Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Algojo Sang Gusti Ayu

Algojo Sang Gusti Ayu

Meychiyy | Bersambung
Jumlah kata
52.2K
Popular
429
Subscribe
63
Novel / Algojo Sang Gusti Ayu
Algojo Sang Gusti Ayu

Algojo Sang Gusti Ayu

Meychiyy| Bersambung
Jumlah Kata
52.2K
Popular
429
Subscribe
63
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurSpiritualDunia GaibBalas Dendam
Mahesa Yan bagaikan monster yang diburu oleh dunia. Hanya dengan kepalan tangan dia mampu meremukkan gunung. Dia hidup hanya untuk dendam yang membara. Namun, saat maut mengepung, Gusti Ayu Linggar—putri berdarah biru murni tercantik di Nusantara—muncul membawa kontrak pernikahan. "Aku tak butuh cintamu, aku hanya butuh tinjumu," bisiknya. Terjebak dalam pernikahan palsu di jantung istana, sang menantu bayangan mulai bergerak untuk membalaskan dendam. Siapa sangka, di balik kebaya sutranya, sang putri jauh lebih licik dari iblis maupun siluman mana pun!
Aji Tapak Guntur

Hujan gerimis tipis turun membasahi Lembah Wingit, namun aroma yang menguar di udara bukanlah bau tanah yang basah, melainkan bau karat dan darah yang anyir. Di dasar lembah yang dijepit tebing kapur putih, mayat-mayat berseragam zirah perak dengan lambang Dharmapala–khas pemburu lelembut dan siluman berserakan bagai rongsokan yang dibuang sembarangan.

Di tengah genangan merah itu, seorang pria berdiri tegak.

Dia adalah Mahesa Yan.

Dia tidak mengenakan zirah, hanya kain hitam kasar yang robek di bagian bahu, memperlihatkan otot lengannya yang padat dan bersurat, bergetar halus setiap kali dia menarik napas. Wajahnya terlihat datar, seolah kematian massal di sekelilingnya hanyalah gangguan kecil dalam perjalanan sorenya.

"Menyerahlah, Siluman!" teriakan parau memecah kesunyian.

Seorang kapten Dharmapala, satu-satunya yang masih bisa berdiri meski kaki kirinya terseret, mengacungkan pedang perak dengan tangan gemetar. "Kau telah membawa kutukan darah! Kau tak lebih baik dari siluman yang kami buru!"

Mahesa Yan menoleh dengan lambat. Sorot matanya tidak memancarkan kemarahan, namun hanya tatapan kosong yang terlihat dingin. "Kalian menyebutku siluman karena aku melakukan apa yang tidak berani kalian akui. Kalian berburu siluman demi upeti, aku membunuh mereka karena mereka adalah kotoran."

"Bajingan!" Kapten itu menerjang. Pedang peraknya membelah udara, memancarkan cahaya kuning dari jimat yang tertempel di pangkal bilah—sebuah mantra yang seharusnya mampu membakar kulit makhluk halus.

Yan tidak menghindar. Saat mata pedang itu hanya seujung kuku dari lehernya, dia menggerakkan tangan kanan. Bukan gerakan cepat yang sulit dilihat, melainkan gerakan akurat yang sangat tenang. Jari-jarinya menjepit bilah pedang itu dengan dua jari saja.

Krak!

Pedang perak tempaan empu terbaik itu hancur berkeping-keping seolah hanya terbuat dari gerabah murahan.

"Logika kekuatan itu sederhana," bisik Yan, suaranya berat di tengah rintik hujan. "Jika senjatamu bisa dihancurkan, maka keyakinanmu juga bisa dilumatkan."

Sebelum kapten itu sempat berkedip, kepalan tangan Yan sudah bersarang di ulu hatinya. Tidak ada ledakan energi atau prana yang menyilaukan, hanya getaran udara yang hebat. Itu adalah teknik Aji Tapak Guntur–pukulan tangan kosong. Suara tulang rusuk yang remuk terdengar bagaikan bambu kering yang diinjak. Tubuh pria berbaju zirah itu terpental sejauh sepuluh meter, menghantam dinding tebing hingga retak, lalu merosot jatuh tak bernyawa.

Yan menghela napas. Di dalam dadanya, dia merasakan desiran panas—sisa-sisa prana gelap yang menuntut lebih banyak kehancuran. Dia memejamkan mata, memaksakan emosinya masuk ke dalam pikirannya. Dia tidak boleh gelap mata. Dendamnya pada para siluman dan pejabat korup yang membantai keluarganya belum tuntas, dan membantai prajurit kelas teri ini hanya akan membuang waktu.

Tiba-tiba, telinganya mendengar suara. Bukan suara langkah kaki prajurit yang berat, melainkan suara gesekan kain sutra yang halus dan aroma wangi bunga kamboja yang mendadak menutupi bau amis darah.

"Wah, wah ... pemandangan yang sangat berantakan, Den Mas Pendekar."

Yan tidak berbalik. Dia tahu ada seseorang di belakangnya, berdiri di atas dahan pohon beringin yang tumbang. "Pergi sebelum kepalamu menjadi bagian dari tumpukan ini," ucapnya ketus.

Sebuah tawa renyah, hampir seperti denting kecapi, menyahut. "Aduh, galak sekali! Padahal aku sudah bersusah payah membawa payung agar kau tidak masuk angin setelah pesta jagal ini."

Seorang wanita melompat turun dengan anggun. Dia mengenakan kebaya biru muda dengan sulaman benang emas yang rumit, dipadu jarik batik motif parang yang tegas. Wajahnya cantik dengan mata yang selalu tampak tersenyum, namun ada binar kelicikan di balik bulu matanya yang lentik. Dia memegang payung kertas bermotif kembang mawar dan berjalan mendekat dengan langkah kecil yang genit, seolah dia sedang berjalan di lantai marmer kedaton, bukan di ladang pembantaian.

"Siapa kau?" Yan akhirnya berbalik, matanya menyipit menatap sosok wanita yang tampak sangat salah tempat itu.

"Hanya seorang putri malang yang sedang mencari solusi untuk masalah hidupnya," Wanita itu berhenti tiga langkah di depan Yan. Dia sedikit berjinjit untuk mengarahkan payungnya agar bisa menaungi kepala Yan. "Dan sepertinya, solusinya ada pada pria yang baru saja menghancurkan satu batalyon Dharmapala dengan tangan kosong."

Yan menepis payung itu dengan kasar hingga terjatuh ke kubangan darah. "Aku tidak punya waktu untuk permainan bangsawan."

"Oh, ini bukan permainan, Sayang," Wanita itu tidak tersinggung. Dia justru tersenyum lebih lebar, mengambil payungnya kembali dengan santai. "Namaku Linggar–Gusti Ayu Linggar, dari Klan Maheswara. Kau mungkin pernah dengar? Klan pawang siluman yang dulunya agung, sekarang tinggal nama karena lilitan hutang dan intrik politik. Dan kau ... kau adalah Mahesa Yan. Buronan yang kepalanya dihargai ribuan keping emas oleh kemaharajaan."

Yan merasakan otot-ototnya menegang. "Kau datang untuk kepalaku?" Dia berterus-terang bahkan enggan memberi hormat dan memelankan nada bicaranya meski sudah tahu kalau wanita di depannya itu adalah seorang Gusti Ayu.

"Kepalamu terlalu berharga jika hanya dijadikan pajangan di gerbang kota," Linggar mengibaskan kipas cendananya dengan manja. "Aku datang untuk menawarkannya sebuah mahkota. Atau setidaknya, sebuah cara agar kau bisa berhenti lari dan mulai menghancurkan orang-orang yang benar-benar ingin kau hancurkan di dalam Istana Astasura."

"Bicara langsung pada intinya, atau pergi," Yan melangkah maju, aura membunuhnya menekan udara hingga Linggar sedikit kesulitan bernapas.

Namun, Linggar tidak mundur. Dia justru mengambil satu langkah lebih dekat, hingga aroma kamboja dan melati dari rambutnya memenuhi indra penciuman Yan. Dia menatap langsung ke mata dingin pria itu. "Klan Maheswara butuh pelindung resmi. Seorang suami untukku, agar para lintah darat di ibu kota berhenti mengincarku. Kau butuh identitas baru untuk masuk ke pusat pemerintahan tanpa harus bertarung dengan setiap penjaga gerbang."

"Suami?" Yan mendengus sinis.

Yan berpikir, mengapa seorang Gusti Ayu harus repot-repot seperti ini demi mempertahankan klan yang sudah lama bangkrut? Mungkin Linggar hanya berdalih agar bisa menangkapnya dengan mudah.

Detik berikutnya, dengan gerakan secepat kilat, Yan mengambil keris dari pinggang salah satu prajurit tewas, menodongkannya tepat ke leher Linggar.

“Kau yang berikutnya mati!”

Linggar tampak terkejut sesaat, namun dia teramat pintar menutupi rasa takutnya. Dia justru menyunggingkan senyum licik, mendekat hingga ujung keris itu sedikit menembus kulit leher putihnya—membuat tetesan darah merah segar jatuh ke kerah kebayanya yang mahal.

“Den Mas Pendekar sungguh mulia … bukankah kau takut menggunakan tangan kosongmu itu untuk melukai wanita?” Linggar berbisik menggoda.

Yan mengernyit. Wanita ini benar-benar tidak waras.

“Kau bahkan tidak perlu senjata untuk membunuh seluruh batalyon ini. Lalu, kau malah memungut keris karatan hanya untuk menyentuhku?” Linggar tersenyum sinis, jemari lentiknya menyentuh dada Yan yang bidang. "Itu artinya kau tertarik padaku, atau kau hanya sedang gugup?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca