Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
HARGA DIRI LAKI-LAKI

HARGA DIRI LAKI-LAKI

Svara Mahadeva | Bersambung
Jumlah kata
65.7K
Popular
527
Subscribe
149
Novel / HARGA DIRI LAKI-LAKI
HARGA DIRI LAKI-LAKI

HARGA DIRI LAKI-LAKI

Svara Mahadeva| Bersambung
Jumlah Kata
65.7K
Popular
527
Subscribe
149
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeMiliarderBalas DendamIdentitas Tersembunyi
Mulyono, nama yang terdengar kampungan, tampilan yang biasa saja dan hidup satu atap dengan mertua yang tak pernah menganggapnya ada. Di Purwakerta, kota kecil yang semua orang saling kenal, Mulyono bekerja apa saja, membantu di toko bangunan dari pagi, ojek di sore harinya, kadang buruh angkut kalau ada orderan. Istrinya, Sartika, adalah anak semata wayang Hendra dan Rosnah, keluarga yang punya nama di kecamatan. Dan nama itu selalu jadi senjata untuk merendahkan menantu mereka. "Kamu itu apa, Mul? Anak orang mana? Punya apa?" Mulyono hanya diam dan selalu diam. Yang tidak diketahui siapapun di Purwakerta, termasuk Sartika yang sudah tiga tahun menjadi istrinya, Mulyono yang mereka kira bukan siapa-siapa adalah, di balik nama udiknya, dia Arka Wibisono. Pewaris tunggal konglomerat Wibisono Group yang tersebar di delapan provinsi. Dia sengaja menghilang, sengaja menjadi orang biasa, karena lelah dengan dunia yang selalu melihat label, bukan manusia. Mulyono atau Arka pikir Sartika mencintainya. Tapi ternyata dia salah. Saat Mulyono mulai menemukan kenyataan, pesan-pesan yang tak seharusnya dia baca, sandal asing di teras, parfum laki-laki di baju istrinya, dunianya tidak runtuh dengan seketika. Dia hanya semakin diam. Dan diamnya seorang Arka Wibisono adalah hal yang paling berbahaya di dunia ini.
SANDAL ASING

<<<<<<>>>>>>

Orderan terakhir Mulyono hari itu adalah seorang ibu-ibu yang minta diantar ke apotek di Jalan Veteran. Jaraknya dekat, uangnya tidak seberapa, tapi Mulyono tidak pernah pilih-pilih. Kalau ada yang perlu diantar, ia antar. Kalau tidak ada, ia akan duduk di bawah pohon mangga depan Indomaret sambil menunggu, minum air putih dari botol yang ia isi ulang setiap pagi sebelum berangkat karena beli air mineral itu boros.

Ia pulang pukul setengah empat.

Biasanya ia baru kembali menjelang maghrib, menunggu orderan sampai benar-benar tidak ada, atau membantu Pak Darto menutup toko bangunan dulu, atau sekedar mengulur waktu karena rumah itu tidak pernah terasa seperti tempat yang mengundangnya masuk. Tapi sore ini Pak Darto tutup lebih awal karena ada hajatan pernikahan keponakannya, dan orderan sudah sepi sejak jam dua. Mulyono tidak punya alasan lagi untuk tidak pulang.

Ia parkir motor di depan gang, jalan kaki masuk karena gang itu terlalu sempit untuk motor yang diparkir sambil terburu-buru. Rumah mertua ada di nomor delapan, di ujung gang yang agak menanjak, dengan tembok pagar yang catnya sudah mengelupas di sudut bawah tapi tidak pernah dicat ulang karena Pak Hendra selalu bilang itu bukan prioritas.

Sandal itu yang pertama ia lihat.

Bukan sandal jepit, dan bukan sandal rumahan biasa. Sandal gunung dengan sol tebal, tali anyaman hitam, brand yang Mulyono kenal karena dulu ia pernah punya, sebelum ia memutuskan menjadi Mulyono dan menyingkirkan semua yang bisa mengidentifikasi dirinya. Ukurannya 43, Mulyono sendiri memakai ukuran 42.

Ia berdiri di depan pintu sesaat dan berdiam diri.

Tidak ada suara dari dalam selain TV yang menyala di ruang tengah, sinetron sore, seperti biasa.

Mulyono mengetuk pintu dua kali, lalu membukanya sendiri karena memang tidak pernah dikunci sebelum maghrib.

"Lho, Mul? Sudah pulang?"

Bu Rosnah muncul dari arah dapur, dengan tangan masih memegang centong. Wajahnya untuk sesaat menunjukkan sesuatu yang bukan sambutan hangat. Tapi seperti orang yang mendapati ada kucing masuk sebelum waktunya. Namun Bu Rosnah adalah perempuan yang sudah lima puluh lima tahun belajar mengendalikan wajah, dan ekspresi itu hilang secepat ia muncul.

"Tumben pulang sore," kata bu Rosnah, datar.

"Sepi, Bu. Pak Darto juga tutup."

"Oalah." ujar Bu Rosnah sambil kembali ke dapur.

Mulyono pun masuk, tapi tidak langsung ke kamar. Matanya menyapu ruang tamu dengan melihat sekeliling, bukan seperti orang yang sedang mencari sesuatu.

Ada dua gelas di meja. Satu sudah hampir habis isinya, satu lagi masih setengah, seperti orang yang buru-buru pergi sebelum sempat menghabiskan minumannya. Ada piring kecil berisi bekas kulit kacang. Ada asbak, bukan asbak yang biasa ada di sana, karena Pak Hendra tidak merokok di dalam rumah sejak dua tahun lalu setelah dokter menyuruhnya. Asbak itu diambil dari lemari atas, yang biasanya hanya dibuka kalau ada tamu lelaki dari keluarga besar yang datang.

Di asbak itu ada satu puntung rokok kretek, sedangkan Pak Hendra suka rokok filter.

Mulyono memperhatikan semua itu, lalu berjalan ke arah kamar.

"Tika di mana, Bu?" tanyanya dari koridor, suaranya dibuat santai.

"Di kamar, lagi itirahat." Jawab Bu Rosnah cepat.

"Ada tamu tadi?"

"Teman lamanya mampir, sudah pulang dari tadi. Kamu ini, kenapa tanya-tanya? kayak satpam aja." sahut Bu Rosnah bicara lebih keras dan jelas.

Mulyono tidak menjawab, dia memilih mengetuk pintu kamar.

"Tik."

Butuh waktu beberapa detik sebelum ada sahutan dari dalam dan pintu kamar terbuka.

"Iya."

Mulyono membuka pintu dan melihat Sartika duduk di tepi ranjang. HP di tangan, layarnya sudah menampilkan beranda Instagram, feed foto-foto yang tidak ada hubungannya dengan apapun. Rambutnya sedikit berantakan di bagian belakang, tapi bisa karena habis rebahan. Kerah bajunya agak miring ke kiri, tapi bisa karena memang bajunya model begitu. Bibirnya, Mulyono tidak mau terlalu lama melihat ke sana.

"Mas sudah pulang." kata Tika datar, bukan sambutan.

"Iya. Sepi tadi." ujar Mulyono sambil menaruh helm di gantungan balik pintu.

"Oh."

"Tadi ada tamu?" tanya Mulyono sambil memilih baju ganti dari lemari.

"Teman lama." Sartika tidak mendongak dari HPnya.

"Siapa?"

Baru sekarang Tika mendongak. Bukan karena pertanyaannya istimewa, tapi karena ia perlu melihat ketika suaminya baru kali ini bertanya.

"Rendi, teman Sma. Tadi kebetulan lewat, dan mampir sebentar. " jawab nya enggan dan matanya kembali menatap HP.

"Rendi yang mana?"

"Ya Rendi, teman Sma. Kenapa sih, Mas? Kok nanya melulu?" jawab Tika, sedikit ada ketidaksabaran di ujung kalimatnya.

"Cuma nanya."

"Kayak lagi interogasi aja. Aku boleh dong punya teman?" kata Tika meletakkan HP-nya di kasur, menghadap Mulyono dengan ekspresi yang sudah ia kenal, setengah bingung, setengah tersinggung, formula yang selalu berhasil membuat siapapun yang bertanya merasa bersalah karena bertanya.

"Boleh."

"Terus kenapa nanya kayak gitu?"

"Kayak gitu yang mana?"

"Ya sudah lah, Mas. Mandi sana, keringetan." usir Tika mebgkus kesal.

Mulyono mengambil handuk dan keluar dari kamar tanpa berkata lagi.

Di kamar mandi yang sempit dengan bak yang selalu beraroma bau got kalau hujan, Mulyono berdiri di bawah guyuran air dingin.

Ia berdiri lama di bawah air itu.

Sandal ukuran 43 di teras, dua gelas di meja, asbak yang diambil dari lemari atas, satu puntung kretek, dan Tika yang duduk terlalu rapi di tepi ranjang untuk seseorang yang katanya sedang istirahat.

Potongan-potongan itu tidak susah untuk disusun. Mulyono bukan orang bodoh,

masalahnya bukan pada menemukan jawabannya. Masalahnya adalah ia belum tahu apa yang ingin ia lakukan dengan jawaban itu. Segera dia menuntaskan mandinya, membilas sabun dari badannya dan keluar.

Makan malam adalah ritual yang sudah lama kehilangan kehangatan. Malam itu Bu Rosnah masak sayur lodeh dan tempe goreng. Nasinya terlalu pulen untuk selera Mulyono tapi ia tidak pernah bilang apa-apa. Ada ikan asin di piring kecil di tengah yang lebih untuk penampilan daripada untuk dimakan.

Pak Hendra sudah duduk lebih dulu, koran di tangan, kacamata baca di ujung hidung. Mulyono tidak pernah mengerti kenapa orang membaca koran sambil makan, selain untuk menghindari bicara dengan orang-orang di sekitar meja.

"Mul."

Mulyono menoleh, dan Pak Hendra tidak menurunkan koran.

"Bulan ini uang kontribusinya gimana?"

Kontribusi. Kata yang dipilih dengan sangat cermat oleh seorang lelaki yang memilih kata-katanya, bukan sewa, karena ini rumah mereka sendiri dan menyebut sewa akan terdengar kasar. Bukan nafkah, karena nafkah adalah tanggung jawab Mulyono ke istrinya, dan menyebutnya akan membuka pertanyaan lain yang lebih tidak nyaman. Kontribusi itu seperti Mulyono adalah anggota kelompok arisan yang perlu ikut iuran.

"Sudah saya taruh di laci kemarin, Pak. Tiga ratus."

"Tiga ratus. Masih segitu?" ujar Pak Hendra yang sambil menurunkan koran setengah dan menatap Mulyono di atas bingkai kacamatanya.

"Iya, Pak. Masih segitu yang.. "

"Kemarin Pak RT bilang iuran kampung naik. Lima puluh ribu per bulan sekarang. Listrik juga naik, kamu tahu itu."

Pak Hendra memotong, bukan dengan kasar, dengan cara yang jauh lebih efektif dari kekasaran. Cara orang yang menyampaikan fakta.

"Saya tahu, Pak. Kalau bulan depan ada lebih, akan saya tambah."

"Hm."

Koran naik lagi. Percakapan ditutup dari sisi Pak Hendra. Tapi Bu Rosnah tidak bekerja dengan cara yang sama.

"Tiga ratus ribu itu buat apa, Mul?" Bu Rosnah menyendoki kuah lodeh ke mangkuk sambil bicara, nadanya seperti orang yang berpikir keras.

"Listrik sebulan aja bisa dua ratus lebih. Belum air, belum beras. Kamu pikir hidup itu murah?" lanjutnya dengan nada pedas.

"Tidak, Bu."

"Terus?"

"Saya usahakan lebih, Bu."

"Dari dulu bilang usahakan usahakan terus. Sudah tiga tahun, Mul. Tiga tahun kamu di sini. Apa yang berubah? Tidak ada! Tetep saja kere." kata Bu Rosnah yang meletakkan sendok kuah dengan bunyi yang sedikit lebih keras dari perlu.

Mulyono mengambil nasi dengan tenang tanpa menjawab.

"Tika, apa kamu tidak bilang ke suamimu? Kemarin ibu sudah bilang sama kamu soal kebutuhan rumah yang naik." kata Bu Rosnah beralih ke anaknya.

"Sudah, Bu. Tapi memang dasar Mas Mul yang nggak bisa apa-apa."

Mulyono melihat istrinya sebentar. Sartika makan dengan tenang, garpu bergerak ke piring dengan gerakan yang terlalu santai untuk seseorang yang baru saja melempar suaminya ke dalam percakapan yang tidak menyenangkan.

"Saya nggak bilang nggak bisa, Bu. Saya bilang, hanya segitu yang ada sekarang." kata Mulyono pelan.

"Sama aja artinya." kata Bu Rosnah.

Pak Hendra tidak berkomentar. Ia makan sambil membaca koran, tapi Mulyono tahu, dari cara bahunya sedikit kaku, bahwa ia mendengar setiap kata.

Makan malam berlanjut dalam sunyi yang tidak nyaman. Suara sendok, suara kuah, suara TV dari ruang tengah yang tidak dimatikan meskipun tidak ada yang menonton. Mulyono menghabiskan nasinya, mengucapkan terima kasih yang tidak dibalas dengan apapun selain anggukan Bu Rosnah, dan masuk ke kamar.

<<<<<>>>>>

Lanjut membaca
Lanjut membaca