

"Kamu kira ini cukup?!"
Suara Sumina, Ibu Rina memecah keheningan ruang tamu berukuran sedang itu. Di tangannya, sehelai gamis biru muda berbahan katun sederhana terkulai lusuh. Bibirnya mengerucut dengan jelas.
Bayu menunduk. Di sampingnya, Rina menggigit bibir. Ruang tamu rumah orang tua Rina yang sudah full renovasi itu terasa sempit, bukan karena ukurannya, tapi karena tatapan semua orang tertuju pada mereka.
"Bu, itu hadiah dari suamiku," kata Rina. "Mas Bayu beli dengan ketulusan"
"Dengan apa? Dengan ketulusan?" potong Sumina sarkastik. "Bayu, Bayu. Kamu sudah tiga tahun jadi menantu. Setiap tahun hadiahmu begini terus." Ia melemparkan gamis ke atas meja. "Lihat kakak-kakak iparmu!"
Di sudut ruangan, dua pasangan duduk dengan anggun. Sari, kakak tertua Rina, bersama suaminya Andre, manajer pemasaran di perusahaan elektronik. Di hadapan mereka, kotak besar berisi kulkas dua pintu. Lalu Wulan, kakak kedua Rina, bersama suaminya, Hendra, pemilik bengkel mobil ternama. Mereka membawa mesin cuci otomatis dengan pita merah besar.
"Kulkas dua pintu buat Ibu," ujar Andre dengan senyum lebar. "Biar simpan minuman dingin lebih banyak untuk arisan."
"Dan mesin cuci otomatis," tambah Hendra. "Biar Ibu nggak capek nyuci. Wulan yang pilih."
Sumina bertepuk tangan girang. "Kalian memang anak-anak kesayangan Ibu. Tahu betul Ibu butuh apa."
Ia menoleh pada Bayu. Senyumnya langsung menghilang. "Sedangkan Bayu? Gamis!" Sumina tertawa sinis. "Gamis ukuran Ibu? Ibu nggak pake gamis! Ibu lebih suka blouse modis!"
Bayu mengangkat muka. "Maaf, Bu. Anggaran kami ...."
"Anggaran! Itu alasanmu setiap tahun!" bentak Sumina. "Cari kerja yang lebih baik, Bayu! Gitu aja susah? Emak tetangga saja yang jualan gorengan bisa beli HP baru. Kamu? Sudah tiga tahun jadi kuli bangunan! Itu pun musiman! Kadang kerja, kadang nganggur!"
Rina meraih lengan Bayu. "Bu, Mas Bayu sudah berusaha. Belum dapat pekerjaan tetap karena ...."
"Karena apa?" tiba-tiba Sari menyela, suaranya manis tapi menyengat. "Rina, kamu ngapain sih belain dia terus?" Sari melirik suaminya, Andre, dengan bangga. "Kakak tahu kamu salah pilih. Seharusnya dulu kamu dengerin Ibu, nikah dengan pengusaha, kamu itu cantik, Rin."
Wulan menimpali, "Iya, Rin. Lihat kakak-kakakmu. Kak Sari tinggal di perumahan, punya mobil. Kak Wulan punya rumah di pinggir kota, bengkel suami berkembang pesat." Ia menyipitkan mata ke Bayu. "Kamu? Tinggal di kontrakan tiga petak. Nafkah kadang ada kadang nggak. Untung kamu kerja jadi terapis pijat, bisa bantu-bantu ekonomi."
"Kamu jatuh cinta sama Bayu karena modal tampan? Mana kenyang makan tampan doang, Rin? Mana Bayu cuma lulusan SMP, emang ada perusahaan besar nerima lulusan SMP?" imbuh Sumina dengan cibiran yang tidak setengah-setengah.
Rina menunduk. Jari-jarinya mencengkeram lengan Bayu lebih erat.
Sumina mendekati Rina. Suaranya turun, tapi tetap lantang. "Rina, Ibu bilang apa dulu? Jangan nikahi laki-laki miskin. Tapi kamu bandel. Sekarang rasakan."
"Bu, cukup," potong Bayu, suaranya bergetar tapi tegas. "Saya tahu saya belum bisa memenuhi ekspektasi Ibu. Tapi saya mencintai Rina. Saya akan berusaha ...."
"Usaha!" Sumina tertawa. "Usaha kamu cuma jadi beban, Bayu! Lihat dua menantu Ibu. Mereka bantu Ibu bayar listrik, beli sembako, perbaiki rumah. Kamu? Setahun sekali kasih gamis! Baju murahan!"
Andre tertawa kecil di sudut ruangan. "Bayu, tenang saja. Nanti kalau sudah sukses, kasih kulkas juga ke Ibu."
Mendengar itu, semua tertawa, Sumina, Sari, Wulan, Andre, Hendra. Hanya Bayu dan Rina yang diam. Ruang tamu yang dulunya terasa hangat kini menjadi arena penghakiman.
Bayu memandang Rina. Wajah istrinya pucat, matanya berkaca-kaca, bibirnya menggigit erat. Rina tampak ingin menghilang dari ruangan itu.
"Sudahlah," Rina akhirnya bicara. Suaranya parau. "Terima kasih sudah menerima kami, Bu. Kami pulang."
Rina menggenggam tangan Bayu dan menariknya berdiri. Sumina mendengus, tapi tidak menghentikan.
"Rina!" panggil Wulan dari belakang. "Besok arisan keluarga di rumahku. Bawa sesuatu yang pantas, ya. Jangan malu-maluin keluarga kita."
Rina tidak menoleh. Ia terus menarik tangan Bayu keluar pintu, keluar dari rumah Sumina yang full direnovasi oleh uang dua kakak iparnya. Mereka melangkah ke jalanan yang mulai gelap.
Di luar, Bayu melepaskan tangannya. "Rin, maafkan aku. Aku ...."
"Diam!" Rina membentak. Matanya merah. "Kamu dengar sendiri, kan? Aku dipermalukan! Keluargaku menganggapku istri gelandangan!"
Bayu terdiam. Dadanya sesak. Di kejauhan, lampu-lampu rumah Sumina bersinar terang.
"Mungkin kakak-kakakmu benar," ucap Bayu.
"Apa?" Rina menatapnya dengan mata melotot.
Bayu menunduk. "Mungkin aku memang tidak cukup baik untukmu."
Rina membuka mulut, ingin membentak lagi. Tapi kata-kata itu menghentikannya. Bayu terlihat begitu kecil di bawah lampu jalan yang redup, laki-laki tampan dengan tubuh kekar karena kerja keras, tapi jiwa yang terus diinjak.
Ia menatap suaminya. Dalam hati, sesuatu bergemuruh.
Mungkin kakak-kakakku benar. Aku sudah salah pilih suami.
Rina berbalik. "Aku pulang duluan. Besok kerja pagi."
Ia melangkah cepat meninggalkan Bayu, meninggalkan suaminya yang berdiri membeku di trotoar sepi.
Keesokkan harinya.
Rina merapikan rambutnya di depan cermin kecil yang retak di sudut kanan. Cermin itu sudah ada sejak mereka pindah ke kontrakan ini tiga tahun lalu. Bayu pernah bilang mau beli yang baru, tapi uang selalu habis untuk kebutuhan lain.
Kebutuhan lain. Selalu kebutuhan lain.
Rina menarik napas dalam-dalam. Hari ini ia harus shift pagi di Spa Mewah, tempatnya bekerja sebagai terapis pijat. Gajinya memang pas-pasan, tapi kadang ada klien yang memberi tip lumayan. Cukup untuk membeli lipstik baru atau sekadar es kopi di kafe dekat tempat kerja—hal-hal kecil yang membuatnya merasa masih hidup.
"Rin, sarapan dulu!" panggil Bayu dari dapur.
Bayu memang selalu memasak untuk Rina.
"Enggak, nanti telat," jawab Rina singkat. Ia melirik suaminya yang sedang menyiapkan nasi goreng dengan telur mata sapi di atas kompor gas satu tungku. Bayu masih pakai kaos dalam lusuh, rambutnya acak-acakan, tapi tetap tampan, harus diakui.
Tampan tapi miskin. Apa gunanya? Batin Rina.
*
Jam 9 pagi. Spa Mewah mulai ramai.
Rina sedang ada di tunggu merapikan seragam kerjanya.
"Rina, klien kamu sudah datang. Ruang VIP," kata Mba Dewi, supervisor shift pagi, dengan nada sedikit penuh arti.
Rina mengerutkan kening. "VIP? Biasanya klien VIP minta terapis senior."
"Kali ini khusus minta kamu," Mba Dewi tersenyum tipis. "Hati-hati ya. Dia klien langganan pemilik spa. Bawaannya koper besar."
Rina melangkah ke ruang VIP yang lebih mewah dari ruang biasa dan beraromaterapi asli, serra ranjang pijat elektrik berlapis sutra. Di sana, seorang pria usia empat puluhan sedang duduk santai di kursi, membuka koper hitamnya, yang ternyata bukan koper, tapi tas kerja kulit mahal.
"Selamat pagi, Pak. Saya Rina, terapis yang bertugas," ucap Rina dengan senyum profesional.
Pria itu menoleh. Wajahnya tidak terlalu tampan, tapi ada aura kekayaan yang begitu kental dari caranya duduk, cara ia menatap Rina dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jas bespoke warna navy, sepatu Italian leather, dan di pergelangan tangannya, Rolex.
"Rina, ya?" Pria itu tersenyum. "Dewi bilang kamu terapis terbaik di sini. Aku Rudi."
Rina membungkuk sopan. "Ada keluhan, Pak?"
"Bahu saya tegang. Duduk terlalu lama di depan komputer." Rudi berdiri dan mulai membuka kancing jasnya. "Tapi sebelumnya ...." Ia meraih dompet dari saku dalam jas. Mengeluarkan beberapa lembar uang merah.
Rina hampir tersedak. Lima lembar uang 100 ribu, tip yang tidak pernah ia dapatkan dalam satu hari kerja.
"Ini tip kamu, saya bayar di awal."
Rina ragu. "Pak, apa nggak kebesaran?"
"Ambil saja, atau mau saya tambah lagi?"
Rina membeku. Dadanya berdebar. Ini jelas bukan sekadar tip baik hati.
Tapi tangannya sudah bergerak sendiri, mengambil uang itu.
"Terima kasih, Pak."
Rudi tersenyum puas. "Bagus. Ayo, mulailah memijat. Buat saya nyaman."
Rina menggigit bibir bawahnya. Ia tahu persis maksud pria itu. Ini bukan pertama kalinya dia mendapat klien yang meliriknya lebih dari sekadar terapis.
Tapi uang di tangannya, lipstik baru yang ia idamkan, sepatu idaman yang dijual di etalase toko, semua itu melintas di kepalanya.
"Tentu, Pak," sahut Rina.
Rina mulai memijat bahu Rudi dengan gerakan pelan, sengaja sedikit berbeda dari teknik standar. Tangan pria itu sesekali menyentuh pahanya. Ia membiarkan teringat uang tip tadi.
"Rina, kamu sudah menikah?" Suara Rudi memecah keheningan.
Rina berhenti sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Ini pertanyaan berbahaya.
"Sudah, Pak."
"Suami kerja apa?"
"Kuli bangunan."
Rudi tertawa kecil. "Suaminya kuli? Cantik-cantik beginu? Sayang sekali."
Rina menelan ludah. Tangan Rudi kini meraih pergelangan tangannya, menghentikan gerakan pijatan.
"Kalau saya tawari sesuatu yang lebih baik?"
"Saya tidak mengerti maksud Bapak," sahut Rina berusaha tenang.
Rudi bangkit dari ranjang, berdiri tepat di depannya. Aroma parfum mahal menusuk hidung Rina.
"Saya duda. Dua hari yang lalu saya ke sini dan tertarik saat lihat kamu." Rudi memindai area dada Rina yang big size, lama.
Rina agak risih dilihat terlalu lama di area dadanya.
Rudi memasukkan kartu nama ke saku seragam Rina. "Hubungi saya kalau perlu bantuan apa-apa."
Jelas, jelas sekali Rina merasakan sentuhan nakal jari Rudi saat memasukkan kartu namanya ke saku bajunya tepat di area dada. Tapi entah kenapa Rina membiarkannya.
Rudi melangkah keluar ruangan, meninggalkan Rina dengan perasaan campur aduk. Di genggaman tangannya, lima lembar uang merah terasa panas. Di saku seragamnya, kartu nama bertuliskan,
Rudi Hartawan - CEO Hartawan Properti