
Sistem Misi Global: Selamatkan Dunia!
Rei Moira|Bersambung
- Jumlah kata
- 126.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 27
- Jumlah kata
- 126.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 27
Sinopsis
Hampir mati karena tersambar petir, Bima justru dipilih oleh sebuah sistem untuk menyelamatkan dunia dari serangan monster! Setiap ia menyelesaikan misi, ia akan mendapatkan hadiah tak terduga. Bersama dengan pemburu monster yang sangat cantik, Bima siap menjalankan misi dan menaklukkan semuanya bahkan menjadi penyelamat dunia!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1. Kebangkitan Sistem
“Bima, awas!!”
Duarrr!!
Terlambat. Tak sampai Bima sempat menghindar, kilat petir langsung menyambarnya.
“Brengsek! Bima! Panggil ambulance, Bima kesambar petir!”
Sialan.
Bima bisa mendengar semua orang sedang berteriak panik dan menggumam berisik. Sengatan petir terasa di lengan kanannya, menyebarkan hawa panas yang perlahan menggerogoti tubuh.
'Apa aku akan mati?'
Bima langsung mengingat hal apa saja yang harus ia lakukan hari ini. Tidak! Ia tidak boleh mati setidaknya untuk saat ini.
Demi apa pun di dunia ini, kumpulan video bokepnya masih terfolder rapi di laptop! Tidak ada yang boleh melihat sisi mesumnya!
Gemuruh kembali terdengar. Tubuhnya yang tadi masih terbujur kaku di atas paving kampus, tiba-tiba saja ditarik cepat ke sebuah pusaran.
Bima menggelepar, tangannya mencoba meraih apa saja yang bisa menahan dirinya, tapi pusaran itu terus melahapnya hingga ke dasar.
Suara berisik dari teman-teman kampusnya dengan perlahan menghilang. Sampai ketika tubuhnya benar-benar sampai ke dasar, semuanya menjadi hening.
Sialan!
Aku benar-benar mati!
Bima terus mengumpat dalam hati, menganggap bahwa ini adalah akhir dari perjalanannya sebagai manusia miskin yang melakukan pekerjaan apa pun untuk membiayai kuliah.
Benarkah hanya begini saja? Seketika Bima menyesal sudah setuju untuk dilahirkan ke dunia.
[Bima Sanjaya, Selamat Datang.]
Bima terjatuh di dasar ruangan—kalau itu bisa disebut sebagai ruangan.
Oh, tidak. Sepertinya ini lebih mirip … gua?
“Siapa kamu?” Bima mencari-cari sumber suara yang menyambutnya, “malaikat kematian, ya?”
[Kamu mau mati?]
“Jadi benar aku sudah mati??”
[Hampir mati. Tapi kalau mau aku buat mati juga bisa saja. Aku tinggal mencari orang lain untuk menerima misi rahasia.]
Bima langsung menegakkan badannya. “Anjir. Kamu siapa, sih? Mau main-main denganku, hah?”
[Pemarah tapi miskin. Kombinasi yang cocok untuk mengemban gelar sampah semesta.]
“Hey!!”
Bima mengepalkan tangannya, bersiap untuk meninju siapa pun yang akan keluar setelah ini.
“Keluar! Nggak usah jadi pengecut dengan sembunyi. Maju sini kalau berani!”
[Bodoh.]
“Sialan!”
[Aku ada di pikiranmu. Tidak punya wujud, tapi bisa memperhatikan semua yang kamu lakukan dan pikirkan.]
Bima terdiam. Apa maksudnya?
[Aku adalah Sistem Semesta yang dibangkitkan untuk membimbing dan mengarahkanmu menyelesaikan misi.]
“Kamu gila, ya?”
Gemuruh kembali terdengar. Suara dengungan sistem memekakkan telinga Bima. Pemuda itu langsung berlutut, kedua tangan menutupi telinga.
Setelah itu, tiba-tiba saja sebuah layar hologram besar muncul di hadapannya. Menampilkan pemandangan dimana langit retak, dan puluhan makhluk yang tak pernah dilihat oleh Bima bermunculan dari celah terbuka itu, seolah sedang menyerbu bumi hanya dalam hitungan detik.
“A ... apa itu?” bisik Bima, masih menatap ngeri.
[Monster dari dimensi Elter. Petir yang menyambarmu tadi adalah pembuka pintu dimensi. Mereka sekarang sudah menyebar dan bersembunyi di seluruh dunia untuk mengambil alih bumi.]
“Tunggu-tunggu, ini maksudnya apa? Ada kamera tersembunyi ya, di sini?”
[Jangan konyol! Maksudnya bumi akan segera berada di ambang kehancuran. Dan kamu adalah orang yang terpilih untuk menyelamatkannya.]
Bima kembali terdiam.
Monster. Bumi diambang kehancuran. Orang terpilih?
Gila. Pasti Bima menjadi gila karena sambaran petir tadi.
Papan hologram yang tadi menampilkan kedatangan para monster, kini beralih ke papan skor dengan nama lengkap Bima.
[Nama: Bima Sanjaya]
[Skor kehidupan: 0]
[Kekuatan: 0]
[Bonus Hadiah: Terkunci.]
Bima menyipitkan matanya. Gila! Apa-apan ini semua? Kenapa hidupnya jadi seperti komik yang pernah ia baca?
[Saat ini, skor kehidupan dan kekuatan kamu nol. Nyawamu masih kritis di tangan para dokter yang berusaha menyelamatkan. Kalau kamu setuju dengan misi ini, skor kehidupan dan kekuatanmu akan bertambah menjadi 10.]
“Kalau aku tolak?”
[Kamu akan mati sekarang juga.]
Apa? Semudah itu untuk mati? Bima mengepalkan tangannya. Tidak boleh. Hidupnya selama ini sudah menderita. Mati tersambar petir bukan cara terbaik untuk menutup usia.
[Tiga …]
Sistem tiba-tiba menghitung mundur.
[Dua …]
Bima membelalak lebar.
[Sa—]
“Aku terima!” serunya.
[Pilihan yang tepat! Setelah ini kamu akan kembali ke tubuhmu dan langsung memulai misi.]
Bima merasakan getaran di tempatnya berpijak. Semakin lama semakin kencang, dan muncul pusaran yang sama—siap untuk kembali menelannya.
“Eh … eh? Tunggu! Misinya gimana? Aku harus ngapain?!”
[Kembali saja ke tubuhmu dulu. Nanti aku jelaskan lagi.]
Tak sempat bicara, Bima kembali ditelan kegelapan. Dadanya sesak, lalu tubuhnya menghempas keras. Tak lama, suara berisik dokter dan para perawat yang menanganinya terdengar semakin kencang.
Bip. Bip. Bip.
Ah, ini pasti di rumah sakit. Bima yakin sekali.
“Detak jantung kembali!” seru salah satu dari mereka. Entah siapa, Bima bahkan belum membuka matanya.
Bima mencoba menghirup napasnya dalam-dalam. Segar sekali. Saat membuka matanya perlahan, ia melihat selang oksigen sudah terpasang di hidungnya.
Pantas saja.
“Kondisi pasien mulai stabil,” ucap salah satu dari mereka lagi.
Bima menghela napasnya lega. Sistem tadi benar-benar menepati janjinya. Nyawanya kembali, tapi masalahnya sekarang adalah … kenapa punggungnya terasa gatal sekali!
Karena tak tahan, Bima langsung duduk tegak, membuat semua orang berseru.
“Eh? Jangan langsung duduk. Tidur dulu. Kamu masih dalam pemeriksaan.”
Bima tak peduli. Ia langsung meraba punggungnya yang gatal dan menggaruknya cepat. “Gatal, aku nggak bisa nahan.”
Semua mata langsung saling pandang. Bima memperhatikannya satu per satu dan yakin sekali jika mereka tidak pernah melihat ada pasien yang memaksa bangun hanya untuk menggaruk punggung.
“Baik, kami bantu garuk sekalian dioles salep biar tidak gatal.” Dokter yang sempat bengong beberapa detik akhirnya berusaha kembali bersikap profesional.
“Habis ini,” ujar Bima, “aku bisa langsung pulang, kan?”
***
Dan di sinilah Bima sekarang berada. Berjalan di trotoar menuju ke kos-nya untuk pulang. Dokter yang terkejut dengan kondisi Bima, tidak memiliki alasan untuk menahannya.
Semua hasil pemeriksaan sehat. Hanya ada bekas luka sambaran petir yang cukup ditutup dengan plester anti air.
Beberapa perawat yang menatap kepergiannya tadi bilang kalau ini adalah sebuah keajaiban.
Benar. Itu memang sebuah keajaiban. Namun dengan monster yang telah menyerang bumi? Bima tidak yakin jika ini semua adalah sebuah keajaiban.
[Selamat! Skor kehidupan dan kekuatan telah bertambah poinnya.]
Tampilan papan hologram kembali terlihat. Angka 0 pada skor kehidupan dan kekuatan benar-benar telah berubah menjadi 10 poin.
“Keren juga, ya. Jadi ini maksudnya gimana? Jujur, ya. Aku masih belum paham arahnya ke mana.”
[Lakukan misi harian agar mencapai skor penuh.]
“Caranya?”
Suara alarm sistem langsung berbunyi kencang. Papan hologram yang tadinya berwarna biru transparan, mendadak berubah jadi merah yang terus berkedip.
“Loh? Ini kenapa, hey??”
[Peringatan! Monster level 1 terdeteksi!]
Detak jantung Bima langsung berpacu kencang. “Monster?? Anjir! Aku harus gimana sekarang??”
Daftar bab
115 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
115 bab








