Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dari Nol Sampai Viral

Dari Nol Sampai Viral

Pertiwi Dian | Bersambung
Jumlah kata
29.6K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / Dari Nol Sampai Viral
Dari Nol Sampai Viral

Dari Nol Sampai Viral

Pertiwi Dian| Bersambung
Jumlah Kata
29.6K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeKayaMengubah NasibDunia Masa Depan
Hartono Darmawan, penjual gorengan sederhana, tiba-tiba viral setelah video kesehariannya menyebar luas. Saat hidupnya mulai berubah, ia menerima pesan ancaman semua videonya harus dihapus. Kalau kamu penasaran siapa sebenarnya pria misterius itu, dan kenapa semua ini bisa terjadi pada Hartono, jangan berhenti di sini. Ikuti terus perjalanan Hartono Darmawan dari penjual gorengan biasa sampai viral karena satu keputusan kecil bisa mengubah hidupnya… atau justru menghancurkannya.
Bab 1

Namaku Hartono Darmawan.

Orang-orang di kampung memanggilku Harton, seolah nama itu sudah cukup untuk merangkum seluruh hidupku. Pendek, sederhana, dan tidak perlu dijelaskan lebih jauh.

Aku tidak pernah marah soal itu.

Karena sejak lama aku sudah terbiasa menjadi seseorang yang tidak dianggap penting.

Bukan karena aku tidak ingin diperhatikan.

Tapi karena dunia memang punya cara sendiri untuk memilih siapa yang layak dilihat, dan siapa yang cukup menjadi latar belakang.

Dan aku… selalu berada di bagian belakang itu.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik dari balik atap seng rumah-rumah sederhana di kampungku, aku sudah berdiri di samping gerobak gorengan milik ibuku.

Tanganku selalu lebih dulu menyentuh minyak panas, bau bawang, dan uap yang naik perlahan seperti napas dapur kecil kami yang tidak pernah berhenti bekerja.

"Bawangnya jangan kebanyakan, Ton. Minyak lagi mahal," suara Ibu selalu jadi pembuka hari.

"Iya, Bu."

Jawaban itu seperti kebiasaan yang tidak pernah berubah. Pendek, sederhana, tapi cukup untuk menandai bahwa hari baru telah dimulai lagi di rumah kami.

Ayahku seorang buruh bangunan.

Tubuhnya keras, punggungnya sedikit membungkuk, dan tangannya penuh bekas kerja yang tidak pernah benar-benar hilang.

Ia tidak banyak bicara.

Tapi dari caranya duduk diam setelah pulang kerja, aku bisa membaca banyak hal yang tidak pernah ia ucapkan: lelah, beban, dan sesuatu yang mirip harapan yang perlahan menipis tapi tidak pernah benar-benar mati.

Di rumah kami, tidak ada pembicaraan tentang masa depan yang besar.

Yang ada hanya satu hal: bagaimana caranya bertahan sampai hari esok datang lagi.

Gerobak kami berdiri di pinggir jalan kecil yang menghubungkan pasar dan perumahan sederhana.

Jalan itu tidak pernah benar-benar sepi.

Tapi juga tidak pernah benar-benar ramai.

Seperti hidup kami berada di antara terlihat dan tidak terlihat.

Orang-orang lewat setiap hari.

Motor, sepeda, langkah kaki.

Dan di antara semua itu, kami hanya bagian kecil yang dilewati tanpa benar-benar disadari.

Kadang ada yang berhenti membeli.

Kadang hanya lewat.

Kadang ada yang mengenaliku.

"Harton masih di sini saja?"

"Belum dapat kerja yang lebih bagus?"

Kalimat itu tidak pernah disampaikan dengan kasar.

Justru itu yang membuatnya terasa lebih dalam.

Karena sering kali, hal yang paling menyakitkan bukan yang keras.

Tapi yang terdengar seperti sudah menjadi kesimpulan hidup.

Aku hanya tersenyum setiap kali itu terjadi.

Bukan karena kuat.

Tapi karena tidak tahu cara lain untuk menjawab sesuatu yang perlahan membuatku mempertanyakan diriku sendiri.

Di sela waktu menunggu pelanggan, aku duduk di bangku plastik kecil di dekat gerobak.

Di tanganku selalu ada ponsel lama dengan layar retak di sudut kanan atas.

Retaknya seperti garis yang tidak selesai diperbaiki, seperti hidup yang selalu berhenti di tengah jalan tanpa penjelasan.

Ponsel itu sering panas.

Kadang mati sendiri.

Kadang butuh waktu lama hanya untuk menyala.

Tapi tetap saja aku pakai.

Karena di dalam benda itu, aku bisa melihat dunia yang tidak pernah benar-benar kumiliki.

Aku sering membuka media sosial.

Melihat orang-orang membuat video.

Ada yang memasak.

Ada yang bercerita tentang hidupnya.

Ada yang hanya merekam hal sederhana hujan, jalan kosong, suara tawa, atau wajah mereka sendiri yang lelah.

Dan semuanya ditonton.

Diberi komentar.

Diberi perhatian.

Aku menonton semuanya dalam diam.

Bukan iri.

Lebih seperti rasa ingin tahu yang tidak punya arah pulang.

Kenapa hidup orang lain bisa menjadi cerita yang layak dilihat?

Sedangkan hidupku sendiri terasa seperti tidak pernah cukup penting untuk dimulai sebagai cerita?

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar hilang.

Ia hanya bersembunyi di antara pikiranku, menunggu saat aku lelah.

Suatu siang, saat panas terasa lebih lambat dari biasanya dan pelanggan mulai berkurang, aku memegang ponsel itu lebih lama dari biasanya.

Aku tidak tahu apa yang membuatku melakukannya.

Mungkin bosan.

Mungkin lelah.

Atau mungkin ada sesuatu di dalam diriku yang diam-diam ingin mencoba dilihat.

Aku mengarahkan kamera ke gerobak.

Tanganku sedikit ragu.

Seolah aku sedang melakukan sesuatu yang tidak pantas.

"Ini gorengan buatan Ibu…"

Aku berhenti.

Suaraku terdengar asing, seperti bukan milikku sendiri.

Aku menghapus video itu.

Menghela napas.

Mencoba lagi.

Dan lagi.

Setiap kali mencoba, selalu ada rasa canggung yang tidak bisa dijelaskan.

Seolah aku sedang berdiri di antara dua dunia, dunia yang aku jalani, dan dunia yang sedang aku coba masuki tanpa petunjuk.

Sampai akhirnya aku berhenti memikirkan bagaimana seharusnya terlihat.

Aku hanya merekam.

Tangan Ibu yang mengaduk adonan dengan sabar.

Minyak yang mulai bergetar pelan, seperti hidup kecil yang sedang bangun.

Gorengan yang masuk ke wajan.

Suara kecil yang muncul seperti bisikan kehidupan sehari-hari.

Warna keemasan yang perlahan terbentuk, sederhana tapi nyata.

Tidak ada musik.

Tidak ada narasi.

Tidak ada niat untuk menjadi menarik.

Hanya kehidupan yang berjalan sebagaimana adanya.

Aku mengeditnya dengan aplikasi gratis yang bahkan tidak sepenuhnya kupahami.

Lalu mengunggahnya.

Tanpa harapan.

Tanpa rencana.

Tanpa bayangan bahwa sesuatu akan berubah.

Setelah itu, aku hanya meletakkan ponsel di sampingku.

Seolah dunia di dalam layar itu bukan lagi urusanku.

Dunia tetap berjalan seperti biasa.

Orang-orang tetap lewat.

Angin tetap bergerak.

Dan aku tetap menjadi Hartono yang tidak pernah dilihat lebih dari sekadar latar.

Hingga malam datang.

Saat semua orang sudah tidur, aku membuka ponsel lagi.

Awalnya biasa saja.

Tidak ada yang berbeda.

Lalu angka itu bergerak.

Pelan.

Kemudian lebih cepat.

Seperti sesuatu yang tiba-tiba menemukan jalannya sendiri.

100.

101.

102.

1.500.

Aku duduk perlahan di tepi ranjang.

Tanganku mulai dingin tanpa alasan yang jelas.

"Ini pasti salah…"

Tapi angka itu tidak berhenti.

Ia terus naik.

Seperti seseorang yang terus mendorongnya dari belakang.

Aku membuka komentar.

Satu per satu.

Dan setiap kalimat terasa seperti hal kecil yang tidak pernah kudapatkan sebelumnya.

"Hangat banget videonya."

"Jadi kangen rumah."

"Sederhana tapi bikin tenang."

Aku membaca pelan.

Bukan karena lambat.

Tapi karena takut kalau aku membaca terlalu cepat, semua ini akan menghilang.

Aku tidak tahu harus menyebut perasaan itu apa.

Tapi ada sesuatu di dalam dadaku yang bergerak pelan.

Bukan bahagia sepenuhnya.

Bukan takut sepenuhnya.

Lebih seperti keduanya bercampur tanpa nama.

Lalu notifikasi itu muncul.

Sebuah akun besar membagikan ulang videoku.

Aku membuka profilnya dengan tangan sedikit gemetar.

Ratusan ribu pengikut.

Aku tidak mengenalnya.

Tidak pernah melihatnya.

Tidak pernah mengira hidupku bisa sampai ke sana.

Namun dalam hitungan menit, sesuatu yang sebelumnya hanya milikku…

mulai menyebar keluar tanpa izin.

Angka penonton melonjak tanpa kendali.

Seperti pintu yang terbuka sendiri, dan aku tidak pernah diberi kunci untuk menutupnya.

Aku berdiri.

Berjalan ke luar kamar.

Langit malam terlihat sama seperti biasa.

Tidak ada tanda bahwa hidupku baru saja berubah arah.

Bintang-bintang tetap diam.

Angin tetap pelan.

Tapi ponsel di tanganku terus bergetar.

Notifikasi datang satu demi satu.

Seperti seseorang yang mengetuk pintu hidupku tanpa henti.

Aku menatap layar itu lama sekali.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyadari sesuatu:

hal paling besar dalam hidup tidak selalu datang dengan suara keras.

Kadang ia datang pelan.

Hampir tidak terasa.

Sampai akhirnya kita sadar…

semuanya sudah berubah.

Dan saat aku masih mencoba memahami apa yang terjadi

sebuah notifikasi baru muncul di layar retak itu.

Sebuah akun lain mulai mengunggah ulang videoku.

Namun kali ini, dengan caption yang membuatku terdiam cukup lama untuk tidak bisa berkata apa pun.

Dan di detik itu juga…

aku belum tahu bahwa ini bukan awal dari keberuntungan.

Tapi awal dari sesuatu yang mengamatiku sejak lama.

Lanjut membaca
Lanjut membaca