Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
BISIKAN RUMAH TERKUTUK

BISIKAN RUMAH TERKUTUK

Amory Andrew | Bersambung
Jumlah kata
34.5K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / BISIKAN RUMAH TERKUTUK
BISIKAN RUMAH TERKUTUK

BISIKAN RUMAH TERKUTUK

Amory Andrew| Bersambung
Jumlah Kata
34.5K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
18+HorrorHorrorKutukan21+Selingkuh
Burhanudin, pengusaha ambisius yang skeptis terhadap takhayul, nekat membeli rumah tua murah meski telah diperingatkan akan kutukan yang mengincar kesehatan dan moralitas penghuninya. Baginya, itu hanyalah omong kosong.Namun setelah pindah bersama istri dan dua putrinya, peringatan itu menjadi kenyataan pahit. Burhan jatuh sakit tanpa diagnosis medis yang jelas. Keharmonisan keluarga hancur: Amelia, istrinya, terjebak dalam pusaran perselingkuhan berulang, sementara anak-anak mereka terjerumus ke pergaulan bebas yang liar. Di titik nadir, saat bisnisnya di ambang kehancuran dan keluarganya hancur berantakan, Burhan menyadari kekuatan gelap rumah tersebut sedang menghabisi mereka. Kini ia harus memilih: mempertahankan aset berharga itu demi materi, atau menghancurkannya sebelum nyawa keluarganya menjadi tumbal terakhir.
1. Tabir Gelap Rumah Tua

Sudah seminggu ini Burhan membawa seisi keluarganya pindah ke rumah baru mereka. Sebuah rumah lama dua lantai yg ia telah beli dua tahun lalu dan baru akan mereka tempati mulai sekarang ini. Dulu saat pertama kali dibeli, ia merencanakan untuk menjual kembali ketika harga meningkat. Namun sesuatu terjadi yg membuat ia harus membatalkan rencana dan kemudian tinggal di rumah ini.

Selama seminggu ini pula Burhanudin Menggala Adiwangsa harus super sibuk. Bukan hanya dalam mengatur pindahan namun menata perabot di dalamnya. Tentu saja ia menyewa orang untuk pindahan ini, namun tetap saja ada banyak yg mereka harus lakukan.

Bagi Amelia, ia sudah menampakkan kesan tidak puas sejak pertama kali rumah itu ia lihat. Selain lokasinya yg di pinggiran Jakarta, interior dan eksterior rumah terasa tidak enak ia lihat.

Sama seperti yg ia lakukan pagi ini. Amelia berdiri di tengah kamar utama, matanya nanar menatap sudut plafon yang menghitam.

"Lihat itu, Mas," suaranya meninggi, bergetar oleh emosi yang meluap. "Retakannya makin lebar tiap jam. Langit-langitnya kotor, berdebu. Noda rembesan air hujan makin lama makin besar. Mana bau lageee…”

Keluhan itu keluar dari wanita yg adalah isteri Burhan. Walau telah berusia 40 tahun, kulitnya mungkin tidak selentur remaja, namun memiliki kilau sehat yang didapat dari perawatan mahal. Lekuk tubuhnya mencapai puncaknya; pinggul yang penuh dan dada yang tertata memberikan siluet jam pasir yang sempurna. Ada aura "mahal" dan kepercayaan diri tinggi yang terpancar dari cara dia berjalan. Bisa jadi itu yg membuat ia dulu bertekuklutut pada Amelia.

“Tau darimana nodanya makin besar? Kita baru seminggu di sini,” kata Burhan agak merasa lucu karena menganggap Amelia lebay.

“Seminggu tapi udah berasa seabad. Rumah ini langit-langitnya bau.”

“Soal bau, itu kan hanya bau lembab. Cuma bau air.”

“Tetap aja gak enak.”

Burhan duduk di tepi ranjang sambil memijat betisnya yang mulai terasa nyeri akibat angkut barang kesana-sini.

“Sabar.”

“Sabar, sabar. Bosen tauk!”

"Itu cuma masalah kecil, Amel. Besok aku panggil tukang untuk mengecat ulang. Kita hanya butuh waktu untuk beradaptasi dengan suasana baru. Santai lah dikit.”

"Masalah kecil?" Amelia berbalik kilat, wajah cantiknya memerah padam. "Kita membusuk di sini karena 'masalah kecil' yang kamu buat! Kalau saja kamu gak serakah, gak melakukan penggelapan di kantor itu, kamu gak akan kena PHK.”

“Mulai deh….”

“Tapi betul kan?”

“Terus, untuk menghidupi gaya hidup jetset-mu, aku pake gajiku thok? Kamu lo yg nuntut setahun sekali liburan keliling dunia!”

“Mas mainnya kurang rapih sih. Akibatnya waktu digugat pengadilan, Mas kalah. Musti bayar sekian milyar dan akibatnya kita kehilangan semuanya. Terpaksa pindah dari daerah elit, ke pinggiran kota, karena denda pengadilan yang gila itu!”

“Sudahlah, Mel. Yg udah lewat biarlah sudah…”

“Kamu menghancurkan masa depan kita, Mas. Kamu menyeret aku dan anak-anak ke lubang sampah ini!"

Kalimat itu menghantam harga diri Burhan yang sudah compang-camping. Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit, seolah dinding-dindingnya menghimpit mereka.

“Cukup!”

“Aku gak akan…”

Melihat Amelia masih akan ‘nyerocos’ Burhan tak tahan lagi. Tanpa peringatan, Burhan bangkit. Langkahnya berat namun pasti, menyudutkan Amelia ke dinding yang retak itu hingga punggung istrinya membentur tembok yang dingin dan lembap.

“Dengarkan aku.”

Permohonan itu diabaikan. Tangan Amelia memukul dada Burhan, namun tenaganya luruh saat suaminya menangkap tangannya. Ia membopong tubuhnya yang masih ramping – sebagai hasil kesukaan ke fitness - lalu membantingnya ke atas ranjang tua yang berderit nyaring.

Burhan lantas mengunci kedua pergelangan tangan Amelia di atas kepala, sambil menindihnya dengan berat tubuh yang terasa lebih panas dari biasanya. Ia menatap dalam ke mata Amelia yang kini basah oleh air mata kekecewaan.

"Dengarkan aku baik-baik," bisik Burhan mengulang.

Suaranya dalam, serak, dan memiliki otoritas yang dulu membuatnya disegani. "Ini hanya sementara. Aku bersumpah demi nyawaku, situasi akan segera membaik. Aku akan mengembalikan semua kemewahanmu. Aku gak akan membiarkanmu menderita. Percayalah padaku, Amel. Sekali ini saja."

Keheningan menyelimuti ruangan, hanya deru napas mereka yang memburu memenuhi udara yang pengap. Kemarahan Amelia perlahan mencair, digantikan oleh rasa bersalah yang menyesakkan. Ia menatap wajah suaminya—pria yang ia cintai namun juga ia benci karena kegagalannya.

"Maafkan aku, Mas..." isaknya lirih, cengkeramannya pada baju Burhan mengerat. "Aku panik. Aku hanya takut... aku merasa rumah ini melihat kita. Aku gak suka di sini."

Hati Burhan luruh. Ia ingin menenangkan Amelia.

“Aku janji akan menolongmu keluar dari sini.”

Dan dengan itu, Burhan lalu mengecup bibir Amelia yg masih ranum, bermaksud memberi sekilas. Namun saat merasakan air mata Amelia menyentuh wajahnya, sikapnya berubah dengan memberikan ciuman yg dalam, lebih membara. Ia hanya berharap itu bisa membuat Amelia tenang.

“Aku mencintaimu, Sayang,” katanya saat ciuman terlepas.

“Aku juga, Mas.”

Dan kemudian … di bawah bayang-bayang langit-langit yang kotor dan dinding yang seolah memiliki telinga, mereka berciuman. Tak lagi sepintas, namun sebuah frenchkissing panjang yang memicu libido, yg semua dilakukan dalam keputusasaan yang liar dimana mereka mencari pelarian di dalam tubuh satu sama lain.

Melalui pantulan lampu meja, bayangan mereka bergerak seperti siluet dalam pertunjukan gulat dalam dimensi berbeda. Terpicu tekad dan amarah bergelora karena situasi pahit yg ada, bayangan Burhan terlihat secara mendadak mencabik nilon tipis yg Amelia kenakan.

Brettt! Brettt!

Benda yg baru detik lalu masih menjadi pakaian penutup aurat, dengan segera melayang di udara dan mendarat di lantai menjadi carikan kain tak berguna.

Siluet bayangan Amelia yang kaya akan lekuk tubuh kini menunjukan bahwa tak ada seutas benang pun yg kini menutupi tubuhnya yg masih tetap sintal di usianya yg tak lagi muda.

Burhan menekan tubuh Amelia sedalam ia bisa. Tangannya kasar tapi hangat, dan Amelia tidak melawan. Ini bukan tentang cinta atau bahkan nafsu murni. Ini tentang melupakan, sekalipun hanya untuk sepuluh menit, untuk kenyataan hidup bahwa mereka – mungkin - bisa saja mulai menapaki apa yg disebut sebagai … kemiskinan.

Pameran keputusasaan yg Burhan dan Amelia tunjukan jadi pemicu bangkitnya insting animalistik yg sayangnya diketahui pribadi ketiga.

Vinna, puteri mereka, berdiri membeku di lorong depan kamar. Jemarinya mencengkeram pinggiran daun pintu jati yang sedikit terbuka dengan satu mata nanar mengamati apa yg terjadi dalam kamar orangtuanya. Seharusnya ia sudah berada di kamarnya, berusaha memejamkan mata di tengah hawa rumah tua ini. Namun, teriakan melengking ibunya tadi - suara yang penuh kemarahan dan keputusasaan - menarik langkah kakinya ke sini, ke ambang rahasia yang seharusnya tak ia saksikan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca