
Tukang Pijat Dengan Sistem Plus+
Lailiela|Bersambung
- Jumlah kata
- 117.1K
- Popular
- 6.2K
- Subscribe
- 887
- Jumlah kata
- 117.1K
- Popular
- 6.2K
- Subscribe
- 887
Sinopsis
Dikhianati istri, dihina karena hanya seorang tukang pijat, hingga diusir dari rumahnya sendiri. Nasib Beni Ardiansyah semakin tragis setelah menjadi korban tabrak lari. Di ambang kematian, ia memperoleh Sistem Pijat Plus+ yang mengubah hidupnya. Dengan kemampuan pijat yang terus berkembang, Beni bangkit menjadi terapis paling dicari, membuat mereka yang dulu meremehkannya menyesal, sementara banyak wanita tertarik untuk berada di sisinya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Sore itu, matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan cahaya jingga yang menyelimuti hamparan persawahan.
Seorang pria melangkah tergesa-gesa di jalan setapak, seolah tak sabar ingin segera tiba di rumah. Tangan kanannya menggenggam erat tas kecil berbentuk persegi yang berisi minyak urut dan minyak aromaterapi.
Wajahnya tampak gelisah sambil mengernyitkan dahi, pria bernama Beni Ardiansyah seorang tukang pijat keliling yang berwajah tampan, kesehariannya dihabiskan untuk berkeliling mencari pelanggan untuk dipijat, diurut, atau jika ada yang salah urat atau hanya sekedar dipijat biasa mereka bisa menyewa jasa Beni.
Dengan cara itulah ia mencari nafkah sehari-hari untuk menghidupi keluarga kecilnya yang berharga. Beni yang merupakan suami sekaligus ayah yang sangat bertanggung jawab, pekerja keras untuk keluarganya
Namun, hampir setiap kali Beni memijat pelanggan yang masih satu kampung dengannya, obrolan mereka selalu mengarah pada hal yang sama. Mereka tanpa ragu menceritakan gosip tentang istrinya yang dikabarkan diam-diam berselingkuh dengan pria lain.
Entah karena merasa iba atau sekadar ingin menyampaikan kabar yang beredar, mereka terus membahasnya di hadapan Beni. Meski mendengar tudingan itu berulang kali, Beni tidak pernah memberikan tanggapan. Wajahnya tetap datar, kedua tangannya terus memijat tubuh pelanggan dengan tenang hingga sesi pijat selesai, seolah tidak ada satupun ucapan yang mampu menggoyahkan dirinya.
Dalam hati Beni tidak pernah mencurigai istrinya karena mereka menikah karena cinta dan saling menyukai. Bahkan ia lebih percaya ucapan istrinya yang bernama Dina selama lima tahun sudah menjalin rumah tangga dengannya. Namun, bohong jika sekarang ia tidak merasa curiga.
Sepanjang perjalanan pulang, ucapan pelanggannya terus terngiang di benak Beni. Meski selama ini ia selalu mengabaikan gosip tentang perselingkuhan istrinya, entah mengapa kali ini hatinya diliputi firasat buruk. Tanpa sadar, ia mempercepat langkahnya menuju rumah.
"Haah … apa yang aku pikirkan? Itu tidak mungkin, istriku selalu bersikap baik padaku. Tapi aku ingin pulang untuk membuktikan kalau yang mereka katakan itu tidak benar!" Beni mencoba menepis prasangka buruk di pikirannya.
Sambil bergumam seorang diri dan terus melangkahkan kakinya meski tidak biasanya hari ini ia mencoba untuk pulang lebih awal meski lebih sering pulang malam bahkan sampai larut malam.
Hingga rumah sederhana miliknya sudah terlihat di depan, tidak butuh waktu lama Beni akhirnya sampai di depan rumahnya.
Tetapi di luarnya sepi bahkan anak perempuan kecilnya tidak terlihat jadi ia pun masuk.
"Haah … ahnggh! Mass Sugeng, enak banget Mass!" desahan Dina terdengar dari luar kamar sempit milik mereka.
Degh!
Jantung Beni langsung terasa seperti diremas-remas mendengar suara desahan istrinya yang bermain dengan pria lain. Mendesah sambil menyebutkan nama pria lain membuat Beni merasa sangat tidak menyangka.
Tangannya segera menyentuh dinding tembok rumahnya. Emosi dan rasa kecewa di dadanya terasa bergejolak, pandangannya mengeras hingga urat di pelipisnya terlihat jelas.
Gagang pintu di depannya terasa dingin saat Beni memegangnya. Namun, dengan cepat ia mendorong masuk pintu ke dalam hingga akhirnya terbuka lebar.
Brak!
Pintu terhempas ke sisi tembok lain, Beni berdiri di ambang pintu dengan matanya yang melebar melihat ke arah Dina dan Sugeng yang sedang bersenggama di atas kasur tempatnya tidur.
Tubuh telanjang keduanya yang sedang bercocok tanam membuat pandangan Beni semakin mengeras.
Sementara Dina sangat terkejut saat melihat suaminya pulang ke rumah dan melihat dirinya bersama pria lain yang sedang menusuknya dari belakang. Dengan posisi sangat memalukan membuat mereka melihat ke arah Beni yang berjalan mendekat ke tepi ranjang.
Tangan Beni menarik rambut Sugeng lalu membuatnya turun dari ranjang.
"Bajingan ini!"
Bukh!
Tanpa aba-aba Beni menghajar pipi Sugeng hingga memar. Namun, Dina yang terkejut tidak sempat untuk menjelaskan situasi langsung menutupi tubuhnya.
Sedangkan Sugeng yang baru saja mendapatkan bogem mentah di wajahnya langsung meninjau balik Beni.
Bukkh …!
Rasa pukulan Sugeng lebih keras dari yang pukulan Beni. Dia yang tidak terima di hajar begitu saja pria seperti Benj membuatnya tidak terima. Namun, belum sempat Beni membalas dan bangun Sugeng kembali menghajarnya.
Bukh, pakh, bukh!
Melihat suaminya yang dipukuli oleh Sugeng membuat Dina takut, jika nanti Sugeng sampai menghabisi Beni.
"Tidak, Sugeng hentikan! Jangan pukul dia lagi!" cegat Dina.
Dengan wajah cemas sampai terlihat pucat Dina yang masih berkeringat bekas olahraga dengan Sugeng. Ia menahan tubuh pria itu agar tidak memukul Beni.
Rasa sakit yang dirasakan oleh Beni membuat nya menyentuh bagian dada dan perutnya. Mulutnya berdarah karena sudut bibirnya terluka belum lagi gusinya juga terasa pecah akibat tonjokan itu.
"Jangan menahanku! Kamu lihatkan tadi suamimu sendiri yang sudah memukulku duluan!” protes Sugeng yang merasa dirinya paling benar sendiri.
Mendengar itu Beni yang berusaha berdiri kembali mencoba untuk menarik tubuh Dina ke arahnya. "Kamu benar-benar tega sama aku dan Seli—anak kita, Din!"
Tiba-tiba Dina yang tadinya masih ingin membela dirinya berubah setelah mendengar ucapan Beni barusan.
"Apa kamu tahu kenapa aku berselingkuh?"
Suara istrinya terdengar dingin dan matanya menatap tajam pada Beni.
"Apa maksudmu?"
“Kamu bahkan tidak pernah cukup menafkahiku! Selama ini Mas Sugeng yang memberikanku uang tambahan itulah mengapa kebutuhan kita cukup, seharusnya kamu berterima kasih!”
Beni yang merasa kalau selama ini dirinya telah berusaha memberikan nafkah dan kehidupan yang setidaknya berkecukupan ternyata di mata istrinya hal itu tidaklah berarti.
"Semua uang hasil pijat yang kamu berikan itu tidak pernah cukup! Kamu hanya memberikan dua ratus ribu sehari mana cukup!" Dina menunjuk-nunjuk bagian bahu Beni sengaja mengenainya.
“Cih, kasih nafkah istri saja tidak becus sekarang sok-sok an merasa paling dikhianati!” Sugeng menatap Beni sambil merendahkannya.
Namun, Beni tidak diam saja. "Kamu seharusnya tidak ikut bicara, ini masalah rumah tanggaku!”
"Mas Sugeng keluar dulu sebentar biarkan aku mengakhiri ini dengannya. Nanti aku akan menemui Mass lagi kalau sudah selesai.”
Tangan Dina mendorong pelan tubuh Sugeng keluar pintu.
“Tapi nanti pastikan kamu cerai sama dia!” teriak Sugeng saat di pinggir pintu.
Beni menatap nanar istrinya, ia tidak menyangka kalau istrinya baru saja berjanji pada pria lain untuk menceraikan dirinya.
Setelah Sugeng pergi Dina menghadap Beni yang sedang penuh luka memar di wajahnya.
"Baiklah, aku menyetujuinya," jawab Beni tanpa penolakan sebelum Dina mengatakan cerai karena ia tahu wanita itu pasti akan meminta diceraikan.
Rumah tangganya kini benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Namun, ia berniat untuk setidaknya hidup bersama putri kecilnya.
"Aku ingin kamu menyerahkan hak asuh Seli padaku!"
Ucapan Beni menghentikan langkah Dina saat hendak keluar dari kamar.
"Tidak bisa, Seli tidak akan tinggal bersamamu karena kamu tidak memiliki hak atasnya!" tolaknya.
Mendengar itu Beni merasa bingung bagaimana mungkin ia tidak ada hak atas anak kandungnya sendiri.
"Tapi dia adalah anak kandungku!" sanggahnya.
"Anak?” Alis Dina terangkat satu seolah sedang meremehkan Beni.
Daftar bab
116 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
116 bab








