
Sentuhan Panas Sang Montir
Gadis Nakal|Bersambung
- Jumlah kata
- 121.5K
- Popular
- 5.9K
- Subscribe
- 957
- Jumlah kata
- 121.5K
- Popular
- 5.9K
- Subscribe
- 957
Sinopsis
(21+) "Aku belum puas, Mas." Kalimat itu didengar Alvin dari mulut istri pemilik bengkel tempatnya bekerja. Malam itu adalah awal di mana dia terikat dengan Rina, istri cantik dari pemilik bengkel. Yang para pelanggan dan juga Rina tahu, Alvin adalah pemuda tampan, gagah, miskin, tetapi memiliki pesona yang sulit ditolak Dari Rina, Kinar—adik dari Rina—sampai para pelanggan wanita di bengkel sulit menolak pesona dan sentuhan panas yang diberikan Alvin. Kini Alvin tak hanya memberikan kepuasan atas servis penanganan masalah tentang mobil, tapi juga memberikan kepuasan atas servis kenikmatan langsung dari setiap cumbuan-cumbuan memabukkan seorang Alvin yang identitasnya tidaklah sederhana.
Ulasan
1 ulasan
Mr. Mujur
28/7/26 11:17
Ceritanya seru dan bikin tegang, kuy ah baca biar gak penasaran. Jangan lupa siapin koin yang banyak biar gak berhenti pas tanggung 🔥
Bab 1. Kurang Puas, Mas
"Mas, aku masih mau. Sekali lagi, ya?"
Alvin yang kebetulan hendak ke kamar mandi sembari bermain handphone, langsung menghentikan gerakan jarinya di layar handphone, lalu dia mendekat ke arah sumber suara, ada rasa penasaran yang sulit ditahan Alvin.
Suara itu terdengar jelas dari balik dinding triplek tipis yang memisahkan mess karyawan dengan ruang pribadi pemilik bengkel.
Ya, ya, tidak salah lagi, itu suara Bu Rina, istri dari bos tempatnya bekerja.
Alvin sendiri, baru dua bulan bekerja di bengkel mewah milik Pak Joko.
Bengkel khusus mobil-mobil Eropa. Ferrari, Lamborghini, Porsche, pelanggannya kebanyakan orang-orang kaya yang tidak perlu memikirkan harga.
Tapi mess karyawannya ya beginilah. Hanya kamar sempit berukuran dua kali tiga meter. Satu kasur tipis. Satu kipas angin. Dindingnya triplek.
"Lagi?" suara Pak Joko terdengar ragu.
"Iya, Mas. Sekali lagi."
"Kamu bilang tadi cuma satu kali."
"Tapi aku belum mencapai puncak lho, Mas. Kamu sih enak, udah pelepasan di badan aku," kata Bu Rina, terdengar seperti agak jengkel karena merasa belum terpuaskan.
Pak Joko tidak berkata apapun untuk sesaat.
"Please, Mas. Sekali lagi dong," pinta Bu Rina lagi, kali ini nadanya sedikit memelas.
"Mas Joko, sudah beberapa tahun ini aku tidak bener-bener menikmatinya, lho, kamu tahu sendiri, kan?"
Alvin menempelkan telinga ke dinding. Dia tahu ini tidak pantas. Tapi rasa penasarannya terlalu besar.
"Aku capek, Rin," suara Pak Joko pelan. "Urusan bengkel banyak. Mobil para bos itu harus kelar dalam waktu dekat, tidak bisa asal-asalan dikerjakan."
"Aku juga butuh perhatian, Mas. Aku juga punya kebutuhan."
"Ya sudah, sekali lagi, tapi nggak bisa lama, Rin," kata Pak Joko. Setuju diajak bercinta sekali lagi oleh istrinya.
Alvin menggeleng pelan.
"Kasihan juga," bisiknya dalam hati.
....
Lima belas menit kemudian, Alvin mendengar suara ranjang berdecit. Napas Bu Rina yang memburu.
Tapi tidak lama.
Mungkin hanya lima menit.
Lalu sunyi, tidak terdengar suara apapun lagi dari dalam.
"Sudah?" Itu suara Bu Rina.
"Sudah."
Alvin bisa mendengar helaan napas panjang dari balik dinding. Nada kecewa dari Bu Rina.
"Aku mandi dulu," kata Pak Joko.
Suara pintu kamar mandi tertutup. Suara air mengalir.
Lalu terdengarisak tangis pelan, rupanya suara itu suara Bu Rina yang sedang menangis.
Alvin memejamkan mata. Tangannya menggenggam HP erat-erat.
"Setahun lebih tidak disentuh," pikirnya. "Hanya dikasih lima menit. Ya menangislah."
Dia ingin bangkit berdiri lalu mengetuk pintu ruangan itu, kemudian mengatakan sesuatu.
Tapi buat apa?
Itu urusan rumah tangga orang lain. Alvin tidak terlalu tertarik untuk mencampuri urusan orang lain, apalagi masalah ranjang.
...
Alvin sudah berada di bengkel sejak pukul tujuh. Dia sedang mengecek oli sebuah Porsche 911 yang baru masuk.
Dia bekerja seperti biasa, rapi, cepat, dan saat bekerja dia tidak akan banyak bicara.
"Mas Alvin."
Alvin menoleh. Bu Rina berdiri di ambang pintu bengkel sambil membawa nampan berisi segelas kopi dan sepiring pisang goreng.
"Untuk sarapan, Mas," kata Bu Rina sambil tersenyum.
Matanya sedikit sembab. Bekas menangis semalam masih terlihat jelas.
"Makasih, Bu," ucap Alvin sambil menerima nampan itu.
"Mas Alvin sudah sarapan?"
"Belum, Bu."
"Ya sudah, dimakan dulu. Itu mobilnya nanti saja."
Alvin mengangguk. Dia duduk di kursi plastik dekat pintu bengkel. Bu Rina ikut duduk di sampingnya.
"Mas Alvin, kalau boleh tahu, sudah punya pacar?" tanya Bu Rina tiba-tiba.
Alvin hampir saja tersedak pisang goreng mendengar pertanyaan dari bos perempuannya.
*Belum, Bu," jawab Alvin jujur.
"Masa? Tampan begini, badan bagus, kerja juga rajin. Pasti banyak yang suka."
Alvin tersenyum tipis. "Saya orang biasa, Bu. Kerja di bengkel, mana ada yang mau."
Bu Rina menatap Alvin beberapa saat. Tatapannya aneh. Sulit dijelaskan.
"Kalau saya ... bagaimana?" tanya Bu Rina dengan suara pelan, mungkin takut ada yang mendengar.
Alvin berhenti mengunyah. Dia pun menoleh, menatap wajah Bu Rina.
Bu Rina pun tersenyum, senyuman yang memiliki arti, hanya Bu Rina yang tahu apa yang sedang dia pikirkan.
"Bercanda, Mas," ucap Bu Rina cepat. Lalu dia berdiri. "Ya sudah, saya pergi dulu. Nanti piringnya ditaruh di dapur saja."
Bu Rina berjalan keluar, untuk kembali ke rumah yang tidak jauh dari bengkel miliknya.
Alvin hanya terdiam. Memandangi punggung Bu Rina yang menghilang di balik pintu.
"Bercanda?" gumam Alvin. "Kayaknya nggak deh."
....
Siang harinya, Alvin masih sibuk dengan Porsche 911 itu. Ganti oli, cek filter udara, bersihin busi. Pekerjaan standar tapi harus teliti. Mobil mahal, salah dikit bisa kena potong gaji.
“Mas Alvin!” Suara pak Joko dari pintu depan. Alvin menengok, dilihatnya Pak Joko melambaikan tangan padanya.
“Kemari dulu. Ada tamu.”
Alvin meletakkan kunci inggris. Dia berjalan ke ruang tamu bengkel. Di sana sudah duduk seorang wanita cantik. Rambut panjang sebahu, rok pensil, blus putih. Bau parfumnya sampai ke tempat Alvin berdiri.
“Ini Mas Alvin, mekanik kita. Paling rajin,” kata Pak Joko sambil tersenyum.
“Mas Alvin, ini Nyonya Sandra. Pelanggan tetap kita. Mobilnya BMW X6, kemarin komplen ada suara berisik di bagian kolong.”
Sandra mengangguk, sembari kedua matanya terus memerhatikan Alvin dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ekspresinya seperti orang yang sedang menilai harga seekor kambing di pasar hewan.
“Kamu yakin dia bisa?” tanya Sandra pada pak Joko. “Mekanik saya yang dulu pernah bilang masalahnya ada di suspensi.”
“Bisa, Nyonya. Mas Alvin lulusan sekolah teknik. Udah tiga tahun pengalaman,” sahut pak Joko cepat.
Alvin hanya diam. Dia sudah terbiasa dengan orang kaya yang meremehkan. Biasa saja.
“Baiklah. Tapi kalau mobil saya tambah rusak, bengkel ini yang tanggung jawab,” ujar Sandra sambil berdiri.
Dia merogoh tas dan mengeluarkan kunci mobil. Dilemparnya ke arah Alvin. Alvin menangkap dengan kunci itu dengan satu tangan.
Sandra mengangkat alis lalu berkata, “Cukup tangkas juga.”
“Sudah biasa,” jawab Alvin datar.
“Besok mobilnya selesai?”
“Sore ini juga bisa, Nyonya. Tapi kalau mau lebih teliti, besok pagi.”
“Besok pagi. Saya tidak suka terburu-buru.”
“Baik.”
Sandra berjalan ke luar. Sebelum masuk ke mobil jemputannya, dia menoleh ke belakang sekali lagi. Matanya menatap Alvin. Lalu mobil itu pun pergi.
Pak Joko mendesah lega dan berkata, “Itu Sandra. Kaya raya. Tapi sombongnya minta ampun. Hati-hati sama dia, Mas. Kalau sampai ada masalah, kita yang rugi.”
Alvin mengangguk. “Siap, Pak.”
...
Sore harinya, Alvin sudah selesai dengan BMW X6 milik Sandra. Ternyata masalahnya cuma baut yang longgar di bagian arm depan. Gampang, tinggal Alvin kencangkan, tes jalan sebentar, beres.
Dia sedang mencuci tangan di wastafel belakang bengkel ketika Bu Rina keluar dari dapur.
“Mas Alvin, belum pulang?”
“Bentar lagi, Bu. Mau rapihin barang dulu.”
Bu Rina berdiri di sampingnya. Tangannya memegang gelas kosong. Tapi matanya tidak melihat gelas itu. Matanya melihat tangan Alvin yang diguyur air.
“Tangan Mas Alvin kekar ya,” kata Bu Rina tiba-tiba.
“Biasa saja, Bu. Tangan mekanik.”
“Tangannya berurat, jari-jarinya panjang, seperti tangan yang sudah ahli mengerjakan apapun," puji Bu Rina, dan pujiannya agak aneh bagi Alvin.
Alvin hanya diam dan tidak menanggapi pujian itu. Dia tahu ini mulai memasuki wilayah bahaya.
“Bu, saya ke depan dulu. Ada ban yang belum dirapihin,” ucap Alvin.
Dia hendak pergi, tapi Bu Rina cepat menarik pergelangan tangan Alvin.
“Mas Alvin.”
Alvin berhenti.
“Kamu laki-laki yang baik. Aku ... aku kadang suka iri sama calon pacarmu nanti.”
Daftar bab
112 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
112 bab








