Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Rahasia Jari Tangan Pak Budi

Rahasia Jari Tangan Pak Budi

SahabatCinta | Bersambung
Jumlah kata
41.5K
Popular
3.0K
Subscribe
596
Novel / Rahasia Jari Tangan Pak Budi
Rahasia Jari Tangan Pak Budi

Rahasia Jari Tangan Pak Budi

SahabatCinta| Bersambung
Jumlah Kata
41.5K
Popular
3.0K
Subscribe
596
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeHarem21+Pria Dominan
Siapapun akan menagih begitu tangan pria itu menyentuhnya. Tidak mengenal usia tidak mengenal status bahkan wanita wanita kota tunduk padanya. Tapi perjalanan pria itu penuh tantangan. Setiap wanita yang datang selalu membawa masalah baru. Inilah Kisah Pak Budi.
1

Viani, seorang model berparas cantik dengan tubuh bak gitar Spanyol, baru saja menyelesaikan syuting di sebuah desa terpencil. Malam itu, ia kembali ke kamar hotel sederhana tempatnya menginap. Begitu masuk, tubuhnya langsung terhempas ke atas ranjang disertai embusan napas panjang.

"Gila badan gue kayak remuk semua"

Ia meraih ponsel dari dalam tas lalu segera menghubungi asistennya.

"Don, sudah dapat tukang pijatnya?"

"Maaf, Cin. Yang tadi batal datang. Aku lagi cari penggantinya, tunggu sebentar ya."

Viani memijat pelipisnya.

"Pokoknya cari yang benar-benar bisa pijat. Jangan asal."

"Iya...iya."

Sambungan telepon terputus.

Beberapa menit kemudian terdengar ketukan di pintu. Viani segera berjalan ke arah pintu dan membukanya. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya dengan tas pijat tersampir di bahunya. Tubuhnya tegap, wajahnya tenang, dan senyumnya terlihat ramah.

"Permisi, Mbak. Saya Pak Budi. Tadi dapat panggilan untuk pijat disini."

Viani terdiam beberapa detik. Ia mengira yang datang adalah seorang terapis wanita, tetapi ternyata seorang pria, karena sudah sangat pegal dan malas menunggu lagi, akhirnya ia mengangguk.

"Oh... iya, Pak. Silakan masuk."

Pak Budi melangkah masuk. Ia meletakkan tas pijatnya di atas meja dengan gerakan tenang. Sikapnya santai, menunjukkan bahwa ia sudah berpengalaman menangani banyak pelanggan.

"Perlu buka baju?" tanya Viani.

"Kalau Mbak nggak keberatan, boleh. Biar lebih mudah memijat bagian yang pegal. Aman kok."

Sebagai seorang model. Viani sudah terbiasa memperlihatkan tubuh telanjangnya di depan banyak orang karena tuntutan pekerjaan. Namun berada di dalam kamar hotel hanya berdua dengan seorang pria tetap saja membuatnya sedikit ragu.

Pak Budi menangkap keraguan itu.

"Tapi, kalau keberatan, nggak usah. Yang penting Mbaknya nyaman."

Viani terdiam beberapa saat menimang-nimang. Setelah yakin ia membuka bajunya satu persatu, kemudian melepas bra. Ia segera menutupi bagian depan tubuhnya dengan handuk besar sebelum berbaring tengkurap di atas ranjang. Pak Budi sempat melihat sekilas tubuh wanita itu yang putih dan mulus. Namun wajahnya tetap datar tanpa menunjukkan perubahan ekspresi. Baginya, semua itu hanyalah bagian dari pekerjaannya.

"Saya mulai ya, Mbak."

Viani mengangguk.

Perlahan, kedua tangan Pak Budi mulai bergerak di punggung wanita itu. Awalnya Viani hanya merasakan pijatan biasa. Namun ketika ibu jari pria itu menemukan titik otot yang paling tegang, tubuhnya sedikit tersentak.

"Emh... enak banget, Pak..." ucapnya lirih.

Pak Budi menggeser jemarinya ke tulang belikat. Ia mencari bagian otot yang paling tegang, lalu menekannya perlahan. Tekanannya masuk sedikit demi sedikit lalu memutar di titik itu. Viani merintih pelan sambil mencengkeram seprai.

"Yaah... di situ, Pak!" suaranya sedikit tertahan. "Yang itu sakit banget."

"Di sini uratnya menggumpal, Mbak, mungkin terlalu banyak duduk." Jawab pak Budi dengan tenang.

Ia mempertahankan tekanannya beberapa saat. Ibu jarinya terus bergerak memutar hingga otot yang semula kaku mulai mengendur. Napas Viani yang tadinya pendek perlahan menjadi lebih panjang.

"Jangan dipindah dulu, Pak."

Pak Budi menambah tekanannya lagi, wajahnya fokus, memastikan tekanannya tidak berlebihan. Viani mengembuskan napas panjang, tubuhnya perlahan rileks mengikuti ritme pijatan. Saat tekanan itu dilepas, ia langsung menghela napas lega.

"Emhh...pas banget, Pak."

Pak Budi kembali memijat titik yang sama. Kali ini gerakannya lebih lambat lebih dalam. Bahu Viani naik turun mengikuti napasnya. Bibirnya kembali tergigit, berusaha menahan reaksi yang muncul. Namun di balik kelopak matanya yang terpejam, bayangan tangan pria itu mulai terasa berbeda. Bukan lagi sekadar jari-jari terapis, tapi sentuhan yang membangkitkan sensasi aneh di perutnya. Setiap tekanan ibu jari Pak Budi terasa seperti sengatan listrik halus yang menjalar ke bawah pusar, membuat celana dalamnya terasa sedikit lembap.

"Kok bapak hafal banget ya titik-titiknya?" ucap Viani tanpa membuka mata.

Pak Budi tersenyum tipis.

"Ya, Mbak. Saya kan tukang pijit."

"Pantes," jawab Viani pelan. "Udah lama jadi tukang pijit?"

"Lumayan, Mbak. Sudah lebih dari dua puluh tahun."

Sambil menjawab, tangan Pak Budi berpindah ke pundak Viani, memberikan tekanan di sana sedikit kuat. Setiap tekanannya langsung menjalar hingga membuat Viani sedikit meringis.

"Eughhh..."

Meski begitu, ia tidak meminta berhenti. Napasnya justru semakin panjang saat rasa nyeri mulai berkurang.

"Pak..." panggilnya lirih.

"Iya, Mbak?"

"Emang bapak enggak kegoda kalau mijit cewek kayak gini?"

Tangan Pak Budi berhenti sesaat sebelum kembali bergerak. Pertanyaan seperti itu bukan kali pertama ia dengar.

"Kalau dibilang enggak kegoda, itu bohong, Mbak, saya laki laki normal. Tapi saya harus tetap profesional."

Senyum tipis muncul di wajah Viani. Ia tidak berkata apa-apa lagi, hanya membiarkan tangan pria itu terus bekerja. Tapi dalam hati, jawaban itu justru membuat imajinasinya semakin liar. Ia membayangkan tangan kasar itu tidak lagi memijat, melainkan merayap ke bagian tubuhnya yang lebih intim. Bayangan itu membuat kewanitaannya berdenyut mengharap sentuhan, dan ia harus menggigit bibirnya lebih keras untuk menahan desahan.

Dalam hati, ia senang karena Doni, asistennya, berhasil mencarikan tukang pijat yang benar-benar profesional.

Beberapa saat kemudian, telapak tangan Pak Budi mulai bergeser ke bagian bawah tulang belikat, beberapa senti di atas buah dada Viani. Gerakannya tetap terukur, mengikuti titik-titik otot yang tegang. Namun kali ini, ketika ujung jari Pak Budi menyentuh kulit di tepi buah dadanya, Viani merasakan sensasi yang berbeda. Putingnya langsung mengeras, menekan handuk yang membungkus tubuhnya. Ia bisa merasakan kehangatan menjalar dari titik sentuhan itu, menyebar ke seluruh dada, lalu menuruni perut hingga ke selangkangannya.

Viani tidak bisa bohong.

Ia mulai terangsang.

"Pak..." desahnya lirih. Suaranya bergetar, penuh gairah yang mulai tak terbendung.

"Enak banget rasanya."

Tangan Pak Budi terus bergerak memijat dengan fokus. Ia tidak menyadari bahwa kliennya kali ini adalah wanita yang begitu mudah terangsang oleh sentuhan. Viani yang sudah tidak tahan lagi langsung membalikkan tubuhnya hingga terlentang. Kain pijat yang menutupi tubuhnya terlepas, memperlihatkan gundukan sempurna dengan pucuk yang mengeras dan perut ratanya. Putingnya sudah mengeras, menantang untuk disentuh. Dadanya naik turun cepat, napasnya memburu.

Pak Budi sempat terkejut sesaat, matanya terpaku pada payudara Viani yang terbuka.

Tetapi kembali menjaga sikap profesionalnya.

"Pak... saya..." Suara Viani serak dan berat menahan hasrat.

Pak Budi hanya tersenyum pelan. Ia sudah sangat paham reaksi itu dan ia sendiri tidak bisa bohong, kalau kejantannya juga sudah mengeras di balik celana dan hasratnya sudah sulit di tahan.

"Mbak terangsang? Nggak usah malu. Itu biasa."

Viani menatap mata pria itu. Tatapannya tetap tenang seolah tidak terpengaruh. Namun Viani bisa melihat ada kilatan hasrat yang berusaha disembunyikan di balik ketenangan itu. Ia semakin yakin pria ini tidak setenang kelihatannya. Perlahan ia meraih tangan Pak Budi lalu mengarahkannya ke bawah bahu, mendekati dada.

"Pijat saya di sini pak, suka sesak kalau nafas."

Pak Budi menatap tangannya yang kini berada di bahu Viani, lalu kembali bergerak dengan tenang. Namun, gerakannya sempat terhenti sejenak sebelum melanjutkan pijatannya.

Jari-jarinya kini berada tepat di atas buah dada Viani, dan ia bisa merasakan panas tubuh wanita itu. Ia juga bisa melihat putingnya yang semakin mengeras.

"Terus pak, kebawah lagi...."

"Maaf, Mbak... apa perlu sampai ke bawah?"

"Jangan minta maaf. Saya yang minta"

Viani menggenggam pergelangan tangan Pak Budi, menuntunnya hingga jemari pria itu akhirnya benar-benar menyentuh langsung miliknya. Sensasi itu membuatnya hampir menjerit, kemaluannya berdenyut hebat dan ia harus merapatkan pahanya untuk menahan sensasi itu.

"Pak..." Viani mengerang kecil. Suaranya nyaris seperti rintihan. "Apa saya boleh minta lebih?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca