Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Arsip Roh

Arsip Roh

safrinafebrianti | Bersambung
Jumlah kata
72.5K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / Arsip Roh
Arsip Roh

Arsip Roh

safrinafebrianti| Bersambung
Jumlah Kata
72.5K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalKekuatan Super
Raka Pratama, mahasiswa hukum tingkat akhir yang sedang magang di Kejaksaan Negeri Semarang, memiliki satu cita-cita sederhana menjadi jaksa yang jujur. Namun hidupnya berubah setelah sebuah kecelakaan misterius membuatnya mampu melihat dan berbicara dengan roh korban pembunuhan. Masalahnya, roh-roh tersebut tidak bisa memberitahukan siapa pelaku sebenarnya. Mereka hanya meninggalkan potongan kenangan, emosi, dan petunjuk yang samar. Bagi Raka, mengetahui kebenaran ternyata jauh lebih mudah daripada membuktikannya. Ketika seorang korban meminta keadilan, Raka harus berpacu dengan waktu untuk menemukan saksi, mengumpulkan barang bukti, dan mengungkap motif kejahatan sebelum kasus itu ditutup selamanya. Di tengah kekacauan tersebut, Raka harus menghadapi Dinda Maharani, staf kejaksaan yang galak, perfeksionis, dan selalu menganggapnya pembuat masalah. Ironisnya, semakin sering mereka bekerja sama, semakin sulit bagi Raka untuk mengabaikan perasaannya. Sementara itu, satu demi satu kasus yang mereka tangani mulai mengarah pada sebuah rahasia besar yang telah dikubur selama dua puluh tahun. Rahasia yang berkaitan dengan kematian ayah Raka. Dan seseorang yang tidak ingin kebenaran itu terungkap. Karena ada hal yang lebih berbahaya daripada pembunuh. Yaitu orang yang mampu menghapus jejak kematian itu sendiri.
Bab 1 - Hari pertama magang

Pagi itu, matahari Semarang sudah terasa menyengat sejak pukul tujuh pagi. Bagi Raka Pratama, hawa panas ini sama sekali bukan halangan. Dengan kemeja putih polos yang disetrika rapi meski ada sedikit bagian di dekat kerah yang agak melintir karena terburu-buru dan celana bahan hitam, ia berdiri di depan gedung Kejaksaan Negeri Semarang.

Raka membenarkan letak ransel hitamnya. Jantungnya berdegup agak lebih kencang dari biasanya. Bukan karena takut, tapi karena rasa antusias yang meluap-luap. Di gedung inilah langkah pertamanya dimulai. Menjadi mahasiswa hukum tingkat akhir yang berhasil mendapat tempat magang di sini adalah sebuah pencapaian besar. Tapi bagi Raka, ini lebih dari sekdar pemenuhan SKS kuliah. Ini adalah jembatan untuk mengikuti jejak almarhum ayahnya, Wicaksono Pratama. Seorang jaksa yang di matanya adalah definisi nyata dari keadilan.

"Gue bakal buktiin kalau gue bisa berdiri di tempat yang sama kayak Ayah," gumam Raka pean pada diri sendiri, memberikan senyum tipis yang sayangnya, kalau dilihat orang lain, malah kelihatan kayak orang lagi sinis menantang berkelahi.

Raka mengembuskan napas panjang, lalu melangkah mantap melewati pintu kaca besar gedung kejaksaan.

Suasana di dalam kantor ternyata jauh lebih sibuk dari yang Raka bayangkan. Orang-orang bereragam cokelat khas kejaksaan berlalu-lalang membawa map tebal. Suara printer yang berderit, ketukan kibor yang bertalu-talu, dan aroma kopi hitam instan menyeruak di udara. Raka sempat kebingungan harus melapor ke mana, sampai seorang petugas piket mengarahkannya ke ruang administrasi tindak pidana umum di lantai dua.

Saat berjalan menyusuri koridor lantai dua, mata Raka sibuk meneliti sekeliling. Ia begitu terkesima dengan atmosfer tempat ini sampai tidak memperhatikan jalan di depannya.

BRUUKK!

Raka menabrak seseorang yang baru saja keluar dari salah satu ruangan sambil membawa tumpukan dokumen. Beberapa lembar kertas HVS terlepas dan berserakan di lantai marmer.

"Eh, sory, sory! Duh, maaf banget, nggak sengaja," kata Raka panik. Ia langsung berjongkok untuk memunguti kertas-kertas yang berantakan terebut.

Orang yang ditabraknya juga ikut berjongkok. Seorang perempuan dengan rambut hitam sebahu yang diikat rapi. Perempuan itu memakai kemeja formal putih dan rok span hitam. Wajahnya cantik, tapi tatapan matanya begitu tajam hingga membuat Raka agak kikuk.

"Makanya kalau jalan pakai mata, Mas. Jangan meleng," sahut perempuan itu datar, suaranya terdengar dingin dan efisien.

Raka yang dasarnya agak keras kepala dan punya mekanisme pertahanan diri berupa sarkasme saat merasa gugup, langsung menyahut sambil menyerahkan kertas yang sudah dirapikan, "Ya, jalan emang pakai kaki sih Mbak, mata buat ngelihat. Tapi iya, gue yang salah, sory banget ya. Lagi agak grogi nih, maklum anak baru."

Perempuan itu menerima kertas-kertas dari tangan Raka, lalu berdiri. Ia menatap Raka dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai. "Anak baru?"

Raka ikut berdiri dan mengangguk ceria, merasa menemukan "teman senasib". Melihat penampilan perempuan ini yang masih kelihatan muda mungkin cuma beda satu atau dua tahun di atasnydan memakai baju putih-hitam khas anak magang, Raka langsung mengambil kesimpulan sepihak.

"Iya, gue Raka. Mahasiswa magang dari Universitas Diponegoro. Lo juga anak magang di sini ya? Wah, untung deh ketemu barengan. Dari kampus mana lo? Serem banget ya aura kantor ini, orang-orangnya pada pasang muka tegang semua. Mana tadi bapak-bapak di depan mukanya kayak belum tidur tiga hari," cerocos Raka tanpa jeda, merasa lega bisa menyuarakan isi kepalanya.

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, menatap Raka dengan satu alis terangkat. Tatapannya begitu intens sampai membuat Raka merasa seperti sedang diinterogasi atas kasus korupsi kelas kakap.

"Kenapa? Ada yang salah sama muka gue?" tanya Raka, refleks meraba wajahnya sendiri. "Gue emang rada sinis kalau senyum, tapi aslinya ramah kok. Santai aja, kita kan sesama kasta terendah di sini, harus saling dukung, wkwk."

"Kasta terendah?" perempuan itu mengulang kalimat Raka dengan nada yang sangat datar.

"Iyalah, namanya juga anak magang. Paling ntar disuruh-suruh fotokopi, bikin kopi, atau nyusun berkas yang debuan di gudang. Tapi gapapa sih, demi pengalaman. Oh ya, nama lo siapa? Biar akrab gitu, ntar kalau jam istirahat bisa kantin bareng." Raka tersenyum lebar, mengulurkan tangannya dengan penuh percaya diri.

Perempuan itu melihat tangan Raka yang terulur, lalu melihat kembali ke wajah Raka. Ia tidak membalas uluran tangan tersebut. Sebaliknya, ia menjepit map tebal di ketiaknya, lalu merapikan posisi ID card yang menggantung di lehernya—yang sejak tadi tertutup oleh lipatan dokumen.

Raka refleks menurunkan pandangannya ke arah ID card tersebut. Di sana tertera foto formal perempuan itu, dengan logo resmi Kejaksaan Agung Republik Indonesia, dan tulisan cetak tebal:

DINDA MAHARANI, S.H.

Staf Fungsional / Ajun Jaksa Madya

Seketika itu juga, senyum di wajah Raka membeku. Jantungnya rasanya melompat turun ke lambung. Atmosfer di koridor itu mendadak terasa lebih dingin dari AC sentral kejaksaan.

"Nama saya Dinda Maharani," kata perempuan itu, menekankan setiap suku katanya dengan artikulasi yang sangat jelas. "Dan saya bukan anak magang dari kampus mana pun. Saya staf resmi di sini."

Raka menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang menggantung di udara perlahan-lahan ditarik kembali dan dimasukkan ke dalam saku celana dengan canggung. "Oh... eh... itu... maaf, Mbak Dinda. Saya benar-benar nggak tahu. Saya pikir..."

"Kamu pikir saya seumuran sama kamu?" potong Dinda, melipat kedua tangannya di dada. "Saran saya, Raka Pratama, sebelum kamu belajar menganalisis kasus hukum, belajar dulu caranya menganalisis situasi sekitar. Dan satu lagi, di kantor ini, panggil saya Ibu atau Mbak Dinda. Jangan 'lo-gue'. Ini instansi penegak hukum, bukan tongkrongan angkringan."

"Baik, Mbak... eh, Bu Dinda. Maaf banget, tadi saya beneran blunder," cicit Raka. Sifat keras kepala dan sarkastiknya mendadak menguap, digantikan oleh rasa malu yang luar biasa sampai rasanya ingin amblas ke dalam lantai marmer saat itu juga. *First impression* yang benar-benar hancur total.

Dinda mengembuskan napas pendek, tampaknya tidak ingin memperpanjang masalah ini karena keterbatasan waktu. "Ikut saya. Kepala seksi sudah bilang kalau hari ini ada anak magang yang dititipkan ke meja saya. Nggak menyangka kalau orangnya sekasual ini."

Raka hanya bisa mengekor di belakang Dinda dengan kepala tertunduk, merutuki kebodohannya sendiri sepanjang jalan menuju kubikal kerja milik Dinda.

Kubikal kerja Dinda berada di sudut ruangan yang cukup luas. Mejanya dipenuhi oleh tumpukan berkas perkara yang tingginya hampir menyamai monitor komputer lama di sana. Semuanya tertata dengan rapi berdasarkan warna map, menunjukkan betapa perfeksionisnya pemilik meja ini.

Dinda duduk di kursi kerjanya, sementara Raka berdiri di samping meja seperti seorang terdakwa yang sedang menunggu pembacaan tuntutan.

"Duduk," perintah Dinda tanpa melihat ke arah Raka. Matanya sudah kembali fokus ke layar komputer, jemarinya mengetik dengan kecepatan yang mengagumkan.

Raka segera menarik kursi plastik di dekat sana dan duduk dengan posisi se-tegak mungkin.

"Jadi, tujuan kamu magang di sini apa?" tanya Dinda tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka. Suara ketukan kibornya berhenti sejenak.

To be continued...

Lanjut membaca
Lanjut membaca