

Malam itu, lampu neon di rooftop bar “Velvet Sky” Jakarta menyapu wajah Reza Adinata seperti sapuan cat air yang sengaja dibuat kabur. Usia tiga puluh dua tahun, tapi wajahnya tak pernah terlihat muda. Hidungnya agak bengkok karena patah saat remaja, rahangnya tegas tapi tak sempurna, bibirnya tipis, dan alisnya tebal hingga hampir menyatu di tengah. Bukan tampan. Bahkan di mata ibunya sendiri, Reza hanyalah “anak laki-laki biasa yang entah kenapa selalu dikelilingi perempuan”.
Tapi malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, perempuan itu datang sendiri.
Namanya Lita. Janda berusia dua puluh delapan tahun, suaminya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan motor di tol Jagorawi. Rambutnya hitam panjang, gaun hitam ketat membalut tubuhnya yang masih kencang meski sudah melahirkan satu anak. Matanya sayu, tapi bibirnya tersenyum tipis saat Reza mendekat dan berkata dengan suara rendah yang selalu berhasil:
“Janda secantik kamu seharusnya dilarang minum sendirian. Biar aku yang jaga.”
Lita tertawa kecil. Suara itu sudah familiar baginyabukan suara bariton dalam yang dibuat-buat seperti kebanyakan cowok di tempat ini. Suara Reza biasa saja, tapi setiap kata keluar seperti bisikan rahasia yang hanya untuk telinganya. Ia menggeser kursi bar, memberi ruang. Reza duduk, memesan whiskey sour untuk dirinya dan cosmopolitan untuk Lita tanpa bertanya.
“Kamu tahu pesananku?” tanya Lita, alis terangkat.
“Aku ingat dari dua minggu lalu,” jawab Reza sambil tersenyum miring. “Kamu pesan yang sama waktu itu, tapi kamu bilang rasanya terlalu manis. Malam ini aku suruh bartender kurangi gula. Coba.”
Lita menyesap. Matanya melebar sedikit. “Kamu… ingat?”
Reza mengangkat bahu. “Aku ingat hal-hal kecil. Itu yang bikin perempuan merasa dilihat.”
Itu kalimat yang sudah ia ucapkan ratusan kali. Tapi setiap kali, seolah baru. Karena ia mengucapkannya dengan mata yang menatap langsung, tanpa berkedip, seolah dunia di sekitar mereka lenyap.
Dua jam kemudian, mereka sudah di kamar suite hotel bintang lima yang Reza pesan lewat aplikasi tanpa Lita tahu. Tubuh Lita menempel di dada Reza, napasnya tersengal. Reza tidak tergesa-gesa. Ia selalu tidak tergesa-gesa. Jari-jarinya menelusuri punggung Lita pelan, seolah membaca braille yang hanya ia pahami.
“Kamu tidak takut?” bisik Lita di antara ciuman.
“Takut apa?”
“Takut aku jatuh cinta.”
Reza tersenyum di bibir Lita. “Aku tak pernah takut perempuan jatuh cinta, Lita. Aku takut kalau mereka tidak jatuh.”
Ia tidak bohong. Itu sudah menjadi pola hidupnya selama sepuluh tahun terakhir.
Semuanya dimulai dari Rina.
Rina adalah gadis pertama yang benar-benar ia cintai. Waktu itu Reza masih delapan belas tahun, kuliah semester tiga di sebuah universitas swasta di Depok. Rina anak orang kaya, ayahnya pengusaha properti. Wajah Rina seperti boneka porselen—putih, halus, mata besar. Reza yang waktu itu hanya anak kos sederhana, anak dari ibu single yang berjualan jamu di pasar, jatuh cinta setengah mati.
Mereka pacaran diam-diam selama delapan bulan. Sampai suatu malam ayah Rina datang ke kosan Reza dengan dua orang preman. Mereka memukuli Reza habis-habisan. Bukan karena Reza miskin. Tapi karena ayah Rina tahu Reza sudah “menyentuh” putrinya.
“Anak kampungan seperti kamu jangan mimpi,” kata ayah Rina sambil menendang perut Reza yang sudah tergeletak. “Rina sudah dijodohkan dengan anak teman bisnis saya.”
Rina tidak membela. Ia hanya menangis di belakang ayahnya, tidak berani menatap Reza. Malam itu, saat Reza terbaring di UGD dengan tulang rusuk retak dan bibir berdarah, ia berjanji pada dirinya sendiri: tidak akan pernah lagi membiarkan perempuan membuatnya lemah.
Tapi ia juga sadar sesuatu yang aneh terjadi saat ia pulang dari rumah sakit. Banyak gadis di kampus yang mendengar kabar pemukulan itu malah mendekatinya. Bukan kasihan. Tapi penasaran. Mereka ingin tahu, kenapa anak biasa seperti Reza bisa membuat Rina gadis paling cantik di fakultas berani melawan ayahnya.
Reza belajar cepat.
Ia mulai memperhatikan. Bukan wajah, bukan badan. Tapi cara bicara. Cara mendengarkan. Cara membuat perempuan merasa ia adalah satu-satunya orang di dunia. Ia belajar dari buku psikologi yang dicurinya di perpustakaan, dari film-film lama, dari obrolan ibunya dengan teman-temannya yang suka curhat soal suami.
Dan ia menemukan senjata utamanya: kejujuran yang selektif.
Ia tidak pernah berbohong bilang ia tampan. Ia malah sering bercanda soal hidungnya yang “seperti jalan tol yang pernah kecelakaan”. Tapi ia jujur tentang rasa sakitnya. Tentang ibunya yang sakit-sakitan. Tentang mimpi-mimpinya yang sederhana. Perempuan-perempuan itu terpesona karena merasa ia “asli”.
Dari situ, Reza berubah.
Tahun pertama setelah Rina, ia pacaran dengan tiga gadis sekaligus—semuanya tidak tahu satu sama lain. Tahun kedua, ia sudah punya “jadwal”. Ada yang pagi, ada yang malam. Ada yang mahasiswi, ada yang karyawati kantor, ada yang istri bos. Ia tidak pernah memaksa. Ia hanya membuka pintu, dan mereka yang masuk sendiri.
Sekarang, di usia tiga puluh dua, Reza sudah tidak menghitung lagi berapa banyak yang pernah ia tiduri. Dua ratus? Tiga ratus? Ia berhenti menghitung setelah Lita yang ke-87. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak pernah menjanjikan apa-apa selain malam-malam yang membuat mereka lupa nama suami atau pacar mereka.
Keesokan paginya, Lita masih tertidur di sebelahnya saat Reza bangun. Ia memandangi wajah perempuan itu bulu mata lentik, bekas air mata semalam masih samar di pipi. Reza merasa… tidak ada apa-apa. Bukan bosan. Hanya kosong. Seperti biasa.
Ia bangun pelan, mandi, memesan sarapan lewat room service, lalu meninggalkan amplop putih di meja rias. Di dalamnya ada uang dua juta dan secarik kertas: “Terima kasih sudah membuatku merasa hidup semalam. Kalau butuh teman lagi, nomorku tetap sama.”
Ia tidak pernah meninggalkan nomor palsu. Itu bagian dari aturannya. Kalau mereka mau kembali, silakan. Tapi ia tidak akan mengejar.
Reza turun ke lobi hotel, mengenakan kemeja hitam yang sedikit kusut dan celana jeans. Di luar, Jakarta sudah panas meski baru jam sembilan pagi. Ia naik taksi online menuju kantornya di kawasan Kuningan sebuah agensi event organizer kecil yang ia dirikan sendiri lima tahun lalu. Bisnisnya tidak besar, tapi cukup untuk membiayai gaya hidupnya yang bebas.
Di dalam taksi, ponselnya bergetar. Pesan dari Rina.
Rina.
Setelah sepuluh tahun, perempuan itu masih punya nomornya.
“Reza… aku dengar kamu masih sendirian. Ayahku sudah meninggal tahun lalu. Aku cerai dengan suamiku. Bisa kita ketemu?”
Reza menatap layar ponsel lama sekali. Jantungnya tidak berdegup kencang. Hanya ada rasa… aneh. Seperti melihat hantu masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam.
Ia belum membalas.
Saat tiba di kantor, sekretarisnya—Sinta, gadis dua puluh empat tahun yang sudah tiga bulan bekerja di sana—menyambutnya dengan senyum manis.
“Pak Reza, ada klien baru jam sebelas. Namanya Bu Mira. Dia janda, punya usaha katering besar. Mau bikin acara ulang tahun pernikahan orangtuanya yang ke-40. Katanya teman dari klien lama kita yang rekomendasikan.”
Reza mengangguk. “Siapkan ruang meeting. Dan tolong buatkan kopi hitam untukku.”
Sinta mengangguk patuh, tapi matanya sedikit berlama-lama di wajah Reza. Reza tahu tatapan itu. Sudah ratusan kali ia lihat. Tapi ia hanya tersenyum tipis dan masuk ke ruangannya.
Ia duduk di kursi kerjanya, menyalakan laptop, dan membuka folder rahasia yang ia beri nama “Catatan Hati”. Di dalamnya ada foto-foto perempuan-perempuan yang pernah ia taklukkan. Bukan untuk pamer. Tapi untuk mengingatkan dirinya sendiri kenapa ia tidak boleh jatuh cinta lagi.
Di baris paling bawah, ada foto Rina yang lama. Foto itu masih tersimpan, meski sudah pudar.
Reza menutup folder itu cepat.
Jam sebelas tepat, pintu ruang meeting terbuka.
Mira masuk.
Usia sekitar tiga puluh tujuh tahun. Rambutnya diikat rapi, memakai kebaya modern warna krem yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang matang. Wajahnya cantik tapi tegas—mata sipit, hidung mancung, bibir penuh. Di jari manisnya masih ada bekas cincin kawin yang baru dilepas, kulitnya sedikit lebih putih di situ.
Ia bukan gadis muda yang polos. Ia janda kaya yang baru bebas.
Mira menjabat tangan Reza. Genggamannya kuat, tapi telapak tangannya dingin.
“Pak Reza? Saya Mira Wijaya. Terima kasih sudah menerima pertemuan mendadak ini.”
Suara Mira lembut, tapi ada nada yang membuat Reza langsung tahu: perempuan ini sedang menahan banyak hal.
Reza tersenyum. Senyum yang sama seperti yang ia berikan pada Lita semalam.
“Tidak masalah, Bu Mira. Silakan duduk. Mari kita bicarakan bagaimana kita bisa membuat acara orangtua Ibu menjadi tak terlupakan.”
Saat Mira duduk, Reza memperhatikan gerak-geriknya. Cara ia menyilangkan kaki, cara ia menggigit bibir bawah saat membuka map proposal. Cara matanya sesekali melirik Reza bukan sebagai klien, tapi sebagai laki-laki.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Reza merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan nafsu biasa.
Tapi rasa penasaran yang dalam. Karena di balik tatapan tegas Mira, ia melihat sesuatu yang familiar—luka yang sama seperti luka yang pernah ia kubur sepuluh tahun lalu.
Reza mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya rendah seperti biasa.
“Bu Mira… sebelum kita bicara soal tema acara, boleh saya tanya satu hal pribadi?”
Mira mengangkat alis. “Silakan.”
“Kenapa Ibu memilih saya? Banyak event organizer yang lebih besar di Jakarta.”
Mira diam sejenak. Lalu ia tersenyum kecil, senyum yang penuh rahasia.
“Karena teman saya bilang… kamu tidak hanya pandai mengatur pesta. Kamu pandai membuat orang lupa sejenak siapa mereka sebenarnya.”
Reza tertawa pelan. Tapi di dalam dada, sesuatu bergetar.
Ia tahu, pertemuan ini bukan sekadar bisnis.
Ini awal dari sesuatu yang dulu ia janjikan tidak akan pernah ia ulangi.
Cinta.
Dan kali ini, cinta itu terlarang karena Mira bukan hanya janda biasa.
Ia adalah adik ipar dari ayah Rina yang dulu pernah memukulinya habis-habisan.