

"Ayo minggir! Jangan sentuh kakekku sembarangan, kalian cuma akan membuatnya makin parah!" teriak seorang wanita dengan suara bergetar, matanya merah karena panik.
"Dokter, kenapa diam saja? Lakukan sesuatu atau dia akan mati di sini!" sahut seorang pria berseragam keamanan yang wajahnya pucat pasi.
"Maaf, Nona Clara. Jantung Tuan Gunawan sudah berhenti total. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan," jawab dokter bandara dengan nada pasrah sambil menutup tas medisnya.
Suara hiruk-pikuk di Terminal Kedatangan Internasional Soekarno-Hatta itu mendadak terasa mencekik.
Diki, yang baru saja melangkah keluar dari pintu geser otomatis, menghentikan langkahnya.
Ia mengenakan kaos oblong putih yang sudah agak kusam dan celana jeans pudar, sangat kontras dengan kemewahan gedung bandara yang megah.
Udara Jakarta yang panas dan penuh polusi menyapu wajahnya, membawa serta kenangan pahit tentang kota ini.
Kota yang dulu menginjak-injak harga dirinya hingga hancur, membuangnya seperti sampah tak berharga.
Namun, Diki bukan lagi pemuda bodoh yang dulu. Di balik mata hitamnya yang tenang, tersimpan ilmu pengobatan kuno terlarang yang telah ia kuasai selama tiga tahun mengasingkan diri di pegunungan.
"Biarkan saya lewat," ucap Diki pelan, mencoba menyusup ke tengah kerumunan yang semakin padat.
Seorang penjaga keamanan bertubuh besar langsung menahan dada Diki dengan telapak tangan besarnya.
"Hei, Mas! Mundur! Ini area terbatas untuk keluarga dan tim medis. Jangan sok jadi pahlawan kesiangan."
"Saya dokter," kata Diki datar, tatapannya tajam menembus mata sang penjaga.
"Dokter?" Penjaga itu tertawa meremehkan, menunjuk pakaian Diki yang sederhana. "Dari mana asalmu? Klinik desa? Lihat tuh, dokter-dokter spesialis dari rumah sakit terbaik saja sudah angkat tangan. Jangan bikin rusuh!"
Di tengah lingkaran manusia itu, seorang pria tua berwibawa terbaring tak bernyawa di atas lantai marmer dingin. Wajahnya biru, napasnya nihil.
Dia adalah Tuan Besar Gunawan, pemilik Gunawan Group, salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sampingnya, seorang wanita muda dengan balutan blazer mahal berlutut, mengguncang tubuh kakeknya dengan putus asa.
Dialah Clara Gunawan, cucu kesayangannya yang dikenal sebagai CEO dingin dan tak tersentuh. Kini, topeng ketenangannya runtuh total.
"Kakek... jangan tinggalkan Clara," isak Clara, air matanya menetes membasahi pipi sang kakek. "Aku belum sempat meminta maaf atas semua kesalahan aku..."
Diki merasakan gejolak di dadanya. Sumpah dokternya berteriak untuk bertindak, namun nalurinya memperingatkan agar tetap anonim.
Jika ia muncul sekarang, musuh-musuh lamanya yang juga berada di puncak kekuasaan mungkin akan segera mencium jejaknya.
Tapi, melihat keputusasaan di mata Clara, hati nuraninya menang.
"Minggir," perintah Diki lagi, kali ini suaranya lebih berat, mengandung aura wibawa yang membuat para orang di sekitarnya secara tidak sadar memberi jalan sedikit.
Clara mendongak, matanya bertemu dengan Diki. Ada sesuatu dalam pandangan pria berpakaian sederhana itu yang membuatnya terdiam sejenak.
Bukan karena gantengnya, tapi karena ketenangan aneh yang dipancarkan Diki di tengah kekacauan itu.
"Siapa kau?" tanya Clara tajam, meski suaranya masih serak.
"Orang yang bisa menyelamatkan kakekmu," jawab Diki singkat. Tanpa menunggu izin formal, ia menerobos masuk ke lingkaran dalam.
"Hei! Usir dia!" teriak dokter pribadi Tuan Gunawan yang merasa tersaingi. "Dia tidak punya alat! Dia akan membunuh pasien!"
Diki mengabaikan teriakan itu. Ia berlutut di samping jenazah hidup tersebut. Jarinya meraba leher Tuan Gunawan.
Benar saja, denyut nadi sudah nol. Kondisinya aneh; bukan serangan jantung biasa, melainkan penyumbatan energi vital yang mendadak, sebuah teknik racun halus yang jarang diketahui dokter modern.
"Aku butuh tusuk gigi kayu. Sekarang," pinta Diki tanpa menoleh.
"Apa?" Clara bingung.
"Cepat! Atau kakekmu benar-benar mati dalam sepuluh detik!" desak Diki.
Tangannya sudah mulai menekan titik-titik tertentu di dada sang konglomerat dengan ritme yang unik, bukan kompresi dada biasa.
Seorang pramugari yang kebetulan lewat dengan cepat memberikan bungkus tusuk gigi dari saku seragamnya.
Diki mengambil satu batang tusuk gigi kayu sederhana. Ia memecah ujungnya sedikit hingga runcing, lalu meniupnya pelan seolah membersihkan debu gaib.
"Ini gila! Dia mau menusuk pasien dengan tusuk gigi?" protes dokter itu lagi, hendak menarik lengan Diki.
"Jangan sentuh, jika nyawa kakekmu tidak penting bagimu!" bentak Clara pada dokternya, membuat pria itu mundur ketakutan.
Diki menarik napas dalam. Dalam benaknya, ia memvisualisasikan aliran energi kosmik. "Sembilan Jarum Langit," bisiknya hampir tak terdengar.
Dengan gerakan tangan yang begitu cepat hingga terlihat blur, Diki menusukkan ujung tusuk gigi itu ke sembilan titik akupuntur kritis di tubuh Tuan Gunawan.
Titik di antara alis, pangkal leher, pergelangan tangan, hingga telapak kaki. Tidak ada darah yang keluar, hanya getaran halus yang terlihat oleh mata batin Diki.
Satu... Dua... Tiga...
Kerumunan menahan napas. Clara memejamkan mata, berdoa dalam hati.
Tiba-tiba, tubuh Tuan Gunawan tersentak hebat. Suara gaspan panjang keluar dari mulut pria tua itu, diikuti batuk-batuk keras.
Warna biru di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh rona kemerahan alami. Matanya terbuka, meski masih kabur, namun jelas bahwa jiwa telah kembali ke raganya.
"Hidup! Tuan Gunawan hidup!" teriak seseorang dari kerumunan.
Sorak sorai pecah. Para penjaga keamanan saling pandang dengan wajah malu.
Dokter yang tadi sombong hanya bisa ternganga, otaknya menolak percaya apa yang baru saja terjadi dengan sebuah tusuk gigi.
Diki segera berdiri, membersihkan debu dari celananya. Wajahnya tetap datar, seolah ia baru saja melakukan hal yang sangat biasa.
Ia tahu ini saatnya pergi sebelum pertanyaan yang tidak perlu muncul.
"Tunggu!" seru Clara, berlari mengejar Diki yang sudah berbalik badan. "Siapa namamu? Aku harus membayar jasanya! Berapa pun harganya!"
Diki tidak menoleh. "Anggap saja itu kebetulan, Nona. Jaga baik-baik kakekmu."
"Tapi setidaknya biarkan aku tahu siapa penyelamat kami!"
Clara berhasil menangkap lengan Diki sesaat sebelum pria itu menghilang di antara kerumunan penumpang yang baru turun.
Diki melepaskan genggamannya dengan lembut namun tegas. "Nama tidak penting. Yang penting nyawanya selamat."
Dengan langkah ringan, Diki menyusup ke kerumunan.
Dalam hitungan detik, sosoknya telah ditelan oleh lautan manusia di terminal kedatangan.
Ia meninggalkan kekaguman, kebingungan, dan sebuah misteri besar.
Clara terpaku di tempatnya, napasnya masih tersengal-sengal.
Matanya menyapu sekeliling, mencari sosok pria misterius itu, namun sia-sia. Pria itu lenyap begitu saja seperti asap.
Saat ia menurunkan tangannya yang tadi memegang lengan Diki, sesuatu jatuh berdenting kecil ke lantai marmer.
Clara menunduk. Itu adalah sebuah kancing baju berwarna hitam sederhana, terlepas dari kaos oblong pria itu saat ia melepaskan diri tadi.
Di permukaan kancing yang kasar, terukir pola garis-garis halus yang aneh, berbentuk seperti naga kecil yang sedang melingkar.
Benda apa ini?
***