
Sistem Kritikal: Menjadi Penguasa Kota Bergerak!
Final Boss|Tamat
- Jumlah kata
- 145.6K
- Popular
- 1.9K
- Subscribe
- 162
- Jumlah kata
- 145.6K
- Popular
- 1.9K
- Subscribe
- 162
Sinopsis
Di dunia yang dilanda krisis pangan dan kekeringan abadi, manusia bertahan hidup di dalam "Kota Bergerak" yang terus mengembara di padang gersang. Andrew Ravisko, bertransmigrasi ke dunia ini sebagai budak rendahan. Tak tahan menyaksikan penguasa kota membiarkan rakyat kelaparan, ia mengaktifkan sistem yang mampu menggandakan kuantitas dan kualitas segala benda. Dengan kekuatan barunya, Andrew memberontak, merebut tahta, dan menjadi penguasa baru. Namun, persediaan makanan yang semakin menipis serta ancaman kota-kota perampok yang mendekat memaksa Andrew berjuang mempertahankan kekuasaan sekaligus menyelamatkan umat manusia yang tersisa.
Ulasan
5 ulasan
Rhyka Erhyk
9/7/26 18:40
ahhh bangsat nih admin nyadiputus tengah jalan gini somplak pengu kurasa banting kau min capek capek top up malah tamat
Syarif Ningsi
6/7/26 06:13
waduh ko tamat thor?gantung padahal lagi seru2nya lanjut dong thor kzjhzgnznzhhzksnsnssjsjksbshsjsjs
001
Di dalam aula berdinding baja, panas terperangkap tanpa jalan keluar. Tidak ada angin, juga tidak ada suara selain dengungan mesin lama seperti binatang tua yang menolak mati karena usia.
Andrew Ravisko berdiri di tengah ruangan itu bersama puluhan budak lainnya. Tubuhnya kurus, dan pakaian yang ia kenakan menggantung longgar.
Di depannya, Thomas Erlando menatapnya dengan dingin. Pria itu sedikit lebih sehat. Meski wajahnya tampak lelah, ada sesuatu yang membuatnya berbeda dari budak lainnya.
"Pemberontakan?" kata Thomas akhirnya. "Dengan kondisi seperti ini, kau ingin melawan penguasa kota?"
Andrew tidak langsung menjawab. Ia melihat sekeliling lebih dulu, menghitung diam-diam. Mereka lelah dan lapar, tapi masih hidup. Itu cukup.
"Penguasa kota tidak kekurangan makanan," kata Andrew. "Dia hanya tidak punya persediaan untuk lebih dari sembilan ratus orang."
Ia berhenti sejenak, memastikan semua mendengar. "Makanan itu tidak akan dibagi rata. Mereka butuh pekerja yang tetap kuat, bukan semua orang tetap hidup.”
Tatapannya menyapu sekeliling. "Mereka akan memberi makan yang masih berguna, dan menghentikan jatah yang dianggap beban. Aku tidak berniat menunggu sampai aku dianggap beban."
Andrew kembali menatap Thomas. "Sekarang katakan padaku, kapan terakhir kali kita makan? Apa kau sendiri tidak ingin hidup?"
Thomas Erlando mendengus. "Omong kosong. Penguasa kota punya segalanya. Dia mengendalikan semua prajurit dan senjata. Aku akan melaporkanmu. Lebih baik menderita daripada mati bersama orang gila. Siapa tahu aku akan naik tingkat menjadi penjaga."
Ia berbalik, tapi langkahnya terhenti. Belasan budak lain berjalan dan berhenti di depan pintu. Mereka tidak bicara, hanya menghadang.
Thomas merasakan dingin di punggungnya. Ia pun menoleh, hanya untuk melihat puluhan budak bergerak pelan dan berdiri di belakang Andrew. Mereka tidak berbicara, tapi posisi mereka jelas.
Andrew tidak menunggu lebih lama. Ia berjalan dan mengeluarkan sesuatu dari dalam pakaian usangnya.
Itu sepotong roti. Bulat kecil, kering, dan berjamur di pinggir. Dalam kondisi normal, itu tidak berharga. Namun di sini roti seperti itu sangat berharga, cukup untuk membeli satu nyawa.
Andrew mengangkat roti itu tinggi-tinggi agar semua melihat, lalu berkata dalam hati, "Aktifkan bakat. Target, roti ini. Pilih efek pada jumlah."
Suara mekanis langsung bergema di dalam benaknya, hanya ia yang bisa mendengar.
[Bakat Kritikal Segala Sesuatu diaktifkan. Target terpilih : Roti Berjamur. Efek : Kuantitas. Penggandaan acak... 88 kali.]
Seketika, dari udara kosong muncul puluhan roti yang sama. Satu menjadi delapan puluh delapan. Bukan berserakan, melainkan tersusun rapi dalam tumpukan.
Semua orang terpaku. Mata mereka tertuju pada tumpukan roti di depan Andrew. Beberapa menelan ludah tanpa sadar. Yang lain bahkan lupa melakukannya.
Andrew menimbang roti di tangannya sejenak, lalu melemparkannya ke atas tumpukan.
Ia pun berkata, "Setiap roti ini bernilai lima puluh koin emas, tapi di tanganku, itu tidak berarti apa-apa. Aku bisa membuatnya lagi. Lebih banyak. Selama aku hidup."
Beberapa orang berkedip, tidak yakin mereka mendengar dengan benar.
"Apa kalian tahu kenapa kita yang dibiarkan mati kelaparan?" lanjut Andrew, tapi kali ini dengan suara lebih lantang. "Itu karena bagi mereka, kita bukan manusia. Kita hanya alat. Yang kalau rusak, diganti. Kalau lemah, dibuang."
Hening turun, tapi kali ini berbeda. Perut-perut yang kosong terasa lebih sakit. Bau roti yang samar mulai terasa. Jamur di pinggirnya tidak lagi terlihat menjijikkan. Namun tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berani.
Andrew memperhatikan itu semua. Ia tahu rasa lapar mereka, tapi juga paham bahwa rasa takut mereka lebih besar.
"Kalian bisa tetap diam. Tunggu giliran mati. Atau ambil kembali hidup kalian," kata Andrew, lalu menunjuk tumpukan roti di depannya. "Kalian yang memilih berjuang untuk hidup, makan."
Kalimat itu seperti batu yang jatuh di permukaan air. Para budak bergerak serentak. Mereka menyerbu tumpukan roti dengan gila-gilaan.
Andrew tetap berdiri diam, melihat semuanya. Ini yang ia tunggu.
Di lain pihak, Thomas tidak bergerak. Ia menatap tumpukan roti yang terus berkurang, lalu ke Andrew. Bagaimana bisa Andrew memiliki Bakat yang seharusnya hanya dimiliki oleh penguasa kota? Jangan-jangan...
Pikiran Thomas pun berubah dalam sekejap. Bukan lagi soal benar atau salah. Bukan pula soal berani atau tidak. Ia lapar, dan orang di hadapannya bisa mengakhiri itu.
Di tengah riuh para budak yang sedang makan, Thomas berlutut di depan Andrew. "Kalau kau bisa memberi makan, maka aku ikut. Suruh apa saja. Aku tidak mau menunggu mati seperti ini."
Beberapa budak memperlambat kunyahan mereka. Mata mereka beralih, memperhatikan. Andrew sendiri tersenyum tipis sebelum melangkah mendekati Thomas.
"Di tempat ini, tidak ada yang butuh alasan besar," ucap Andrew. "Kalau itu memang pilihanmu, berdirilah dan makan. Sisanya kita pikirkan nanti, tapi itu harus cepat. Karena Bakatku bisa membawa kita ke nasib yang berbeda."
Thomas tersentak karena langsung mengerti.
Bakat Andrew memang bisa membuat mereka tetap hidup, tapi justru itu masalahnya. Di sini, jumlah makanan dan kematian selalu dihitung. Jika para budak berhenti mati, itu bukan keajaiban. Itu adalah penyimpangan yang akan segera dicari sumbernya.
Saat Andrew ditemukan, ia tidak akan dibunuh. Ia akan ditangkap untuk dimanfaatkan.
Dengan sumber makanan tanpa batas di tangan, penguasa tidak lagi butuh menjaga siapa yang layak hidup. Mereka bisa memaksa kerja terus-menerus, mendorong tubuh sampai hancur, lalu memberi makan lagi agar tetap berdiri.
Kelaparan selama ini adalah batas. Jika batas itu hilang, maka yang tersisa hanya pemerasan tanpa akhir. Bukan kematian cepat yang sebenarnya banyak diharapkan.
Thomas akhirnya berdiri dan mengambil roti. Pikirannya sederhana, segera kenyang dan pikirkan cara membunuh penguasa kota. Jika tidak, perihal Andrew hanya akan mengubah cara mereka dihancurkan.
Beberapa hari kemudian, lebih dari dua ratus budak berhasil dikumpulkan melalui ajakan yang disebar diam-diam. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama adalah budak ruang mesin, dan mereka mematikannya, membuat kota lumpuh.
Kelompok kedua menyerang barak penjaga. Dengan kapak yang sebelumnya dicuri dan digandakan oleh Andrew, mereka menyingkirkan penjaga tanpa kesulitan.
Kelompok ketiga, dipimpin Thomas, bergerak menuju pusat kendali. Pertahanan di sana tipis, hanya beberapa orang yang berjaga. Thomas hanya butuh beberapa menit untuk menaklukkan ruangan.
Sementara itu, Andrew masuk ke kamar pribadi Kaviel Frinus, sang penguasa kota. Di dalamnya, seorang wanita kurus tapi cantik berdiri dengan tatapan hampa.
Andrew melirik ke samping, dimana seorang pria tua yang biasa dipanggil "Tuan Kaviel" tergeletak di lantai dengan bibir biru dan mata terbelalak. Kebiasaan buruk Kaviel yang suka mempermainkan budak wanita akhirnya menjadi penyebab kematiannya. Zat berbahaya yang kualitas racunnya telah digandakan berhasil memastikan Kaviel tidak bisa bangkit lagi.
Tanpa bicara, Andrew keluar dan pergi pusat kendali. Di sana, pemandangan luar terbentang dari jendela lebar.
Setengah bulan lalu, ia tiba di dunia ini, gurun kering luas tanpa akhir, dimana matahari membakar siang dan dingin membekukan malam. Di tempat biadab ini, hanya kota-kota baja bergerak yang menjadi tempat berlindung manusia, mencari dan berebut sumber daya.
Andrew menatap denah kota yang digantung di dinding ruang kendali. Tempat ini disebut Kota Lintaraksasa, sebuah kota baja setinggi dua puluh meter dengan rantai roda raksasa sebagai penggerak.
Bagian luar kota ini berlapis pelat usang, dengan dua meriam di setiap sisi serta satu menara pengawas yang saat ini sepi. Di bagian dalam, pusat kendali, ruang mesin, gudang persediaan, dan area pertanian menjadi pusat badi kota.
Andrew sendiri masih sulit mempercayai nasibnya. Dari seorang budak lapar yang dihitung layak hidup atau tidak, kini ia berdiri sebagai penguasa kota. Semua berkat 'Bakat Kritikal Segala Sesuatu,' sebuah bakat tingkat dewa yang telah terbangun lebih awal.
Saat ini, Bakatnya baru berada di Level 1, dimana itu membuatnya mampu menggandakan atau meningkatkan kualitas barang 2–100 kali, sekali sehari, dengan batasan dimana barang yang sudah terkena efek tidak bisa dipakai lagi, termasuk hasil dari efek tersebut.
Satu hal yang paling membuat Andrew kesal adalah ia tak tahu bagaimana cara menaikkan levelnya.
Sudahlah, hadapi masalah satu per satu, katanya dalam hati.
Melihat Thomas menghampirinya, Andrew bertanya, "Berapa banyak yang selamat?"
Andrew meraih botol minuman di dekatnya sebelum membalas, "Lebih dari dua ratus orang mati. Tidak ada dari pihak kita. Sekarang tersisa 579 orang di dalam kota."
Andrew mengangguk pelan, matanya menelusuri setiap sudut denah. "579… Jadi kita benar-benar mengambil alih kota ini, ya?"
Daftar bab
126 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
126 bab








