Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kutukan 33 Wanita: Rahasia Pusaka Telaga Pondoh

Kutukan 33 Wanita: Rahasia Pusaka Telaga Pondoh

DicArc | Bersambung
Jumlah kata
87.4K
Popular
1.8K
Subscribe
361
Novel / Kutukan 33 Wanita: Rahasia Pusaka Telaga Pondoh
Kutukan 33 Wanita: Rahasia Pusaka Telaga Pondoh

Kutukan 33 Wanita: Rahasia Pusaka Telaga Pondoh

DicArc| Bersambung
Jumlah Kata
87.4K
Popular
1.8K
Subscribe
361
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremSupernaturalKutukan
Pernahkah harga dirimu sebagai seorang pria hancur lebur tanpa sisa di atas ranjang? Itulah mimpi buruk yang dialami oleh Astrapati Suradira. Dicampakkan, dimaki, dan ditinggalkan oleh kekasihnya sendiri karena sebuah "kegagalan fatal" sebelum sempat bercinta, membuat Astra terpuruk dalam jurang rasa malu dan dendam. Namun, roda takdirnya berputar drastis saat ia mendapatkan sebuah campur tangan dari dunia gaib. Entitas misterius penguasa Telaga Pondoh, Nyai Pondoh, menganugerahkan Astra kekuatan yang menjadi fantasi liar setiap pria: pesona feromon penakluk yang tak tertahankan, stamina monster, dan "pusaka" kejantanan yang luar biasa perkasa. Namun, setiap kekuatan gaib selalu menuntut bayaran mahal. Kutukan mutlak telah mengikat tubuh Astra: ia wajib menaklukkan dan meniduri 33 wanita berbeda. Jika misi itu gagal atau ia kembali pada mantannya, kejantanannya akan menyusut tak berdaya selamanya. Seolah restu kegelapan belum cukup, misi gaib mengantarkan sebuah cincin misterius kepada seorang konglomerat tiba-tiba mengubah Astra menjadi miliarder muda dengan uang tunai ratusan miliar rupiah di tangannya. Berbekal pesona mistis dan kekayaan tanpa batas, sang mahasiswa biasa kini berevolusi menjadi predator ranjang kelas atas yang tak tersentuh. Satu per satu wanita cantik jatuh tak berdaya ke dalam pusaran gairahnya. Mulai dari Alisa, wanita liar yang ia selamatkan; Tia, kekasih sintal dari sahabat karibnya sendiri yang rela berselingkuh; hingga Silvia Rossi, dosen pembimbingnya yang cerdas namun tunduk memohon kenikmatan di bawah dominasinya. Sejauh mana Astra akan melangkah demi menggenapkan kutukan 33 wanitanya? Sanggupkah ia menahan godaan lautan hasrat tanpa kehilangan akal sehatnya, atau akankah ada tumbal tersembunyi di balik anugerah Nyai Pondoh yang mematikan ini? Sebuah kisah fantasi dewasa penuh intrik perselingkuhan, dominasi, rahasia mistis, dan gairah yang tak berujung. Bersiaplah untuk ikut terhanyut dalam pesona sang penakluk!
Bab 1 Tembus Pandang

Suara benturan keras menghantam gendang telinga. Astrapati Suradira atau yang akrab dipanggil Astra tersentak dari tidur lelapnya. Tubuh kurusnya terlonjak duduk di atas kasur dengan napas memburu. Matanya langsung terbuka lebar membelah kegelapan kamar kos milik kekasihnya ini. Jantungnya berpacu cepat memompa darah ke seluruh tubuh akibat keterkejutan yang datang mendadak tersebut.

"Suara apaan tuh? Bikin kaget orang aja," gumam Astra dengan suara parau khas orang yang baru saja terenggut dari alam bawah sadarnya.

Astra terdiam sejenak mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih berserakan. Suasana kamar kekasihnya itu terasa hening dan pekat. Namun keheningan itu segera terkoyak oleh kemunculan suara lain yang menyusul merambat melalui dinding.

Terdengar suara desahan pelan yang diiringi oleh decakan basah. Suaranya terdengar amat sangat jelas di telinganya. Terasa begitu dekat seakan sumber suara itu berada di dalam ruangan yang sama dengannya saat ini.

"Ihhh di mana posisinya," batin Astra menebak nebak arah datangnya suara misterius yang seketika memancing imajinasi liarnya tersebut.

Rasa penasaran mengalahkan sisa rasa kantuk yang menempel di pelupuk matanya. Mahasiswa semester lima itu menyingkap selimut tebalnya dan beringsut maju ke tepi ranjang. Ia menempelkan sisi telinganya ke permukaan dinding beton di sebelah tempat tidur. Permukaan dinding itu terasa sangat dingin menyentuh kulit wajahnya.

"Dari balik dinding ini gitu arahnya?" ujar Astra berbicara sendiri seraya memicingkan mata dalam kegelapan berusaha memfokuskan pendengarannya.

Ia menahan napas untuk mendengarkan lebih saksama. Namun sumber suara lenguhan itu tidak terasa bergetar dari balik susunan beton tebal tersebut. Suaranya memantul dari arah yang sedikit berbeda.

"Bukan dari sini asalnya," ujarnya dengan nada yakin seraya melepaskan tempelan telinganya dari dinding dingin itu.

Pria bertubuh kurus itu pun bangkit berdiri sepenuhnya. Langkah kakinya mengendap endap tanpa alas kaki di atas lantai keramik agar tidak menciptakan suara gaduh. Matanya menyapu seluruh penjuru kamar yang hanya diterangi oleh cahaya remang dari lampu jalan yang menembus celah bawah pintu. Pria itu lalu menatap lurus ke arah sebuah jendela besar di hadapannya.

"Enggak mungkin dari situ deh," gumam Astra merasa bimbang seraya terus memasang telinga mendengarkan suara decakan basah yang semakin menggila itu. Jendela tersebut terkunci rapat dan tertutup tirai tebal.

Suara erangan tertahan kembali menggema memantul di sudut lain. Pandangan Astra kini beralih dan tertuju pada sebuah kain penutup yang terbentang lebar menempel di salah satu sisi dinding ruangan. Kain itu memiliki motif gambar kartun lucu yang selama ini selalu ia kira hanya sebagai hiasan penutup celah biasa milik kekasihnya.

"Dari sini kayaknya arahnya deh," pikir Astra merasa menemukan titik terang.

Ia berjalan perlahan mendekati kain tersebut. Jari jemarinya yang sedikit bergetar karena rasa penasaran perlahan meraih bagian ujung kain. Dengan gerakan yang teramat pelan dan ekstra hati hati, Astra menyingkap kain itu dari bagian samping menyisakan celah kecil untuk mengintip.

Pria kurus itu menahan napasnya. Matanya terbelalak sempurna saat celah itu terbuka dan menampakkan rahasia besar di baliknya. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama satu detik penuh melihat visual yang tersaji di depan matanya.

"Wowwwww," mulut Astra membulat menggumamkan ketakjuban tanpa mengeluarkan suara.

Di balik kain hiasan itu ternyata tersembunyi sebuah celah kaca tembus pandang berukuran sedang yang mengarah langsung membelah partisi kamar kos di sebelahnya. Dan pemandangan di dalam kamar seberang itu sungguh sukses membuat darah lelakinya mendidih seketika melupakan segala hal.

Astra melihat dengan sangat jelas keberadaan rekan satu kampusnya di ruangan terang benderang itu. Heri Anggoro tampak sedang berdiri memojokkan kekasihnya yang bernama Tia Sulastri ke dinding kamar. Pasangan kekasih itu tampak begitu liar dan tenggelam dalam kabut gairah yang teramat panas.

Heri sedang menundukkan wajahnya menelusuri leher Tia. Pria itu menciumi leher jenjang kekasihnya dengan gerakan yang brutal dan menuntut. Sapuan bibir basah dan gigitan gigitan kecil yang diberikan Heri membuat wanita berbadan bohai itu mendongakkan kepalanya jauh ke belakang mencari pelampiasan nikmat.

"Buka dulu sayang," ucap Tia memberikan komando. Suaranya terdengar begitu jernih meresap masuk melalui celah kaca rahasia itu menembus telinga Astra tanpa halangan berarti.

Mendengar perintah manja dari sang kekasih, Heri langsung melepaskan tautan bibirnya dari leher mulus Tia. Pria itu mulai membuka kancing kemejanya satu per satu dengan gerakan yang amat sangat terburu buru didorong oleh nafsu. Tia pun melakukan hal yang sama tanpa rasa canggung. Jemari lentik wanita itu dengan cepat meloloskan deretan kancing blus ketat yang sedari tadi membungkus rapat tubuh sintalnya.

Pakaian atas mereka terlempar begitu saja jatuh ke atas lantai. Pasangan kekasih yang sedang dimabuk kepayang itu kemudian beralih melucuti bawahan mereka masing masing. Tia meloloskan rok panjangnya hingga jatuh menumpuk di pergelangan kaki lalu melangkah keluar membebaskan diri dari lingkaran kain tersebut. Heri pun segera menendang lepas celana panjangnya dan meletakkannya asal asalan di sudut ruangan.

Kini tubuh Tia hanya menyisakan setelan pakaian dalam yang amat menantang. Tangan wanita itu bergerak lentur ke belakang punggungnya. Ia membuka pengait bra yang menahan beban dadanya lalu melepaskannya dengan satu tarikan mulus.

"Wowwwww. Gede banget punya si Tia. Putih pula," batin Astra seraya menelan ludah yang mendadak terasa kasar di tenggorokannya.

Mata Astra tidak berkedip sedikit pun menatapi pemandangan luar biasa vulgar di hadapannya. Gundukan kembar milik Tia terpampang sempurna menantang hawa ruangan. Kulit wanita itu yang seputih susu tampak berkilat memantulkan cahaya lampu kamar kos. Lekuk tubuhnya benar benar mendefinisikan sebuah kesempurnaan anatomi wanita dewasa.

Heri tidak membuang waktu sedetik pun untuk mengagumi keindahan itu. Ia kembali menyerang Tia dengan buas. Heri melanjutkan ciuman dan kecupan basahnya memanjakan setiap inci kulit leher hingga dada atas sang kekasih. Kali ini kedua tangan Heri tidak tinggal diam. Ia merangkum dan meremas remas dada penuh milik Tia dengan ritme memutar yang membuat napas wanita itu tersengal sengal putus asa.

Tia menggeliat geliat kepanasan menikmati setiap remasan kuat dari telapak tangan pria itu. Desahan desahan menggoda terus keluar lolos dari bibir merahnya menciptakan melodi sensual yang menggetarkan kewarasan Astra di ruang gelap ini.

Di tengah pergumulan panas dalam posisi berdiri itu, tangan kanan Tia bergerak turun merayap ke bawah perut Heri. Wanita itu mulai mengusap usap kejantanan Heri yang masih terhalang oleh lapisan kain celana dalamnya. Usapan tangan Tia yang lembut namun penuh dengan tuntutan itu sukses membuat tonjolan di balik kain tersebut semakin membesar dan mengeras kaku.

Pemandangan erotis itu tersaji bagaikan sebuah film bioskop resolusi tinggi tepat di depan mata Astra. Hawa panas mulai menjalar naik dari perut bagian bawahnya. Sisi maskulinnya meronta merespons visual yang merangsang saraf matanya.

"Ayo buka sayang," ucap Tia dengan nada memohon yang luar biasa memabukkan.

Heri langsung berjongkok sedikit merendahkan tubuhnya. Ia menarik pinggiran celana dalam Tia dan melorotkannya hingga terlepas sepenuhnya. Setelah itu Heri segera bangkit berdiri tegap dan membuka miliknya sendiri. Senjata pria itu seketika menyembul keluar membelah udara kamar.

"Gilaaaa punya si Heri gede banget," batin Astra merasa takjub sekaligus terselip sedikit rasa minder melihat ukuran pusaka rekannya yang sangat intimidatif tersebut.

Dalam posisi masih berdiri saling berhadapan tanpa sehelai benang pun, Heri merapatkan panggulnya maju. Ia menyentuhkan pusakanya yang sekeras baja itu tepat ke bibir inti milik Tia. Heri mulai menggesek gesekkannya secara teratur untuk memancing cairan pelumas alami wanita itu agar mengalir membasahi jalurnya.

Tia meringis hebat menahan rasa nikmat yang menggigit ujung sarafnya. Wanita bohai itu mencengkeram kuat kedua bahu bidang Heri mencari tumpuan keseimbangan agar tidak terjatuh.

"Udah ah. Langsung masukin aja," ucap Tia tidak sabar menuntut kepenuhan yang absolut.

"Di kasur aja sayang," balas Heri dengan suara bariton berat yang menggetarkan udara ruangan.

Tia menurut patuh. Ia mundur perlahan dan langsung merebahkan tubuh telanjangnya di atas kasur yang tergelar di lantai tanpa dipan ranjang tersebut. Wanita itu mengambil posisi berbaring seraya mengangkang lebar. Posisinya itu sukses mengekspos lembah kewanitaannya yang sudah berkilat basah dan kemerahan secara total ke arah kaca.

Dari sudut pandang strategisnya di balik kaca rahasia, Astra bisa melihat seluruh detail anatomi magis itu dengan amat sangat jelas tanpa penghalang apa pun. Posisi kasur lantai itu seolah memang sengaja dipersiapkan sebagai panggung pertunjukan khusus untuk memuaskan jiwa penontonnya.

Melihat tontonan paling vulgar dan nyata dalam hidupnya ini, Astra sudah tidak kuat lagi menahan gejolak gairah yang menyiksa tubuhnya. Ia segera melorotkan celana pendek serta pakaian dalamnya hingga teronggok menumpuk di atas lantai keramik. Tangannya mulai meraba raba ke bawah lalu menggenggam erat miliknya yang sudah menegang maksimal menuntut pelampiasan.

Di kamar sebelah, Heri mulai terduduk berlutut di atas kasur mengambil posisi dominan. Ia mengarahkan ujung miliknya yang mengembang sempurna untuk masuk membelah gerbang kewanitaan milik Tia. Pria itu menahan napas sejenak lalu langsung menyodoknya masuk dalam satu dorongan pinggul yang teramat panjang dan kuat.

Astra bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana raut wajah Tia meringis. Alis wanita itu bertaut kencang menahan campur aduk antara rasa sakit dan sensasi sesak saat menerima tumbukan besar dari pria tersebut menembus batas kedalamannya.

"Eummm. Eummmhh," desah Tia melengking memenuhi ruangan merespons penyatuan mereka.

Setiap kali Heri memberikan tumbukan maju dengan panggulnya, guncangan hebat menjalar pada seluruh tubuh Tia. Gunung kembarnya bergoyang goyang naik turun berirama mengikuti ritme pinggul Heri menciptakan visual yang amat sangat memancing imajinasi kotor siapa saja yang melihatnya.

Napas Astra memburu hebat memperebutkan sisa oksigen di kamar yang gelap ini. Pria kurus itu merasa jepitannya kurang nyaman. Ia butuh pelicin untuk menyempurnakan permainannya sendiri. Ia meraba raba permukaan meja nakas di sebelahnya dan berhasil menemukan sebotol losion pelembap kulit milik kekasihnya. Ia menekan tutup botol itu dan mengoleskan cairan wangi beraroma bunga tersebut ke telapak tangannya.

Astra segera menyusupkan telapak tangannya yang kini sudah sangat licin ke pilar kecil miliknya. Ia mulai menggesek gesek memompa kejantanannya dengan mantap seraya matanya terus terpaku membelalak melihat Tia yang sedang digenjot habis habisan oleh Heri. Gesekan tangan Astra secara tidak sadar berpadu dengan ritme pinggul Heri yang terus menghantam kuat di kamar sebelah.

Irama tumbukan panggul di kamar terang benderang itu semakin lama berubah semakin buas dan tak terkendali. Decakan perpaduan kulit perut yang beradu keras terdengar saling bersahutan bagaikan tepuk tangan yang memeriahkan pesta panas mereka.

"Aaaah Tiaaaa. Bentar lagi ini," jerit Heri dengan rahang mengeras kaku. Urat urat di leher pria itu menonjol keluar menahan ledakan kenikmatan yang sudah menumpuk di ujung batas pertahanannya.

"Sok keluarin sayang," balas Tia memberikan izin penuh seraya mencengkeram seprai kasur dengan buku buku jari memutih.

Mendapat lampu hijau yang ditunggu tunggu, Heri langsung menumbuknya jauh lebih cepat dan brutal tanpa ampun. Namun tepat di detik terakhir sebelum badai itu datang, pria itu tiba tiba menarik paksa kejantanannya keluar dari dalam kedalaman milik Tia. Heri melontarkan lahar kehangatannya yang berwarna putih kental berkali kali menyembur menghujani permukaan perut rata wanita bohai itu.

"Aghhhhhhh," jerit Heri melepaskan segala ketegangannya seraya merosot jatuh menimpa tubuh lemas kekasihnya.

Melihat pemandangan klimaks yang luar biasa memukau tersebut, sisa pertahanan Astra pun ikut hancur lebur seketika tidak tersisa. Saraf sarafnya putus merasai rangsangan visual yang kelewat batas.

"Ohhh aku juga ini," ujar Astra dengan napas terengah engah putus asa. Kecepatan gesekan tangannya mencapai titik puncak ekstasi yang tak tertahankan.

"Eughhhhh," desah Astra merintih pelan. Ia menggigit bibir bawahnya menahan suara erangannya sekuat tenaga karena sangat khawatir pasangan liar di sebelah akan mendengar keberadaannya.

Astra menundukkan kepalanya melihat kejantanan mungilnya ikut melontarkan lahar panas berkali kali ke udara. Cairan putih pekat miliknya menyemprot mengenai permukaan dinding di bawah bingkai kaca rahasia tersebut. Tubuh kurusnya bergetar hebat tak beraturan menyerap sisa sisa eforia orgasme yang melanda sistem sarafnya.

"Owwwh. Berasa nyata banget tontonan ini," gumam Astra seraya mengusap peluh keringat dingin yang membanjiri dahinya. Sensasi pelepasannya kali ini terasa berkali lipat lebih nikmat dari biasanya karena ditemani oleh tontonan langsung.

Napas Astra perlahan mulai kembali teratur mengikuti ritme detak jantungnya. Di balik kaca tembus pandang itu, ia melihat Heri sedang sibuk membersihkan sisa cairan miliknya dari atas perut Tia menggunakan beberapa lembar tisu kering.

Menyadari kekacauan lengket yang baru saja ia buat di kamarnya sendiri, Astra pun bergegas mencari kotak tisu di atas meja. Ia menarik beberapa lembar dengan cepat untuk mengeringkan cairan miliknya yang menempel lengket di permukaan tembok kamar kekasihnya. Pria itu juga mengelap bersih kejantanannya yang masih belepotan penuh sisa cairan losion licin.

Setelah memastikan semuanya kembali bersih dan tidak meninggalkan jejak mencurigakan yang akan membuat kekasihnya marah, Astra kembali mengintip melalui celah kain kartun tersebut. Ia melihat Heri kini sudah berbaring menyamping di atas kasur seraya memeluk tubuh polos Tia dari belakang dengan sangat mesra. Pasangan itu tampak beristirahat damai memulihkan tenaga mereka yang terkuras habis.

Astra menarik kembali kain bermotif lucu itu untuk menutup rapat kaca rahasia tersebut mengembalikan batas privasi dua dunia ini. Ia memungut celana pendeknya di lantai lalu mengenakannya kembali menutupi tubuhnya yang masih meremang. Pria itu berjalan gontai lalu duduk kembali di tepi ranjang dengan dahi berkerut dalam memikirkan satu keanehan besar yang mengganjal logikanya sedari tadi.

"Tapi kok mereka dari tadi sama sekali enggak liat aku ya," gumam Astra kebingungan memecahkan teka teki arsitektur ini.

Ia memandang kain penutup itu dengan pandangan penuh tanda tanya besar. Apakah kaca tersebut adalah jenis cermin dua arah yang sengaja dipasang oleh pemilik rumah kos untuk tujuan voyeurisme terselubung? Ataukah hanya karena kondisi kamarnya yang gelap gulita sehingga sosoknya sama sekali tak terlihat dari ruangan sebelah yang terang benderang? Misteri di balik kaca itu justru membuat debar jantung Astra kembali berpacu cepat. Rasa penasaran yang liar kini bercampur aduk menciptakan percikan gairah baru di kepalanya memikirkan tontonan apa lagi yang akan menunggunya esok malam.

Lanjut membaca
Lanjut membaca