Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Ditolak 1 Dikejar 1000

Ditolak 1 Dikejar 1000

T. L. Handayani | Bersambung
Jumlah kata
47.0K
Popular
753
Subscribe
177
Novel / Ditolak 1 Dikejar 1000
Ditolak 1 Dikejar 1000

Ditolak 1 Dikejar 1000

T. L. Handayani| Bersambung
Jumlah Kata
47.0K
Popular
753
Subscribe
177
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremSupernaturalPria Miskin
Hanya karena miskin, seorang pemuda yang berprofesi sebagai tukang pijat ditolak secara hina oleh seorang perempuan. Tapi, siapa sangka, kemampuan pijatnya mampu merubah dirinya menjadi kaya, dan dikejar para Nyonya besar yang ketagihan pijatannya. Apalagi setelah dia menemukan jimat peninggalan kakeknya. Kemampuannya bukan hanya memijat, tapi juga mata tembus pandang yang bisa mendeteksi organ tubuh dengan mata telanjang.
Bab 1 Penolakan yang hina

​"Apa? Jadi Kamu ke sini mau melamar aku, Dirga? Pakai apa? Kamu punya apa?" Suara Lisa memecah keheningan, nadanya tajam dan penuh sarkasme.

​Dirga memberanikan diri menatap mata wanita yang selama ini ia puja secara diam diam.

"Aku tahu aku belum punya apa-apa sekarang, Lis. Tapi aku akan kerja keras. Aku akan jadi suami yang jujur dan setia. Aku juga pastikan akan menjagamu..." ucap Dirga dengan tulus.

​Usai mendengar ungkapan itu, sebuah tawa meledak dari sudut ruangan. Pak Baskoro, ayah Lisa, melangkah masuk sambil melinting lengan kemeja sutranya. Ia menatap Dirga seolah pemuda itu adalah noda lumpur yang mengotori karpet mahalnya.

​"Dengan apa kamu akan menjamin hidup putriku? Dengan tangan tukang pijatmu itu?Coba hitung, Dirga. Berapa tarifmu sekali panggil? Dua puluh lima ribu, kan? Untuk beli satu liter bensin mobil Lisa saja kamu butuh memijat empat orang sampai encok. Kamu mau kasih makan anak saya pakai keringat orang-orang jompo yang kamu urut?" sindir Pak Baskoro tanpa basa basi. Bahkan itu bukan sebuah sindiran, melainkan sebuah hinaan nyata.

​Ibu Lisa ikut menimpali, sambil mengipasi wajahnya seolah ada aroma tak sedap di ruangan itu.

"Dirga, sadar diri itu penting. Kamu itu teman kecil Lisa hanya karena kebetulan rumah orang tuamu di belakang kebun kami. Tapi sekarang? Kamu itu cuma sampah masyarakat yang bertahan hidup dari recehan. Berhenti bermimpi jadi pangeran. Hidup itu butuh biaya, bukan cuma butuh cinta! Sejak Lisa kecil, kami sudah menjamin hidupnya, lalu tiba tiba dia akan dipinang laki laki kere kayak kamu, coba orang tua mana yang setuju?” sahut Ibunya Lisa, tak kalah pedasnya.

​Lisa kemudian berdiri. Dia melipat kedua tangannya di dada. Matanya yang dulu hangat pada Dirga, sebagai sahabat. Kini dingin membeku dan tampak jijik.

"Dengar ya, Dirga. Aku butuh masa depan yang mapan, bukan sekadar pijatan saat lelah. Melihat wajahmu saja sekarang membuatku malu. Tolong, jangan pernah datang lagi ke sini. Status kita itu beda jauh. Sejauh langit dan selokan!” bentak Lisa dengan sangat keras dan kasar.

Dirga berusaha membuka suara. Sekali lagi dia ungkapkan perasaannya.

“Tapi Lisa, selama ini hubungan kita baik. Saat kamu membutuhkanku, pasti aku ada untuk kamu. Bahkan saat orang tuamu menyuruhku melakukan sesuatu, aku tidak pernah menolak. Aku anggap mereka keluarga sendiri. Aku kira kamu…” ucapan Dirga terpotong karena Lisa menyela.

“Kamu pikir kalau seperti itu, aku suka sama kamu? Atau kamu mau itung itungan sama aku? Mau ngungkit ngungkit semua yang kamu lakukan?” cerocos Lisa menanggapi ucapan Dirga.

“Bukan. Bukan seperti itu. Aku hanya…”

Lagi lagi ucapan Dirga terpotong. Tapi kali ini, Pak Baskoro yang menyela. Dia mengeluarkan dompet dari sakunya. Setelah itu, dia mengambil lembaran uang lima ribuan dan dua ribuan senilai tujuh puluh ribu rupiah.

“Ambil ini lalu pergi! Lumayan, dengan uang ini kamu tidak perlu mijat tiga orang sampai keringetan!” bentak Pak Baskoro sambil melempar lembaran uang receh itu ke muka Dirga, hingga uang tersebut berceceran di lantai.

​Hinaan itu menghujam jantung Dirga lebih dalam dari sembilu mana pun. Tangannya terkepal di balik punggung, kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri hingga perih, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan hancurnya harga diri yang ia bawa.

​"Baiklah,Aku mengerti sekarang,” bisik Dirga lirih. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan badai emosi yang berkecamuk di dadanya.

​"Bagus kalau mengerti. Sekarang keluar! Bau minyak urutmu memenuhi ruangan ini," usir Pak Baskoro tanpa perasaan.

​Dirga bangkit berdiri perlahan. Ia tidak menunduk lagi. Ia menatap mereka satu per satu. Mulai dari Lisa yang memalingkan muka dengan jijik, serta kedua orang tuanya yang tersenyum merendahkan. Dirga berbalik dan melangkah keluar menuju kehujanan. Setiap tetes air yang membasahi tubuhnya terasa seperti saksi bisu atas sumpah yang lahir di dalam hatinya.

​Sambil berjalan menyusuri jalanan becek, Dirga bergumam pada kegelapan malam. Suaranya pelan, tapi penuh penekanan yang mengerikan.

​"Aku nggak nyangka Lisa!” seru Dirga sembari menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.

“Nikmati kesombongan kalian malam ini. Hina aku sesuka kalian. Anggap aku sampah, anggap aku tak berharga karena penghasilan dua puluh lima ribu ini,” lanjutnya. Di sepanjang jalan, suara suara hinaan itu terus terngiang di telinganya.

​Dirga kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang lusuh hasil kerjanya seharian. Dia menatap uang itu dengan mata menyala.

​"Demi langit yang menyaksikan kehancuranku hari ini, aku bersumpah. Suatu saat nanti, tangan yang kalian sebut hina karena bau minyak urut dan hanya sebagai tangan tukang pijat ini akan menggenggam dunia. Aku akan kembali bukan sebagai teman masa kecil yang malang, tapi sebagai orang yang akan membuat kalian bersimpuh memohon ampun!” janji Dirga di dalam hati. Meski dia belum tau bagaimana caranya mewujudkan janjinya itu, tetapi dia yakin pada takdir baiknya.

​Dirga terus berjalan, membiarkan dendam itu menjadi bahan bakar yang membakar habis rasa rendah dirinya. Ia tidak akan lagi sekadar bertahan hidup. Ia akan menaklukkan hidup. Dendam itu kini menjadi kompas barunya, dan Lisa akan menjadi orang pertama yang menyaksikan bagaimana si tukang pijat miskin ini meruntuhkan takhta kesombongan keluarganya.

Matahari sore itu bersinar terik, memantul di atas aspal jalanan kota yang padat. Dirga berjalan kaki dengan tas ransel kumal berisi minyak urut dan handuk kecil, sisa-sisa tenaga setelah melayani pelanggan di pinggiran kota. Di trotoar yang agak sepi, ia melihat sebuah mobil mewah berhenti mendadak, dan seorang wanita anggun keluar dengan terburu-buru, lalu tiba-tiba terperosok karena hak sepatunya tersangkut lubang kecil.

​"Akh!" jerit wanita itu pelan sambil terduduk memegangi pergelangan kakinya.

​Dirga bergegas menghampiri, untuk berniat menolong. Wajah wanita itu cantik, meski usianya terlihat lebih tua di atas Dirga. Dan dilihat dari penampilan serta riasan wajahnya, tampan dia berasal dari keluarga konglomerat. Apalagi jika melihat mobil mewahnya.

“Nyonya tidak apa-apa?" tanya Dirga.

"Kaki saya... sepertinya keseleo. Sakit sekali untuk digerakkan,” jawab wanita itu.

​Tanpa banyak bicara, Dirga segera berlutut di depannya. Meski gerakannya tangkas, tapi tetap menjaga kesopanan.

"Permisi, Nyonya. Saya tukang pijat. Kalau Nyonya izinkan, saya coba periksa,” ucap Dirga dengan sopan. Lalu wanita itu mengangguk sambil meringis kesakitan.

​Dengan gerakan cekatan tapi lembut dan sopan, Dirga mulai meraba titik saraf di pergelangan kaki wanita itu. Dia menggunakan teknik yang selama ini hanya dihargai murah oleh orang lain. Jemarinya yang kuat, tapi penuh perasaan menekan bagian yang meradang.

​"Tahan sebentar ya, Nyonya. Ini agak sakit," bisik Dirga fokus.

​Krak.

​Sebuah bunyi kecil terdengar, disusul desah lega dari bibir wanita itu. Dirga mengurut sisa ketegangan otot di sana selama beberapa menit hingga bengkaknya mulai mereda.

“Aaaaawww! Pelan pelan dong Mas. Sakit tau!” rintih wanita itu sembari memejamkan mata, dan mencengkeram erat pahanya sendiri.

​"Maaf Nyonya, kalau saya terlalu kasar. Soalnya kalau pelan, nanti nggak nyampai,” jawab Dirga dengan polos. Tapi, tiba tiba wanita itu menatap wajah Dirga dengan kedua bola mata membulat. Seolah memberi isyarat bahwa ucapan Dirga terdengar ngawur.

“Eh, maaf lagi Nyonya. Maksudnya kalau mijatnya pelan, nanti nggak nyampai ke syaraf yang sakit,” terang Dirga tanpa melepas pijatannya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca