
Gairah Raja Pusaka Sang Malam
Zhagzha Writer|Bersambung
- Jumlah kata
- 108.3K
- Popular
- 3.3K
- Subscribe
- 646
- Jumlah kata
- 108.3K
- Popular
- 3.3K
- Subscribe
- 646
Sinopsis
Lima tahun lalu, Raja diusir seperti anjing. Dia difitnah melakukan hal bejat pada anak gadis tetua desa yang paling dihormati. Raja ingat jelas bagaimana dia dijebak dan dibuang tanpa ampun. Tapi para tetua itu melakukan kesalahan besar. Pengasingan itu justru membuatnya menemukan Pusaka Sang Malam. Sekarang, pusaka itu sudah menyatu dengan aliran darahnya, memberikan kekuatan yang tak terlukiskan serta hasrat yang membara. Raja tidak lagi bisa dikalahkan oleh ilmu hitam atau senjata apa pun. Dia kembali ke Desa Para Wali bukan untuk meminta maaf, tapi untuk menuntut balas. Namun, kepulangannya justru menarik perhatian para wanita paling berpengaruh di desa itu. Mulai dari anak gadis tetua yang dulu memfitnahnya hingga para janda yang diam-diam memuja kekuatannya. Mereka semua kini memperebutkan perhatian Raja, rela melakukan apa pun untuk mendapatkan sentuhan dari pria yang dulu mereka buang. Raja siap menginjak balik orang-orang yang menghancurkannya, sekaligus menikmati tawaran tubuh dan jiwa dari para wanita yang kini bertekuk lutut di bawah kakinya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Suara petir terdengar menggelegar dari kejauhan, membuat suasana terasa semakin mencekam. Di tengah tanah lapang, Raja terjatuh dengan tubuh lemah dan napas tersengal.
Pemuda yang selama ini dikenal pekerja keras itu kini tampak tidak berdaya. Pakaiannya robek di beberapa bagian, dipenuhi lumpur dan bercak darah yang mulai mengering.
“Masih mau mengelak, hah?!”
Sebuah tendangan keras dari sepatu bot menghantam rusuk Raja tanpa ampun. Tubuhnya langsung terhempas sedikit ke samping.
Terdengar bunyi patahan samar, lalu erangan pelan keluar dari bibirnya yang sudah dipenuhi darah.
Pelakunya adalah putra sulung sang Tetua, pria sombong yang sejak lama membenci keberadaan Raja di desa itu.
Di sekeliling mereka, penduduk desa menonton dengan tatapan penuh kebencian.
Tidak ada satu pun yang menolong. Padahal, dulu Raja sering membantu mereka membetulkan atap rumah atau memanen padi tanpa meminta imbalan.
Sekarang, di mata mereka, Raja bukan lagi pemuda yang dulu dikenal baik. Ia dianggap seperti orang paling kejam yang telah menghancurkan kehormatan putri kesayangan Tetua desa.
“Aku ... tidak melakukannya...” suara Raja serak, hampir tenggelam oleh suara hujan yang mulai turun.
“Bohong! Putriku sendiri yang menunjukmu! Kau masuk ke kamarnya saat malam hari dan mencoba melakukan hal bejat!”
Tetua desa maju, wajahnya merah padam. Dia memegang sebuah tongkat kayu jati yang ujungnya dilapisi besi.
Tanpa peringatan, tongkat itu diayunkan. Brak! Tulang kering kaki Raja dipukul dengan keras.
Raja berteriak, suaranya melengking membelah keheningan desa sebelum akhirnya dia jatuh pingsan karena rasa sakit yang luar biasa.
Mereka tidak membiarkannya mati begitu saja.
Dalam keadaan setengah sadar, tangan Raja dirantai. Dia diseret di belakang kuda, melewati jalanan berbatu yang tajam hingga kulit punggungnya terkelupas habis.
Tujuannya adalah Jurang Larangan, tempat yang dianggap terkutuk bagi siapa pun yang memiliki ilmu hitam atau melakukan dosa besar di Desa Para Wali.
“Buang dia ke bawah! Biarkan dia jadi santapan anjing hutan!” perintah sang Tetua.
Tubuh Raja dilemparkan begitu saja ke dalam kegelapan jurang.
Dia jatuh menghantam dahan-dahan pohon sebelum akhirnya mendarat di dasar goa yang lembap. Di sana, dalam kesunyian yang mencekam, Raja menunggu ajalnya.
**
Lima tahun adalah waktu yang sangat lama bagi seorang manusia untuk bertahan di tempat yang tidak pernah tersentuh sinar matahari.
Namun, Raja tidak mati.
Di dasar goa itu, Raja menemukan sebuah celah sempit yang memancarkan hawa gelap dan dingin. Di sanalah terdapat Pusaka Sang Malam, batu hitam kuno yang terus berdenyut pelan seperti jantung manusia.
Saat jemarinya menyentuh batu itu, permukaannya tiba-tiba melebur lalu meresap masuk ke dalam kulit Raja.
Rasa sakitnya luar biasa. Seperti api panas yang mengalir di seluruh tubuhnya. Selama lima tahun, hampir setiap malam Raja harus menahan siksaan itu karena pusaka tersebut terus mencoba menyatu dengan dirinya.
Kekuatan dari pusaka itu terlalu besar untuk ditanggung sendirian. Karena terkurung di dalam goa tanpa siapa pun di sekitarnya, energi itu seolah tertahan di tubuh Raja dan membuatnya sering demam tinggi sampai tubuhnya terasa terbakar.
Perlahan penampilannya berubah. Rambutnya tumbuh panjang, tubuhnya yang dulu kurus menjadi lebih besar dan penuh otot keras.
Bekas luka di tubuhnya memang hilang, tetapi kebencian di dalam hatinya justru tumbuh semakin dalam.
Suatu pagi, Raja berhasil merangkak keluar dari jurang melalui celah rahasia yang dia temukan.
Dia berada di perbatasan hutan desa tetangga. Belum sempat dia menyesuaikan diri dengan sinar matahari, telinganya yang kini sangat tajam mendengar suara jeritan perempuan.
“Tolong! Siapa saja, tolong!”
Raja bergerak cepat. Di balik semak belukar, dia melihat seorang wanita cantik bernama Shinta.
Shinta adalah kembang desa yang terkenal lembut. Di depannya, berdiri tiga pria bertubuh besar dengan parang di tangan.
Mereka adalah suruhan keluarga Tetua Desa Para Wali yang sedang melakukan patroli wilayah.
“Jangan lari, Cantik. Kami Cuma mau main sebentar sebelum membawamu ke tuan kami,” salah satu preman itu tertawa mesum sambil menarik paksa kerah baju Shinta hingga robek, memperlihatkan bahu putihnya yang mulus.
Raja muncul dari balik bayangan pohon. Wajahnya yang dingin dan matanya yang tajam langsung membuat suasana menjadi sunyi.
“Lepaskan dia,” ucap Raja pendek.
Para preman itu tertawa terbahak-bahak.
“Siapa kau? Gelandangan dari mana ini? Berani-beraninya mengatur kami di tanah ini!”
Salah satu preman mengayunkan parangnya ke leher Raja.
Clang!
Suara itu bukan suara daging yang terpotong, melainkan suara besi yang beradu dengan benda yang jauh lebih keras. Parang itu patah jadi dua. Raja sama sekali tidak bergeming.
Dengan gerakan yang tidak bisa dilihat mata, Raja mencengkeram tenggorokan pria itu dan melemparkannya hingga menabrak pohon sampai hancur.
Dua preman lainnya ketakutan dan lari tunggang langgang, meninggalkan Shinta yang gemetar di tanah.
Namun, setelah pertarungan singkat itu, tubuh Raja mendadak bereaksi hebat. Jantungnya berdegup seperti mau meledak.
Kulitnya memerah dan mengeluarkan uap tipis. Efek samping dari Pusaka Sang Malam sedang memuncak.
Kekuatan itu harus segera disalurkan atau tubuh Raja akan hancur dari dalam karena tekanan energi yang terlalu besar.
Raja terjatuh berlutut di depan Shinta. Nafasnya memburu, berat, dan terasa sangat panas di kulit Shinta.
“Tuan ... Anda tidak apa-apa?” tanya Shinta ragu-ragu. Dia mendekat, ingin membantu pria yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
Begitu jemari Shinta menyentuh lengan Raja, sebuah getaran listrik terasa menyambar mereka berdua.
Mata Raja berubah menjadi gelap pekat dengan sedikit kilatan merah. Dia menarik Shinta ke dalam pelukannya dengan sangat kuat.
“Tubuhku ... panas sekali,” geram Raja di ceruk leher Shinta.
Shinta bisa merasakan kejantanan Raja yang menegang keras di balik kain tipisnya, menekan pahanya kuat.
Aura Raja yang begitu kuat membuat Shinta lelas seketika. Gairah yang tak terbendung menjalar di tubuh Shinta, membuatnya tidak sanggup menolak.
Daftar bab
102 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
102 bab








