

Namaku Paijo.
Aku lahir di sebuah desa terpencil di lereng gunung. Jalan setapak berlumpur, udara sejuk, tapi kehidupan di sana terasa sangat sempit.
Sehari-hari aku hanya turun ke sawah, memelihara ternak, dan membantu ayah yang sudah renta. Penghasilan kami pas-pasan, bahkan sering tidak cukup untuk membeli beras selama sebulan.
Orang-orang desa sering bilang aku tampan. Kulitku tidak terlalu hitam meski sering berjemur. Tubuhku tinggi dan tegap karena pekerjaan berat.
Tapi ketampanan tidak bisa membayar hutang. Tidak bisa menyembuhkan batuk ayah yang makin parah setiap malam.
Suatu sore, datang kabar dari sepupuku yang merantau ke Bali. Katanya, di sana rezeki terbuka lebar. Siapa saja yang mau berusaha bisa mengubah nasib dalam waktu singkat.
Kata-kata itu terus berputar di kepalaku.
Malam itu juga aku memutuskan pergi. Aku tidak bilang banyak, hanya mencium tangan orang tua dan berjanji akan pulang dengan membawa perubahan.
Bekalku hanya baju ganti satu stel dan uang tabungan sebesar dua ratus ribu rupiah. Itu saja sudah dikumpulkan selama setahun.
Perjalanan memakan waktu dua hari dua malam. Naik bus tua yang bergetar, berdesakan dengan penumpang lain dan barang bawaan yang menumpuk.
Saat kaki pertama kali menginjak tanah Bali, napasku terasa berbeda. Udara tidak lagi sejuk seperti di desa, melainkan hangat dan penuh bau asap kendaraan serta garam laut.
Suara riuh kendaraan, musik dari warung, dan percakapan orang asing membuat kepalaku sedikit pusing. Ini dunia yang benar-benar baru bagiku.
Aku mencari tempat menginap termurah yang kutemukan. Sebuah kamar petak sempit di pinggiran kota, tanpa jendela yang layak. Sewanya lima puluh ribu per malam.
Sisa uangku menyusut drastis. Aku sadar, aku harus segera mencari pekerjaan.
Hari-hari pertamaku dihabiskan dengan berjalan kaki keliling kota. Aku menawarkan tenaga ke mana saja: ke bengkel, warung makan, proyek bangunan.
Sebagian menolak karena kurang pengalaman. Sebagian lain hanya memberi upah sangat kecil, cukup untuk makan saja.
Selama tiga bulan aku bertahan sebagai kuli angkut barang di pasar induk. Badanku lelah setiap hari, tulang rasanya ingin copot.
Namun tabunganku tidak pernah bertambah. Malah kadang harus berhutang pada pemilik kamar.
Aku sering duduk termenung di tepi pantai saat malam. Memandangi lampu-lampu gedung mewah dan mobil-mobil berkilauan lewat di jalan raya.
Di sana terlihat kehidupan yang berbeda. Orang-orang berjalan santai tanpa memikirkan besok makan apa.
Rasa iri perlahan tumbuh di hatiku. Bukan iri yang jahat, tapi iri yang membakar semangat ingin lepas dari jerat kemiskinan.
Suatu sore, saat aku baru selesai bekerja dan duduk beristirahat di bawah pohon rindang, seseorang menghampiriku.
Dia pria berusia sekitar empat puluh tahun, berpakaian rapi dengan kemeja lengan panjang dan celana bahan. Wajahnya licin dan senyumnya terasa penuh perhitungan.
“Nak, baru di sini ya?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk singkat, tetap waspada. Orang asing yang bicara baik di kota besar biasanya punya maksud tertentu.
“Namaku Joko. Aku sering lewat sini dan melihatmu bekerja. Kamu kuat dan juga tampan. Sayang sekali hanya menghabiskan tenaga di tempat begini.”
Aku menoleh tajam. “Maksud Bapak apa? Aku cuma bisa kerja apa saja yang halal.”
Joko tertawa pelan. “Siapa bilang aku suruh kerja yang tidak halal? Aku hanya tahu jalan yang lebih cepat untuk dapat uang banyak, tanpa harus menghancurkan badan seperti ini.”
Kata-katanya membuat telingaku terasa panas. “Jalan apa itu? Kalau memang benar, aku mau coba.”
Joko mendekatkan wajahnya, suaranya menjadi lebih pelan. “Dunia ini punya banyak pintu. Ada pintu untuk orang kuat, ada pintu untuk orang pandai, dan ada juga pintu untuk orang yang punya penampilan menarik.”
Aku masih diam, mendengarkan setiap katanya dengan saksama.
“Di sini banyak wanita kaya. Punya rumah besar, usaha sukses, harta melimpah. Tapi banyak dari mereka kesepian. Suami sibuk atau sudah berpisah. Mereka butuh teman bicara, teman jalan, seseorang yang bisa memberi perhatian.”
Hatiku berdebar kencang. “Jadi tugasku apa?”
“Cukup menemani, mendengarkan, membuat mereka merasa dihargai. Sebagai gantinya, mereka akan membayarmu dengan jumlah yang tidak pernah kau dapatkan dari mengangkat karung di pasar.”
Ragu menyerang hatiku. Apa ini pekerjaan yang pantas? Tapi saat mengingat hutang, kondisi ayah, dan masa depan yang terasa macet, keraguan itu perlahan terkikis.
“Kalau aku mau mulai, apa yang harus kulakukan?” tanyaku akhirnya.
Senyum Joko melebar. Dia mengeluarkan kartu nama dari saku dan menyerahkannya padaku.
“Besok malam jam delapan, datanglah ke alamat ini. Berpakaian bersih, mandilah dengan wangi, dan bicaralah dengan nada lembut. Sisanya biar aku yang ajari.”
Dia pergi begitu saja, meninggalkanku dengan pikiran yang berputar tak karuan.
Malam itu aku tidur tidak nyenyak. Di kepala terbayang dua jalan: tetap menjadi kuli dengan nasib yang tak kunjung membaik, atau melangkah masuk ke dunia baru yang samar dan tidak pasti.
Pagi harinya aku masih bekerja seperti biasa. Tapi pikiranku sudah tidak lagi fokus pada karung beras yang kuangkat.
Aku memikirkan kata-kata Joko. Memikirkan kemungkinan hidup yang lebih layak.
Saat matahari mulai terbenam, aku mandi dengan air bersih. Mengenakan baju terbaik yang kumiliki, lalu berjalan menuju alamat yang tertera di kartu nama.
Lokasinya ada di kawasan kota yang lebih mewah. Jalanannya rapi, lampu jalan terang benderang, dan rumah-rumah besar berdiri megah.
Di sanalah aku berdiri di depan sebuah bangunan dua lantai dengan pagar besi tinggi. Jantungku berdegup sangat kencang.
Tangan gemetar saat menekan bel pintu. Suara berdenging di dalam sana. Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Joko sudah menunggu di ambang pintu. Senyumnya tetap sama, tapi kali ini terasa lebih menjanjikan.
“Selamat datang, Paijo. Mulai malam ini, hidupmu tidak akan sama lagi.”
Aku melangkah masuk. Pintu tertutup rapat di belakangku. Rasanya seperti meninggalkan dunia lama dan melangkah masuk ke lorong gelap yang ujungnya belum terlihat.
Di dalam ruangan, suasana berbeda. Ada musik lembut, udara sejuk dari AC, dan bau wangi yang menyelimuti seluruh ruangan.
Beberapa pria lain sudah ada di sana. Berpenampilan rapi, diam dan menunggu dengan sikap tenang.
“Dengarkan baik-baik,” kata Joko sambil berdiri di depan kami semua. “Di sini aturannya tegas. Kalau mau sukses, ikuti saja apa yang aku katakan. Jangan banyak tanya, jangan banyak bicara yang tidak perlu.”
Dia menjelaskan sedikit demi sedikit. Tentang cara bersikap, batas yang boleh dilalui, dan juga risiko yang mungkin datang.
“Dunia ini punya sisi terang dan gelap. Uang yang kau dapatkan melimpah, tapi persaingannya ketat. Banyak yang masuk tapi sedikit yang bisa bertahan lama.”
Aku mendengarkan dengan penuh perhatian. Di dalam hati aku sudah membuat keputusan. Apa pun risikonya, aku akan berjuang.
Malam itu aku pulang dengan kepala penuh informasi baru. Langkah kakiku terasa lebih ringan, tapi hatiku terasa berat memikul tanggung jawab baru.
Keesokan harinya, aku tidak lagi pergi ke pasar. Aku menunggu kabar dari Joko. Kabar yang akan mengantarkanku bertemu dengan wanita-wanita kaya yang menjadi penentu nasib baruku.
Dan saat kabar itu akhirnya datang, aku sadar: ini bukan lagi sekadar perubahan pekerjaan. Ini adalah lompatan besar menuju dunia baru yang penuh godaan, bahaya, dan kesempatan.
Langkah pertamaku sudah diambil. Sekarang tinggal membuktikan apakah aku bisa bertahan dan naik ke puncak, atau malah terjatuh lebih dalam dari sebelumnya.