

Lucas selalu merasa dunia membencinya.
Sejak kecil, hidupnya tidak pernah memberinya apa pun selain hinaan, kelaparan, dan kesialan.
Ia tidak pernah mengenal siapa ayahnya. Tidak pernah tahu wajah ibunya. Tidak memiliki keluarga, warisan, ataupun masa depan yang bisa dibanggakan. Yang ia tahu hanyalah dirinya dibesarkan di sebuah panti asuhan tua di pinggiran Kota Eldoria, sebuah kota kecil di Kerajaan Arvandor yang berada di bagian timur Benua Naga Raya.
Di dunia ini, kekuatan menentukan segalanya.
Mereka yang memiliki bakat bela diri dihormati, begitu pun mereka yang mampu mengendalikan energi naga disanjung. Mereka yang berasal dari keluarga bangsawan hidup di atas awan.
Sedangkan Lucas?
Ia hanyalah anak yatim piatu miskin yang bahkan tidak tahu dari mana asal-usulnya.
Tidak ada seorang pun yang peduli padanya.
Seolah-olah keberadaannya hanyalah kesalahan yang terlupakan oleh dunia.
Hari itu, matahari siang bersinar terik di atas jalanan kota.
Lucas sedang mendorong gerobak berisi karung gandum menuju gudang milik pedagang kaya. Tubuhnya yang kurus dipenuhi keringat. Bajunya sudah lusuh dan penuh tambalan.
Pekerjaan itu seharusnya dilakukan oleh dua orang dewasa.
Namun demi mendapatkan beberapa koin tembaga, Lucas terpaksa melakukannya seorang diri.
"Hei! Cepat sedikit, anak sampah!"
Suara bentakan terdengar dari depan.
Seorang mandor gemuk menatapnya dengan wajah tidak sabar.
Lucas hanya mengangguk pelan, enggan menimpali.
Ia sudah terlalu sering mendengar hinaan semacam itu.
Seperti sumpah serapah anak sampah, anak buangan, anak tak berguna. Lama-kelamaan telinganya kebal juga. Atau mungkin hatinya yang sudah terlalu lelah untuk merasa sakit.
Lucas kembali mendorong gerobak itu. Tangannya gemetar. Napasnya memburu.
Namun ia terus berjalan.
Karena jika tidak bekerja, ia tidak akan makan malam ini.
Sayangnya, kesialan seolah selalu mengikuti dirinya.
Ketika melewati sebuah persimpangan jalan, sekelompok pemuda berpakaian akademi muncul dari arah depan. Mereka adalah murid Akademi Ksatria Naga.
Status mereka jauh lebih tinggi dibanding rakyat biasa.
Begitu melihat Lucas, salah satu dari mereka langsung tertawa.
"Oh? Bukankah ini Lucas si anak panti?"
"Hahaha! Benar juga!"
"Aku dengar dia kemarin gagal lagi dalam ujian energi naga."
"Tentu saja gagal. Sampah tetaplah sampah."
Mereka tertawa keras. Sementara Lucas menundukkan kepala.
Ia tidak ingin mencari masalah itu sebabnya, pria berpakaian kumuh itu memilih berlalu pergi.
Namun terkadang masalah justru datang mencarinya.
Seorang pemuda tinggi melangkah maju.
Namanya Roderick.
Dia adalah putra seorang bangsawan kecil yang terkenal suka merundung rakyat miskin.
Roderick menyeringai.
"Lucas, aku dengar kau masih bermimpi menjadi ksatria?" tanyanya dengan ekspresi penuh selidik.
Lucas tidak menjawab.
"Itu lucu."
Roderick menepuk-nepuk pipinya dengan merendahkan.
"Orang sepertimu bahkan tidak memiliki setetes pun bakat energi naga. Apa kau tidak sadar posisi dirimu?"
Teman-temannya kembali tertawa meremehkan.
Lucas hanya bisa mengepalkan tangan. Bukan karena marah. Melainkan karena malu. Karena sebagian dari perkataan itu memang benar. Sejak usia lima belas tahun, ia berulang kali mencoba membangkitkan energi naga seperti orang lain.
Namun hasilnya selalu nihil. Tubuhnya seperti batu kosong. Tidak ada reaksi.
Tidak ada bakat, apalagi masa depan.
"Tinggalkan aku." Lucas akhirnya berbicara pelan.
Suara itu justru membuat Roderick tertawa lebar.
"Lihat! Sampah ini berani membalas!" Dorongan keras tiba-tiba menghantam dada Lucas.
BUGH!
Tubuhnya terjatuh. Gerobak gandum terguling. Karung-karung berhamburan ke jalan. Dan membuat wajah Lucas membentur tanah.
Lututnya terluka, seketika darah mengalir tipis.
Para pejalan kaki hanya melihat tanpa membantu. Karena tidak ada yang ingin berurusan dengan keluarga bangsawan.
Sungguh, Lucas menggertakkan gigi dibuatnya. Sementara para perundung itu pergi sambil tertawa puas.
Ia duduk beberapa saat di atas tanah.
Menatap langit biru yang terasa begitu jauh.
"Kenapa hidupku selalu seperti ini?"
Pertanyaan itu kembali muncul.
Pertanyaan yang sudah ribuan kali ia tanyakan. Ya, meski tidak pernah ada jawaban, apalagi keajaiban. Yang ada hanya hari-hari penuh penderitaan.
***
Malam datang perlahan. Setelah menyelesaikan pekerjaannya dan menerima upah yang bahkan dipotong karena keterlambatan, Lucas berjalan pulang melewati hutan kecil di luar kota. Jalur itu lebih cepat. Meski sedikit berbahaya.
Perutnya sudah terasa lapar, lelah, bahkan pikirannya kosong.
Ia tidak tahu bahwa malam itu akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika Lucas memasuki jalan setapak di tengah hutan, suara gemerisik terdengar dari balik semak.
Ia berhenti. Jantungnya berdebar.
Beberapa sosok muncul perlahan dari kegelapan.
Tiga pria bertubuh besar. Wajah mereka dipenuhi bekas luka, mereka adalah kawanan perampok. Lucas langsung pucat.
Ia tahu dirinya tidak punya kesempatan melawan.
"Hei bocah."
Salah satu dari mereka menyeringai.
"Serahkan semua uangmu."
Lucas menggenggam kantong kecil berisi beberapa koin tembaga.
Itulah hasil kerja kerasnya seharian.
Namun nyawanya lebih penting. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkannya.
Salah satu perampok mengambil kantong itu.
Lalu membuka isinya. Ekspresinya langsung berubah kesal.
"Hanya segini?" Mata pria itu dipenuhi kemarahan.
"Dasar sampah miskin!" Tamparan keras menghantam wajah Lucas.
Ia terjatuh. Seketika dunia berputar. Belum sempat bangkit, tendangan berikutnya menghantam perutnya.
"Ugh!"
Lucas memuntahkan darah.
Ketiga perampok itu mulai menghajarnya tanpa alasan.
Bagi mereka, Lucas hanyalah pelampiasan emosi.
Tubuh Lucas berguling di tanah. Tulang rusuknya terasa seperti patah, pandangannya mulai kabur. Rasa sakit menyelimuti seluruh tubuhnya.
Ia mendengar suara tawa, hinaan, mendengar ejekan. Sama seperti sepanjang hidupnya. Tidak ada yang berubah.
Hingga akhirnya salah satu perampok mencabut pedang.
"Bunuh saja dia."
Lucas membelalak. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kematian terasa begitu dekat.
Pedang itu terangkat. Cahaya bulan memantul di bilahnya. Lucas menutup mata.
'Mungkinkah aku akan berakhir seperti ini? Sendirian? Tanpa mengetahui siapa diriku sebenarnya? Tanpa mengetahui kenapa aku dibuang ke dunia ini?'
Air mata mengalir di sudut matanya.
Dan tepat saat pedang itu hendak turun—
BRAK!
Sesuatu meledak di dalam tubuhnya. Bukan suara dari luar. Melainkan dari dalam dirinya sendiri.
Seolah ada rantai kuno yang telah terkunci selama puluhan tahun akhirnya hancur berkeping-keping. Dan itu membuat mata Lucas terbuka. Pupilnya berubah menjadi emas menyala. Detik berikutnya—
BOOOOOOM!
Gelombang kekuatan mengerikan meledak dari tubuhnya.
Tanah bahkan sampai retak. Pepohonan berguncang hebat. Langit malam berubah merah keemasan.
Ketiga perampok terpental puluhan meter sambil menjerit ketakutan.
"A-Apa itu?!"
"Wujud monster?!"
"Tidak mungkin!"
Tubuh Lucas melayang beberapa sentimeter dari tanah.
Darah di seluruh tubuhnya mendidih. Jantungnya berdetak seperti genderang perang.
Setiap sel dalam tubuhnya terasa hidup. Lebih hidup daripada sebelumnya, lebih kuat dan sempurna.
Kemudian aroma aneh mulai menyebar.
Aroma kuno, agung.
Aroma yang membuat setiap makhluk hidup merasakan dorongan untuk berlutut.
Di gunung-gunung jauh, para naga yang tertidur selama ratusan tahun tiba-tiba membuka mata.
Di kerajaan-kerajaan besar, para Penguasa Naga mendadak berdiri dari singgasana mereka.
Di istana kerajaan pusat, seorang raja berambut perak yang sedang bermeditasi mendadak membuka mata dengan ekspresi tidak percaya.
Jantungnya berdebar kencang.
"Aroma Darah Naga."
"Tidak!"
"Ini mustahil."
Karena aroma itu jauh lebih murni daripada miliknya, lebih agung, dan sempurna.
Seluruh Benua Naga Raya bergetar.
Dan di tengah hutan yang sunyi, Lucas mendengar sebuah suara tua yang bergema langsung di dalam jiwanya.
Suara itu bukan milik manusia. Bukan milik naga. Melainkan sesuatu yang jauh lebih kuno.
Sesuatu yang telah menunggu sangat lama.
"Pewaris Darah Naga Telah Bangkit."
Mata Lucas membelalak. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, dunia di sekelilingnya berubah menjadi lautan cahaya emas.