
- Jumlah kata
- 99.1K
- Popular
- 2.5K
- Subscribe
- 233
Sinopsis
Arkanza mengira hidupnya berakhir tragis di tahun 2026 saat sebuah kecelakaan kerja merenggut nyawanya dalam kemiskinan. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun kembali di masa SMA pada tahun 2024.Kali ini, Arkan dibekali 'Sistem Belajar Dewa' yang tertanam dalam jiwanya. Dari seorang "Dewa Tidur" yang selalu diremehkan dan berada di kasta terendah sekolah, Arkan mulai membalikkan keadaan. Namun, menjadi jenius instan ternyata memiliki harga yang harus dibayar.
Ulasan
3 ulasan
Ahshalia Blaise
3/7/26 15:05
Kak, ini kalau ada realnya pastii serubbanget 😭🙏🏻 suka sama ceritanya, semangat nulis terus ya kak 🥹👏🏻 Mampir juga dicerita ku : Menukar Langit Sekolah ♥️
Pittt
24/6/26 07:04
Arkan beruntung bangettt. Bahasa penulisannya juga gak kaku banget jadi enak banget buat dibaca. g sakit mata
1. Perjalanan Waktu
"Arkanza!"
Arkan tersentak terkejut saat suara nyaring menusuk telinganya. Ia menghela napasnya berat saat bosnya mulai marah lagi.
"Bos, ini komputernya sudah rusak harus ganti yang baru," kata Arkan, raut wajahnya sangat frustasi.
"Saya nggak mau peduli, kamu harus perbaiki hari ini juga!" tekan bos, tidak mau dibantah.
"Tapi, Bos..." Arkan mengurungkan ucapannya saat bosnya pergi begitu saja tanpa mau mendengarnya.
Mata Arkan memejam sejenak, ia benar-benar tidak bisa memperbaiki komputer di depannya. Jika bukan karena ia tidak butuh uang, ia tidak akan mau bekerja dengan bosnya yang banyak mau itu.
Arkan menghela napas panjang, menatap tumpukan kabel yang berantakan dengan tatapan kosong. "Andai dulu gue nggak cuma malas-malasan dan mau belajar sedikit lebih keras. Mungkin sekarang gue sudah punya pekerjaan yang lebih layak, atau setidaknya... gue yang jadi bos di sini, bukannya malah diperbudak komputer rongsok begini," gumamnya penuh penyesalan.
Tenggorokan Arkan terasa kering, lantas ia mengambil tumbler airnya untuk minum. Tetapi karena gerakan tangannya yang ceroboh, tumbler itu terpeleset dari genggamanya dan airnya tumpah ruah menyiram komputer di depannya. Rasa panik semakin gila menyerangnya.
"Sial! Mati gue hari ini!" desis Arkan, tangannya buru-buru menyelamatkan komputer yang rusak.
Tanpa disadari Arkan, ada percikan api yang keluar akibat konsleting listrik. Saat tangannya menyentuh kabel komputer, tubuhnya tersentak mengejang dengan mata melotot ke atas.
"Aaahk!" teriak Arkan terkejut.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari ujung jarinya, membakar saraf-sarafnya dalam sekejap. Tubuh Arkan mengejang hebat, jantungnya seolah dipacu paksa oleh ribuan voltase yang liar. Ia bisa mencium bau sangit kabel yang terbakar menyatu dengan aroma kematian yang dingin.
Dalam sekejap, dunia Arkan menggelap total. Suara bising mesin kantor dan teriakan bosnya perlahan menjauh, digantikan oleh keheningan yang hampa. Dalam tarikan napas terakhirnya, ia sungguh mengasihani nasibnya yang terus sial hingga berujung kematian konyol di tangan komputer rongsok.
"Tuhan, kalau ada kesempatan kedua, gue nggak mau mati sebagai pecundang..."
Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh suara denging panjang yang menyakitkan telinga. Kegelapan pekat di matanya perlahan memudar, berganti dengan cahaya putih yang menyilaukan. Aroma sangit tadi lenyap, berganti dengan bau kapur tulis dan debu ruangan yang sangat ia kenali.
"Arkan! Bangun kamu! Mau sampai kapan kamu tidur di kelas?!"
Suara itu bukan suara bosnya. Itu suara berat dan tegas milik Pak Bambang, guru matematika yang paling ia takuti dulu.
Arkan tersentak. Kepalanya terangkat dengan mata merah yang masih setengah sadar. Ia mengerjap bingung melihat deretan bangku kayu, papan tulis hijau yang penuh coretan angka, dan wajah teman-temannya yang menatapnya sambil tertawa. Tahun 2024? Arkan terpaku melihat kalender dinding yang terpasang di samping papan tulis.
"Selamat datang di Warnet Bersama," ucap Arkan secara refleks, masih terbawa memori pekerjaan lamanya.
Sontak, seisi kelas meledak dalam tawa.
"Hahaha... Pasti dia lagi mimpi kerja, Pak!"
"Kayaknya efek tidur di warnet semalam, otaknya jadi rusak!"
Arkan terpaku. Ia menatap tangannya yang bersih tanpa bekas luka bakar. Tidak ada kabel, tidak ada air tumpah, dan tidak ada rasa sakit.
"Bukannya ini kelas gue waktu SMA? Kenapa gue bisa ada di sini?" tanya Arkan kebingungan.
Arkan menatap sekeliling dengan jantung yang berdegup kencang. Jika ini mimpi, ini adalah mimpi yang terlalu nyata.
Arkan menatap tangannya dengan mata berbinar. "Jangan-jangan gue kembali ke tahun 2024!"
"Arkan! Heh, malah melamun! Kamu dengar saya nggak?!"
Bugh!
"Aww..." desis Arkan kesakitan karena kepalanya ditempeleng oleh teman sebangkunya.
Pak Bambang menunjuk muka Arkan dengan marah. "Kalau kamu nggak bisa jawab soal di papan tulis, mending kamu berjemur di tengah lapangan!"
"Gawat! Selama ini gue kan nggak pernah belajar, sekolah pun cuma numpang tidur di sekolah," gumam Arkan, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yah, Pak. Mana mungkin Arkan bisa jawab. Kan selama ini dia cuma jadi pajangan di kelas," ejek temannya yang duduk paling depan.
"Benar banget itu, Pak. Arkan kan peringkat terakhir dari angkatan kita. Nggak mungkin bisa jawab."
Tangan Arkan mengepal kuat di sisi tubuhnya. Di kehidupan sebelumnya ia selalu diremehkan, dan sekarang di kehidupan keduanya ia juga diremehkan. Ia tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi lagi pada dirinya.
Mata Arkan melirik ke Dimas, teman sebangkunya yang melongo melihatnya. Sontak ia mengambil buku paket milik Dimas dan berjalan ke depan penuh percaya diri.
"Jangan remehkan saya, Pak," desis Arkan, berdiri di samping Pak Bambang.
Soal matematika yang tertera di papan tulis membuat mata Arkan mengerjap, ia terdiam sejenak berpikir dengan keras.
"Kenapa kamu diam saja? Kalau nggak bisa jangan mempermalukan dirimu!" ejek Pak Bambang, saat melihat Arkan hanya diam di depan papan tulis.
Nging....!
Arkan refleks mengusap telinganya saat tiba-tiba berdenging. Lalu, kejadian aneh bin ajaib muncul di depannya. Sebuah layar hologram muncul menampilkan tulisan, sontak ia membaca dalam hatinya.
Selamat datang di Sistem Belajar Dewa. Aku akan membantumu dalam mengubah alur hidupmu. Keberhasilan selalu mengorbakan kekalahan. Jika kamu setuju, kedipkan matamu dua kali. Dan jika kamu tidak setuju, maka gelengkan kepalamu dua kali.
Tawaran itu tentu saja menggiurkan bagi Arkan, tanpa pikir panjang lagi ia mengedipkan matanya dua kali.
Dalam hitungan detik, pupil matanya menangkap cahaya berisi materi soal yang ada di papan tulis, seolah-olah terserap begitu saja ke dalam otaknya.
"Jangan bilang ini disebut dengan kemampuan ingatan fotogenik?" batin Arkan menjerit kesenangan.
Dengan sombongnya Arkan mengambil spidol, tangannya mulai bergerak menjawab soal itu mulai dari rumus dan cara pengerjaan yang sangat rinci.
Semua pasang mata di kelas terkejut syok melihat Arkan sangat lihai menjawab soal di papan tulis. Selama ini Arkan yang selalu dijuluki dewa tidur dan anak nakal di sekolah, dan sekarang berubah dalam sekejap bisa menjawab soal matematika!
Prok... Prok... Prok...
Pak Bambang tepuk tangan tak percaya saat melihat hasil jawaban dari Arkan. "Wah, saya lagi nggak mimpi, kan?"
"Arkan! Kamu diam-diam hafal rumusnya, ya?" tebak Dimas, sangat bangga dengan Arkan.
"Jangan bilang matahari akan terbit dari barat!" seru seseorang yang masih tidak percaya.
Bibir Arkan perlahan tersenyum sombong, dalam hatinya berkata. "Kenapa baru sekarang ada sistem. Kalau dari dulu sudah ada, gue bakalan jadi sukses!"
"Hebat sekali, Arkan!" puji pak Bambang. "Saya nggak tahu kenapa kamu tiba-tiba aneh kayak gini. Akhirnya nggak sia-sia saya mengajarimu! Sekarang, silakan kamu duduk ke tempatmu lagi."
Lantas Arkan berjalan kembali ke tempat duduknya. Namun, saat itu tatapan matanya bertemu dengan Liora, sang anak Osis sekaligus peringkat pertama di angkatannya.
Wajah Pak Bambang sangat sumringah sekali. "Semoga ke depannya kamu bisa fokus belajar lagi, ya."
"Gue nggak mimpi, kan?" gumam Arkan saat sudah duduk kembali.
Kring...!
Suara bel istirahat pun berbunyi nyaring. Pak Bambang lantas meninggalkan kelas, tetapi Arkan masih melamun di tempat duduknya.
"Apakah semua pelajaran gue bisa kuasai?" batin Arkan terus bertanya. "Kalau begitu gue butuh catatan lengkap semua pelajaran."
Tiba-tiba Arkan meringis pelan saat mengetahui selama ini ia sekolah tidak pernah mencatat. "Selama ini gue cuma anak nakal yang suka tidur, dari mana gue bisa dapat catatan lengkap itu?"
Plak!
"Arkan!" panggil Bimo, setelah menepuk bahu Arkan.
Arkan menoleh, mengangkat alisnya dan bertanya. "Kenapa?"
"Jangan sok-sokan jadi anak rajin, deh. Ayo ke belakang, kita nyebat," ajak Bimo dengan gaya tengil.
Saat Arkan berdiri, tatapan matanya tidak sengaja tertuju pada Liora yang duduk di barisan depan. Sontak mata Arkan berbinar saat ia mengetahui siapa yang bisa membantunya.
"Pas banget, catatan si Liora yang paling lengkap. Di kehidupan sebelumnya, dia juga salah satu yang jarang meremehkan gue," gumam Arkan, bibirnya tersenyum sangat lebar.
Liora yang melihat itu, mengerutkan keningnya bingung dengan tingkah laku Arkan yang mendadak berubah aneh.
"Sorry, Bim. Gue nggak bisa gabung," tolak Arkan, menepuk pelan bahu Bimo. "Dengan waktu istirahat yang lumayan, kayaknya gue lebih milih buat hafalin rumus yang lainnya."
"Ih, males ah dengernya." Bimo menutup telinganya risih. "Gue cabut."
Beberapa teman yang belum keluar mendengar apa yang dikatakan Arkan semakin terkejut. Mereka saling bisik-bisik dengan suara yang agak keras sedikit.
"Arkan kayaknya gila, deh. Bukannya dia yang paling nggak suka belajar, ya?"
Arkan mendorong Bimo untuk menyingkir, lalu ia berjalan menghampiri Liora sambil memasang senyum terbaiknya.
"Liora," panggil Arkan. "Boleh nggak gue pinjam buku catatan lo?"
Mata Liora mengerjap. "Hah?"
Bersambung...
Daftar bab
89 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








