Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
LENSA TAKDIR

LENSA TAKDIR

Zenwid | Bersambung
Jumlah kata
32.5K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / LENSA TAKDIR
LENSA TAKDIR

LENSA TAKDIR

Zenwid| Bersambung
Jumlah Kata
32.5K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeKayaCinta PertamaDetektif
"Ketika mimpi terasa lebih nyata daripada kehidupan itu sendiri." Bagi dunia, Vino Adipratama adalah definisi dari kesempurnaan. Di usia muda, ia telah memimpin kerajaan bisnis properti bernilai triliunan rupiah, mengoleksi mahakarya langka, sekaligus dikenal memiliki kemampuan analisis setingkat detektif genius. Tidak ada aset yang tidak bisa ia beli, dan tidak ada misteri yang tidak bisa ia pecahkan. Namun, kendali penuh atas hidupnya runtuh seketika saat sebuah kacamata antik misterius jatuh ke tangannya. Sejak hari itu, batas antara kenyataan dan ilusi mulai mengabur. Setiap kali memejamkan mata, Vino terlempar ke dalam penglihatan-penglihatan asing yang terasa teramat nyata. Ia merasakan kepedihan yang hebat, kemarahan yang membakar, dan potongan ingatan tragis milik seseorang yang tidak pernah ia kenal. Logika sang detektif mendadak lumpuh; ia mulai mempertanyakan kewarasannya sendiri. Di tengah badai psikologis tersebut, takdir mempertemukannya dengan Ayu—seorang wanita sederhana yang hidupnya hancur setelah kehilangan sosok paling berharga dalam hidupnya. Pertemuan yang semula tampak seperti kebetulan biasa, perlahan berubah menjadi jangkar bagi jiwa mereka yang rapuh. Bagi Vino yang selalu kesepian di puncak kejayaan, Ayu adalah ketenangan yang tulus. Bagi Ayu, Vino adalah secercah harapan di tengah keputusasaan. Namun, kedekatan mereka justru menjadi kunci pembuka kotak Pandora. Satu demi satu kepingan puzzle dari penglihatan Vino mulai menyatu, merangkai sebuah benang merah yang mengerikan. Kacamata itu tidak salah memilihnya. Rahasia kelam tentang masa lalu, konspirasi keluarga, dan jati diri Vino yang sebenarnya mulai terkelupas. Kini, Vino dihadapkan pada pilihan paling kejam dalam hidupnya. Kebenaran yang ia cari selama ini bukan hanya akan menjungkirbalikkan dunianya, tetapi juga mengancam keselamatan Ayu. Pada akhirnya, ia harus belajar bahwa bagi seseorang yang memiliki segalanya, hal yang paling berharga justru adalah hal yang paling mustahil untuk digenggam.
Vino Sang Kolektor

Sinar holografik dari papan reklame raksasa di luar jendela membiaskan cahaya neon biru dan ungu, membelah awan malam di langit megapolitan kota itu. Di dalam ruangan VVIP butik AeroLux yang kedap suara, atmosfernya justru terasa sangat tenang dan eksklusif.

"Hanya diproduksi lima unit di seluruh dunia, Tuan Vino," ucap sang Manajer Butik dengan membungkuk hormat, menyodorkan sebuah kotak beludru premium di atas meja kaca. "Perpaduan titanium generasi terbaru dan lensa adaptif cerdas. Desain paling aerodinamis yang pernah diciptakan di tahun 2045 ini."

Vino, pria muda yang mengenakan setelan jas rancangan desainer ternama, hanya tersenyum tipis. Ia mengangkat kacamata limited edition itu, memandangnya sekilas, lalu mengenakannya. Pandangan matanya langsung menyesuaikan dengan pencahayaan ruangan secara instan dan presisi.

"Luar biasa. Lensa adaptifnya bekerja dalam hitungan milidetik," gumam Vino, kepuasan seorang detektif sekaligus penggila estetika tinggi dalam dirinya langsung terpuaskan. "Aku ambil yang ini."

"Pilihan yang sangat tepat, Tuan. Untuk transaksinya..."

"Potong langsung dari dompet digital utamaku. Selesaikan dalam lima detik," potong Vino tenang. Bagi seorang konglomerat properti raksasa seperti dirinya, nominal fantastis kacamata ini tidak lebih dari sekadar angka tanpa arti di layar hologram.

"Baik, Tuan Vino. Terima kasih atas kunjungannya," Manajer Butik itu kembali membungkuk seraya menyerahkan wadah aslinya. "Ini kotaknya, Tuan. Beludru hitam pekat khusus yang dirancang menyerap cahaya."

Vino menerima kotak hitam pekat yang tampak misterius sekaligus sangat berkelas itu. "Terima kasih." Begitu kembali ke dalam kabin hypercar otonom miliknya, Vino tidak langsung menyimpan buruannya ke dalam tas atau jok belakang. Ia justru meletakkan kotak beludru hitam pekat itu tepat di atas dasbor mobilnya, tepat di bawah pantulan kaca depan yang anti-peluru.

"Ares, aktifkan mode manual. Kita berkendara santai menuju rumah," perintah Vino pada AI asisten mobilnya.

"Mode manual diaktifkan, Tuan Vino. Rute suburban elite telah disiapkan," jawab suara lembut AI dari speaker dasbor.

Mesin mobil menderu halus, membelah jalanan yang dipenuhi seliweran kendaraan otonom lainnya. Namun, di tengah perjalanan panjang menuju kawasan suburban, tenggorokan Vino tiba-tiba terasa sangat kering. Rasa haus yang mendera membuatnya menepikan mobil di depan sebuah mini market modern yang tampak agak sepi.

"Ares, kunci mobil. Jaga sistem keamanan biometrik di level tertinggi," ujar Vino sambil membuka pintu mobil.

"Dimengerti, Tuan. Sistem penguncian aktif dalam tiga, dua, satu." Klik.

Vino melangkah masuk ke dalam mini market bernuansa neon terang itu. Tanpa memedulikan pandangan kasir yang terpesona oleh auranya yang berwibawa, ia langsung berjalan mantap menuju deretan rak pendingin di bagian belakang toko. Matanya menyisir barisan botol, mencari satu varian minuman ringan rasa klasik yang selalu menjadi favoritnya sejak masa remaja.

Tepat saat jemari Vino baru saja hendak menyentuh permukaan dingin botol minuman incarannya...

BUK!

Sebuah benturan keras menghantam bahu kirinya hingga tubuh Vino terdorong cukup kuat ke arah rak besi, menimbulkan suara dentang yang nyaring.

"Hei! Kalau jalan pakai mata dong!" tegur Vino refleks. Sebagai pria berlatar belakang hukum dan terlatih sebagai detektif, tubuhnya langsung mengambil posisi siaga. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat karena kejutan tiba-tiba itu.

Namun, orang yang menabraknya sama sekali tidak menoleh ataupun meminta maaf. Orang itu berpenampilan sangat aneh: mengenakan jubah putih panjang berkerudung dari atas hingga bawah. Bahannya tampak kaku dan sangat bersih tanpa noda sedikit pun, sementara wajahnya tersembunyi di balik bayangan kerudung.

Sosok serba putih itu terus melangkah maju melewati lorong dengan ritme kaki yang sangat konstan dan tenang, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka berdua.

"Sial... Siapa orang aneh itu? Langkahnya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menabrak orang lain," gumam Vino dengan mata menyipit tajam, menatap punggung sosok misterius yang perlahan menghilang di balik pintu keluar toko.

Vino menghela napas panjang, merapikan kembali jaket mahalnya yang sedikit kusut. "Ah, sudahlah. Mungkin cuma orang linglung."

Ia mengambil botol minumannya, berjalan ke meja kasir, dan melakukan pembayaran secara kilat. "Pindai biometrikku," ucap Vino pada kasir.

"Baik, Tuan... Transaksi sukses. Terima kasih," jawab kasir itu dengan gugup melihat tatapan dingin Vino. Deru halus mesin mobil mewah Vino akhirnya mereda saat kendaraan itu memasuki area pekarangan rumah pribadinya yang sangat luas. Setelah melewati gerbang dengan sistem keamanan biometrik berlapis, Vino mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengamannya. Ia bersiap untuk turun sambil membawa botol minumannya yang sudah setengah kosong.

Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh gagang pintu mobil, pandangan mata Vino tidak sengaja jatuh ke arah dasbor di depan kemudinya.

Seketika itu juga, seluruh tubuh Vino membeku di posisinya. Aliran darahnya mendadak terasa sangat dingin, dan napasnya tertahan di tenggorokan.

Sebagai seorang detektif yang memiliki kemampuan photographic memory, ia ingat betul setiap detail elemen visual dari barang yang baru saja ia beli. Kotak beludru itu seharusnya berwarna hitam pekat yang menyerap cahaya.

Namun sekarang, benda yang tergeletak di atas dasbornya itu justru berwarna merah menyala.

"Tunggu... Ares! Nyalakan lampu kabin maksimal!" perintah Vino dengan nada suara yang mendadak meninggi dan panik.

"Lampu kabin diaktifkan pada kecerahan seratus persen,Tuan Vino."

Cahaya terang langsung menerangi setiap sudut kabin, namun kenyataan di hadapannya tidak berubah sama sekali. Kotak itu tetap berwarna merah darah, seolah-olah sedang menantang logika pengetahuannya.

"Ini mustahil..." bisik Vino dengan tatapan tidak percaya yang bercampur dengan ketakutan samar. "Ares! Apakah ada aktivitas intrusi atau sistem yang mati selama aku di dalam mini market tadi?!"

"Negatif, Tuan Vino. Sensor biometrik mendeteksi mobil terkunci rapat selama lima belas menit dan tidak ada rekam jejak pintu terbuka ataupun kaca yang ditembus."

Vino menatap kotak merah itu dengan rahang yang mengatup rapat. Otak detektifnya berputar liar mencari jawaban logis, namun semuanya menemui jalan buntu.

"Tadinya kotak ini hitam pekat... kenapa sekarang bisa berubah menjadi merah?!" tanya Vino pada keheningan kabin mobil yang mendadak terasa sangat mencekam.

Tangan Vino yang tadinya tenang kini mulai bergetar sedikit saat ia perlahan-lahan mengulurkan jemarinya, berniat menyentuh dan mengambil boks berwarna merah menyala tersebut. Apakah ini ada hubungannya dengan sosok berjubah putih di mini market tadi? Sebuah teka-teki besar dan misteri yang sangat gelap baru saja dimulai tepat di atas dasbor mobil mewahnya sendiri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca