

Malam itu Joko tengah menunggui putrinya di rumah sakit. Dia hanya bisa duduk termenung sembari menatap putrinya yang terbaring di ranjang dengan selang infus di tangan. Sesekali dia menghela nafas. Pikirannya kalut, tak tentu arah.
'bagaimana aku bisa mendapatkan uang seratus juta malam ini?' batin Joko.
Saat dia melamun, datanglah seorang dokter, dia tersenyum ramah kepada Joko. "Pak, sebelum malam ini berakhir, anda harus menyiapkan uang, supaya Putri and abisa segera di operasi." Dokter itu kembali mengingatkan Joko.
"Baik, dok. Akan saya usahakan. Tetapi sebelum itu, boleh saya minta tolong?" tanya Joko dengan penuh harap.
"Ada apa, Pak?" tanya dokter itu.
"Dok, bisa titip anak saya sebentar. Saya akan pulang, siapa tah saya bisa mengumpulkan tabungan, walau nggak banyak," kata Joko dengan suara penuh harap.
"Baik, Pak. Silahkan." Dokter itu mengangguk sambil tersenyum lembut.
Mendengar itu, Joko langsung berlari keluar bangsal. Dia pun menyusuri lorong rumah sakit dan langsung melajukan motor bututnya menuju ke rumah. Rumah kontrakan tua yang seadanya menjadi tempat peristirahatan Joko dan keluarga. Dalam hati, Joko terus berdoa. Agar dia bisa membujuk Desi, istrinya untuk menjual sebagian perhiasannya.
Saat sampai di rumah, betapa terkejutnya Joko. Dia melihat sepasang sepatu pria tergeletak di depan pintu. Joko terdiam sesaat, dia pun mencoba mengingat sesuatu.
'sepertinya, aku tak punya sepatu semahal ini,' batin Joko.
Dia pun membuka pintu perlahan, berjalan mengendap menuju kamar. Saat sampai di depan kamar, sesuatu yang tak pernah ada di bayangan Joko seketika terpampang jelas, dan seolah menampar wajahnya dengnaangat keras.
Joko melihat Desi tengah bercina dengan seorang pria yang sama sekali tak Joko kenal. Joko terdiam sesaat, maski hatinya perih. Namun, Joko teringat dengan niat awalnya. Dia ingin mengambil perhiasan dan beberapa barang berharga yang masih ada di dalam kamar.
"Bismilah, aku nggak peduli dengan dua iblis itu!" Joko bergumam lirih.
Langsung saja Joko membuka pintu dengan kasar, sehingga membuat keduanya terkejut. Desi tak sempat menutupi tubuh polosnya. Sedangkan Marsel sama saja, dia masih telanjang bulat.
"Mas, kamu pulang?" tanya Desi dengan suara gemetar.
Joko tak menyahut. Dia langsung membuka lemari dan mengeluarkan kotak perhiasan dari dalam laci. Dia langsung memasukkan kotak ke dalam tas punggung yang ia bawa. Desi sangat terkejut saat melihat Joko mengambil kotak perhiasannya. Dia langsung beranjak dari pembaringan, dan tak peduli dengan tubuh telanjangnya.
"Mas, mau di apakan?" tanya Desi.
Joko tetap tak menjawab. Saat Desi menghentikan tangan Joko, dia langsung menepisnya dan pergi meninggalkan Desi yang terus berteriak memanggilnya.
"Dasar perampok! Perhiasanku di ambil semua!" Desi mengumpat.
Joko menghentikan langkah saat mendengar umpatan Desi. Setelah Joko menyimpan perhiasan dengan aman di balik jaket, dia pun langsung berbalik dan berdiri di ambang pintu.
"Siapa yang rampok? Perhiasan ini dibeli dari uangku! Sedangkan kamu? Malah asik melayani pria lain!" Joko akhirnya buka suara.
"Siapa suruh kamu miskin!" Desi tak mau kalah.
Marsel beranjak dari pembaringan ya, dia menggunakan celana pendek dan langsung memeluk desj dari belakang untuk membuat Joko cemburu. Sesekali dia mencium Desi.
"Istri kamu ini, sanggat menggoda sekali," kata Marsel.
Joko hanya tersenyum. "Ambil lah, barang bekas itu buat apa aku pelihara." Joko menanggapi dengan sinis.
"Kamu memang pantas mati bersama anak penyakitanmu itu," kata Desi.
"Kamu itu bukan manusia! Kamu iblis. Mana ada seorang ibu yang tega berkata demikian pada anaknya!" Joko langsung tersulut emosi."
"Sudahlah, sayang. Jangan perdulikan dia. Tok saat kamu menikah denganku, kau akan mendapatkan semua kemewahan yang di miliki keluargaku. Di kota ini tak ada yang berani mengusik ku," kata Marsel dengan sombong.
Desi langsung bergelayut manja di lengan Marsel tanpa malu. Bahkan tubuh bulatnya pun masih belum tertutupi. Namun Joko sama sekali sudah tak tertarik dengannya.
"Sayang, nanti perhiasanku yang di rampok, bagaimana?" tanya Desi.
"Besok kita beli lagi. Lebih banyak dan lebih mahal. Itu hanya perhiasan murah dan rongsokan." Marsel terus merendahkan Joko.
Joko tersenyum," dia sendiri suka barang bekas dan rongsokan," gumam Joko.
Setelah berkata demikian, Joko memilih untuk meninggalkan rumah. Dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Namun, tak di sangka dari arah yang berlawanan muncul sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Pengemudi sedang terbawa emosi dan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
Kecelakaan pun tak bisa di hindari, mobil menabrak Joko, dan Joko pun terpental. Dia terguling sampai akhirnya mata Joko mengenai sesuatu dan terasa sangat panas.
"Aduh mataku, tolong mataku sakit." Joko berteriak kesakitan.
Kartika, gadis yang mengemudikan mobil tampak terdiam setelah benturan keras itu. Kini amarahnya sudah berganti dengan rasa panik.
"Ya Tuhan, aku nabrak orang. Bagaimana ini?" tanya Kartika bingung.
Kartika menoleh ke arah Joko, awalnya dia ingin pergi dan meninggalkannya. Namun, dia merasa iba saat melihat Joko merasa kesakitan. Akhirnya Kartika berlari ke arah Joko. Dia pun mencoba memeriksa keadaan Joko.
"Mas, maaf, saya salah. Ayo kita ke dokter saja," kata Kartika dengan suara gemetar.
Joko sudah mulai tenang, matanya masih terasa perih. Namun, tak sesakit tadi. Hanya saja, rasa hangat masih ada di sekitar matanya.
"Apa aku akan buta? Kenapa mataku sakit sekali?" tanya Joko.
"Kalah begitu, aku bantu ke rumah sakit," ucap Kartika.
Joko mencoba mengerjakan matanya perlahan. Dia mencoba membuka mata sambil tersenyum dia berkata,"Tunggu, sepertinya aku nggak apa-apa."
Saat Joko bisa membuka penuh matanya, dia sangat terkejut. Dia bisa melihat garis emas di depannya. Bukan hanya itu, Joko melihat deretan angka yang tak ia tau maksutnya apa. Seperti, di kening Kartika terdapat angka 27/27 dengan garus warna hijau.
"Angka itu maksutnya apa?" tanya Joko.
"Ayo aku antar ke rumah sakit," kata Kartika.
"Nggak Mbak. Saya nggak apa-apa." Joko berkata dengan gugup.
Dia masih bingung dengan perubahan pada penglihatannya. Joko langsung bergegas pergi dengan motor bututnya. Walau kepala masih terasa kliengan, dia harus menyingkir dulu. Kartika hanya menggelengkan kepala, dia pun akhirnya pergi. Tak jauh dari tempat semula, Joko menepikan motornya.
"Kenapa ada benang emas? Apa ini sebenarnya?" tanya Joko.
Rasa penasaran yang cukup tinggi, akhirnya dia mengikuti petunjuk benang emas itu. Mengarah ke sebuah pohon singkong yang ada di kabun.
"Apa aku cabut singkongnya ya?" tanya Joko.
Dengan kekuatan penuh, Joko mencabut pohon singkong, setelah tercabut, dia semakin menganggap saat menemukan sumber benang emas yang selalu menganggu pandangannya.
"Ini semua nyata?" tanya Joko dengan suara gemetar.