

Pada musim panas tahun 2007, sebuah bus yang dioperasikan oleh Nusantara Jaya Travel sedang menuju Kabupaten Sidasari dekat Cijambu, sebuah kota di Provinsi Hulu Donggala.
Sidasari adalah daerah terpencil di tengah pegunungan dan sawah yang luas. Di tengah teriknya musim panas, sebagian besar penumpang bus tertidur nyenyak.
Seorang anak laki-laki tampan dengan tinggi badan sekitar 168 sentimeter, berwajah mulus dan potongan rambut pendek yang rapi tiba-tiba mendongakkan kepalanya saat ia terbangun dari mimpi buruk. Ia mengamati interior bus itu dengan tatapan lelah.
Saat kenyataan akhirnya menyambarinya, wajahnya tiba-tiba mengeras dengan cemberut yang dalam. Dia telah pergi ke dunia lain dan kembali setelah berabad-abad, namun tidak seorang pun di bus itu tahu apa yang baru saja dialaminya.
“Ini bus yang sama dengan yang aku tumpangi ke Kota Cijambu pada tahun terakhirku di SMA!”
“Mengapa aku ada di sini? Apakah aku tidak lagi berada di masa Penyempurnaan Akhir?”
“Mungkinkah aku kembali ke dunia manusia biasa ini?” Ketidakpercayaan berkelap-kelip di mata Jefri Pratama saat dia berpikir dalam hati.
“Bagaimana mungkin aku, Jefri Bimasakti, lolos dari malapetaka alam surgawi dan terlahir kembali sebagai diriku yang dulu?”
Jefri Pratama, yang juga dikenal sebagai “Jefri Bimasakti,” adalah seorang kultivator. “Bimasakti” adalah nama kultivasi yang diberikan gurunya saat ia pertama kali memasuki jalur kultivasi.
Dia berkultivasi selama lima ratus tahun di bawah salah satu dari sembilan sekte surgawi terbesar di alam semesta: Sekte Bela Diri Suci Abadi, dan dia adalah murid kesayangan dari Tetua Agung sekte tersebut: Guru Cangga, sang kultivator yang hampir mencapai tahap keabadian.
Berkat bakat luar biasa yang dimiliki Jefri, ia hanya butuh waktu lima ratus tahun untuk memasuki tahap terakhir kultivasinya: Penyempurnaan Akhir. Ia dianggap sebagai kultivator yang paling mungkin berhasil melampaui alam semesta saat ini menuju alam yang sesungguhnya abadi.
Jefri hidup di alam semesta itu selama lima ratus tahun, bertarung dan memenangkan setiap pertempuran melawan makhluk apa pun yang berani menantangnya. Kekuatannya yang tak tertandingi telah memberinya gelar: Penguasa Surgawi Ilahi dari Negeri Utara.
Betapapun kuatnya dia, dia telah gagal total dan hampir kehilangan eksistensinya dalam ujian akhir di alam surgawi.
Baru ketika ajal hampir menjemputnya, ia menyadari bahwa penyebab kegagalannya adalah kecepatan kultivasinya yang terlalu tergesa-gesa. “Cepat dan tekun” adalah moto yang selalu dia pegang, tetapi hal itu juga membuat fondasi kultivasinya penuh dengan celah dan kelemahan.
Tekad dan kesetiaannya pada jalan kultivasi—yang disebut “Hati-Dao”—hancur berkeping-keping ketika ia harus menghadapi iblis mental yang mengintai di sudut-sudut terdalam pikirannya.
Keinginannya yang terlalu besar untuk menyelesaikan kultivasi telah menjadi jurang kehancurannya. Untuk maju secepat mungkin, ia telah meninggalkan begitu banyak penyesalan dan membuat begitu banyak kesalahan. Ketika rasa bersalah dan dendam terhadap diri sendiri perlahan menggerogoti pikirannya, ia menjadi sangat rentan terhadap tipu daya dan ilusi yang diciptakan iblis mental.
Saat Jefri merenungkan pertempurannya yang dahsyat melawan iblis mental, ia mencoba memanggil energi dalam dirinya, untuk memastikan bahwa dirinya tidak berada dalam ilusi lagi. Yang mengejutkannya, ia menemukan bahwa bukan saja tidak ada jejak pun dari Kekuatan Dharma Pemakan Bintang yang dulu menjadi andalannya, tetapi juga Esensi Primordial yang tak terbatas telah hilang tanpa bekas.
“Ini bukan permainan ilusi iblis. Aku benar-benar KEMBALI!” Jefri mengernyitkan alisnya saat kesadaran penuh akhirnya muncul dalam benaknya.
Jefri tahu bahwa betapapun nyata dan jelasnya ilusi yang diciptakan iblis mental, mereka tidak akan pernah bisa menyembunyikan seluruh jejak Esensi Primordial Penguasa Surgawi yang dulu dimilikinya.
“Kekuatanku telah hilang seluruhnya. Tidak ada sedikit pun jejak Kekuatan Dharma, Esensi Primordial, atau Cahaya Pencerahan Abadi dalam diriku sekarang, apalagi harta karun Dharma yang kubawa selama berabad-abad. Sekarang aku tidak berbeda dengan manusia biasa, bahkan seorang preman jalanan saja bisa mengalahkanku jika mereka benar-benar berusaha.”
Meskipun mengalami kemunduran yang sangat besar dalam kultivasinya, dia tampaknya tidak terlalu kesal atau putus asa. Sebaliknya, dia menertawakan kekalahannya yang dulu dengan suara riang dan lega.
“Baiklah, kultivasiku di kehidupan sebelumnya memang sudah ditakdirkan gagal sejak awal.
“Kali ini, saya akan memastikan bahwa saya melakukan kultivasi selangkah demi selangkah dengan benar. Saya tidak hanya akan menyelesaikan setiap tahap tetapi juga menyempurnakannya sepenuhnya.”
Dia tersenyum penuh semangat sementara api keinginan yang membara menari-nari di matanya.
“Saya akan membalas setiap penghinaan dan perlakuan rendah yang pernah diberikan dunia kepada saya dan keluarga. Saya akan belajar dari kesalahan masa lalu dan tidak akan meninggalkan satu pun penyesalan saat saya melangkah maju ke depan.”
Ada begitu banyak penyesalan di kehidupan sebelumnya. Meskipun pikirannya selalu disibukkan dengan kultivasi, rasa penyesalan dan kesedihan tetap mengganggunya dalam diam.
“Ibu, Ayah, Kakak Andi, dan Qonita. Aku KEMBALI! Kali ini aku tidak akan pernah mengecewakan kalian semua.”
Jefri menundukkan kepalanya saat tekad yang kuat membara dalam hatinya.
Jefri lahir di keluarga biasa di Kabupaten Sidasari. Ayahnya, Pratama Gunawan, berasal dari Kota Jember, Provinsi Hulu Donggala. Sementara itu, ibunya, Ratna Wijayanti, berasal dari keluarga bangsawan di Kota Yogyakarta yang sudah ada sejak zaman kolonial.
Keduanya bertemu saat kuliah di salah satu universitas ternama di Jakarta, dan mereka langsung jatuh cinta dalam-dalam, meskipun seluruh Keluarga Wijaya sangat menentang hubungan mereka. Masyarakat pada umumnya kala itu masih memegang teguh tradisi pernikahan yang harus mendapat restu orang tua. Hal ini terutama berlaku bagi keluarga kaya dan berpengaruh seperti keluarga Wijaya.
Setelah gagal menghentikan pernikahan kedua anak muda itu, kakek Jefri dari pihak ibu bahkan mencela putrinya sendiri dan mengucilkan dia dari keluarga.
Dalam keadaan marah dan terluka hati, Ratna Wijayanti meninggalkan orang tuanya bersama suaminya dan menetap di Provinsi Hulu Donggala.
Untuk membuktikan kepada Keluarga Wijaya bahwa suaminya layak menjadi calon menantu mereka, Pratama Gunawan tidak memilih tinggal di kota-kota besar tempat pengaruh Keluarga Wijaya sangat kuat; sebaliknya, ia memutuskan untuk pindah ke Kabupaten Sidasari dan mulai bekerja sebagai pegawai negeri sipil dengan jabatan rendah.
Pratama bekerja dengan sungguh-sungguh untuk daerah itu selama beberapa dekade, dan tidak pernah sekali pun ia mencoba mencari keuntungan dengan memanfaatkan hubungan keluarganya dengan Keluarga Wijaya yang berpengaruh. Ia telah naik pangkat secara bertahap dari posisi awalnya hingga ke tingkat manajerial, tetapi pencapaiannya itu masih dianggap tidak cukup dan sepele di mata keluarga Wijaya.
Ketegangan antara kedua belah pihak akhirnya mulai mereda setelah Jefri lahir. Kakek Jefri dari pihak ibu akhirnya mengizinkan pasangan itu untuk berkunjung ke rumahnya selama Hari Raya Idul Fitri. Namun, tanpa sepengetahuan pasangan muda itu, yang menunggu mereka di rumah besar Keluarga Wijaya adalah ucapan-ucapan sindiran dan penghinaan yang menyakitkan hati.
Seluruh keluarga menganggap orang tua Jefri sebagai noda pada nama baik dan reputasi keluarga Wijaya. Mereka telah menentang keinginan kepala keluarga dan melahirkan seorang putra yang tidak membawa kebanggaan apa pun, hanya malah menjadi sumber rasa malu bagi keluarga Wijaya.
Adapun prestasi kerja Pratama di daerah terpencil itu, bagi mereka hanyalah sesuatu yang lucu dan menyedihkan untuk diperdebatkan.
Pikiran tentang masa lalu itu membuat Jefri merasa pahit di hati. Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan wajah yang masam.
“Wira Wijaya, aku yakin kamu tidak pernah menyangka aku akan kembali dari masa depan yang jauh!”
“Keluargamu sudah bekerja keras untuk menjatuhkan dan menghina aku dan orang tuaku, tapi pada akhirnya, kami tetap dianggap seperti ulat yang tidak berharga di matamu.”
“Ibu saya orang yang memiliki harga diri tinggi, dan dia tidak bisa tahan diperlakukan dengan rendah seperti itu. Itulah sebabnya dia selalu bekerja keras dan berusaha menunjukkan bahwa pilihan hidupnya tidak salah, tetapi apa yang dia dapatkan pada akhirnya? Hanya kecewa dan sakit hati!”
“Aku bersumpah akan membalas segala yang telah dilakukan keluarga kamu kepada ibuku. Meskipun saat ini aku hanya manusia biasa tanpa kekuatan apa pun, begitu aku mendapatkan kembali kekuatanku, aku akan mengetuk pintu rumah besar keluarga kamu. Aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana rasanya diperlakukan rendah dan diinjak-injak seperti ulat yang tidak berharga.”
Wira Wijaya adalah sepupu Jefri dari pihak ibu. Dia adalah anak kesayangan seluruh keluarga besar Wijaya. Di kehidupan terakhir Jefri, dia telah berusaha sekuat tenaga untuk mengejar keberhasilan Wira dan membuktikan diri, tetapi selalu saja gagal. Kesenjangan antara Wira dan Jefri begitu jauh hingga tidak bisa dijembatani.