Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Legenda Kaisar Es.

Legenda Kaisar Es.

Klan_Qing | Bersambung
Jumlah kata
39.4K
Popular
302
Subscribe
27
Novel / Legenda Kaisar Es.
Legenda Kaisar Es.

Legenda Kaisar Es.

Klan_Qing| Bersambung
Jumlah Kata
39.4K
Popular
302
Subscribe
27
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurBalas DendamKultivasiDewa Perang
Follow ig: novelfantasi2026 Pada usia 5 tahun, Tulang Raja Es miliknya dirampas dan diperlakukan seperti sampah oleh Klan Kusuma. Namun takdir memberinya Warisan Tulang Dewa Es, kekuatan yang menentang Langit. Kini Elang Kusuma kembali untuk membalas pengkhianatan mereka. Sekaligus mengungkapkan alasan dia dibuang orang tua kandungnya.
Bab 01. Awal

Malam itu hujan turun deras di Pegunungan tempat Klan Kusuma berdiri.

Traakk Traakk...

Petir menyambar langit dan menerangi sebuah Aula yang megah.

Di dalam Aula itu, puluhan Tetua Klan berkumpul dengan wajah serius.

Tidak ada senyuman ataupun keraguan.

Yang ada hanya keserakahan.

Di tengah Aula, seorang bocah berusia 5 tahun sedang diikat pada sebuah altar batu dingin.

Tubuh kecilnya gemetar dan air mata membasahi pipinya.

"Te-Tetua... Sakit..." ucapnya dengan suara bergetar.

Bocah itu adalah Elang Kusuma.

Anak pungut Ketua Klan Kusuma.

Sejak ditemukan 5 tahun lalu di kaki Gunung bersalju, Elang dibesarkan langsung oleh Ketua Klan.

Meskipun tidak memiliki hubungan darah, Ketua Klan selalu memperlakukannya seperti cucu sendiri.

Namun hari ini, tidak ada seorang pun yang melindunginya.

Ketua Klan sedang pergi jauh dan tidak pernah kembali hingga sekarang.

Dia meninggalkan Klan untuk mencari ramuan untuk menyempurnakan tubuh Elang.

Namun kepergiannya itu menjadi kesempatan yang ditunggu-tunggu para Tetua Klan.

Di sisi Altar, seorang anak laki-laki lain berusia 5 tahun juga berdiri di sana.

Dia adalah Aksa Kusuma.

Cucu Tetua Tertinggi.

Yang juga Tuan Muda yang paling disukai seluruh Klan.

"Apakah benar Tulang Raja Es itu akan menjadi milikku, Kek?" tanya Aksa menatap kakeknya.

"Tentu saja." Tetua Tertinggi mengangguk.

"Namun itu milik Elang, Kek," ucap Aksa.

"Miliknya? Kenapa harta sebesar itu harus dimiliki anak pungut? Dia bahkan tidak memiliki darah Klan Kusuma."

Tetua lain tertawa kecil.

Mata para Tetua juga dipenuhi keserakahan.

Beberapa tahun yang lalu, mereka menemukan sesuatu yang menggemparkan.

Di dalam tubuh Elang itu ternyata ada Tulang Raja Es.

Warisan langka yang hanya muncul sekali dalam ribuan tahun.

Pemiliknya bisa mengendalikan Elemen Es dengan bakat yang menentang langit.

Jika dia tumbuh dewasa, Elang akan menjadi ahli terkuat yang pernah dimiliki Klan Kusuma.

Namun, justru karena itulah para Tetua takut.

Mereka tidak ingin anak pungut menjadi lebih hebat dari keturunan utama mereka.

Dan mereka juga ingin Aksa yang menjadi Ketua Klan di masa depan.

Akhirnya, mereka membuat keputusan yang kejam. Yaitu merampas semuanya dari Elang.

Elang menatap para Tetua dengan mata penuh ketakutan.

"Aku ingin Ayah. Di mana Ayah? Aku takut," ucapnya menangis.

Mendengar itu, salah satu Tetua mendengus. "Diam. Kau tidak berhak memanggil Ketua Klan seperti itu," bentaknya.

Elang semakin menangis.

Tubuh kecilnya berusaha meronta.

Namun tali yang mengikatnya terlalu kuat.

"Tolong... tolong jangan sakiti Elang..." jeritnya.

Tapi tidak seorang pun yang peduli padanya.

Tetua Tertinggi melangkah maju dengan pisau kristal dingin di tangannya.

Semua Tetua pun menahan napas dan menunggu dengan tidak sabaran.

Pisau itu pun diarahkan ke dada Elang dan bocah kecil itu membelalakkan mata.

"Tidak... Tidak... Sakit..." jerit Elang menahan rasa sakit.

Namun Tetua Tertinggi mengabaikannya dan sayatan pertama dilakukan.

"Aaaaargh..." Jeritan memilukan mengguncang Aula.

Darah langsung mengalir dari dada kecilnya dan tubuh Elang kejang-kejang.

Air mata dan darah bercampur menjadi satu.

Tetapi para Tetua hanya menyaksikan dengan dingin.

Mereka seperti sedang melihat seekor hewan yang disembelih.

Pisau itu terus bergerak dan membuka dada bocah 5 tahun itu sedikit demi sedikit.

"Aaaargh... Sakit!"

"Ayah! Tolong aku, Ayah!"

Jeritan itu terdengar menyayat hati.

Namun tak ada belas kasihan.

Tetua Tertinggi memperdalam sayatan dan Energi Es yang luar biasa muncul dari tubuh Elang.

Seluruh Aula langsung dipenuhi hawa dingin.

Kristal-kristal Es mulai terbentuk di lantai.

"Itu dia. Tulang Raja Es."

"Benar-benar nyata."

Mata para Tetua berbinar.

Mereka menatap dengan rakus.

Di dalam dada Elang itu sebuah tulang bercahaya biru keperakan.

Tulang itu memancarkan aura kuno yang menakutkan.

Tubuh Elang mulai melemah, wajahnya pucat dan nafasnya mulai tersengal.

Namun Tetua Tertinggi menarik tulang itu keluar dengan paksa.

"Aaaargh..."

Jeritan terakhir Elang terdengar seperti ratapan putus asa.

Tubuh kecilnya melengkung, pembuluh darahnya pecah, darah muncrat ke Altar dan semuanya kembali hening.

Tulang Raja Es telah terlepas dan aura dingin yang memenuhi Aula juga menghilang.

Sedangkan Elang terkulai lemas dan matanya hampir kehilangan cahaya.

Sementara itu, para Tetua tersenyum puas.

Mereka berhasil.

Mereka benar-benar berhasil.

"Bersiaplah, Aksa."

Ucap Tetua Tertinggi menatap cucunya.

Tetua Tertinggi pun memindahkan Tulang Raja Es ke tubuh Aksa.

Proses itu jauh lebih mudah.

Begitu tulang tersebut menyatu, hawa dingin langsung meledak dari tubuh Aksa.

Angin Es berputar memenuhi Aula dan kristal-kristal Es bermunculan di mana-mana.

"Berhasil. Hahahaha!"

"Benar-benar berhasil!"

"Aksa akan menjadi kebanggaan Klan Kusuma!"

Para Tetua tertawa bahagia.

Aksa merasakan kekuatan baru mengalir dalam tubuhnya.

Bocah itu mengepalkan tangannya dan lapisan Es langsung terbentuk di sekitarnya.

"Aku kuat. Aku benar-benar kuat!" teriaknya kegirangan.

Tidak ada seorang pun yang memperhatikan Elang.

Sedangkan bocah kecil itu masih terbaring di atas altar.

Hidupnya seperti ikut dirampas bersama Tulang Raja Es.

Tetua Tertinggi meliriknya sekilas.

"Lemparkan dia ke halaman belakang. Jika dia mati, maka biarkan saja. Kalau dia hidup, jadikan saja pelayan," perintahnya dingin.

"Baik Tetua Tertinggi."

Dua penjaga langsung mengangkat tubuh Elang dan membawanya seperti sampah.

Tidak ada penghormatan ataupun rasa bersalah.

Yang tersisa hanyalah jejak darah di atas altar batu.

Sejak malam itu, takdir Elang Kusuma telah berubah selamanya.

*******

10 tahun kemudian.

Mentari pagi menyinari halaman belakang Klan Kusuma.

Di sana, seorang pemuda kurus sedang membawa tumpukan kayu bakar di punggungnya.

Pakaiannya lusuh, tangannya penuh luka dan dia terlihat sangat kelelahan.

Pemuda itu tidak lain adalah Elang Kusuma.

Saat ini Elang sudah berusia 15 tahun.

Sudah 10 tahun berlalu sejak malam di mana Tulang Raja Es dirampas darinya.

Sejak saat itu, hidupnya berubah menjadi neraka.

Sejak Ketua Klan tidak pernah kembali, statusnya sebagai Tuan Muda tidak lagi berarti.

Banyak yang mengatakan Ketua Kusuma sudah meninggal.

Ada yang mengatakan dia terjebak di wilayah terlarang.

Dan ada juga yang mengatakan dia di penjara Klan besar.

Namun tidak ada satu pun yang tahu kebenarannya.

Yang jelas, satu-satunya orang yang melindungi Elang telah menghilang.

Dan setelah itu, para Tetua menunjukkan wajah asli mereka.

Elang dipaksa bekerja setiap hari, mengangkat kayu, membersihkan kandang, mencuci pakaian, menyapu halaman, dan melakukan pekerjaan yang bahkan tidak ingin dilakukan para pelayan.

"Hei, Sampah!"

Sebuah batu melayang dan menghantam kepala Elang.

Bugh...

Elang terhuyung dan darah mengalir dari pelipisnya.

"Lihat dia."

"Anak pungut itu masih hidup."

"Benar-benar seperti kecoak."

"Hahaha!"

Di kejauhan, beberapa murid Klan menatapnya dan tertawa.

Namun Elang diam dan hanya menundukkan kepala.

Bukan karena takut.

Melainkan karena sudah terbiasa.

Selama 10 tahun terakhir, penghinaan seperti ini terjadi setiap hari.

Jika melawan dia dipukuli.

Jika membalas dia dihukum.

Jika mengadu tidak ada yang peduli.

Hal itu membuatnya hanya bisa menahan semuanya.

Elang kemudian bangkit dan melanjutkan langkahnya.

Namun seseorang tiba-tiba menghalangi jalannya.

Seorang pemuda berpakaian mewah dengan aura dingin yang menyelimutinya.

"Tuan Muda Aksa."

Saat melihat pemuda itu, para Murid langsung membungkuk hormat padanya.

Yang mana pemuda itu adalah Aksa Kusuma.

Nama itu langsung membuat tatapan Elang berubah dingin.

Meski sudah 10 tahun berlalu, dia tidak pernah melupakan malam itu.

Dia masih mengingat rasa sakit saat dadanya dibelah.

Dia masih mengingat ekspresi wajah para Tetua saat itu.

Dan dia masih mengingat bocah yang menerima Tulang Raja Es miliknya.

"Dasar sampah! Berani sekali menghalangi jalanku!"

Bomm!

Aksa meraung dan menendang Elang.

Padahal dialah yang menghalangi jalan Elang.

Namun sebagai Tuan Muda, dia sangat suka menindas Elang seperti itu.

Bugh...

Elang yang ditendang pun terlempar dan jatuh dengan keras.

Pffttt...

Pemuda 15 tahun itu pun menyemburkan darah dan memegang perutnya.

"Jika kamu berani menghalangi jalanku lagi, aku akan membunuhmu, Sampah!"

Aksa menatap tajam dan mendekati Elang lagi.

Bomm!

Tendangan yang kedua dilepaskan dan Elang terlempar sekali lagi.

Setelah menendang Elang sekali lagi, sang Tuan Muda itu meninggalkannya begitu saja.

"Hahahaha... rasakan itu."

Para murid juga menertawakan dan meninggalkan Elang.

Pemuda malang itu pun dengan susah payah bangkit kembali.

Dengan menahan rasa sakit di perutnya, Elang mengangkat kayu tadi dan membawanya ke dapur.

Lanjut membaca
Lanjut membaca