

"Maaf, Edward. Aku nggak bisa menikah sama kamu!"
Megantara Group, di dalam ruangan CEO.
Zee Megantara, CEO Megantara Group, yang mengenakan gaun renda hitam itu memperhatikan ekspresi dingin. Nada bicaranya juga terkesan acuh tak acuh.
Di depannya, duduk seorang pria tampan dengan pakaian sederhana.
Edward tercengang. "Zee, apa maksud kamu? Bukannya kita udah sepakat?"
Padahal mereka sudah berjanji sebelumnya. Di hari Megantara Group terdaftar sebagai perusahaan tercatat, mereka akan mengakhiri masa pacaran selama tiga tahun mereka dan resmi memasuki jenjang pernikahan.
"Apa pun yang terjadi, kita juga pernah bersama, jadi aku akan berterus terang."
Zee merapikan rambutnya yang menjuntai keluar di telinganya. Lehernya terlihat begitu indah dan wajahnya juga terlihat sangat cantik, setiap gerakannya memancarkan seanggunan seorang wanita cantik.
"Edward, apa kamu nggak merasa kesenjangan di antara kita terlalu besar sekarang?" tanya Zee. "Ibarat langit dan bumi. Kalau kita terus memaksakan diri buat bersama, nggak akan ada gunanya bagi kamu. Kamu hanya akan menjadi beban buat aku!"
Beban?
Edward tertegun. Dia tidak menyangka Zee akan mengucapkan kata-kata menyakitkan seperti itu.
Jika bukan karena Edward, keluarga Megantara pasti sudah hancur. Apa perusahaan mereka masih akan tercatat seperti yang terjadi hari ini?
Prestasi yang dicapai Zee saat ini semuanya juga berkat bantuan Edward. Namun, Edward sama sekali tidak menyangka, setelah Zee menjadi kaya, dia malah dibenci dan dianggap sebagai beban.
"Aku tau, kamu sulit menerima keputusan ini," ucap Zee. "Gini aja, anggap aja aku berutang sama kamu. Setelah pernikahan ini dibatalkan, aku akan memberikan kamu kompensasi sebuah villa dan juga sebuah mobil mewah. Aku rasa semua ini udah cukup bagi kamu buat menjadi hidup dengan layak!" lanjut Zee sembari mengeluarkan pulpen dan cek dari tas mahalnya.
Edward diam-diam menatapnya. Wanita itu menandatangani cek sebesar 15 miliar. Untuk sesaat, Edward merasa begitu asing dengan wanita di depannya.
"Apa hubungan kita yang udah terjalin selama bertahun-tahun ini hanya bernilai beberapa angka di mata kamu?" tanya Edward.
Ada emosi rumit yang muncul di wajah Zee, tetapi hanya sesaat dan segera tergantikan oleh ekspresi dingin.
"Kalau kamu merasa nominal ini terlalu sedikit, aku bisa menambahkannya sampai kamu puas!" jawab Zee santai.
Edward memandangnya lekat-lekat, ada rasa perih di matanya. "Sepertinya kamu udah bertekad buat membatalkan pernikahan ini?"
Zee mengerucutkan bibir merahnya yang basah dan menoleh keluar jendela. "Kalau kamu bersikeras memahaminya seperti itu, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa lagi."
Kini, Zee adalah seorang CEO triliuner dan juga wanita idaman yang dikagumi banyak orang di Aviara.
Sebaliknya, dilihat dari sudut pandang mana pun, Edward sama sekali tidak cocok dengannya. Bahkan, pria itu juga tidak berada pada level yang sama dengan Zee.
Pernikahan seperti ini bukanlah yang diinginkan Zee, karena terlalu biasa-biasa saja. Dia ingin pernikahan yang mewah.
"Nggak aku sangka, hubungan yang udah terjalin begitu lama ini, berbagai kenangan manis yang nggak terhitung jumlahnya, segala lika-liku yang kita hadapi bersama, pada akhirnya aku masih aja kalah karena biasa-biasa aja," ucap Edward. "Benar, kamu sekarang adalah CEO Megantara Group, wanita terkenal di Aviara dan punya banyak pengagum. Sedangkan aku, hanyalah laki-laki biasa. Jadi, tentu aja nggak layak buat CEO cantik kayak kamu!" lanjut Edward menertawakan dirinya sendiri, dia merasa putus asa.
Zee mengerutkan kening dan menatapnya. "Edward, aku akui, kamu udah banyak melakukan buat aku, tapi ini bukanlah yang aku inginkan ..."
"Lupakan aja. Aku tau nggak peduli seberapa banyak pun aku bicara, kamu nggak memahami perasaan aku. Ambillah uang ini, anggaplah sebagai bayaran kerja keras kamu selama ini," ucap Zee sambil menyodorkan cek itu kepada Edward.
Sayangnya, Edward tidak berniat melihatnya sama sekali. "Lima belas miliar buat biaya putus. Zee, kamu sungguh bermurah hati. Tapi sayangnya, aku nggak membutuhkannya!"
Setelah mengatakan hal itu, Edward berdiri dari duduknya dan langsung pergi.
Melihat Edward pergi begitu saja, Zee semakin mengerutkan keningnya. Nada bicaranya juga berubah serius.
"Edward, sebaliknya kamu terima uang ini. Jangan hanya karena takut kehilangan rasa hormat dan harga diri, kamu malah bertindak seperti orang bodoh! Pernahkah kamu membayangkan mendapatkan uang sebanyak ini? Mustahil dokter kecil seperti kamu memperolehnya dalam hidup ini!"
Edward sama sekali tidak menggubrisnya. Lima belas miliar, terus terang saja, dia sama sekali tidak membutuhkan uang itu.
"Tunggu sebentar!"
Tepat di saat ini, seorang wanita dengan riasan tebal yang kurang pantas dan juga dibalut perhiasan emas mendorong pintu hingga terbuka dan masuk.
Melihat sosok itu, Edward segera memanggil. "Bibi!"
Yang muncul bukanlah orang lain, melainkan Raina Winarto, calon ibu mertuanya Edward.
"Hah! Bibi apanya? Jangan memanggilku seperti itu!" jawab Raina. "Sebelum kamu pergi, bawa semua barang-barang kamu keluar. Villa keluarga Megantara kamu nggak akan menampung sampah-sampah milik kamu!"
Raina mendengus dingin. Dia mengeluarkan sebuah kotak dan kartu bank dari tasnya, lalu melemparkannya pada Edward.
Ekspresi lembut yang barusan muncul di wajah Edward, seketika tergantikan oleh ekspresi dingin.
Itu adalah cincin berlian pertunangan dan juga mahar yang dia persiapkan dengan sepenuh hati untuk Zee.
Sekali pun kedua belah pihak tidak mencapai kesepakatan, juga tidak perlu menyakiti perasaannya seperti itu.
"Bahkan Bibi pun bersikap seperti ini? Aku ingin tau, apakah aku pernah bersikap nggak sopan sama Bibi sebelumnya?"
Raina tersenyum sinis, nada suaranya begitu tajam. "Kenapa, Edward? Aku udah menyentuh luka dalam hati kamu?"
Zee mengerutkan kening dan berteriak, "Bu, jangan bicara lagi!"
Sayangnya, Raina semakin memanfaatkan situasi tersebut. "Cuihh! Kenapa aku nggak boleh bicara? Dia itu bagaikan pungguk merindukan bulan. Dia kira udah bisa mengandalkan keluarga Megantara kita. Huh, Jangan bermimpi!"
"Oh ya, Edward. Aku lupa memberitahu kamu satu hal lagi. CEO kami, Zee, akan segera bertunangan dengan putra sulung keluarga Christian. Sekarang kami hanya tinggal menunggunya kembali dari luar negeri."
"Kamu tau nggak, kesenjangan di antara kamu dengan putra sulung Keluarga Christian itu bagaikan langit dan bumi?"
Berbicara sampai di sini, wajah Raina penuh dengan kesombongan dan sarkasme.
Saat pandangan Edward tertuju pada Zee, ada kilatan dingin yang muncul di mata pria itu.
Padahal, pernikahan mereka masih belum dibatalkan, tetapi Zee sudah bersiap mencari penggantinya. Bagaimana wanita ini tega melakukan hal seperti itu?
Menghadapi tatapan dingin Edward, Zee reflek menghindarinya. Namun, kata-katanya begitu tegas.
"Keluarga Christian termasuk keluarga besar di Aviara. Mereka punya pengaruh besar dalam dunia militer, politik dan bisnis. Kerja keras di dalam beberapa generasi mereka telah menjadikan mereka salah satu keluarga yang paling berkuasa di Aviara."
"Putra sulung keluarga Christian kelak pasti akan menjadi kepala keluarga mereka, asalkan Zee menikah dengannya. Megantara Group tentunya akan punya kesempatan langka untuk berkembang semakin maju!"
Masalah sudah sampai di tahap seperti ini, Edward pun memilih untuk melepaskan hubungan ini dan menerima semua itu dengan lapang dada. Pria itu hanya memasang ekspresi datar.
"Benarkah? Berarti, pria miskin seperti aku ini hanya mendoakan Zee dan keluarga Megantara meraih kesuksesan dan kejayaan secepatnya."
Selesai bicara, Edward pergi tanpa menoleh ke belakang sedikit pun dan juga tanpa penyesalan apa pun.
Melihat punggung Edward yang berlalu, Zee merasakan emosi yang bercampur aduk. Dia mengira Edward yang mendengar tentang pertunangan dengan putra sulung keluarga Christian pasti akan marah besar dan memohon padanya.
Namun dari awal hingga akhir, Edward tampak begitu tenang. Bahkan, pria itu sepertinya tidak peduli sama sekali.
"Bu, apa tindakan aku tadi udah keterlaluan?" tanya Zee pada ibunya.
Raina memarahinya. "Keterlaluan? Pria miskin seperti itu berangan-angan mau menikahi kamu? Bukannya itu lebih keterlaluan namanya?"
"Zee, setelah Hendra kembali dari luar negeri dan kalian berdua bertunangan, keluarga Megantara akan punya harapan dan menjadi keluarga tingkat atas di Aviara."
"Sedangkan Edward, bukanlah siapa-siapa. Aku harap dia tahu diri kali ini dan mau bekerja sama. Kalau nggak, aku pasti akan beri pelajaran padanya!"
Zee tidak menanggapinya, tetapi hatinya terasa hampa. Seakan-akan barang yang sangat penting dalam dirinya hilang begitu saja.