
Ayahku Pewaris Tabib Langit
Niken|Bersambung
- Jumlah kata
- 307.0K
- Popular
- 23.2K
- Subscribe
- 1.1K
- Jumlah kata
- 307.0K
- Popular
- 23.2K
- Subscribe
- 1.1K
Sinopsis
Dua tahun lalu, Lexon Vandaro rela masuk penjara demi melindungi kehormatan istrinya dari tangan Keanu Arlangga. Namun, saat ia akhirnya bebas, istrinya justru berkhianat, selingkuh dengan Keanu, dan tega menelantarkan putri kecil mereka, Beatrice. Dipenuhi amarah dan rasa tidak berdaya, Lexon tidak sengaja menumpahkan darahnya pada gelang pusaka keluarga, yang membangkitkan warisan legendaris “Tabib Langit”. Kini, dengan kemampuan pengobatan surgawi dan kekuatan bertarung yang tak tertandingi, Lexon bangkit untuk membalas dendam, merebut kembali kehormatannya, dan memberikan kehidupan terbaik bagi putri kecilnya.
Ulasan
5 ulasan
Nivrae
2/7/26 15:17
halo kak izin promosi novelku ya kak☺️☺️.maaf juga ya kak. judul : Seribu tahun bersama willow. bercerita tentang seorang pemuda yang dikutuk selama seribu tahun setelah mencuri gulungan yang salah dari kediaman para dewa.
Arim11
29/5/26 10:56
karyanya bagus kak, ijin promosi novel saya kak🙏 Judul: Sistem Pangeran! Dibuang karena dianggap tak layak, kini ia bangkit untuk menaklukkan takhta! Casanova Valerion, sang Pangeran kesembilan, harus menelan pil pahit dibuang oleh keluarganya sendiri karena World Blessing miliknya dianggap remeh. Tapi, takdir berkata lain. Dengan bantuan Sistem, perjalanannya bukan hanya tentang balas dendam, melainkan tentang melindungi rakyat yang menderita. Dapatkah seorang pangeran yang terbuang mengubah nasib kekaisaran?
Bab 1
Lexon Vandaro baru tiga langkah keluar dari gerbang penjara ketika istrinya menyodorkan surat cerai.
Bukan pelukan atau air mata haru.
"Lex, tolong tanda tangan!" Irene menyodorkan pena.
Lexon hampir tidak mengenali istrinya.
Irene Fatana yang terakhir dia lihat dari balik kaca ruang sidang dua setengah tahun lalu, mengenakan cardigan rajut murah yang kebesaran dan celana kain yang lututnya sudah menipis. Rambutnya diikat asal dengan karet gelang.
Di gendongannya ada Beatrice yang menangis, dan di wajahnya ada campuran takut, marah, dan malu.
Perempuan yang berdiri di depannya sekarang sama sekali berbeda.
Rambut dipotong sebahu dengan layer yang jelas dikerjakan di salon mahal. Blus sutra gading yang bahunya terstruktur tajam, dimasukkan ke dalam celana palazzo hitam tak kalah elegan
Sepatu hak tinggi berwarna nude yang alasnya masih bersih—sepatu orang yang tidak naik angkutan umum. Tas tangan kecil dari kulit yang harganya lebih dari gaji tiga bulan seorang dokter magang.
Perempuan sosialita. Bukan istri dokter magang yang dulu hidup pas-pasan.
Wajahnya lebih tirus, tulang pipinya lebih menonjol, entah karena operasi plastik atau karena riasan yang dikerjakan dengan profesional.
Matanya yang dulu sering sayu karena begadang mengurus Beatrice sekarang tersembunyi di balik eyeliner yang rapi.
"Kita cerai."
Suara Irene menyadarkan Lexon.
“Dua tahun, Lex. Kau tahu apa yang terjadi dengan karierku setelah kau masuk penjara? Semua yang sudah aku bangun … habis. Karena kau tidak bisa menahan tinjumu."
"Dia menyentuhmu, aku hanya berusaha melindungi—"
"Kau berlebihan dan menghancurkan segalanya, Lexon. Kau tidak seharusnya memukul Keanu di depan semua orang terhormat. Kau tidak bisa menahan diri!"
Suara Irene pecah, tapi cepat menguasai dirinya kembali. Dia menarik napas dalam. Tangannya merapikan rambut, gerakan otomatis seseorang yang sudah terbiasa menjaga penampilannya tetap sempurna.
Lexon tercengang, dan Irene melanjutkan dengan suara yang lebih terkontrol.
"Aku sudah membangun semuanya kembali dari nol, Lex. Aku tidak bisa membiarkanmu menghancurkannya lagi."
“Jadi kau lebih suka dilecehkan? Dan aku harus diam saja?”
Suara Lexon meninggi.
Irene menghela napas panjang.
“Aku tidak suka itu, tapi bukan seperti itu caranya. Kau berlebihan Lexon!”
Lexon menatapnya lama. Sulit mempercayai bahwa kata-kata itu bisa keluar dari mulut istrinya.
"Lalu Bea bagaimana?"
"Kau yang urus. Aku tidak bisa membawanya. Dia di rumah sendirian sekarang," Irene memalingkan wajah. "Keanu tidak—"
Dia tidak meneruskan, sadar sudah keceplosan.
Lexon mengikuti arah pandangan Irene dan melihat mobil Keanu.
Mercedes hitam, terparkir tiga puluh meter dari mereka. Mesin masih menyala. Di balik kaca yang sedikit terbuka, wajah Keanu Airlangga tampak samar. Tersenyum penuh kemenangan.
Keanu tidak mau ada anak orang lain di rumahnya. Keanu paham sekarang.
"Kau sudah tanda tangan?" tanya Lexon.
Irene mengangguk tanpa menatapnya.
Lexon mengambil pena itu.
"Aku tanda tangan," kata Lexon dengan suara rendah menahan amarah. "Tapi aku ingin kau tahu satu hal."
Irene menatapnya, mengambil amplop.
"Aku tidak menyesal memukul dia. Karena aku mencintaimu melebihi apapun!"
Rahang Irene mengeras. Matanya berkaca-kaca, tapi dengan cepat mengerjap.
Perempuan itu berbalik. Langkahnya cepat, hak sepatunya berbunyi tajam di trotoar.
Pintu Mercedes terbuka. Irene masuk. Pintu tertutup. Mobil meluncur tanpa suara.
Lexon berdiri di trotoar. Tatapan masih mengikuti mobil itu sampai menghilang.
Kemudian satu nama menghantam kesadarannya.
Beatrice.
Anak mereka yang delapan tahun ada di rumah. Sendirian. Lexon berlari.
***
Pintu rumah kontrakan mereka tidak terkunci. Fakta itu saja sudah cukup membuat Lexon berdebar. Anak delapan tahun, sendirian, pintu tidak dikunci.
“Keterlaluan Irene!”
Aroma tak sedap menyambutnya, seperti bau makanan basi dan pakaian kotor.
Dan di tengah ruangan, Beatrice dengan sapu yang terlalu besar untuk tangannya.
Beatrice menoleh. Mata besarnya menatap pria di ambang pintu. Tubuhnya lebih kurus dari yang Lexon ingat. Rambutnya kusut, diikat asal. Celananya terlihat kekecilan. Juga kausnya, berlubang. Seperti tidak dibelikan baju baru sejak dua tahun lalu.
“Maaf, Tuan. Anda siapa? Mama sedang tidak di rumah.”
"Bea. Ini Papa."
Kening gadis kecil itu berkerut. Mata bulatnya berkedip pelan, seperti mencoba mengenali. Sapu di tangannya perlahan terlepas, jatuh di lantai.
Bibirnya bergerak tanpa suara, mengulang kata papa seperti kata asing yang sudah lama tidak dia pakai.
"Papa ...?"
Suaranya ragu. Matanya berkaca-kaca, menatap ke foto di dinding. Lexon tampan dan terawat, lalu kembali ke wajah Lexon yang tidak terurus, janggut dan kumis tumbuh liar.
"Papa!"
Dia berlari. Lexon berlutut dan menangkapnya. Tubuh anak itu terasa ringan. Dia merasakan tulang rusuk Beatrice di balik pakaiannya yang kekecilan.
"Papa pulang! Papa pulang!"
Beatrice menangis di bahunya. Lexon juga, meskipun dia berusaha menahannya.
"Papa sudah patuh di sana?" tanya Beatrice setelah tangisnya mereda, masih sesenggukan.
Lexon tertegun. "Apa?"
"Mama bilang Papa dihukum karena Bea tidak patuh." Beatrice menarik tangannya, membawanya masuk lebih dalam. "Bea patuh, Pa. Lihat … Bea pel lantai setiap hari setelah pulang sekolah, Bea cuci piring, Bea lipat baju—"
Dia menunjuk tumpukan pakaian di atas sofa. Dilipat kaku, tidak rapi, beberapa terbalik. Hasil kerja tangan anak delapan tahun yang berusaha sekuat tenaga menjadi sempurna.
"Bea juga rapikan sepatu Mama, tapi Mama sudah jarang pulang." Dia menunduk sebentar, lalu mendongak lagi dengan mata yang berusaha keras untuk tidak terlihat sedih. "Bea patuh kan, Pa? Kalau Bea patuh, Papa tidak pergi lagi?"
Lexon memegang kedua bahu putrinya. Memaksakan senyum meski amarah sudah sulit ditahan.
"Papa tidak akan pergi lagi, Bea."
"Janji?"
"Janji."
Beatrice tersenyum lebar, lalu berlari ke dapur dan kembali dengan bungkusan mie instan yang dia pegang seperti piala.
"Kita makan ini ya, Pa! Perayaan! Bea biasa makan ini kalau Mama tidak pulang."
Tidak pulang?
Biasa makan mie?
Darah Lexon mendidih.
Dia mengambil mie instan. Memeriksa tanggal kedaluwarsa yang sudah lewat satu bulan. Rahangnya mengeras, tapi mencoba tenang di hadapan putrinya.
Lexon meletakkan bungkusan itu di meja terdekat. "Papa masakkan yang lebih enak. Kau duduklah."
Beatrice menyalakan televisi sambil bernyanyi—satu-satunya teman di rumah itu.
Lexon ke dapur, membuka kulkas. Cahaya redup menyinari: wortel berjamur, dua butir telur yang satu sudah retak dan kering di rak, roti tawar berjamur, tahu berlendir, dan sebotol kecap tinggal seujung jari.
Lexon menutup kulkas pelan-pelan.
“Keterlaluan Irene!”
Sesuatu yang sudah dia tahan sejak tadi mulai retak. Tinjunya menghantam dinding dapur.
Keramik retak. Buku jarinya robek. Darahnya mengalir turun melewati pergelangan tangan, melewati nadi, hingga menyentuh gelang batu hitam kusam yang selama ini tidak pernah dia perhatikan.
Gelang itu dari kakeknya—seorang tabib tua di pelosok yang mengobati orang dengan ramuan dan doa.
"Jangan dilepas. Suatu hari dia akan bicara padamu."
Lexon yang kemudian kuliah kedokteran menganggapnya sebagai warisan. Dia memakainya karena menghormati almarhum, bukan karena percaya.
Tapi sekarang, batu-batu itu menyerap darahnya. Warnanya berubah dari hitam kusam menjadi pekat berkilau, dan di dalam kepala Lexon, sebuah suara tua bergema.
"Pewaris terakhir. Darahmu sudah mengaktifkan pusaka. Warisan Tabib Langit kini menjadi milikmu."
Daftar bab
266 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
266 bab








