada Ghevan. Dan sesaat kemudian, David meraih botol wine, memukulkan botol itu ke kepala Ghevan hingga serpihan kacanya menggores wajah tampan Ghevan.

"Ampun, Tuan David. Maafkan saya... ampuni saya. Saya salah. Ampuni saya... saya mohon, ampuni saya." Ghevan dengan putus asa memohon ampun kepada David, tetapi tindakan itu dihentikan oleh Fianna.

Fianna memegangi kedua tangan Ghevan, menatap wajah Ghevan untuk beberapa saat.

"Dasar bodoh! Kau melukai wajah tampannya!" ucap Fianna, menatap sinis kepada David.

"What?! Kau gila? Kau membela dia?"

"Of course! Tentu saja aku membela pemuda tampan ini. Lagi pula, dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Dan sebaliknya, kau yang salah di sini. Dia bisa saja melaporkan tindakanmu ini ke polisi, kau tahu...?"

Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang memihak kepada Ghevan. Bukan hal yang tak wajar kan, jika saat ini hatinya berdebar?

"Dan, ya. Kedatanganku ke sini sebenarnya karena aku ingin bertemu dengan Dion. Menurut informasi yang aku dapat, dia ada di sini," ucap Fianna.

"Dion tidak ada di sini! Kau istrinya, kau tidak tahu suamimu sedang dalam perjalanan bisnis ke Singapura?"

"Iya. Aku tahu dia ke Singapura, tapi aku juga tahu, perjalanan itu bukan perjalanan bisnis, tapi perjalanan perselingkuhan," jawab Fianna.

David terkejut saat mendengar kebenaran yang baru saja Fianna ungkapan. Dan tidak jauh berbeda, Ghevan pun juga terkejut dan tidak menyangka akan hal itu.

"Apa kamu sadar apa yang baru saja kamu katakan, Fianna?" Suara Dion terdengar, baru saja datang dengan koper hitam kecilnya; tak sengaja mendengar apa yang baru saja Fianna katakan.

Ghevan merasa sangat tidak nyaman. Ia ingin pergi, tetapi saat ini Fianna masih menggenggam tangannya. Dan akhirnya, ia mau tidak mau harus tetap berada di tempat itu dan mendengarkan apa saja yang akan orang-orang penting itu bicarakan.

"Wow, pas sekali. Berarti informasi yang aku dapatkan itu tidak salah. Kau akan datang hari ini dan bukannya minggu depan." Dengan senyum, Fianna memberikan surat perceraian pada Dion.

"Itu surat perceraian. Aku ingin kau tanda tangan. Aku ingin kita berpisah. Dan masalah harta, aku tidak akan meminta apa pun. Tapi aku hanya minta satu hal. Berikan budak tampan ini kepadaku. Aku hanya ingin dia!" ucap Fianna.

Lanjut membaca
Lanjut membaca