Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dokter Jenius Pemegang Arsip Terlarang

Dokter Jenius Pemegang Arsip Terlarang

Jinondhara | Bersambung
Jumlah kata
62.9K
Popular
304
Subscribe
101
Novel / Dokter Jenius Pemegang Arsip Terlarang
Dokter Jenius Pemegang Arsip Terlarang

Dokter Jenius Pemegang Arsip Terlarang

Jinondhara| Bersambung
Jumlah Kata
62.9K
Popular
304
Subscribe
101
Sinopsis
PerkotaanAksiPertualanganDokter GeniusKekuatan Super
Mereka mengira dia hanya dokter biasa, mereka salah besar. Di balik wajah tenangnya, tersembunyi sebuah rahasia yang mampu mengguncang dunia medis. Arsip terlarang yang berisi metode penyembuhan… sekaligus cara menghancurkan manusia dari dalam. Daniel anak tukang gali kubur, karena kecerdasannya dia mendapatkan beasiswa untuk sekolah di fakultas kedokteran di sebuah universitas ternama. Saat bekerja di rumah sakit Sambhara, banyak kejadian aneh yang dia temui yang menyeretnya masuk dalam konflik dengan organisasi rahasia para dokter dan ilmuwan jahat bernama Sigma. Satu per satu orang di sekitarnya jatuh, dan Daniel mulai menyadari, dirinya bukan sekadar korban… tapi bagian dari eksperimen yang lebih besar. Ilmu yang dia miliki membuatnya menjadi dokter yang hebat, namun juga menjadikannya target paling berbahaya. Di dunia di mana nyawa bisa diperjualbelikan, dan kebenaran dikubur dalam darah. Daniel hanya punya dua pilihan, menjadi penyelamat atau menjadi bencana. Dan ketika arsip itu akhirnya terbuka, yang tersisa hanyalah satu hal. Tidak ada lagi batas antara dokter dan monster.
Bab 1 Pertemuan yang Aneh

Bab 1

Daniel Donahue masih tertidur lelap di kamarnya, memulihkan tenaganya setelah semalaman tugas piket malam di IGD. Sebagai dokter baru di Rumah Sakit Sambhara, rumah sakit paling bergengsi di kota Mamrati, Daniel sering mendapat jatah piket malam dan lembur berlebih. Karena rekan-rekannya sesama dokter adalah anak pejabat atau dokter senior yang enggan dinas malam. Ia tak pernah menolak, karena sadar posisinya lemah. Bahkan seringkali ia tidak bisa pulang ke kosnya karena sering diminta piket malam dadakan menggantikan dokter-dokter lainnya. Bagi Daniel, ini terasa seperti hukuman tanpa akhir sebagai budak corporat.

Dering handphone membangunkan tidurnya, dengan malas ia mengangkat handphonenya. Ternyata dokter Budi atasannya, penanggung jawab IGD yang menelponnya.

"Daniel, pagi ini kamu ke ruang rapat. Ada hal penting yang akan dibicarakan."

"Oh, mendadak sekali, ada masalah apa ya?" tanya Daniel dengan bingung.

"Nanti saja kita bicara," Budi segera mengakhiri teleponnya.

Suara dokter Kepala IGD itu terdengar tegas, singkat dan tanpa basa-basi. Daniel mulai kuatir dengan karirnya. Sebagai anak tukang gali kubur, Daniel merasa beruntung bisa kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Nalanda sebuah universitas bergengsi di negerinya dengan bantuan beasiswa. Berkat nilai akademisnya, prestasinya di luar sekolah dan rekomendasi dari Rektor Universitas Nalanda, ia bisa diterima bekerja di rumah sakit Sambhara. Ia tak ingin karirnya sebagai dokter gagal dan mengecewakan orangtuanya.

****

Dengan berdebar Daniel masuk ke ruang rapat. Di ruangan itu sudah ada dokter Linda dan dokter Oscar dari komite rumah sakit yang sedang membolak-balik binder tebal. Sementara dokter Alex Tandiyo spesialis bedah, anak bungsu direktur rumah sakit Norman Tandiyo, tersenyum mengejek memandangi dirinya.

Ah, sial benar hari ini, kenapa kutu kupret Alex harus ada di sisni? Batin Daniel dengan geram.

Alex sering meremehkan kemampuan Daniel dan latar belakangnya sebagai anak penggali kubur. Ia juga yang sering memerintahkan bagian HRD untuk membebankan lembur dan piket malam di IGD sampai melebihi aturan jam lembur maksimal pada Daniel.

"Silahkan duduk Daniel, kami disini untuk membicarakan kinerjamu selama bekerja di sini," ujar Oscar dengan suara dingin dan wajah datar.

Daniel duduk di kursinya, jantungnya berdebar kencang menatap wajah-wajah para dokter senior di depannya. Daniel menghela nafas, mencoba menenangkan diri.

Linda yang sedang membaca berkas di binder tiba-tiba berkata,"Daniel, baru dua minggu kamu bekerja. Tapi sudah 7 pasien meninggal di IGD saat kamu bertugas."

"Mengenai 7 pasien itu, saya sudah membuat laporannya. Mereka semua datang terlambat kemari. Bukan karena saya lambat menangani mereka," Daniel membela diri.

Namun Linda tidak menggubris pembelaannya. Dengan nada dingin dia berkata,

"Kalau hanya sekali dua kali dan tidak berturutan kami masih bisa memahami. Tapi jika sudah 7 kali berturut-turut, itu tidak wajar. Bisa rusak citra rumah sakit kita."

Daniel tercekat, dirinya terancam dipecat dari rumah sakit Sambhara. Terbayang sudah betapa sedihnya kedua orangtuanya jika ia sampai dipecat.

"Sudah kubilang Daniel tidak layak bekerja di sini. Tapi kenapa kalian masih menerimanya juga. Bagaimana jika kita pecat saja dia," cetus Alex dengan nada meremehkan.

Budi menatapnya iba, namun ia tidak kuasa membelanya. Baginya, Daniel tidak seburuk yang mereka duga. Tetapi jika komite rumah sakit sudah turun tangan, berarti ada masalah gawat.

"Eehm, bagaimana jika sementara kita tugaskan Daniel di Unit Forensik sebagai asisten dokter Muharjo menggantikan asisten lama yang resign," usul dokter Budi.

Daniel terkejut, ia tahu Budi atasan langsungnya berusaha mempertahankannya walaupun konsekuensinya ia harus ditempatkan di bagian yang paling tidak disukainya.

"Yaaa benar, sebaiknya dia berada di kamar mayat saja. Kalau pasiennya mayat kan mereka tidak bisa komplain," Oscar ikut berpendapat.

Namun Alex tampak keberatan.

"Tapi Daniel bukan orang yang tepat untuk bekerja di rumah sakit ini. Kenapa tidak kita pecat saja?"

"Asisten dokter Muharjo keluar minggu kemarin dan kita masih belum dapat penggantinya ya. Kita coba dulu menempatkan Daniel di situ nanti kita lihat lagi performanya selama sebulan," tukas Linda tegas.

Emosi Alex menyurut, sepertinya dia enggan mendebat Linda lebih lanjut. Alex kembali menyandarkan punggungnya di kursi.

Wanita berusia limapuluhan itu menatap Daniel dengan tatapan tajam lalu berkata,

"Gitu ya Daniel, per hari ini kamu ditempatkan di Unit Forensik. Sekarang kamu temui dokter Muharjo di ruangannya."

Daniel hanya bisa mengangguk, jika di tempatkan di Unit Forensik, berarti ia hanya berurusan dengan jenazah. Ia tidak bisa lagi belajar dan mencari pengalaman dalam mengobati pasien.

******

Daniel berjalan di lorong basement 2. Suasana di basement 2 lebih sepi dari yang ia bayangkan. Hanya ada seorang satpam yang berjaga di depan lorong menuju kamar mayat.

Daniel tersenyum menyapa satpam lalu bertanya,

"Dimana ruangan Dokter Muharjo?"

"Ada di ujung lorong," jawabnya ramah.

Daniel kembali melangkah menyusuri lorong yang sepi. Suara langkah kakinya menggema di sepanjang lorong. Udara lembab dan aroma formalin samar memenuhi lorong. Baru sekali ini ia masuk ke basement tempat kamar mayat berada. Pikirannya masih kalut, sambil berjalan ia memikirkan kemungkinan untuk resign setelah kontraknya berakhir dan mencari rumah sakit lain sebelum mereka memecatnya.

Di ujung lorong, ada sebuah ruangan dengan pintu terbuka terbuka sedikit dengan cahaya lampu neon berpendar di dalamnya.

Ah, ini pasti ruangan dokter Muharjo, pikir Daniel sambil melangkah masuk ke sebuah ruangan.

Interior ruangan itu tampak jadul tapi bersih dengan meja dan kursi model lama, sebuah filling cabinet besi berada dibelakangnya. Tetapi tidak ada komputer di mejanya.

Di dalam ruangan itu, Daniel melihat seorang dokter tua sedang menunduk menulis sesuatu.

"Dokter Muharjo, saya Daniel, asisten anda yang baru."

"Silakan duduk," jawabnya tanpa menoleh

Daniel mendekat mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman.

Saat pria itu menoleh, seketika Daniel membeku.

Tangan mereka sudah terlanjur bersentuhan, tangan pria itu terasa dingin seperti menyentuh logam di ruang pendingin jenazah.

“Anda bukan...."

Kalimatnya terputus. Saat itu juga Daniel merasakan ada getaran hangat menjalar dari telapak tangan ke lengan, lalu ke jantung dan ke kepala.

Ruangan berputar, lampu neon meredup. Bau formalin dan obat-obatan yang menyengat tiba-tiba menyergap hidungnya. Kepalanya pusing, perutnya mual berasa ingin muntah. Daniel berusaha melepaskan tangannya dari genggaman dokter tua itu, tapi ia tak berdaya. Tangan dokter tua itu begitu kuat mencengkramnya. Sekilas tanpa sengaja, ia melihat kalender meja di atas meja kerja dokter tua itu.

Agustus 1985...setelah itu Daniel merasakan dirinya melayang meninggalkan raganya.

Daniel membuka mata, sekarang ia berada di antara sekelompok sosok berjubah dan berkerudung putih yang berdiri melingkar mengelilingi meja otopsi seperti sebuah ritual. Di jubah mereka ada sulaman logo Sigma besar berwarna perak. Mereka semua mengenakan kedok berwarna putih.

Di tengah lingkaran itu, seorang pria tua yang tadi ditemuinya terbaring tak berdaya di atas meja tanpa busana, seperti jenazah yang siap diotopsi.

Anehnya para dokter itu tidak melihat keberadaan Daniel di tengah mereka.

Lanjut membaca
Lanjut membaca