

Kota Jetskarta terbentang di balik dinding kaca lantai sembilan puluh seperti peta yang digambar oleh seseorang yang terlalu mencintai garis lurus. Menara-menara menjulang, jalan-jalan berpotongan rapi, laut di kejauhan tampak seperti garis tipis berwarna perak.
Di tengah keteraturan itu, ruang rapat Tanujaya Studio justru dipenuhi ketegangan yang nyaris dapat disentuh. Tidak ada yang berbicara selain Johan Gumelar. Kepala divisi hubungan masyarakat itu berdiri di depan layar besar yang menampilkan potongan berita, rekaman amatir, dan deretan tajuk utama yang terus bertambah.
"Video balkon runtuh sudah ditonton jutaan kali."
Klik.
"Media mulai menghubungkannya dengan standar keamanan proyek lain."
Klik.
"Tagar boikot juga mulai naik."
Tak seorang pun menyela.
Farel Tanujaya duduk di ujung meja panjang berwarna hitam. Jemarinya bertaut longgar di atas permukaan kaca. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menjadi pusat badai nasional.
Ia sudah melihat rekaman itu berkali-kali. Balkon Menara Obsidian runtuh, orang-orang terluka. Untungnya, tidak ada korban jiwa. Penyelidikan awal menunjukkan material tidak sesuai spesifikasi. Kontraktor pelaksana diduga memangkas biaya dengan mengganti bahan. Secara teknis, kesalahan itu bukan miliknya. Namun tanggung jawab tidak selalu berhenti pada batas kontrak. Ia tetap merasa gagal. Bangunan yang membawa namanya telah menyakiti orang.
"Publik belum peduli soal fakta," kata Johan. "Dan mereka tidak akan menunggu hasil investigasi."
Farel mengalihkan pandangan dari layar. "Apa rekomendasimu?"
Johan menarik napas pendek. "Hilang selama empat puluh delapan jam. Jangan muncul di media, jangan hadiri acara publik, jangan beri kesempatan siapa pun memotret Anda."
Beberapa orang di meja tampak ragu. Farel hanya mengangguk. "Baik."
Keheningan yang muncul membuat para eksekutif saling berpandangan. Johan terlihat paling terkejut. "Anda setuju?"
"Saya yang bertanya rekomendasi. Jawabanmu masuk akal."
Johan mengembuskan napas lega. "Kami akan siapkan pengawalan tambahan."
Farel berdiri, jas gelapnya jatuh sempurna mengikuti garis tubuh yang tegak. "Saya tidak butuh pengawal."
"Tapi situasinya sedang buruk."
"Kalau ada yang mengenali saya, dunia tidak akan berakhir."
Ia melangkah keluar, meninggalkan ruangan yang masih dipenuhi kecemasan. Di belakangnya, layar berita terus menyala. Di depannya, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, tidak ada jadwal yang menunggu.
---
Sudah lama Farel tidak menyetir sendiri. Biasanya selalu ada sopir, pengawal, atau asisten yang memastikan hidupnya bergerak sesuai agenda. Hari itu tidak ada siapa-siapa.
Mobilnya meluncur meninggalkan Sanggara, distrik yang dibangun dari kaca, baja, dan ambisi. Gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya matahari seperti cermin raksasa. Trotoarnya bersih, jalannya teratur, bahkan pepohonannya tampak tumbuh sesuai perintah.
Lalu kota perlahan berubah. Gedung tinggi menghilang, jalan menyempit, dinding batu tua bermunculan di kiri kanan.
Ia memasuki Kalira.
Jemuran berwarna-warni menggantung di balkon sempit. Kucing-kucing liar tidur di atas pot tanaman. Seorang pedagang mendorong gerobak roti sambil bersiul. Dari celah bangunan tua, aroma kopi bercampur udara laut mengalir bersama angin sore.
Farel memperlambat kendaraan. Tidak ada yang mengenalinya di sini. Perasaan itu seharusnya aneh, namun justru melegakan. Ia menurunkan sedikit jendela. Suara anak-anak bermain di gang batu terdengar samar. Ombak menghantam pemecah gelombang di kejauhan. Tidak ada rapat, investor, atau wartawan. Hanya kehidupan.
Tanpa tujuan yang jelas, ia terus melaju hingga sebuah papan kayu tua menarik perhatiannya. Tulisannya sederhana: Kafe Kalira. Lampu kuning hangat menyala di balik jendela. Pintunya terbuka.
Farel memarkir mobil di tepi jalan dan turun. Beberapa detik kemudian, ia mendorong pintu kafe. Bel kecil di atas kusen berdenting pelan.
---
Aroma kopi menyambutnya lebih dulu. Bukan aroma sintetis dari mesin modern yang biasa memenuhi ruang rapat atau hotel berbintang. Aroma ini lebih kaya, lebih hidup, bercampur mentega, kayu tua, dan sedikit garam laut yang terbawa angin.
Kafe itu kecil. Meja-meja kayu yang telah dimakan usia berjajar tidak sempurna. Beberapa pelanggan lokal bercakap pelan di sudut ruangan. Sebuah radio tua mengalunkan musik yang hampir tenggelam oleh suara mesin kopi.
Seorang perempuan paruh baya muncul dari arah dapur. Tatapannya langsung jatuh pada Farel, lalu pada jas mahal yang dikenakannya. Tatapan itu mengandung kewaspadaan yang hanya dimiliki orang-orang yang terlalu sering melihat dunia tidak berlaku adil. Perempuan itu tidak berkata apa-apa, hanya mendengus pelan sebelum kembali ke dapur.
Beberapa saat kemudian seseorang keluar dari balik pintu yang sama. Farel tanpa sadar memperhatikannya lebih lama. Perempuan muda itu mengenakan celemek sederhana, rambut diikat asal, sedikit noda tepung di lengan baju. Gerakannya cepat dan efisien, seolah setiap detik memiliki nilai. Yang paling menarik justru matanya. Tajam. Waspada. Bukan mata seseorang yang terbiasa meminta izin kepada dunia.
Ia mendekat ke meja. "Apa pesanannya?"
"Espresso."
Perempuan itu mengangguk. Tidak ada senyum pelayanan, tidak ada basa-basi. Ia bahkan tidak menuliskan pesanannya, langsung berbalik menuju mesin kopi. Farel memperhatikan tanpa alasan yang jelas. Ada sesuatu dalam cara perempuan itu bergerak. Sederhana, tetapi pasti. Seperti seseorang yang tidak pernah memiliki energi untuk dibuang percuma.
---
Beberapa menit kemudian, perempuan itu kembali membawa secangkir espresso. Kafe sedang cukup ramai. Seseorang tertawa di meja belakang. Pintu terbuka sesaat membiarkan angin laut masuk.
Perempuan itu meletakkan cangkir ke atas meja kecil di depan Farel. Pada saat yang sama, siku Farel bergerak sedikit saat meraih ponselnya. Yang terjadi berikutnya berlangsung terlalu cepat. Cangkir bergeser. Espresso hitam tumpah, menyiram bagian depan jasnya, sebagian mengenai kemeja putih di baliknya. Panasnya langsung menembus lapisan kain mahal. Aroma kopi pahit menguar, bercampur dengan parfum yang selama ini melekat pada dirinya.
Kafe mendadak hening. Percakapan berhenti. Beberapa kepala menoleh. Di ambang dapur, perempuan paruh baya tadi membeku.
Farel menunduk memandangi noda gelap yang menyebar di jasnya. Rahangnya mengeras sesaat. Jari tangan kirinya mengepal di bawah meja. Hanya sepersekian detik. Kemudian ia memaksa dirinya rileks kembali. Ketika akhirnya mengangkat wajah, ekspresinya sudah tenang seperti semula.
Perempuan di hadapannya tidak bergerak. Tidak panik, tidak tergagap meminta maaf. Ia hanya berdiri sambil memegang nampan kosong.
Farel menatapnya. "Itu jas tiga ribu dolar." Suaranya rendah, dingin. Bukan kemarahan, lebih mirip pernyataan fakta.
Perempuan itu menatap balik tanpa berkedip. "Kalau begitu, jangan dipakai ke tempat seperti ini." Nada suaranya datar. Tidak menantang. Tidak takut.
Keheningan yang muncul terasa lebih panjang daripada seharusnya. Farel terbiasa melihat berbagai reaksi ketika orang berhadapan dengannya. Gugup, kagum, takut, menjilat. Ia tidak menemukan satu pun di wajah perempuan itu. Yang ada hanyalah keyakinan tenang yang sulit dijelaskan, seolah siapa pun dirinya tidak memiliki arti khusus.
Perempuan paruh baya dari dapur melangkah maju. "Mbak Lia, saya..."
Farel mengangkat satu tangan. Gerakan kecil, namun cukup untuk menghentikan kalimat itu. Ia merogoh saku jas, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu meletakkannya di atas meja. Jumlahnya jauh lebih besar daripada harga secangkir espresso.
"Simpan kembaliannya."
Perempuan bernama Lia itu melirik uang tersebut. Ekspresinya tidak berubah. Tidak terkesan, tidak berterima kasih. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik dan berjalan kembali menuju dapur.
Farel berdiri. Tak seorang pun berbicara saat ia melangkah menuju pintu. Bel kecil kembali berdenting ketika ia keluar.
---
Angin laut menyentuh wajahnya. Langit mulai berubah warna menuju senja. Farel berhenti di trotoar batu di depan kafe. Ia seharusnya kesal, kembali ke mobil, memikirkan krisis yang mengancam perusahaannya. Namun pikirannya justru kembali kepada perempuan tadi. Bukan karena kopi yang tumpah atau jas yang rusak, melainkan karena tatapannya. Perempuan itu tidak takut padanya. Kesadaran itu mengganggunya lebih daripada yang ingin ia akui.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu melangkah hendak pergi.
Saat itulah ia mendengarnya. Sebuah suara, samar, jauh, datang dari arah laut. Suara biola. Melodinya sederhana, tetapi mengandung kesedihan yang begitu jernih hingga terasa seperti cahaya yang menembus kaca.
Farel berhenti. Nada demi nada mengalir bersama angin sore. Ada sesuatu dalam melodi itu, sesuatu yang terasa asing dan sekaligus sangat akrab. Jantungnya berdegup sedikit lebih lambat. Ia menoleh ke arah datangnya suara. Pelataran batu di tepi laut tampak samar dari kejauhan, namun ia tidak bisa melihat siapa yang bermain. Hanya musiknya yang sampai kepadanya. Dan entah mengapa, itu sudah cukup.
Ia menoleh kembali ke arah kafe. Di suatu tempat di baliknya, sebuah biola menangis di udara senja, melodi yang terasa asing namun sangat akrab. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Farel Tanujaya mendapati dirinya tidak mampu melangkah pergi. Suara itu menahannya di sana, seperti pertanyaan yang selama ini tidak ia sadari sedang ia tanyakan.