
LELAKI PEMBAWA PETAKA
Swandanajati|Bersambung
- Jumlah kata
- 139.3K
- Popular
- 894
- Subscribe
- 163
- Jumlah kata
- 139.3K
- Popular
- 894
- Subscribe
- 163
Sinopsis
warning cerita dewasa 21+ mohon bijak memilih bacaan Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah sempurnanya, tersembunyi seorang pria yang menikmati penderitaan orang lain. Saat Andre jatuh cinta pada Salma, istri pamannya sendiri, ia memutuskan satu hal: Wanita itu harus menjadi miliknya. Apa pun caranya. Bahkan jika ia harus merusak pernikahan yang bahagia. Mengkhianati keluarganya. Dan menghancurkan hidup orang-orang yang mempercayainya. Karena Andre tidak pernah mengenal cinta. Yang ia kenal hanyalah obsesi. Dan obsesi selalu berakhir dengan petaka.
Ulasan
1 ulasan
Swandanajati
25/7/26 13:48
novel recommended bagi yang suka cerita dewasa ringan serta natural dan related dengan kehidupan sehari-hari bertema urban
Rubah di Balik Pintu Pagar
Lampu gantung kristal di ruang makan kediaman utama keluarga besar Winata memantulkan cahaya yang berkilau, sewarna dengan deretan piala dan piagam yang sengaja dipajang di dinding. Malam itu adalah malam perayaan wisuda Andre Putra Winata
Andre, pemuda berusia 23 tahun dengan setelan kemeja slim-fit yang membungkus tubuh atletisnya, duduk dengan posisi tegap namun santai.
Di dinding tembok ruangan itu pula, sebuah foto keluarga saat momen kelulusan atau wisuda Andre menjadi saksi bisu gelar Sarjana Strata Satu dan Dua yang dimilikinya dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis sebuah kampus Universitas Negeri ternama yang ada di ibukota provinsi.
Yang membuatnya spesial adalah seluruh gelar itu hanya dia tempuh dalam waktu 5 tahun saja dengan predikat Summa Cum Laude.
Di hadapan anggota keluarga besar itu, Andre adalah definisi dari anak emas. Tampan, jenius secara akademis, berbicara santun, dan selalu mengulas senyum ramah.
Namun, di balik sepasang mata elang yang tenang itu, tak ada seorangpun yang mengetahui tentang kekosongan moral yang pekat yang dimiliki anak muda itu.
Berbeda dengan kedua orang tuanya yang sangat bangga, Andre sama sekali tidak merasakan kebahagiaan atau kebanggaan. Karena baginya, pencapaian akademik ini hanyalah sebuah kalkulasi matematis yang mudah. Otak cerdasnya selalu melihat dunia hanyalah sebagai sebuah bidak catur, dan manusia di sekitarnya tak lebih dari sekadar angka-angka yang bisa dimanipulasi.
"Luar biasa kamu Andre. Di usia yang baru dua puluh tiga tahun kamu sudah mengantongi gelar S2, Pakde pikir kamu kuliah begitu lama karena malas, tapi ternyata justru sebaliknya," puji Pak Hadijaya paman Andre yang merupakan saudara tua ayahnya itu sembari menepuk bahu Andre.
"Kami semua bangga padamu Ndre," sambung Bu Marni istri pria paruh baya yang baru saja berbicara itu tak ingin ketinggalan memberikan ucapan selamat kepada satu satunya anak kemenakan yang mereka miliki.
Andre hanya menanggapinya dengan tersenyum dan mengangguk sopan saja.
"Ini semua berkat doa seluruh keluarga juga, Pakde... Bude."
Munafik. Satu kata itu menggema di dalam benak Andre sendiri. Dia tahu betul bahwa keberhasilannya tidak ada hubungannya dengan doa.
Keberhasilannya adalah hasil dari kecerdasan dinginnya sendiri disertai ambisi tanpa batas, dan satu rahasia besar yang diwariskan oleh kakek dari pihak ibunya yaitu aliran energi spiritual yang mengalir di dalam darahnya.
Di seberang meja, Anto yang duduk berdampingan dengan Salma istrinya dan kebetulan sedang pulang kampung karena libur panjang dari pekerjaannya itu ikut tersenyum bangga.
Anto sendiri merupakan kakak sepupu Andre anak sulung Pak Hadijaya adalah seorang eksekutif muda yang cukup sukses bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan di Jakarta.
Dengan jam tangan mewah yang sengaja dipamerkan setiap kali dia mengambil makanan di piringnya, Anto memandang Andre dengan tatapan yang menyembunyikan rasa tidak nyaman.
Sebagai pria yang selama ini dianggap paling sukses di generasi muda keluarga bermarga Winata itu, Anto merasakan malam ini dirinya seperti sedang terancam oleh adik sepupunya yang baru saja menyelesaikannya pendidikan perguruan tinggi itu.
Anto kemudian berdehem keras, sengaja memotong pembicaraan.
"Hebat memang, Ndre. Lulus S2 cepat sekali. Tapi... sebagai kakak yang sudah makan asam garam di Jakarta, Mas cuma mau mengingatkan. Dunia nyata di ibu kota itu keras. Teori di atas kertas kampus gak bakal kepake kalau kamu gak punya jaringan dan mental lapangan. Di umur dua puluh tiga, kamu masih terlalu hijau."
Suasana meja makan sempat hening sesaat. Sifat arogan Anto mulai keluar.
Di sebelah Anto, istrinya, Salma (27 tahun), tampak tidak nyaman dengan ucapan suaminya. Salma malam itu terlihat sangat anggun dengan gaun terusan berwarna biru dongker. Penampilan wanita itu bahkan sukses membuat Andre hampir selalu tersita perhatiannya demi sekedar curi curi pandang terhadap wanita yang sudah dinikahi Anto selama dua tahun ini.
Bahkan Andre yang memiliki sedikit keistimewaan berupa warisan ilmu kejayaan dari kakeknya itu bisa melihat dan menyimpulkan dengan jelas pada istri sepupunya itu.
Adanya garis-garis kerentanan di wajah Salma. Aura wanita itu memancarkan kejenuhan, kesepian, dan ruang kosong di hatinya yang tampaknya sudah lama tidak disentuh oleh perhatian tulus suaminya yang gila kerja.
Andre tidak tersinggung oleh ucapan Anto. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat tipis. Pria sombong ini baru saja menunjukkan kelemahannya, begitulah apa yang dikatakan pikiran Andre.
"Mas Anto benar," jawab Andre dengan suara bariton yang berat, rendah, dan sangat tenang.
"Saya memang masih butuh banyak belajar dari Mas Anto yang sudah mapan di Jakarta."
Mendengar respons Andre yang merendah, ego Anto langsung melambung tinggi. Dia merasa menang. Dan di sinilah, Anto melakukan blunder terbesar yang akan dia sesali seumur hidupnya.
"Begini saja," ujar Anto dengan nada pelindung yang tinggi, seolah dia adalah pahlawan.
"Daripada kamu pusing cari kerja dari nol atau luntang-lantung gak jelas di kampung kecil ini, kamu ikut Mas ke Jakarta besok. Mas punya banyak koneksi di sana, atau kamu bisa bantu di perusahaan Mas dulu untuk magang. Soal tempat tinggal, sementara belum dapat kosan yang pas, kamu tinggal saja di rumah Mas sama Salma."
Salma menoleh cepat, terkejut dengan keputusan impulsif suaminya.
"Mas, tapi..?"
"Gak apa-apa, Sayang," potong Anto, menepuk tangan Salma dengan santai.
"Kebetulan rumah kita besar, dan Mas kan sering dinas luar kota dalam minggu-minggu ini. Jadi kalau ada Andre, rumah gak sepi-sepi amat. Kamu juga ada temannya di rumah kalau Mas lagi ke luar pulau. Sementara Andre bisa fokus cari kerja tanpa mikirin biaya sewa rumah."
Baku skakmat, batin Andre menyeringai. Rubah itu tidak perlu bersusah payah mencari jalan masuk, karena sang pemilik rumah sendiri yang membukakan pintu pagar dan menyerahkan kuncinya.
"Wah, apa nantinya tidak merepotkan Mbak Salma, Mas?" tanya Andre, berpura-pura sungkan, matanya beralih menatap Salma.
"Sama sekali tidak, Ndre. Ya kan, Salma?" jawab Anto telanjur jemawa.
Salma memandang Andre. Dan tepat di detik itu, Andre mengunci pandangan wanita berusia 27 tahun tersebut.
Andre menarik napas dalam, memusatkan hawa hangat di dadanya, lalu menyalurkannya melalui binar matanya ilmu pengasihan tingkat tinggi warisan kakeknya yang langsung menembus ke dalam relung hati terdalam Salma.
Seketika itu juga Salma merasakan udara di sekitar mereka itu seolah menjadi berdesir aneh.
Bahkan ketika mata mereka kembali beradu setelahnya, Salma tiba-tiba merasakan sensasi aneh seperti tersengat listrik tegangan rendah.
Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Tatapan mata Andre yang berusia 23 tahun itu tidak terasa seperti tatapan seorang adik sepupu, melainkan tatapan seorang pria dewasa yang sedang menelanjangi seluruh rahasia terdalam di batinnya.
Salma merasa ngeri, namun di saat yang sama, ada rasa bergejolak yang aneh dan mendalam di perut bagian bawahnya.
"T-tentu saja, Andre. Kamu boleh tinggal di rumah kami," ucap Salma terbata-bata, mencoba memutus kontak mata karena wajahnya mendadak terasa panas.
Anto tertawa puas, merasa telah menjadi kepala keluarga yang murah hati dan berkuasa, sama sekali tidak menyadari bahwa di bawah meja makan, tangan Andre sedang mengepal perlahan, merasakan sensasi kemenangan dini.
Diam diam di dalam hatinya itu Andre sedang memintal sebuah rencana, keputusannya untuk pergi ke Jakarta bukan lagi sekadar mencari pekerjaan.
Menghancurkan kesombongan Anto dan mencicipi setiap jengkal milik kakak sepupunya itu akan menjadi permainan barunya yang paling menyenangkan dalam rencana yang dipikirkannya itu.
Daftar bab
115 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
115 bab








