

Deru Besi dan Udara yang Membakar
Kota Rahayu bukanlah kota yang tergesa-gesa. Jika ada satu hal yang bisa menghentikan denyut nadi kota ini sejenak, itu hanyalah palang pintu perlintasan kereta api. Kota ini dibelah oleh jaringan rel baja yang membentang panjang, tempat lokomotif-lokomotif pengangkut gerbong panjang melintas membawa hasil bumi.
Siang itu, matahari bersinar sangat terik, seolah berniat memanggang aspal jalanan hingga meleleh. Kemacetan mulai mengular di persimpangan utama, namun anehnya, tidak ada riuh klakson yang memekakkan telinga. Para pengendara motor, dengan peluh yang membasahi pelipis di balik helm, lebih memilih mematikan mesin dan saling mengobrol dengan pengendara di sebelahnya.
Warga Kota Rahayu memang terkenal dengan tabiat mereka yang bersahabat dan santai. Bagi mereka, menunggu kereta lewat selama sepuluh menit bukanlah sebuah penderitaan, melainkan waktu jeda untuk menyapa tetangga. Udara panas yang mengapung di atas jalanan seolah tak mampu membakar kesabaran warga kota yang tenang ini.
Oase di Tengah Hiruk Pikuk Siang
Beberapa ratus meter dari perlintasan kereta tersibuk, berdirilah RSUD Kota Rahayu. Bangunannya mungkin tidak semegah rumah sakit swasta di ibu kota provinsi, namun cat putihnya bersih dan pekarangannya dirawat dengan apik.
Di tengah cuaca yang menyengat, melangkah masuk ke lobi rumah sakit ini terasa seperti menemukan oase. Pendingin ruangan bekerja maksimal, mengusir gerah seketika. Suasana di dalam jauh dari kesan menyeramkan.
Di bagian admisi, Mbak Wulan, staf pendaftaran yang bertubuh subur, melayani deretan pasien dengan senyum yang tidak pernah pudar dari wajahnya. Para perawat berlalu-lalang membawa dokumen atau mendorong kursi roda, saling melempar sapaan ringan. Terdengar tawa kecil dari arah ruang tunggu poli anak. Walaupun beban kerja mereka tinggi, staf RSUD Rahayu tampak tulus menjalankan tugasnya. Rumah sakit ini hidup, hangat, dan sangat memanusiakan manusia.
Sang Idealis yang Sinis dan Senyum Keibuan
Di bangsal perawatan bedah, Ners Ratih sedang merapikan selimut seorang pasien paruh baya yang baru saja menjalani operasi usus buntu. Tangannya yang cekatan bergerak lembut, sementara senyum keibuannya membuat sang pasien merasa jauh lebih tenang.
"Sudah baikan ya, Pak? Nanti sore kalau sudah bisa buang angin, baru boleh minum air putih sedikit-sedikit," ucap Ners Ratih ramah, menepuk pelan punggung tangan pasien tersebut.
Tepat saat itu, tirai pembatas ditarik dengan kasar. Dr. Haris berdiri di sana, menjepit papan rekam medis di bawah ketiaknya. Jas dokternya sedikit kusut, dan kantung matanya terlihat jelas di balik kacamata bacanya. Usianya sudah menginjak pertengahan lima puluh, namun sorot matanya masih setajam elang.
"Bisa buang angin, tapi jangan langsung minta dibelikan gorengan lagi di depan stasiun," suara Dr. Haris memecah kehangatan dengan nada sinis yang khas. "Bapak ini sudah saya jahit ususnya dua kali. Kalau sampai jebol lagi karena makan sembarangan, saya suruh Bapak jahit sendiri pakai benang kasur."
Meski kata-katanya tajam, pasien itu hanya tertawa kecil, tahu betul bahwa di balik mulut pedas sang dokter spesialis bedah, terdapat dedikasi luar biasa yang menyelamatkan nyawanya malam tadi. Ners Ratih hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum maklum melihat tingkah atasannya itu. Dr. Haris memang tidak pandai merangkai kata manis, tapi tak ada dokter lain di kota ini yang rela tidur di sofa ruang perawat hanya untuk memantau pasien kritisnya.
Bisik-Bisik di Meja Admisi
Menjelang jam istirahat siang, suasana lobi mulai sedikit lengang. Ners Ratih berjalan menuju meja admisi untuk mengantarkan berkas. Di sana, Pak Maman, satpam senior rumah sakit dengan kumis tebalnya yang ikonik, sedang bersandar di meja, menyeruput kopi hitam dari gelas plastik.
"Tumben siang-siang begini sudah di depan, Pak Maman? Nggak jaga di gerbang UGD?" sapa Ners Ratih sambil menyerahkan map kepada Wulan.
"Lagi gantian sama Jono, Ners. Panasnya di luar bikin ubun-ubun mendidih," kekeh Pak Maman.
Ia menaruh kopinya, lalu mencondongkan badan ke arah Ners Ratih dan Wulan. Suaranya tiba-tiba diturunkan menjadi setengah berbisik. "Ngomong-ngomong... ada kabar baru soal Dokter Anton?"
Mendengar nama itu, tangan Wulan yang sedang mengetik langsung berhenti. Raut wajahnya berubah serius. Dr. Anton adalah dokter residen muda dari ibu kota yang baru magang dua minggu di RSUD Rahayu, dan tiba-tiba menghilang tanpa pamit tiga hari yang lalu, meninggalkan semua barangnya di kamar mes.
"Belum ada, Pak," bisik Wulan ngeri. "Saya dengar dari bagian SDM, orang tuanya di Jakarta juga bingung nyariin. Katanya sih... dia stres berat."
Pak Maman mendengus pelan, matanya melirik ke kiri dan kanan memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Stres apanya. Malam sebelum dia kabur, jadwal dia jaga malam, kan? Pas saya patroli jam dua pagi, saya lihat dia lari terbirit-birit dari arah lorong arsip lama. Mukanya pucat pasi kayak mayat, Mbak. Dia terus bergumam, 'Tolong... jangan lihat saya...' begitu terus."
Ners Ratih menghela napas panjang, tatapannya menerawang sejenak sebelum ia membalas dengan nada datar. "Pak Maman, sudah, jangan buat gosip yang tidak-tidak di siang bolong begini. Dokter Anton itu belum terbiasa dengan ritme kerja di sini."
"Tapi Ners..." Pak Maman mencoba membela diri.
"Dia kabur karena tidak sanggup saya suruh merevisi laporan operasinya sampai lima kali dalam semalam," sebuah suara berat memotong dari belakang mereka.
Dr. Haris berdiri di sana, menatap tajam ke arah ketiganya. "Bukan karena hantu, jin, atau penunggu lorong arsip. Rumah sakit ini tempat orang sakit fisik, Pak Maman, bukan rumah angker. Kembali ke pos Anda."
Pak Maman langsung menelan ludah dan buru-buru mengangkat gelas kopinya. "Siap, Dok!"
Dr. Haris berlalu menuju ruangannya, namun Ners Ratih dan Pak Maman sempat saling berpandangan dalam diam. Mereka tahu, senyaman apapun rumah sakit ini di siang hari, ada alasan mengapa hanya sedikit orang yang mau berjaga saat matahari terbenam di Kota Rahayu.