

Pagi itu tidak menyapa Jagad dengan lembut, ia menerobos.
Biasanya, alarm ponsel berdering pukul 05.30 adalah sinyal bagi Jagad untuk membuka mata secara perlahan, membiarkan kesadarannya naik dari dasar mimpi menuju realitas kamar sempitnya di gang Gajah. Namun pagi ini, berbeda. Saat kelopak matanya terbuka, seolah ada stopkontak lampu berdaya tinggi yang dinyalakan tepat di dalam retinanya.
Jagad tersentak duduk, tangannya refleks menutupi mata. "Aduh, silau," gumamnya serak. Tapi anehnya, sumber cahaya itu bukan matahari yang menembus celah gorden lusuh kamarnya. Cahaya itu berasal dari sesuatu yang gaib.
Dinding kamarnya berwarna abu kusam dengan bercak lembap di sudut kanan, kini bersinar dengan intensitas yang hampir menyakitkan. Setiap patahan kecil pada dinding terlihat begitu tajam, seolah-olah jagad sedang melihatnya melalui lensa kamera makro berkualitas tinggi. Debu-debu yang melayang di udara tidak lagi tampak sebagai kabut abu-abu yang samar, melainkan atom atom individu yang berputar-putar dengan pola sama , menangkap cahaya seperti butiran emas mikroskopis.
"Apa yang terjadi?" bisik Jagad, jantungnya berdegup kencang. Ia menggosok-gosok matanya kasar, berharap ini hanya sisa tidur atau efek samping game semalam. Tapi saat ia membuka mata lagi, dunia justru menjadi lebih "bersih". Lebih transparan.
Ia turun dari tempat tidur, kakinya menyentuh lantai granit yang dingin. Langkahnya goyah. Ruangan kamarnya terasa asing, bukan karena perabotannya berpindah, tapi karena segala sesuatu terlihat terlalu... jujur. Tidak ada bayangan yang menyembunyikan detail. Kain sprei yang sudah menipis terlihat hingga serat benangnya yang putus. Noda di meja belajar yang cukup beragam sekarang terlihat memiliki lapisan biru tua di dasarnya, seolah menceritakan sejarah kapan meja itu dibuat.
Jagad berjalan menuju cermin lemari pakaian yang pecah di bagian bawah. Ia menatap pantulannya. Wajah seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun menatap balik. Rambutnya yang hitam acak-acakan, dagu yang mulai ditumbuhi jerawat batu meradang, dan mata gelap yang biasanya terlihat sayu karena kurang tidur.
Tapi matanya pagi ini berbeda.
Di sekeliling iris cokelatnya, terdapat cincin tipis berwarna perak yang berdenyut halus, hampir tak terlihat kecuali jika dilihat dari jarak sangat dekat dilihat orang lain kecuali mereka menempelkan wajah ke wajahnya. Namun, yang lebih mengganggu bukanlah perubahan fisik itu, melainkan apa yang terjadi saat ia mengalihkan pandangan dari cermin ke arah jendela.
Melalui kaca jendela yang berdebu, Jagad melihat Bu Hartini, tetangga sebelah rumah yang sedang menyapu halaman.
Biasanya, Jagad hanya akan melihat seorang ibu paruh baya berkain sarung batik, menyapu daun kering dengan gerakan rutin. Pagi itu, pemandangan yang diterima otak Jagad jauh melampaui visual fisik.
Saat Bu Hartini berhenti menyapu dan menatap keranjang belanjaanyanya, tiba-tiba muncul tulisan melayang di atas kepala wanita itu. Bukan tulisan fisik yang terpampang di udara, melainkan proyeksi makna yang langsung tertanam di kesadaran Jagad. Tulisan itu berbunyi: "Daging sapi harganya naik lima ribu. Kalau buat rendang, anggaran mingguan gak cukup .Opor ayam lebih aman, tapi anak-anak bosan makan ayam terus. Ah, beli tahu saja, biar hemat."
Jagad terkesiap, mundur selangkah hingga punggungnya membentur lemari. "Apa itu?"
Ia menutup mata, berharap bayangan itu hilang. Tapi tidak. Saat Bu Hartini kembali menyapu dengan wajah sedikit cemberut, aura kebingungan berwarna abu-abu pudar terlihat mengelilingi bahu wanita itu, dan pikiran tentang "uangnya gak cukup " masih terasa menggantung di udara, sejelas suara orang berbicara di telinganya.
Dengan tangan gemetar, Jagad meraih gagang pintu kamarnya dan membukanya pelan. Ia perlu konfirmasi. Ia perlu tahu apakah ia gila.
Di ruang tengah, ibunya sedang menyiapkan sarapan. Nasi goreng sisa semalam dipanaskan . Aroma bawang goreng memenuhi ruangan. Biasanya, Jagad akan langsung duduk dan menyapa, "Pagi, Bu." Tapi pagi ini, ia terpaku di ambang pintu.
Saat sang Ibu menoleh ke arahnya, senyum lelah terukir di wajah wanita itu. Seketika, gelombang informasi menerjang Jagad. Ia tidak mendengar suara hati ibunya, tapi ia melihat jawabannya. Di atas kepala ibunya, terbentuk kalimat: "Semoga Jagad tidak bertanya soal uang jajan lagi hari ini. Uang listik belum dibayar, tagihan air menumpuk. Harus bilang baik-baik kalau kita tunggu gaji bapak cair lusa."
Jagad merasakan dadanya sesak. Itu bukan tebakan. Itu adalah kekhawatiran nyata yang selama ini disembunyikan ibunya di balik senyuman dan nasi goreng hangat. Selama ini, Jagad mengira ibunya santai-santai saja soal keuangan. Ternyata, di balik diamnya, ada badai kecemasan yang setiap hari dihadapi wanita itu.
"Akhirnya bangun? Kok melamun?" tanya ibunya, suaranya lembut.
Jagad menelan ludah. "Nggak, Bu. Cuma... pusing dikit."
"Dia bohong. Dia pasti tahu soal uang sekolah. Kasihan anakku, jadi pendiam sejak ayahnya gak kerja," tambah tulisan di atas kepala ibunya, disertai aura warna kemerahan yang menyiratkan rasa bersalah dan kasih sayang.
Jagad cepat-cepat menunduk, menghindari tatapan ibunya. "Aku mau cuci muka dulu, Bu."
Ia lari kecil menuju kamar mandi, menutup pintu, dan membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali. Air itu muncrat, dan setiap tetesnya terlihat jatuh dengan lambat di matanya, memecah menjadi kristal-kristal kecil sebelum menyentuh kulit.
"Apa ini?" bisik Jagad pada pantulan dirinya di keran air yang mengkilap. "Kenapa aku bisa melihat... isi kepala mereka?"
Ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Tidak ada yang istimewa. Ia hanya pulang sekolah, mengerjakan tugas matematika yang sulit, lalu tidur lebih awal karena lelah. Tidak ada kecelakaan, tidak ada benda aneh yang ia temukan, tidak ada mantra yang ia baca. Tiba-tiba pagi ini, dunia menjadi transparan. Dinding pemisah antara pikiran orang lain dan kesadarannya runtuh.
Jagad keluar dari kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Ada ketakutan, tentu saja. Siapa yang tidak takut jika tiba-tiba indranya berubah drastis? Tapi di balik ketakutan itu, ada rasa penasaran yang menggelitik, khas seorang remaja yang haus akan jawaban.
Ia berjalan ke teras depan, menghirup udara pagi yang seharusnya segar. Namun, udara pagi di gang Gajah pagi itu bagaikan badai informasi bagi Jagad.
Pak RT sedang berjalan kaki menyusuri gang, menyapa warga. Saat ia melambaikan tangan pada Pak Darman yang sedang memperbaiki atap genteng, Jagad melihat: "Wah, genteng Pak Darman rusak lagi. Kalau hujan deras nanti malam, rumahnya bakal bocor lagi. Harusnya aku usulkan bantuan dana desa, tapi kas uangnya lagi tipis buat acara tujuh belasan."
Seorang anak SD berlari melewati Jagad, tas sekolahnya terburai. Anak itu tertawa lepas. Di atas kepalanya tertulis. "Senang sekali! Hari ini ada ulangan IPA, tapi aku sudah hafal semua. Pasti dapat nilai seratus. Nanti pulang sekolah beli es krim!"
Semua orang. Setiap orang yang Jagad lihat, membawa serta "label" kebenaran mereka. Tidak ada yang palsu. Tidak ada topeng. Senyuman tetangga yang biasanya ramah, ternyata menyimpan dendam masa lalu. Tatapan sinis penjaga warung, ternyata menyembunyikan kekhawatiran pada anaknya yang sakit. Dunia manusia yang selama ini Jagad kira sederhana, ternyata adalah lautan masalah yang tak berujung.
Jagad duduk di bangku kayu depan rumah, memeluk lututnya. Ia merasa telanjang. Seolah-olah semua rahasia dunia mendadak terbuka lebar di hadapannya, dan ia tidak punya tempat untuk bersembunyi dari kebenaran-kebenaran itu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan dengan ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Jika ia bisa melihat masalah orang lain dengan begitu jelas, apakah itu berarti ia diharapkan untuk menyelesaikannya? Jika ia melihat Bu Hartini bingung antara rendang dan opor, apakah ia harus memberi saran? Jika ia melihat ibunya cemas soal uang, apakah ia harus langsung mengaku bahwa ia tahu?
Tapi bagaimana caranya menjelaskan tanpa terdengar seperti orang gila? "Bu, saya tahu Ibu khawatir soal uang listrik karena saya bisa membaca pikiran Ibu"? Itu terdengar seperti plot film horor murahan.
Jagad menatap tangannya sendiri. Tangan seorang pelajar biasa. Tangan yang b memegang pulpen, mengoper bola basket, dan membantu ibu mencuci piring. Tangan yang sama sekali tidak terlihat seperti tangan seorang "pahlawan super" atau "dukun".
Namun, matanya... matanya sekarang adalah jendela menuju kebenaran yang paling telanjang.
Seekor kucing liar melompat ke pagar, menatap Jagad. Bahkan pada kucing itu, Jagad merasakan sensasi serupa, meski bukan dalam bentuk kata-kata, melainkan gambaran emosi murni Lapar. Takut pada anjing sebelah. Ingin tidur di atap yang hangat.
Jagad menghela napas panjang. Napasnya membentuk awan tipis di udara pagi yang dingin, dan bahkan napasnya pun terlihat berputar dengan pola yang indah di matanya.
"Mungkin," gumam Jagad pelan, mencoba menenangkan diri, "mungkin ini cuma sementara. Mungkin otakku kelelahan dan sedang bermimpi aneh. Nanti siang, saat matahari makin tinggi, ini akan hilang."
Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, Jagad tahu itu tidak benar. Ada getaran berbeda di dalam dirinya. Sebuah kesadaran baru yang menyala terang, menolak untuk dipadamkan. Dunia tidak lagi sama baginya. Ia tidak lagi sekadar penonton dalam kehidupan orang-orang .Ia kini adalah pembaca naskah asli dari drama kehidupan mereka.
Dan naskah itu, ternyata jauh lebih rumit, lebih menyakitkan, dan lebih indah daripada yang pernah ia bayangkan.
Jagad berdiri, merapikan seragam sekolahnya yang sedikit kusut. Ia harus pergi ke sekolah. Ia harus menghadapi Galuh dan Ratna, dua sahabatnya yang pasti akan bertanya kenapa ia datang terlambat atau kenapa wajahnya pucat.
Bagaimana reaksi mereka nanti? Apakah Jagad akan melihat kebohongan kecil di mata Galuh saat ia bilang "Aku nggak bawa PR"? Apakah ia akan melihat rahasia besar di balik senyuman Ratna yang selama ini ia kira sempurna?
Jagad melangkah keluar dari pagar rumah, memasuki gang Gajah yang ramai. Setiap langkahnya terasa berat, bukan karena fisiknya lemah, tapi karena beban kebenaran yang kini harus ia pikul.
"Halo, Jag!" sapa Pak Darman dari atas tangga, melambai.
Jagad menoleh, dan seketika itu juga, kalimat "Gentingnya butuh tiga lembar lagi, semoga cukup sampai sore" muncul di pandangannya.
Jagad tersenyum tipis, senyum yang terpaksa namun penuh pemahaman baru. "Pagi, Pak Darman! Hati-hati ya, Pak!"
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jagad tidak sekadar menyapa. Ia benar-benar melihat. Dan ia sadar, perjalanan panjangnya baru saja dimulai. Kelebihan ini bukan sekadar keajaiban. ini adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam hati manusia, sebuah wilayah yang penuh ranjau emosi dan harta karun kejujuran.
Dan Jagad, dengan mata barunya yang melihat kebenaran, siap atau setidaknya mencoba untuk siap menghadapi semuanya. Satu bab, satu kebenaran, pada satu waktu.