

“Pergi lo dari sini! Ini semua terjadi gara-gara lo! Ibu gue meninggal gara-gara lo! dasar pembawa sial!” Deni berteriak sambil mendorong tubuh kurus Aryan yang masih berbalut pakaian sekolahnya.
Aryan tak melawan, hanya mempertahankan diri untuk tetap berdiri. Mata merahnya terus melirik ke arah dalam rumah, di mana ada sosok yang kini telah terbujur kaku dengan kain jarik sebagai selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
“Ibu….” lirihnya. Sesak di dalam dada terasa begitu menyiksa kala dirinya harus dipaksa menerima sebuah kenyataan pahit. Sebuah kehilangan.
“Sialan!” Dani mengepalkan tinjunya erat. Giginya gemeretak, menahan kemarahan.
Bugh!
Aryan refleks memegang pipinya yang terasa berdenyut akibat tinju yang Dani layangkan padanya. Ibu jarinya mengusap pelan ujung bibirnya yang terasa perih.
“Siapa yang lo panggil ibu? Dia itu ibu gue! Anak haram kayak lo gak pantes manggil dia ibu!”
Kini, rasa sakit di pipi dan bibirnya tak lebih sakit dari hatinya. Ucapan Dani terasa bagaikan puluhan anak panah yang menghujam jantungnya sekaligus.
‘Anak haram….” batin Aryan meronta tak terima.
Padahal panggilan itu sudah melekat padanya sejak 10 tahun lalu. Tepatnya ketika Sulastri membawa dirinya yang masih berusia 8 tahun, pulang ke desa.
Aryan masih ingat betul, bagaimana sambutan yang dirinya terima ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Yana, suami Sulastri sama sekali tak percaya dengan penjelasan Sulastri dan terus menuduhnya sebagai anak haram. Hasil hubungan gelap Sulastri dan selingkuhannya ketika bekerja di kota.
“Buang anak harammu itu, Sulastri!”
Suara Yana yang menggelegar di seluruh ruangan masih jelas di ingatan Aryan, hingga membuat dirinya yang masih kecil memeluk erat tangan Sulastri. Mencari rasa aman.
“Tenang dulu, Kang Yana. Ayo kita bicara dulu di kamar.” Sulastri segera mendorong Yana pelan untuk menjauh darinya. Sementara itu, Deni dan Anto yang saat itu sudah menginjak remaja, langsung menghampirinya.
Bukan untuk merangkul dan menerimanya, kedua anak remaja itu malah memberikan luka pada tubuh Aryan. Kekerasan yang pertama kali dia dapatkan, sekaligus pembuka untuk segala kekerasan dan kesengsaraan lainnya di hidup Aryan.
Sejak saat itu, Yana, Deni dan Anto terus memukulnya dengan berbagai alasan.
Ketika Arya tak memberikan uang jajannya pada Deni dan Anto, maka dirinya akan dipukul sampai memohon ampun lalu merampas paksa uang jajannya.
Tak ayal, kedua remaja tersebut bahkan memfitnahnya hanya untuk mencari alasan agar bisa memukulnya.
Mengambil uang, mencuri buah tetangga, bahkan ketika dia mengerjakan tugas sekolah bersama temannya, maka Deni dan Anto akan memanfaatkan itu untuk memukulinya.
Aryan ingin membalas, ingin mengadu pada Sulastri. Namun, dirinya masih kecil kala itu, rasa takut mengalahkan semua keinginannya untuk melawan dan membela diri.
“Awas aja kalau lo berani ngadu sama Sulastri. Gue jual lo sama preman, buat dijadiin pengamen jalanan!”
Ancaman Yana berhasil membungkam mulutnya, hingga ketika Sulastri bertanya tentang luka-luka di tubuhnya, maka dia hanya bisa menjawab. “Aku gak hati-hati, jadi malah jatuh.”
Arya mengepalkan tangannya hingga ujung jarinya memutih. Rasanya mau membalas pukulan Deni. Namun, kemudian dia hanya bisa menutup mata, meredam emosinya.
‘Tenang, Aryan. Yang terpenting sekarang adalah ketemu sama Ibu dulu. Aku harus ketemu ibu untuk yang terakhir kalinya.’
“Aku mau ketemu ibu, A Dani. Tolong izinin aku buat masuk.”
Bugh!
“Dasar pembawa sial! Pergi dari sini! Jangan halangi kami mengurus jenazah ibu!” teriak Anto yang baru saja keluar dari rumah.
“Ssshhh….” Aryan membungkuk memegangi perutnya yang terasa panas dan mual, akibat dari tendangan Anto yang tak main-main.
Namun, Aryan tak menyerah. Dia masih menggelengkan kepala dan berkata, “aku mau ketemu ibu dulu, izinkan aku tetap tinggal sampai ibu dimakamkan. Aku mohon, A Deni, A Anto.”
“Anak haram kayak lo cuma bisa bawa sial buat keluarga kami! Mending cepetan lo minggat dari sini. Jangan sampai ibu yang udah meninggal juga kena sial gara-gara lo ada di sini!”
Yana yang sejak tadi duduk dengan beberapa pelayat, kini ikut bersuara. “Jangan bikin ribut di sini. Bentar lagi ibu kalian mau dimandikan.”
Laki-laki berumur 52 tahun itu melirik hina pada Aryan. Dia menghembuskan napas berat lalu berkata. “Sebaiknya lo pergi dari sini, jangan buat ribut. Emang lo gak kasihan sama ibu lo, heuh.”
Tangannya memberi isyarat pada Anto yang saat ini sedang memegang sebuah tas ransel yang warnanya sudah sangat pudar.
“Pergi sekarang juga, lo udah gak diterima di rumah ini lagi,” ujarnya sambil melemparkan tas ransel tersebut pada Aryan.
Para pelayat yang melihat situasi kacau tersebut juga ikut memojokan Aryan. Meski merasa iba, tapi mereka juga tak ingin terjebak lebih lama di tempat tersebut hanya untuk menunggu proses pemakaman selesai.
“Mending kamu pergi dulu saja dari sini.”
“Udah mendung nih, jenazah harus segera dimakamkan. Harap jangan membuat kekacauan.”
“Kasihan ibumu kalau terlalu lama, mending kamu ngalah dan pergi saja.”
Semua ucapan bernada lembut dari para pelayat, seperti air garam yang sengaja disiram pada luka basah. Begitu menyakitkan hingga rasanya untuk bernapas saja sangat sulit Aryan lakukan.
Tidak mendapat pembelaan dari siapa pun, akhirnya Arya tak memiliki pilihan lain selain melangkah pergi dari rumah sederhana bergaya pedesaan tersebut. Rumah tempatnya tumbuh selama 10 tahun terakhir.
“Maafin Aryan, Bu. Aryan gak bisa ketemu sama ibu untuk yang terakhir kalinya…”
Bahu remaja berusia 18 tahun itu jatuh tak bertenaga, begitu juga langkah kakinya yang terasa begitu berat.
“Bu, kenapa Bapak, A Deni sama A Anto suka panggil aku anak haram? Apa aku memang anak haram?”
Aryan ingat kenangannya setelah beberapa bulan dirinya pindah ke sini. Waktu itu Sulastri menanggapi pertanyaannya dengan senyum lembut. Dia kemudian membiarkan kepala Aryan merebah di pangkuannya.
“Dengerin ibu ya, Nak…” Sulastri menjeda ucapannya sebentar. Raut wajahnya memperlihatkan kesedihan yang mendalam.
“Kamu itu sama sekali bukan anak haram. Kamu dilahirkan dengan baik dan sah. Ibu dan ayahmu sangat menyayangimu. Mereka hanya tidak memiliki kesempatan untuk merawatmu.”
Aryan menikmati belaian lembut di puncak kepalanya. Saat hanya berdua dengan Sulastri, dia bisa menemukan ketenangan dan rasa aman.
“Dunia ini terlalu keras dan melelahkan buat aku, Bu. Aku mau ikut ibu saja….”
Tiiiitttt!
Suara nyaring klakson mobil, membuat Aryan terperanjat dari lamunannya. Dia pun sadar jika kini sudah berada di tengah jalan dan hampir saja tertabrak motor yang melintas.
“Mau mati jangan di sini! Goblok!” maki pemotor tersebut sambil kembali memacu kendaraannya.
Aryan kembali ke pinggir, menghembuskan nafas berat kemudian melanjutkan langkah. Saat ini, ia merasa bagaikan seekor anak kura-kura yang baru saja dilepaskan ke laut luas.
‘Apakah ini saatnya aku mencari orangtua kandung ku?’ Aryan membatin sendiri.