

"Gini nih, benci banget gue." Joko mendengus kesal, mengacak rambut, membanting badan ke atas kasur reyotnya yang berdecit nyaring. Dia benar-benar kesal.
"HAAAHHHH!!! ASUUUUU!!!" teriaknya sambil ditutupi bantal lapuk dari kapuk bersarung Dora The Explorer miliknya.
Mengingat beberapa menit yang lalu, saat Adi Kuncoro---sang Bapak tiba-tiba saja berkata...
"Dek, Bapak udah tua deh, Dek. Kayaknya Bapak mau pensiun aja."
Firasat Joko berpikir ada yang tidak wajar waktu itu, karena sejatinya Adi Kuncoro itu tidak punya pekerjaan formal. Beliau hanya diam di rumah, duduk, sesekali menerima tamu yang pulang entah itu membawa sebotol air bening, atau bahkan wewangian. Tapi Joko belum berpikiran apa-apa. Dia hanya merasa "Emang Bapak bisa pensiun? Kayak gitu, ada pensiunnya?".
"Lah, ya ada!" Adi Kuncoro menegaskan. Dia lalu duduk, sementara Joko mengernyit dahi, dan menggeleng sekali. Ekspresinya jelas menyatakan ia tidak peduli, biarpun Adi Kuncoro bicara aneh. Bagi Joko, tidak masuk akal kalau "profesi" sang Bapak, bisa dipensiunkan. Menurutnya, bukankah yang seperti itu kontrak seumur hidup?
Tapi Joko enggan banyak bicara atau bertanya. Dia tidak mau terlibat ke dalam masalah hidup di keluarganya yang rumit.
Namun sebelum Joko beranjak ke kamarnya, Joko menoleh dan bertanya "Pak, nama Adek jadi diganti, kan?"
Adi Kuncoro mendongak tajam. Memicingkan mata, kemudian menunjuk ke arah kursi kayu di depannya. Isyarat nyata Ia memaksa Joko duduk.
"Engga, Ah! Adek mau tidur. Besok, 'kan Adek ada apel pagi." Joko menolak.
"Duduk, Dek! Bapak mau ngomong serius ini. "
Joko mengeluh pelan. Duduk dengan kasar dan mencubit-cubit pinggiran kursi kayu yang tidak bisa dicubit--tentu saja.
"Apa, sih. Ah!? Bapak kalau manggil Adek suka ngaco. Kemarin, tiba-tiba bilang kalau bluethooth speaker Adek dijual, dituker sama ayam jago. Gak, Ah. Adek mau tidur!" Joko bersiap bangun, tapi Adi Kuncoro menarik lengan Joko tegas.
Kali ini Joko tidak bisa menolak. Tatapan mata Adi Kuncoro yang tajam didukung alis tebal dan kumis panjangnya yang melengkung membuat nyali Joko menciut.
"Dengerin dulu, ini darurat! Menyangkut keberlangsungan hidup keluarga kita!" kata Adi Kuncoro.
Joko menyaut. "Nama Adek juga penting itu buat diganti, menyangkut keberlangsungan hidup Adek, lho! Adek bentar lagi lulus SMA, Adek malu ah masa jaman sekarang masih ada aja yang namanya Joko?! Udah gitu, sekata doang lagi JO-KO. Argh!" Joko merengut sambil merajuk. Sementara Adi menepis.
"Halah! Timbang nama doang, repot! Ini soal nyawa, lho, Dek! Kalau ga cepet-cepet, nanti pas tidur tau-tau Adek dicaplok, mau?"
"hah?"
Joko mengernyit kebingungan. Sementara Adi Kuncoro sibuk membenahi posisi duduknya, kemudian menaruh kedua lengan di pinggiran kursi.
"Bapak sudah tua, Dek. Adek tau, 'kan, selama ini keluarga kita hidup, makan dari hasil kerja Bapak?"
"Emang, iya?" Joko menoleh ke kanan, menatap penasaran pada sesosok perempuan berkebaya ungu nyentrik yang sibuk menyobek-nyobeki daun pisang di sudut ruangan. Beliau adalah Rahayu--Ibu Joko. Yang sehari-harinya berjualan nasi pecel.
Tapi Rahayu bergeming. Mengangkat bahu, seraya lanjut menyobek helaian daun.
"Apaan, orang kita makan tiap hari dari hasil Ibu jualan nasi pecel." Joko menyanggah. kemudian menambahkan "Emang, jualan air doa sama kemenyan yang cuma sebulan dua-tiga kali gitu, ada hasilnya?"
"Ssttt! Ngejawab mulu, kalau orangtua lagi ngomong!"
Joko berkedip kesal. Melipat lengan di dada, memalingkan muka. "Yaudah, gausah bertele-tele ah. Adek sibuk nih. Besok giliran Adek yang jadi petugas upacara."
"Ck!" Adi Kuncoro mengecap lidah kesal.
"Yaudah, pokoknya Bapak gamau tau, mulai malam Jum'at besok, Adek ikut Bapak ke gunung Kawi, ya!"
Joko menoleh kaget. "Lah, ngapain??!"
"Adek harus ikut Bapak, belajar."
"Belajar apaan, di gunung? Mau jadi petani? Hah, gimana si?" Joko terlihat mulai tidak nyaman di tempat duduknya. Ia lantas berdiri, berjalan ke kamar. Hanya saja, belum genap memasuki kamar, Rahayu berbicara dari arah dapur.
"SPP bulan kemarin sama bulan ini, belum ada ya, Dek. Uang buat ujian juga belum. Bilangin ke Pak Abraham, Ibu minta keringanan sampai tanggal 25, gitu ya!"
Joko mendengus pelan penuh kecewa.
Terbesit di pikiran Joko, kalau saja... kalau saja Adi Kuncoro sang Bapak memilih fokus mencari kerja yang nyata, mungkin keuangan keluarganya tidak akan seburuk ini. Tapi, Adi Kuncoro justru sibuk memperdalam ilmu kebatilan, sibuk mencari kekuatan spiritual yang bahkan tidak sedikit menghamburkan uang. Bagi Joko, profesi Adi Kuncoro, sama sekali tidak berguna. Kedamaian dan kemakmuran yang sering dibangga-banggakan Adi Kuncoro selama 15 tahun ke belakang, semuanya hanya sugesti belaka.
Joko bahkan tidak sudi untuk sekadar bertanya, wangsit dari mana yang didapat Adi Kuncoro sampai akhirnya dia mendedikasikan diri sebagai Dukun--biarpun Joko sangat penasaran sebenarnya.
***
Tiba di Kamis siang, pukul 11.15---jam istirahat. Joko menatap bosan layar smarthphonenya. Scroll ke bawah. Ke bawah lagi. Ke bawah lagi. Hingga akhirnya ia berhenti. Memandang nanar pada sebuah Live streaming Berjudul "Cek Khodam".
"Udah 2026, masih ada aja. Perasaan trend lama deh ini, masih gitu ada yang nonton?" katanya mencibir.
"Jack!" suara nyaring dari seorang laki-laki sebaya Joko menggema di seantero ruang kelas. Di depan pintunya, berdiri sosok tinggi kurus berkulit sawo matang. Berambut ikal dengan sedikit freckles di pipinya. Namanya Afro---nama panggilan. Nama aslinya Alfiando Rozak. Dia berjalan sedikit berjinjit, seperti kakinya baru menginjak sesuatu yang membuat tumitnya sakit.
Joko melirik---memerhatikan. "Kenapa kamu, Fro?"
"Engga. Hehe. Abis debus kita."
"Hah?" Joko menaruk smartphonenya lantas melihat dengan seksama kaki kiri Afro. "Debus gimana?"
"Tau, tuh si Jurek. Dia tiba-tiba ngide, ngambil korek, ngebakar sedotan. Terus dia colek pake tangan. Tauan plastik meleleh, panasnya bukan maen, yak." kata Afro menjelaskan.
"Nah, lelehannya keinjek ama kamu?"
Afro mengangguk malu.
"Kan, dibilangin pake sepatu!" Joko menginjak kaki Afro, yakin kalau Afro tidak memakai sepatu. Namun, sedari tadi Afro memang memakai sepatu. "Lah, tumben?"
"Jaga-jaga, untung gue pake sepatu. Bayangin kalo kagak. Udah melepuh ini. Segini aja, nembus masihan." Afro terkekeh menunjukkan tapal sepatunya yang mana masih meninggalkan noda lelehan plastik.
"Ada angin apa, kok tumbenan pake sepatu? Biasanya juga sepatu di lepas kalo istirahat?"
"Fengshui cuy!" Afro duduk di kursi sebelah Joko. Menaik-turun alis, kemudian menunjukkan apa yang ia temukan pada satu halaman website.
"Dih, kamu percaya gituan juga?" nyinyir Joko.
"Tapi beneran, Jack! Kan tadi tulisannya "hindari melakukan kebiasaan yang selalu kamu lakukan, maka itu akan menghindarkan kamu dari bahaya, cenah. Nah, bener kan?!" Afro menunjuk sepatunya penuh percaya diri. Sementara Joko mendengus gusar juga menggeleng kepala.
"Tau, ah. Sama aja kayak Bapakku. Pusing banget kepala nih. Mana ntar pulang sekolah, aku disuruh manjat gunung Kawi. Gatau dah, mau ngapain." Joko menggaruk tengkuk gelisah.
"Lah, lu mau ziarah kah? Oh, Pakde Adi tuh ke gunung Kawi, juga? Jir, kirain cuma sinetron sama film doang yang ke sana."
"Ziarah? Kocak! Orang kalo ke gunung mah, mendaki... apa bertani gitu cok! Ngapain ziarah? Ziarah mah ke makam." Joko tertawa meremehkan. Sambil berdiri dari kursinya, bersandar pada meja.
"Lah, pan di gunung juga ada makam kocak. Yang sunan-sunan begitu tuh. Yang kalo diziarahin, ntar lu bisa kaya. Pan, Pakde Adi dukun, jir! Lu anak dukun."
Sejenak Joko terdiam. Ucapan Afro sepenuhnya masuk akal. Jika dihubungkan dengan obrolan Minggu malam, maka hasilnya sudah pasti mencurigakan.
***
14.35 -- Joko tiba di rumah dalam kondisi lapar. Meski sempat gelisah memikirkan rencana Adi Kuncoro, Joko memilih untuk tidak ambil pusing berlarut-larut. YOLO adalah prinsipnya. Ditambah melihat tidak adanya Adi ataupun Rahayu di rumah, Joko merasa sedikit lega. Berpikiran, barangkali Adi lupa dengan rencananya.
Joko berjalan tanpa ragu ke arah dapur, mencari makanan yang biasanya tersaji di meja makan. Tapi Joko terheran. Bukan nasi dan lauk-pauk yang ada di sana, melaikan Sajen.
Ini adalah kali pertama adanya Sajen di atas meja makan---seumur hidupnya.
Selain itu, samar-sama Joko mendengar suara. Suara seperti dentuman halus, di atas lantai. Perlahan tapi pasti, aroma kemenyan juga semakin tajam tercium. Padahal di antara nampan Sajen tidak ada kemenyan yang di bakar. Joko mengusap tengkuk dan menelan ludah sekali. Tiba-tiba bulu kuduk berdiri. Ini bukan kali pertama Joko merasakannya. Hanya saja, ia belum juga terbiasa meski sudah 15 tahun dihantui perasaan serupa.
"Ibu? Bu??" Joko memanggil pelan sang Ibu. Berharap Rahayu ada di rumah, sehingga rasa takutnya perlahan sirna. Sayangnya, tidak ada sahutan terdengar. Malah pelan terdengar suara dengkuran kucing, hanya saja dua atau tiga kali lebih tebal dari suara kucing.
suara dentuman halus terdengar lagi. Seperti bunyi tepukan bertubi-tubi di atas lantai.
"Joko..."
bisikan samar menembus pendengaran. Joko membeku seketika. Rasa hati ingin berteriak, namun tidak ada yang keluar dari mulutnya. Joko memberanikan diri menoleh kebelakang. Dan tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya di sana.
Joko menelan ludah lagi.
"Jadi ini, ahli warisnya? Hmmm... wangi..."
Joko menoleh lagi ke arah sebaliknya. Kemudian dari sudut matanya, dia menemukan segelas kopi hitam yang semula penuh, perlahan berkurang sedikit-demi sedikit.
Sejauh ini, Joko belum pernah betul-betul melihat secara langsung---selain hanya merinding bulu kuduk. Tubuhnya semakin dingin. Joko takut bukan main. Tapi ia masih tidak bisa bergerak. Sesuatu seperti melilit di kedua kakinya. Bahkan perlahan naik ke pundak. Joko berteriak sebisa mungkin. "IBUUUUUUUU!!!"
Hingga sepasang mata yang tajam, bercahaya dan berwarna merah---melayang---tiba-tiba muncul di hadapan mukanya, membuat Joko terkejut bukan main "AAAAAAAAAA!!!"
---