

"Anying… kenapa sih timun gue?" batin Tatang kesal, ia cukup tersiksa dengan keadaannya yang menderita lemah syahwat. Padahal libidonya cukup tinggi, namun reaksi tubuhnya menolak patuh.
Ia menarik celananya, melihat si timun yang mengkerut kedinginan. Tidak ada reaksi sama sekali, masih loyo, letoy, tidak bertenaga.
Di depannya layar ponsel masih menyala, memutar film dewasa dimana seorang wanita tanpa busana sedang menari dengan begitu menggairahkan.
Plak!
Tatang menampar timunnya sendiri saking kesalnya ia kepada aset berharganya itu. Akibat timunnya tidak merespon, Tatang selalu tersiksa dengan gairah yang memuncak, tapi tidak pernah bisa ia salurkan.
"Kenapa hidup gue begini ya?" keluhnya lirih. "Mana hidup sendiri, miskin, lemah syahwat, tinggal di kontrakan, nunggak lagi."
Tatang akhirnya bangkit, menarik celananya kembali. Ia duduk di tepi ranjang, termenung sejenak.
"Hadeuh, ya udahlah."
Merasa putus asa, Tatang akhirnya bangkit menyudahi kegiatan menonton film pornonya. Ia meraih minyak urut di atas meja, hendak keluar untuk mencari pelanggan.
Namun langkahnya terhenti saat menyadari botol minyak urut yang biasa ia bawa telah kosong.
"Ya elah, habis lagi," gumamnya kesal.
Selama ini, Tatang mendapat penghasilan dari menjual jasa urutnya ke warga desa. Namun penghasilannya sangatlah kecil, terkadang untuk makan saja tidak cukup.
"Gimana ya?" Tatang bingung, minyak urutnya habis dan dia tidak punya uang untuk membeli yang lain.
Ia berpikir sejenak, lalu mengambil inisiatif untuk pergi ke kamar kakeknya, siapa tahu mendiang kakeknya menyimpan minyak urut cadangan.
Selama ini, ia hanya tinggal bersama sang kakek yang telah meninggal tiga bulan yang lalu. Sementara dua orang tuanya, Tatang sama sekali tidak mengenal mereka, karena kata sang kakek kedua orang tuanya meninggal saat Tatang masih kecil.
Di dalam kamar kakeknya, Tatang mulai menggeledah setiap sisi berharap ada minyak urut yang tersimpan. Namun setelah beberapa lama mencari ia tidak menemukan apa-apa, hingga tidak sengaja saat ia memindahkan tumpukan baju mendiang kakeknya di dalam lemari, ia menemukan botol kecil dengan cairan berwarna kuning kemerahan di dalamnya.
"Nah, ini dia." Tatang langsung sumringah. Ia mengambil minyak tersebut lalu membukanya untuk memastikan.
"Eumh… anjir, baunya nyengat banget," gumamnya sambil menjauhkan hidung dari botol tersebut.
Mendiang sang kakek dulunya memang tukang urut yang berasal dari desa, namun Tatang sempat bingung, karena seingatnya ia tidak pernah melihat kakeknya membawa minyak urut ini semasa hidupnya.
"Ya udahlah, dari pada enggak ada sama sekali."
Tanpa pikir panjang, ia langsung membawa minyak urut itu bersamanya. Tidak ada pilihan lain, hanya itu satu-satunya minyak urut yang ia punya sekarang.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang saat ia memutuskan keliling gang demi gang untuk menawarkan jasa urutnya. Setiap rumah ia datangi menawarkan jasa urutnya dengan ramah dan menjanjikan. Namun sayang, sampai hari menjelang malam tidak ada satupun yang mau memakai jasa urutnya tersebut.
"Kelar dah ini," gerutunya pasrah. "Harus nahan lapar lagi gue entar malam."
Tatang memutuskan untuk pulang, hari hampir saja gelap, jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Ia pulang melintasi sebuah gudang plastik terbengkalai.
Ia merogoh sakunya, melihat hanya ada sisa uang 15 ribu di dalam saku celananya. Wajahnya langsung murung, memikirkan bagaimana caranya ia bisa hidup dengan uang sisa ini.
Namun lamunannya buyar saat tiba-tiba ia mendengar teriakan seseorang wanita dari dalam gudang.
"Ahhh… tolong!"
"Eh?!" Tatang berhenti, ia menoleh ke arah gudang. "Suara siapa itu ya?"
Karena penasaran, Tatang menghampiri gudang terbengkalai tersebut. Dari arah gudang ia mendengar suara grasak-grusuk dan sayup-sayup ia mendengar suara dua lelaki yang tertawa.
"Anjir, setan kali ya?" gumam Tatang yang mulai takut.
Ia hendak mengurungkan niatnya, namun saat hendak berbalik arah, suara teriakan wanita itu kembali terdengar.
"Tolong jangan… ahh… jangan…"
Tatang bimbang, namun karena penasaran, akhirnya Tatang memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
Brak!
Ia membuka pintu dan Tatang langsung terkejut melihat dua orang lelaki dengan perut buncit sedang menyekap seorang wanita cantik di dalam sana.
Melihat kedatangan Tatang, wanita yang hampir di perkosa itu langsung berteriak minta tolong.
"Tolong Mas, tolong saya."
Dua preman itu langsung menoleh dan mendapati Tatang berdiri di sana memergoki mereka.
Tatang terdiam sejenak, wanita itu hanya mengenakan bra, karena kemejanya sudah dibuka paksa oleh dua preman tersebut. Kulit dada dan perutnya begitu mulus, dua gundukan pepayanya juga tampak menantang dan bulat sempurna.
Tatang menelan ludah, pandangannya terpaku sejenak kepada dua aset berharga itu.
Namun lamunannya segera buyar saat ia menyadari jika dua preman itu mulai mendekatinya.
"Ngapain kamu di sini, hah?" bentak mereka.
"Anu… hehe, saya… saya… lagi…" Tatang gugup bukan main, apalagi melihat dua preman itu yang tampak marah.
Namun sisi kepahlawannya segera bangkit saat melihat wanita tadi yang tampak ketakutan. Tatang memberanikan diri untuk melawan.
"Ka-kalian mau ngapain di sini?" Tatang bertanya balik dengan suara yang dibuat-buat berani, padahal hampir saja ia kencing di celana.
Satu preman maju dan memegang kerah baju Tatang. "Bukan urusan lo bajingan!" bentaknya yang membuat Tatang langsung pucat.
"Eh! Ka-kalian enggak tau siapa aku?" kata Tatang lagi dengan suara gemetaran.
"Banyak omong bangsat!" kata preman itu lagi.
Bugh!
Sebuah bogem mentah mendarat di pipi Tatang, ia langsung terhuyung, dunianya sekarang berputar karena pukulan itu cukup kuat.
Bruk!
Tatang terjatuh di lantai, botol minyak urut di sakunya langsung menggelinding tepat di depan kaki preman tersebut.
Salah satu preman menyeringai saat mengambil botol tersebut. "Cuma tukang urut ternyata, gayamu udah kayak pahlawan," katanya ketus.
Ia mendekat ke arah Tatang yang masih terduduk di lantai sambil memegang pipinya. Dua preman itu menyeringai sambil mendekati Tatang.
Jantung Tatang berdebar hebat, kini dua preman itu berada tepat di depannya. Ternyata, alih-alih kembali memukul Tatang, dua preman itu malah mengerjai Tatang. Mereka memaksa Tatang untuk meminum minyak urut tersebut hingga habis.
Satu orang membuka paksa mulut Tatang dan satu orang lagi menuangkan minyak urut itu hingga habis tak bersisa.
Tatang ingin memuntahkannya, namun tidak bisa. Akhirnya semua minyak itu masuk sepenuhnya ke dalam tenggorokannya.
Sensasi panas langsung menjalar, Tatang pusing, dunianya benar-benar berputar hebat. Buih-buih putih mulai keluar dari mulutnya.
Di sisa-sisa kesadaran terakhirnya, Tatang seperti mendengar sesuatu menggema di telinga.
Minyak dan darah pilihan telah menyatu dengan sempurna.
Bugh!
Tatang terkapar di lantai.
"Eh?"
Dua preman itu langsung panik.
"Wah, jangan-jangan dia mati keracunan." Mereka saling pandang, rasa takut langsung menjalar.
"Gimana ini?" tanya salah satunya.
"Gimana apanya? Ya kaburlah!"
Tanpa pikir panjang, dua preman langsung melarikan diri, meninggalkan Tatang yang terkapar dengan mulut berbusa bersama seorang wanita yang hampir saja di perkosa di sana.