Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
MENCARI KEBENARAN

MENCARI KEBENARAN

Relax_aja | Bersambung
Jumlah kata
106.9K
Popular
100
Subscribe
31
Novel / MENCARI KEBENARAN
MENCARI KEBENARAN

MENCARI KEBENARAN

Relax_aja| Bersambung
Jumlah Kata
106.9K
Popular
100
Subscribe
31
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalDunia GaibPertualanganBalas Dendam
*Salman dan Bima, dua bersaudara laki-laki yang terikat oleh rahasia kelam, kembali dihadapkan pada kehilangan terbesar mereka. Salman, kini menjadi kepala keluarga yang tegar namun kocak. Bima, remaja pemberontak dengan kepekaan aneh terhadap hal-hal yang tak kasat mata. Sepuluh tahun lalu, saat mereka masih remaja, ayah mereka, menghilang secara misterius tanpa meninggalkan jejak. tidak ada mayat, tidak ada kabar, hanya bau kemenyan yang menyengat dan pintu rumah yang terbuka lebar di malam hujan deras. Kini, sejarah berulang dengan cara yang lebih kejam. Ibu mereka, mary, meninggal saat mereka kecil. Keyakinan bahwa kematian ibu mereka berhubungan dengan hilangnya ayah sepuluh tahun lalu mendorong keduanya melakukan pencarian. Dengan bekal catatan kuno ayah, sebuah kalung pusaka yang bergetar di dekat tempat angker, dan kemampuan Bima yang semakin kuat melihat Perjalanan Salman dan Bima membawa mereka bukan hanya ke dunia nyata—melibatkan hutang darah, persaingan bisnis gelap, dan pengkhianatan kerabat dekat—tetapi juga ke alam gaib. Mereka harus memasuki wilayah-wilayah terlarang: hutan keramat makam-makam tua yang berbisik, hingga dimensi bayangan di mana roh ayah mereka tertahan. Di sana, mereka bertemu makhluk-makhluk gaib yang haus perjanjian, menghadapi ilmu hitam yang pernah dipraktikkan ayah mereka, dan menemukan kenyataan pahit bahwa ayah mereka mungkin bukan korban, melainkan bagian dari sebuah pengorbanan besar. Di antara ketegangan persaudaraan yang hampir retak—Salman yang ingin melindungi Bima dengan cara apa pun, dan Bima yang semakin tertarik ke dunia gaib—mereka harus mencari kebenaran: Mengapa ayah menghilang? Siapa yang membunuh ibu? Dan apa harga yang harus mereka bayar untuk membawa pulang jiwa ayah dari alam gaib?.
BAB 1

Saat malam itu Salman sedang mengerjakan tugas sekolahnya dikamar, saat dia sedang asik mengerjakan tugas sekolah, tiba-tiba terdengar teriakan ibunya Mary. dari kamar adiknya bima, Salman langsung berlari keluar dari kamarnya, dan menuju kamar bima, disana sudah ada Anton ayahnya yang sedang menggendong bima yang masih berumur 5 tahun.

Ayahnya menoleh ke Salman sambil memberi bima kepada nya. "Salman bawalah pergi bima bersamamu yang jauh!!!"

Salman disana sedikit terkejut, dan juga ketakutan melihat ibunya terbakar di dinding, anehnya hanya ibunya saja yang terbakar disana. Salman pun lari pergi membawa bima dari rumah.

Anton disana menagis melihat istrinya terbakar, dan tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa jejak apapun. "Tidak mungkin!.... Tidak mungkin ini terjadi kembali!"

Sebulan kemudian mereka tinggal di rumah tua peninggalan kakek mereka, rumah itu sudah tua, dan juga rumah itu besar, dan memiliki halaman yang luas, mereka tinggal di rumah itu karena Anton tidak mau Salman, dan juga bima mengigat ibu mereka terus tentang kejadian itu, dan juga dia tidak ingin mengigat istrinya lagi.

Salman melihat sekeliling furnitur rumah itu sambil menuntun bima. "Ayah rumah ini menyeramkan sekali, banyak sekali patung-patung"

Anton merapihkan barang-barang yang dia bawa dari rumah sebelum nya. "Sudah salman, bantu ayah saja jangan banyak berbicara"

Salman langsung mengangguk, dan dia membantu ayahnya, bima duduk di sofa masih melihat sekeliling ruangan.

Ayahnya memang hanya menyayangi bima, ayahnya selalu pilih kasih terhadap nya tentang apapun itu, ayahnya selalu mengajarkan salaman untuk melakukan yang keras-keras seperti membetulkan genteng, atau memotong kayu, dan rumput. Dan juga Anton sering memukuli Salman karena Salman melakukan sesuatu yang membuat nya marah, padahal salaman baru berumur 10 tahun.

Malam hari tiba mereka sudah selesai membersihkan rumah itu, dan mereka sedang ingin makan malam bima memakan ayam goreng, dan Anton juga makan ayah goreng, saat Salman makan dia melihat piring nya hanya ada tepe. "Ayah kenapa aku hanya mendapatkan tempe?"

Anton ayahnya menatap Salman dengan melotot. "Sudah kau makan saja, masih mending kau dapat makan"

Salman menatap ayahnya dengan takut.

"Tapi Aya...." Perkataan Salman terpotong, karena Anton menonjok meja makan hingga piring dan sendok di meja berbunyi.

BUNG......!

Anton menunjuk muka Salman dengan jari telunjuknya sambil melotot. "TIDAK ADA TAPI TAPI!, MASIH UNTUK KAU MAKAN!, MAKAN SAJA APA SUSAH NYA!"

Salman menangis airmata nya keluar, dan dia mengelap dengan lengan baju nya, bima melihat Abang nya menagis dia merasa kasihan terhadap nya dia pun mengasih sepotong ayam nya ke piring Salman, tapi ayahnya langsung mengambilnya kembali.

"BIMA!, jangan beri dia ayam, biarkan saja dia makan tempe saja"

Bima menatap ayahnya dengan memohon.

"Tapi ayah, Abang salman kasihan dia hanya makan tempe...."

Anton menggelengkan kepalanya, dan menarik piring bima menjauh dari Salman.

"Sudah biarkan saja dia, makan saja makanan mu sendiri bima"

Saat ayah mereka tertidur dikamar nya, bima pergi ke kamar Abang nya Salman. Bima membuka pintu kamar Salman.

"Abang...."

Salman sedang mengerjakan tugas sekolahnya, dimeja belajar nya.

"Hm.. ada apa bima?" Bima masuk kedalam kamar salman, dan duduk di kasur salaman.

"Abang sedang apa?"

Salman menoleh kearah bima yang ada di atas kasur nya.

"Abang sedang makan" Bima mengerutkan keningnya, sambil menggaruk kepalanya.

"Hm.. aku lihat Abang sedang nulis"

Salman tersenyum tipis kepada bima.

"Nah itu kau tau bima, jadi jangan bertanya yang kau sudah tau oke?" Salman menepuk kepala bima, dan mengacak-acak rambut bima.

Bima mendorong tangan Salman, karena dia tidak suka diperlakukan seperti itu oleh Salman. "Hentikan Abang!.. aku tidak suka!"

Salaman menarik tangan nya dari kepala bima. "Lagian kenapa kau belum tidur?, ini sudah jam 10 loh bima, nanti ayah bangun kau kena marah kau tau?"

Bima mengangguk, mengambil ayam di saku celana yang sudah dia bungkus dengan tisu. "Ini untuk Abang, tadi Abang tidak kebagian bukan?, jadi aku diam-diam tadi mengambil dari dapur lumayan ayah sudah tidur"

Salman tersenyum, dan mengambil ayam itu dari bima. "Bima kau tidak perlu melakukan itu, nanti kalau ayah tau kau akan kena marah"

Bima menggelengkan kepalanya. "Sudahlah Abang ayah sedang tidur, yang penting Abang dapat ayam, aku tidak mau melihat Abang sedih"

Beberapa tahun kemudian Salman sudah berumur 20 tahun, dan bima sudah umur 15 tahun. Ayah mereka sudah menghilang tiba-tiba entah kemana sejak umur Salman 17 tahun, ayah mereka menghilang secara tiba-tiba, dan sikap ayah mereka pun sudah berbeda.

Sering pulang malam, dan juga sering mabuk-mabukan, dan berjudi saat ayah Mereka satu hari sebelum menghilang, ayah mereka berbicara kalau dia ingin memburu hal-hal yang berbau supranatural untuk membalaskan dendam ibu mereka.

Semenjak ayah mereka menghilang mereka jadi putus sekolah, Salman harus menjaga bima adiknya, dan mengurus nya sendiri. Salman berkerja sebagai pelayan di restoran, dan bima berkerja sebagai jualan makanan keliling.

Salman baru pulang kerja, dan bima sedang di sofa menghitung uang yang dia dapat.

"Bim, berapa yang terjual hari ini?"

"Hanya lima bang, ini juga gua harus ke komplek 12, baru ada yang beli, pada bosan katanya bang" bima memberikan uang hasil jualan nya ke Salman.

"Udah pegang aja sama lu Bim, buat makan kalau nanti Abang kerja kan l dirumah sendiri, jadi itu pegang aja"

Salman masuk kedalam kamar nya untuk berganti pakaian nya.

Bima pergi kedapur untuk minum, saat dia sedang minum ada suara benturan di pintu ruangan bawah tanah.

BUNG.....!

BUNG.....!

BUNG.....!

"Bang Salman jangan nakut-nakutin doang!, sialan!"

Tidak ada jawaban benturan itu hanya menjadi lebih kerasa.

"Bang Salman?!.... Jangan nakut-nakutin gua terus!.."

Salman keluar dari kamarnya memakai kaos, dan celana training, dan pergi kedapur.

"Ada apa sih Bim?, berisik banget dari tadi lu"

"Lah gua kira lu tadi yang gangguin gua bang"

Bima mengerutkan keningnya. "Nggak ada ya gua tadi ganti baju, kan lu liat sendiri tadi gua baru pulang kerja langsung kekamar gimana sih lu"

"Tapi tadi ada yang gebukin pintu ruangan bawah njirrr" bima melirik pintu ruangan bawah tanah. "Yaelah Bim itumah lu nya aja yang halu, dari tadi aja gua kagak denger apa-apa cuman suara lu aja yang gede kayak toa masjid" Salman mengambil air minum lalu duduk di kursi meja makan, sambil minum.

"Gua serius anjay, mana mungkin gua bohong ke lu" bima masih bingung dengan apa yang dia denger, dan juga penasaran.

Lanjut membaca
Lanjut membaca