Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pelatih GYM Plus-Plus

Pelatih GYM Plus-Plus

Bang_Joe | Bersambung
Jumlah kata
49.0K
Popular
12.7K
Subscribe
1.6K
Novel / Pelatih GYM Plus-Plus
Pelatih GYM Plus-Plus

Pelatih GYM Plus-Plus

Bang_Joe| Bersambung
Jumlah Kata
49.0K
Popular
12.7K
Subscribe
1.6K
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHarem21+Pria Miskin
AREA DEWASA! Mempunyai paras yang tampan dan tubuh yang atletis. Bima sebagai pelatih baru di pusat kebugaran, ia digandrungi banyak perempuan. Godaan berdatangan. Namun Bima mendapatkan tekanan dari pelatih senior karena merasa tersaingi. Apakah Bima mampu menghadapi semua itu, demi memperbaiki ekonominya? Lalu bagaimana Bima menyikapi para perempuan yang mendekatinya, dan mengiming-imingi uang dan kekayaan? Lantas bagaimana dengan pelatih senior yang iri terhadapnya?
Bab 1

"Akhirnya, aku kerja lagi," gumamku.

Saat pintu lift terbuka di lantai tujuh, aroma parfum lembut bercampur pendingin ruangan langsung menyambut wajahku. Dinding marmer putih, lampu gantung modern, dan lantai mengilap membuat tempat itu lebih mirip hotel bintang lima dibanding pusat kebugaran. Tempat kerja lamaku, nampak seperti pusat pelatihan biasa dengan gedung yang tua, dan alat-alat yang terkadang bahkan sudah karatan. 

Aku sempat menunduk melihat sepatu olahraga milikku yang sudah agak pudar.

"Bim. Jangan gugup. Bos di sini memang suka kemewahan," ujar Reno, temanku yang membantuku masuk ke tempat ini.

Aku hanya tersenyum tipis.

Beberapa bulan menganggur sejak dipecat di tempat gym lamaku karena bangkrut, akhirnya Reno memberikan kabasr baik bahwa ada lowongan pelatih di gym privat khusus perempuan. Sebab itu aku langsung melamar tanpa pikir panjang. Dan untungnya karena pengalamanku akhirnya diterima. 

"Bu Mela sudah nunggu di ruangannya," ujar Reno sebelum meninggalkanku.

"Oke, nanti gue ke sana," balasku, tersenyum.

Beberapa saat kemudian. Aku menarik napas panjang lalu mengetuk pintu kaca di ujung lorong.

"Permisi..."

"Masuk." Suara perempuan itu terdengar tegas.

Aku membuka pintu perlahan.

Di dalam, seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan tahun duduk di balik meja kerja modern. Rambutnya pendek rapi, blazer hitamnya terlihat mahal, dan tatapannya tajam seperti bisa membaca isi kepala orang.

"Oh ... Kamu Bima?" tanyanya.

"Iya, Bu."

"Silahkan duduk."

Aku langsung duduk tegak.

Bu Mela membuka tablet di depannya lalu mulai melihat data milikku.

"Tubuhmu bagus. Sertifikat pelatih ada. Pengalaman freelance juga lumayan." Tatapannya terangkat menatapku. "Tapi ... Kamu harus tahu. Jika tempat ini beda."

Aku mengangguk pelan.

"Gym ini bukan gym biasa. Klien kami perempuan-perempuan kelas atas. Mereka membayar mahal untuk kenyamanan dan privasi," lanjutnya.

"Iya, Bu. Saya mengerti."

Jantungku mulai berdebar.

"Hari ini kamu akan mendampingi klien bernama Dewi, dia selebgram." Nada bicaranya berubah lebih serius. "Salah sedikit, kamu bisa diviralkan!"

Mendengar itu, aku menelan ludah.

Bu Mela berdiri lalu berjalan mendekat. Aroma parfumnya lembut tapi kuat.

"Dan kalau itu terjadi." Dia menatap lurus ke mataku. "Kamu langsung saya pecat!"

Deg!

Aku spontan kaget.

"Langsung dipecat, Bu?"

"Iya!"

Ruangan mendadak terasa dingin. Degup jantungku berdetak kencang.

Lalu, Bu Mela kembali duduk.

"Banyak pelatih ingin kerja di sini. Tapi tidak semudah itu saya menerima mereka. Jadi kamu jangan sia-siakan kesempatan kerja di sini."

Aku mengangguk cepat.

"Baik, Bu. Saya akan bekerja serius."

"Bagus." Ia mengetuk meja pelan. "Dewi agak sulit diatur. Mood-nya berubah-ubah. Jadi jaga sikap dan jangan membuatnya tidak nyaman."

Aku kembali mengiyakan meski dalam hati mulai gugup.

Baru hari pertama sudah dapat peringatan seperti itu.

"Sekarang kamu bisa ke ruang pelatih. Sesi pertamamu mulai tiga puluh menit lagi."

"Baik, Bu Mela. Terima kasih," ucapku.

Aku berdiri lalu membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan itu.

Begitu pintu tertutup, aku langsung mengembuskan napas panjang.

"Gila ... Salah bisa langsung dipecat," gumamku pelan.

Tanganku bahkan sedikit dingin.

Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruang pelatih. Dari kaca-kaca besar di sisi ruangan, terlihat beberapa perempuan sedang olahraga dengan pakaian gym mahal dan tubuh terawat.

Aku jadi makin sadar kalau dunia ini benar-benar berbeda dari kehidupanku sebelumnya.

Saat membuka pintu ruang pelatih, suara tawa kecil langsung terdengar.

Beberapa pria sedang duduk santai sambil bermain ponsel. Namun mataku langsung tertuju pada satu pria bertubuh besar dengan kaos fit hitam yang memperlihatkan otot lengannya.

Dia menatapku dari atas sampai bawah.

"Wih ... Anak baru lo?" tanyanya.

Aku mengangguk sopan.

"Iya. Saya Bima." Aku mencoba untuk menyalaminya.

Namun, Pria itu tidak mau menjabat tanganku, ia hanya tersenyum miring.

"Gue Arya," ucapnya angkuh. "Gue pelatih favorit di sini!"

Aku pernah dengar nama itu dari Reno. Pelatih senior dengan klien paling banyak di gym ini.

Arya berdiri lalu mendekat.

"Lo ini lumayan juga." Tatapannya mengamatiku seperti sedang menilai barang. "Pantas aja diterima cepat."

Aku hanya diam.

"Tapi jangan senang dulu." Ia tertawa kecil. "Di sini bukan cuma modal muka sama badan."

Beberapa pelatih lain ikut tersenyum tipis.

Aku masih menahan diri.

Arya melanjutkan, "Klien-klien di sini cerewet. Salah sedikit langsung habis karier lu!"

Aku tahu dia sedang menyindirku.

"Makasih masukannya," jawabku singkat.

Arya malah terkekeh.

"Wah, anak baru lumayan tenang juga." Ia menepuk pundakku agak keras. "Yang penting tahu tempat aja. Jangan sok paling hebat!"

Aku mengepalkan tangan pelan di samping tubuhku.

Jujur saja, hatiku panas mendengar nada meremehkannya. Tapi aku tidak bisa cari masalah di hari pertama kerja. Jadi aku hanya menarik napas lalu membuka loker kosong di sudut ruangan.

Di belakangku, suara Arya masih terdengar.

"Semoga betah kerja di sini, Bim." Nada bicaranya terdengar seperti tantangan.

**

Aku berdiri di depan cermin ruang pelatih sambil merapikan kaos hitam ketat berlogo gym Permata. Entah kenapa, seragam sederhana ini terasa berbeda saat kupakai. Mungkin karena ini pertama kalinya setelah berbulan-bulan aku benar-benar merasa punya pekerjaan lagi.

Aku menatap diriku sendiri sekilas.

"Jangan sampai gagal, Bim," gumamku pelan.

Setelah memastikan semuanya rapi, aku keluar menuju area utama gym. Musik pelan mengalun dari speaker tersembunyi, sementara beberapa perempuan sedang melakukan treadmill ditemani pelatih masing-masing.

Mataku langsung menangkap sosok Arya.

Pelatih senior itu berjalan santai sambil menggandeng dua perempuan muda berpakaian olahraga mahal. Mereka tertawa manja mendengar candaan Arya, bahkan salah satu dari mereka beberapa kali menyentuh lengan pria itu dengan akrab.

Arya tampak menikmati perhatian itu.

Saat melewatiku, dia melirik sekilas lalu tersenyum tipis penuh kemenangan.

"Belum dapat klien?" tanyanya ringan.

Aku menahan ekspresi.

"Ada. Sebentar lagi datang."

"Oh."Ia terkekeh kecil. "Semoga nggak kabur pas lihat kamu gugup."

Dua perempuan di sampingnya ikut tertawa pelan.

Rahangku langsung mengeras. Tapi aku memilih diam.

Dia kemudian pergi meninggalkanku sambil merangkul salah satu kliennya.

Aku mengembuskan napas kasar.

Dalam hati, aku benar-benar kesal melihat sikapnya yang sombong. Seolah dia ingin menunjukkan kalau dia paling hebat di tempat ini.

Namun justru karena itu aku semakin ingin membuktikan sesuatu. Aku tidak mau selamanya dipandang rendah.

Meski aku sadar. Aku memang anak baru. Dan memang sempat menganggur. Tapi bukan berarti aku tidak mampu menjalankan tugas ini.

"Aku juga bisa berhasil di sini," batinku pelan.

Kemudian, aku berdiri di dekat meja resepsionis sambil mencoba terlihat tenang. Meski sebenarnya isi kepalaku kacau.

Menurut keterangan Bu Mela, klien pertamaku adalah anak orang kaya. Satu kesalahan saja bisa membuatku dipecat.

Belum lagi ucapan Arya tadi terus terngiang di kepala.

Tiba-tiba pintu masuk otomatis terbuka.

Dan saat itulah aku melihatnya. Seorang perempuan masuk dengan langkah tenang.

Aku langsung terpaku menatapnya.

Kulitnya putih bersih, rambut panjangnya terurai lembut sampai melewati bahu, dan wajahnya terlihat sangat cantik dengan aura elegan yang sulit dijelaskan.

Pakaian olahraganya sederhana, tapi jelas mahal. Legging abu-abu membentuk kaki jenjangnya, sementara crop jacket putih membuat penampilannya terlihat bersih dan mewah.

Dia terlihat seperti perempuan yang terbiasa mendapat perhatian.

Aku bahkan sampai lupa berkedip.

"Gila ... Cantik banget. Siapa dia?" batinku tanpa sadar.

*****

Lanjut membaca
Lanjut membaca