

District 7, Lower City.
Matahari pagi mulai menampakkan dirinya di ufuk timur, menyinari atap-atap bangunan tua yang mulai berkarat. Namun, kehangatan sinar matahari itu seolah tidak mampu menembus dinginnya suasana di sebuah gang sempit yang terletak di sudut kota bagian bawah. Di sana, di antara tumpukan sampah dan dinding beton yang retak, sebuah pemuda baru saja menerima hantaman keras tepat di ulu hatinya.
Bugh!
Tubuh kurus itu terlempar mundur beberapa meter hingga menghantam tumpukan kardus bekas. Suara erangan kesakitan terdengar pelan dari mulutnya. Darah segar mulai menetes perlahan dari sudut bibirnya yang memar.
"Bangunlah, kau pecundang! Jangan pura-pura mati!" teriak seorang pemuda berbadan besar dan kekar. Namanya adalah Rogan, ketua geng lokal yang merasa dirinya adalah penguasa tak tertandingi di daerah kumuh ini. Wajahnya dipenuhi ekspresi kesombongan dan jijik saat menatap sosok yang baru saja ia pukul.
Pemuda yang tergeletak di tanah itu bernama Alex. Ia perlahan mengangkat kepalanya, membersihkan debu yang menempel di wajahnya dengan punggung tangan. Matanya menatap tajam ke arah Rogan, meski tubuhnya terasa remuk redam.
"Kenapa... kenapa kalian selalu melakukan ini padaku?" tanya Alex dengan suara serak namun tetap terdengar tegas. Ia berusaha bangkit berdiri, meski kakinya terasa gemetar menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tulang.
Rogan tertawa keras, suaranya bergema di gang sempit itu, disambut oleh cekikikan dari dua orang pengikutnya yang berdiri di belakang. "Kenapa? Kau benar-benar bertanya kenapa? Itu karena kau adalah kesalahan alam, Alex! Di dunia ini, semua orang memiliki kekuatan, semua orang memiliki ability atau bakat khusus. Tapi kau? Kau hanyalah manusia biasa! Kau tidak bisa menembakkan api, kau tidak bisa memperkuat ototmu, bahkan untuk berlari cepat saja kau tidak mampu. Kau adalah sebuah error, cacat sistem yang seharusnya tidak ada!"
Kata-kata itu bagaikan pisau tajam yang menusuk hati Alex. Ia tahu betul apa yang dikatakan Rogan adalah kebenaran yang pahit. Di dunia ini, sejak usia sepuluh tahun, setiap manusia akan membangkitkan apa yang disebut Gene Power. Kekuatan ini memungkinkan mereka melakukan hal-hal luar biasa, mulai dari memanipulasi elemen hingga meningkatkan kemampuan fisik melebihi batas manusia normal. Semakin kuat kekuatan yang dimiliki, semakin tinggi pula status sosial dan kekayaan yang bisa didapatkan.
Namun, Alex adalah pengecualian yang langka. Ia termasuk dalam kategori yang disebut sebagai "Null"—manusia tanpa kekuatan. Bagi masyarakat yang menjunjung tinggi kekuatan, keberadaannya hanyalah sebuah beban.
"Ayahku..." bisik Alex pelan, matanya menatap lantai yang kotor dan berdebu. "Ayahku dulu adalah seorang pahlawan yang pernah melindungi kota ini dari serangan monster..."
"Your father is history! Ayahmu sudah mati dan terkubur! Dan kau? Kau hanyalah sampah yang tidak punya apa-apa selain rumah tua dan hutang!" potong Rogan kasar. Ia melangkah maju, mengangkat kakinya yang besar dan berotot, siap untuk menginjak wajah Alex. "Sekarang, serahkan semua uang yang kau simpan, atau aku akan mematahkan kedua tanganmu hari ini!"
Alex memejamkan matanya. Keputusasaan dan rasa malu bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Selama enam belas tahun hidup, ia selalu menerima perlakuan seperti ini. Ia dibully, dihina, dan dipandang rendah oleh semua orang. Ia bahkan merasa tidak berguna, karena tidak bisa membantu ibunya yang sedang sakit-sakitan di rumah. Hidupnya terasa seperti neraka yang tak berujung.
"Tolong... aku benar-benar tidak punya uang..." jawab Alex lirih.
"Dasar pembohong!" Wajah Rogan memerah menahan amarah. Otot-otot di kakinya tiba-tiba membesar dan mengeras, diselimuti oleh lapisan energi cahaya berwarna oranye samar. Itu adalah tanda penggunaan Gene Power level satu. Kekuatan tendangan itu cukup untuk menghancurkan batu bata, apalagi tulang manusia biasa.
"Terima nasibmu, sampah!"
Rogan melesatkan tendangannya dengan kecepatan tinggi. Alex tahu ia tidak bisa menghindar. Jaraknya terlalu dekat, dan tubuhnya terlalu lemah. Ia hanya bisa pasrah menunggu rasa sakit yang akan datang.
Namun, detik itu juga, sesuatu yang aneh terjadi.
Dang!
Terdengar suara benturan keras layaknya logam bertemu logam.
Rogan terbelalak kaget. Kakinya yang penuh energi itu terhenti di udara, tertahan oleh tangan Alex yang kurus namun kokoh! Tidak ada energi yang menyala, tidak ada efek khusus, tapi tangan itu seolah terbuat dari baja padat yang tidak bisa digerakkan sedikit pun.
"Apa?!" seru Rogan tidak percaya. Kedua anak buahnya di belakang pun terdiam kaku, mulut mereka terbuka lebar menyaksikan pemandangan yang mustahil itu.
Alex sendiri sama terkejutnya. Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Matanya tertuju pada jari manisnya, di mana terpasang sebuah cincin hitam yang kusam dan tua. Cincin itu adalah satu-satunya peninggalan ayahnya yang selalu ia pakai sejak kecil dan tidak pernah ia lepas.
Saat setetes darah dari bibirnya yang luka tadi menetes tepat ke permukaan cincin itu...
Bzzzt!
Sebuah getaran dahsyat meledak dari dalam cincin itu. Gelombang energi dingin namun sangat kuat mengalir deras masuk ke dalam tubuh Alex, menyebar ke seluruh pembuluh darah dan urat sarafnya.
Rasa sakit yang tadi menyiksa lenyap seketika, digantikan oleh sensasi hangat yang luar biasa. Kelelahan yang dirasakannya hilang tanpa bekas. Yang tersisa sekarang hanyalah sebuah kekuatan yang meluap-luap, seolah-olah ia bisa menghancurkan tembok beton di depannya hanya dengan satu pukulan saja.
"Kau... tadi bilang aku apa?" suara Alex berubah. Nadanya menjadi lebih rendah, lebih tenang, namun membawa sebuah aura menekan yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku, kau gila!" Rogan berusaha menarik kakinya kembali dengan panik, namun sekuat tenaga ia mencoba, kaki itu tetap tidak bisa bergerak. Terkunci kuat dalam genggaman tangan Alex.
"Kau bilang aku error? Kau bilang aku sampah?" Mata Alex menyala dengan semangat yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ia menatap Rogan layaknya seekor elang menatap kelinci. "Maaf teman, tapi mulai hari ini... aturan mainnya sudah berubah total."
Dengan sedikit saja tenaga, Alex mendorong ke depan.
Brak!
Tubuh Rogan yang beratnya mencapai delapan puluh kilogram itu terlempar seperti boneka kain, menghantam dinding bata di ujung gang hingga dinding itu retak parah. Debu berterbangan memenuhi udara.
Dua anak buah Rogan yang melihat kejadian itu langsung panik bukan main. "Serang dia! Jangan takut! Dia pasti memakai obat terlarang atau semacamnya!" teriak salah satu dari mereka sambil mengayunkan pipa besi besar ke arah kepala Alex.
Alex tidak bergeming. Di matanya, dunia seakan melambat. Gerakan lawan terlihat sangat jelas dan lambat baginya, seolah-olah mereka sedang bergerak dalam air.
Hup!
Dengan gerakan gesit yang luar biasa, Alex sedikit memiringkan kepalanya. Pipa besi itu lewat hanya beberapa milimeter dari hidungnya, menciptakan angin kencang.
Saat lawannya kehilangan keseimbangan karena ayunan yang meleset...
Bam!
Alex melayangkan pukulan lurus yang cepat dan padat tepat ke ulu hati lawannya.
Tidak ada suara teriakan nama jurus, tidak ada cahaya yang menyilaukan. Hanya suara benturan daging yang keras dan mematikan.
"Uuaghk!!"
Orang itu langsung melipat tubuhnya seperti udang, wajahnya membiru menahan nyeri yang luar biasa. Ia muntah-muntah dan langsung pingsan tak sadarkan diri di tempat. Tulang rusuknya pasti retak semua menerima pukulan sekeras itu.
Satu orang lagi sudah gemetar ketakutan setengah mati. "I-ini sihir! Kau monster! Kau bukan manusia!"
"Belajarlah menghormati orang lain sebelum kau menyesal," kata Alex dengan nada dingin.
Ia melangkah maju. Whoosh! Kecepatannya sekarang melebihi pelari tercepat sekalipun. Ia muncul tepat di hadapan orang yang terakhir dalam sekejap mata, membuat pemuda itu hampir jantungan.
Dua pukulan cepat. Prakk! Prakk!
Satu tepat mengenai rahang, satu lagi tepat di pangkal hidung. Orang itu tergeletak lemas bahkan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Hanya butuh waktu lima detik. Tiga orang tumbang tak berdaya.
Setelah kekacauan itu mereda, hanya tersisa Alex dan Rogan yang kini sedang merintih kesakitan di sudut gang. Wajah Rogan pucat pasi, matanya penuh ketakutan melihat Alex yang berjalan mendekat perlahan. Aura yang dipancarkan Alex sekarang bukan lagi aura orang lemah, melainkan aura seorang predator yang siap menerkam mangsanya.
"J-jangan mendekat... Aku punya koneksi di Upper City! Keluargaku kuat! Kalau kau menyentuhku, kau akan mati!" teriak Rogan mencoba mengintimidasi, tapi suaranya terdengar gemetar tak karuan.
Alex berhenti tepat di depannya. Ia menatap mata Rogan dalam-dalam.
"Kau pikir kekuatan itu hanya soal garis keturunan atau status sosial?" tanya Alex pelan, suaranya terdengar tenang namun mengintimidasi.
Tiba-tiba, sebuah suara berat dan dalam bergema langsung di dalam kepala Alex.
"Hahaha! Akhirnya bangun juga! Anak muda, pukul saja dia sampai tidak bisa jalan seminggu! Biar kapok dan tidak berani menginjak kaki orang lain lagi!"
Alex terkejut, tapi ia berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan reaksi di depan musuhnya. "Siapa itu? Siapa yang bicara di dalam sana?" tanyanya dalam hati.
"Siapa lagi kalau bukan aku? Aku adalah penghuni cincin ini. Panggil saja aku Master G. Ribuan tahun sudah aku menunggu seseorang dengan darah murni sepertimu. Kau pikir kau benar-benar tidak punya bakat? Bodoh sekali! Tubuhmu itu adalah wadah level tertinggi, berlian murni yang belum diasah! Mereka tidak bisa mendeteksi energimu karena energimu terlalu padat dan murni, berbeda dengan energi kotor yang mereka pakai!"
"Jadi... aku benar-benar bisa menjadi kuat?" tanya Alex penuh harap.
"Kuat? Bocah, dengan bimbinganku, kau tidak hanya akan menjadi kuat, tapi kau akan menjadi yang terkuat di seluruh dunia ini! Tapi sekarang, uruskan si sombong itu dulu sebagai pemanasan! Berikan dia pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya!"
Mendengar itu, senyum tipis terbentuk di wajah Alex. Senyum itu membuat bulu kuduk Rogan merinding ketakutan.
"Dengar baik-baik, Rogan," kata Alex sambil meremas tangannya sendiri hingga terdengar bunyi krak krak dari sendi-sendi tulangnya. "Mulai hari ini, jika kau atau anak buahmu berani menyentuh satu rambut kepalaku lagi, atau berani mengganggu orang-orang di sekitarku, aku tidak akan bertanya lagi. Aku akan langsung menghancurkanmu."
"A-aku mengerti! Ampun! Maafkan aku Tuan!" Rogan langsung jongkok bersujud di tanah, ketakutan setengah mati. "Aku pergi sekarang! Aku tidak akan pernah muncul lagi di depanmu!"
Rogan lalu berteriak memanggil anak buahnya dan berlari terbirit-birit meninggalkan tempat itu, meninggalkan Alex sendirian di gang yang sunyi.
Setelah memastikan mereka benar-benar pergi, Alex menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Kekuatan yang meluap-luap di tubuhnya perlahan surut kembali ke tingkat yang normal, namun ia bisa merasakan bahwa itu hanya tertidur, bukan hilang. Ia tahu, tubuhnya sekarang sudah berbeda.
"Master G... apa yang sebenarnya terjadi padaku? Jelaskan padaku," tanya Alex lagi.
"Sederhana. Tubuhmu memiliki potensi yang tak terbatas, tapi terkunci secara genetik sejak lahir untuk melindungimu. Akulah yang akan membuka kunci-kunci itu satu per satu. Kita tidak menggunakan sistem aneh-aneh seperti orang lain. Kita menggunakan sistem Absolute Combat dan Gene Evolution!"
Tiba-tiba, sebuah layar transparan berwarna biru muncul melayang di depan mata Alex, menampilkan data-data yang jelas.
STATUS KARAKTER:
- Nama: Alex
- Level: 0 (Unawakened)
- Darah: Dragon Bloodline (Terkunci)
- HP: 100/100
- Stamina: 150/150
- Strength: ??? (Terkunci)
- Agility: ??? (Terkunci)
- Skill yang Dipelajari:
- Iron Fist (Basic): Memungkinkan penggunanya menghancurkan batu keras dengan tangan kosong.
- Swift Step: Meningkatkan kecepatan gerak sebesar 50%.
"Lihat itu? Kau tidak butuh sihir api atau angin. Kau adalah tipe petarung fisik murni! Satu pukulanmu saja nanti setara dengan rudal kecil! Kekuatan fisikmu adalah senjata terhebatmu!" jelas Master G dengan bangga.
Alex menatap tangannya sendiri, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena antusiasme yang meledak-ledak. Impiannya selama ini untuk menjadi kuat akhirnya menjadi kenyataan.
"Jadi... aku bisa melindungi Ibu dan orang-orang yang aku sayangi sekarang?"
"Tentu saja bisa! Tapi tubuhmu sudah terlalu lama terabaikan dan lemah. Kita harus melatihnya kembali dari dasar agar fondasinya kokoh. Oh iya... ada seorang gadis kecil yang cantik sedang mencarimu di ujung jalan sana. Sepertinya dia sangat khawatir padamu."
Alex menoleh ke arah keluar gang. Terlihat sosok gadis cantik dengan rambut dikuncir sedang berlari-lari kecil sambil memanggil-manggil namanya dengan cemas. Itu adalah Lina, tetangga sebelah rumahnya yang selalu baik padanya sejak kecil dan satu-satunya orang yang tidak pernah memandangnya rendah.
"Alex! Kamu di mana? Aku bawa makanan buat kamu!" teriak Lina dari kejauhan.
Alex tersenyum hangat. Aura dingin dan mematikan tadi hilang seketika, digantikan oleh wajah yang ramah dan lembut.
"Aku di sini, Lin," jawab Alex pelan.
Ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Perjalanan panjang yang berbahaya namun megah, dari dasar masyarakat yang paling bawah hingga menuju puncak dunia, baru saja dimulai. Ia akan mengambil kembali segala sesuatu yang menjadi haknya, dan melindungi orang-orang yang ia sayangi dengan tangan besinya sendiri!