Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Varen Sang Legenda Api

Varen Sang Legenda Api

Aina | Bersambung
Jumlah kata
81.6K
Popular
250
Subscribe
77
Novel / Varen Sang Legenda Api
Varen Sang Legenda Api

Varen Sang Legenda Api

Aina| Bersambung
Jumlah Kata
81.6K
Popular
250
Subscribe
77
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurNagaKekuatan SuperSistem
"Jangan berani dekat-dekat denganku, kalau kamu tidak mau hangus terbakar jadi abu!"Varen Mahesa tahu hidupnya adalah sebuah kutukan. Sebagai cowok dingin yang menyimpan kekuatan api naga kuno, dia selalu diburu dan dipaksa bertarung di tengah hujan darah yang menewaskan banyak orang tak bersalah. Bagi Varen, jatuh cinta itu mustahil, siapa pun yang nekat mendekat pasti akan tertimpa kesialan mematikan.Sampai akhirnya, Vanessa Mahendra muncul tiba-tiba. Gadis anggun tapi judes itu masuk ke dunia Varen, dan anehnya, dia menjadi satu-satunya orang yang kebal dari kesialan maupun kobaran api naga kuno tersebut.Kini, di ambang kehancuran, kerajaan masa lalu Varen dikepung oleh musuh yang gila dan serakah. Rahasia besar dari masa lalunya mulai diburu. Di tengah pertempuran sengit ini, apakah Varen akan bangkit sebagai pahlawan yang melindungi semua orang demi hidup bahagia bersama Vanessa, ataukah ia justru menjelma menjadi monster Legenda Api yang menghancurkan segalanya?
Bab 1: Varen dan Vanessa

Sreet!

Ujung jubah hitam milik Varen Mahesa itu robek seketika saat sebuah belati bermata biru melesat cepat, sedikit lagi mengenai lehernya.

Langkah kakinya bergerak beberapa sentimeter ke kiri, memanfaatkan sempitnya di dinding gang penuh bata pinggiran kota, untuk membatasi ruang gerak musuh yang kini mengepungnya.

"Kamu kalo berani kabur dari kami. Kamu akan kami bunuh, Varen," ancam salah satu pria bertopeng besi yang memimpin pengepungan tersebut.

Tangannya memakai sarung kulit sedang menggenggam kapak ganda, dengan posisi kuda-kudanya untuk melukai Varen korbannya.

Varen hanya menatap dingin dari balik helai rambut hitamnya yang berantakan, napasnya tetap teratur tanpa ada ketakutan sedikitpun dari sorotan matanya bewarna hitam pekat.

"Kalian berisik sekali sih. Aku tidak ada waktu untuk bermain-main dengan kalian. Pergi sana!" seru Varen tanpa merasa bersalah, dengan ekspresi datar.

"Cih! Kurang ajar malah berani sekali sama kita! Penggal kepalanya! Habisi dia sekarang?!" teriaknya dengan murka.

Dua orang lelaki berbadan kekar maju bersamaan dari arah depan.

Ayunan kapak ganda itu membelah udara sekeliling angin yang semakin dingin, mereka mengincar bahu Varen.

Dengan skenario serangan mereka, bisa membuat Varen tidak bisa berkutik lagi dan akan menjadi korban mereka.

Yang dibayangkan Varen bukan manusia biasa, ia tidak mundur sama sekali bahkan maju beberapa langkah untuk mendekati musuhnya yang menghadangnya.

Varen tiba-tiba merendahkan tubuhnya hingga nyaris menyentuh tanah, membiarkan dua kapak di pegang musuhnya tiba-tiba hancur di dinding bata itu.

Dengan rencana itu, Varen langsung menghantam sikunya dengan keras tepat ke ulu hati penyerang sebelah kanan.

Bugh!

Bugh!

Lelaki itu terbatuk darah, tubuhnya langsung jatuh ke jalanan yang basah karena hujan.

Belum sempat kedua musuh ini mengambil senjata mereka, Varen langsung bergerak cepat mencengkram pergelangan tangan kedua pria itu.

Wusss!

Hawa panas itu muncul dan tidak terlihat, menjalar cepat ke telapak tangan Varen.

Udara pun berubah menjadi panas seketika, bersamaan dengan itu, gagang besi kapak yang di pegang musuh lainnya di belakang mendadak melepuh dan retak seperti terkena api yang membakarnya.

Sifat kutukan dari energi api kuno itu berkerja dengan cepat, di tubuh Varen dan menghancurkan siapa aja yang melukainya.

"Argh! Tidak.. tanganku melepuh.. panass!" pria itu menjerit histeris, berjalan mundur sambil memegang telapak tangannya yang terasa melepuh, padahal secara kasat mata tidak ada api sama sekali di tangannya.

Mereka terkejut melihat salah satu temannya, yang terlihat kesakitan dan mereka panik.

"Kita harus mundur sekarang! Pria ini monster!" teriak salah satu mereka yang ketakutan melihat semua yang tidak masuk akal baginya.

Varen berdiri tegak kembali, menepis semua debu di jubah hitamnya akibat robekan pada musuhnya, dan berjalan perlahan ke arah musuh.

"Siapa yang berani menyuruh kalian datang ke sini?" tanya Varen dengan suara datar tanpa emosi.

Pria bertopeng itu yang menjadi pemimpin itu menggeram kesal, mencoba bicara dengan tanpa rasa takut. "Kamu tidak perlu tahu siapa yang menyuruh kami. Yang jelas, kami di bayar jika kami dapat membawa kepalamu kepada mereka!"

Dengan sisa keberanian yang dimiliki pemimpin itu, ia mencoba melesat maju mengayunkan belatinya yang beracun ke arah dada Varen.

Gerakannya sangat cepat, terhitung ia adalah pembunuh bayaran elit dibayar tinggi.

Varen hanya diam menyaksikan dan mengangkat satu tangannya ke depan dada.

Tepat sebelum ujung belati musuhnya mengenai Varen, desiran angin kencang datang menusuk mereka dan suhu udara pun berubah menjadi hawa yang sangat panas.

Krakk!

Belati besi beracun itu, kini hancur berkeping-keping sebelum menyentuh Varen.

Senjata itu mendadak tidak terkendali dan tidak bisa di gerakkan sama sekali.

Sebelum pemimpin itu mencoba bertindak lagi, mencari celah membunuh Varen.

Varen membuat para pria lainnya terjatuh tidak sadarkan diri dan membuat pemimpin itu ikut terjatuh.

Gang sempit itu pun mendadak menjadi sunyi, tiga pembunuh bayaran itu dalam hitungan menit sudah tumbang.

Varen menghembuskan napasnya, masih merasakan dadanya sedikit nyeri dalam tubuh, seperti meminta sesuatu yang salah, tapi tidak ia lakukan.

Saat Varen masih fokus berdiri, tanpa bergerak.

Tiba-tiba, ada suara yang memecahkan keheningan Varen.

"Hey! Kamu itu bisa minggir tidak sih? Kamu itu menghalangiku jalan di sini!"

Muncul sebuah suara perempuan yang lembut, tapi bernada ketus dan tidak ramah sama sekali bagi Varen.

Varen langsung memutar tubuhnya ke belakang, memasang posisi siaga dengan mata menyipit tajam.

Di ujung sana, bersandar perempuan cantik, penampilannya sangat anggun dengan gaun terusan kain halus yang cantik dengan lingkungan kumuh rumahnya.

Dari tatapan matanya terlihat judes dan juga tidak mau bahas basa-basi, ia tetap bersedakap di dada dengan menatap jengkel arah Varen.

Perempuan itu bernama Vanessa Mahendra.

Varen tidak menurunkan rasa kesalnya, ia masih mengepalkan erat dengan emosi. "Siapa kamu?!"

"Tidak penting kamu tahu siapa aku," ketus Vanessa melirik tiga pria yang sudah terkapar jatuh ke tangan dengan perasaan kesal. "Aku sekarang mau lewat ke penginapan, tapi kamu tiba-tiba datang di sini membuat semua obatku jatuh semua gara-gara kalian bertarung di siang bolong. Benar-benar sangat menjengkelkan!"

Varen melirik sekilas arah keranjang dekatnya yang berguling di dekat kaki Vanessa.

Beberapa kelopak bunga yang langka, tampak hancur terinjak di tengah pertarungan. Namun, tidak membuat sifat Varen berubah menjadi baik hati.

"Cari jalan alternatif lain sana," ujar Varen dingin dengan berbalik meninggalkan tempat itu. "Jangan berani dekat-dekat denganku, kalau tidak mau hangus terbakar jadi abu!"

Vanessa mendengkus kasar, mendengar peringatan dan sebuah lelucon aneh.

"Oh, ya. Seperti itu? Hebat sekali kamu bisa membuat manusia jadi abu. Kita buktikan aja sekarang!" Vannessa dengan ramah menjawab santai.

Vanessa jalan melangkah maju, dan mendekati Varen. Sepatu bot kulitnya mengetuk permukaaan jalanan yang basah dari sisa pertarungan Varen tadi.

Varen mengepalkan tangannya kembali, ia sudah merasakan kutukan dalam tubuhnya aktif kembali, hawa panas itu meningkat dan ia tahu siapapun manusia yang berada dekat dengannya mencoba menantang seperti ini akan merasakan sesak napas dan kulitnya menjadi melepuh, bisa juga membuat terbakar menjadi abu.

Satu langkah.

Dua langkah.

Vanessa terus berjalan mendekati Varen, tanpa rasa takut sama sekali.

Varen bersiap melihat perempuan itu kesakitan atau bahkan pingsan. Namun, sampai langkahnya itu mendekati Varen tetap tidak ada sesuatu hal buruk terjadi padanya.

Vanessa berdiri tegak di hadapan Varen, menengadah kepalanya tanpa berkedip sekalipun. Kulitnya yang putih bersih tetap mulus, tanpa terluka sedikitpun oleh hawa kutukan milik Varen.

Ini pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat hal terjadi luar biasa kepada perempuan itu.

'Kenapa dia tidak terluka sekalipun dengan kutukanku ini! Siapa perempuan ini sebenarnya?!'

Varen langsung mencengkram pergelangan tangan Vanessa secara refleks, berniat memastikan apa yang ia lihat tidak salah.

Mungkin dengan kontak langsung dengan tangannya bisa membuat perempuan itu celaka. Namun, lagi-lagi keanehan terjadi, telapak tangannya malah merasakan kehangatan sebagai manusia normal lainnya.

Vanessa langsung mengerutkan alisnya dengan kebingungan, menepis tangan Varen dari pergelangan tangannya dengan gerakan kasar. "Tidak usah pegang-pegang tanganku deh! Aneh sekali kamu ini!"

Varen terkejut menatap telapak tangannya sendiri dan bergetar karena hal itu, lalu matanya menatap tajam perempuan itu dengan tajam. "Kenapa kamu tidak terluka sama sekali dekat denganku? Siapa kamu sebenarnya?"

Vanessa terdiam sejenak, dan menyunggingkan senyum tipisnya yang terpancar dari bibir kecilnya.

Kini ia menatap balik sorot mata Varen tanpa getar takut sama sekali kepadanya.

"Emangnya aku kenapa harus terluka karena mu. Aku juga tidak takut kepadamu. Varen Mahesa."

Lanjut membaca
Lanjut membaca