

Ruang penyimpanan server di lantai bawah tanah lantai tiga Aethel Corp selalu memiliki atmosfer yang konstan: dingin yang menusuk, pengap karena sirkulasi udara yang minim, dan aroma khas perangkat elektronik yang menyala terlalu lama bercampur dengan uap kopi instan yang sudah mendingin di dalam cangkir plastik. Di pojok ruangan, di bawah pendaran lampu fluoresen yang berkedip tidak stabil setiap beberapa menit sekali, Arka masih duduk tegak menatap layar laptopnya. Jari-jarinya bergerak dengan ritme yang lambat namun pasti, sesekali menekan tombol arah pada keyboard untuk memeriksa baris kode program usang yang sedang dia amati.
Sebagai siswa magang dari jurusan Rekayasa Perangkat Lunak di salah satu SMK negeri kota fiktif Neo-Sansekala, tugas Arka sebenarnya sangat membosankan dan jauh dari kata keren. Dia tidak diberi tanggung jawab untuk membangun kecerdasan buatan atau merancang sistem keamanan tingkat tinggi bagi korporasi teknologi terbesar di kota tersebut. Tugasnya selama tiga minggu terakhir hanyalah melakukan tugas pemeliharaan tingkat rendah: memilah, mengategorikan, dan menghapus berkas-berkas data usang dari hard disk eksternal lama yang sudah tidak terpakai oleh divisi administrasi.
Namun, sore itu, sebuah berkas teks dengan nama acak yang terdiri dari kombinasi huruf dan angka—`0x_Sansekala_Core.txt`—menarik perhatiannya. Berkas itu tersembunyi di dalam direktori sistem yang paling dalam, sebuah folder yang bahkan tidak memiliki indeks dalam sistem pencarian standar windows. Ketika Arka membukanya, baris-baris kode di dalamnya sama sekali tidak menggunakan sintaksis bahasa pemrograman modern yang pernah dia pelajari di sekolah seperti Python, Java, atau C++. Struktur kodenya sangat aneh, menyerupai pola geometris simetris berulang yang membentuk rangkaian fungsi matematika yang rumit namun sangat presisi. Setiap baris instruksi tidak diakhiri dengan titik koma, melainkan dengan urutan karakter khusus yang menyerupai simbol-simbol kuno.
"Arka, sudah hampir jam lima sore. Petugas keamanan gerbang bawah akan mengunci pintu lorong utama sepuluh menit lagi," kata Rania dari balik meja seberang. Suara gesekan kardus terdengar saat gadis itu mencoba menyusun tumpukan dokumen fisik ke dalam kotak penyimpanan. Rania adalah siswi magang dari jurusan administrasi perkantoran yang ditempatkan di ruangan yang sama. Berbeda dengan Arka yang selalu tampak serius di depan monitor, Rania lebih pragmatis dan hanya ingin menyelesaikan jam magangnya dengan tenang agar bisa segera pulang dan berburu takjil atau camilan di pasar malam dekat kosnya.
"Tunggu sebentar, Rania. Tolong beri aku waktu lima menit lagi. Ini ada satu berkas yang sangat janggal di dalam server cadangan ini," jawab Arka tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar laptop ThinkPad usang miliknya. Sifat keras kepala Arka mulai muncul. Dia adalah tipe orang yang memiliki obsesi berlebihan terhadap logika. Baginya, setiap kegagalan sistem, setiap error, dan setiap anomali dalam dunia komputer pasti memiliki alasan ilmiah yang bisa dilacak kodenya. Konsep tentang takhayul, nasib buruk, atau hal gaib hanyalah alasan yang diciptakan oleh orang-orang malas yang tidak mau meluangkan waktu untuk membaca dokumentasi source code secara menyeluruh.
"Tinggalkan saja berkas lama itu, Arka. Itu urusan tim IT senior atau pegawai tetap di lantai atas, bukan tugas anak magang gratisan seperti kita yang bahkan tidak punya akses ke ruang kafetaria utama," sahut Rania sambil berjalan mendekat. Dia berdiri di belakang kursi Arka, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap layar komputer dengan pandangan bosan. "Lagipula, melihat kodenya saja sudah membuat kepalaku pusing. Itu seperti coretan acak yang rusak karena virus komputer lawas."
Rasa penasaran Arka jauh lebih besar daripada rasa takutnya melanggar peraturan atau dikunci oleh satpam. Melalui terminal perintah, dia mengarahkan kursor menggunakan mouse, membuka akses penuh administrator lokal, dan mengetikkan perintah eksekusi langsung. Jarinya menggantung selama satu detik di atas tombol terbesar pada keyboard. Tanpa ragu, Arka menekan tombol Enter untuk menjalankan perintah run pada baris kode misterius tersebut.
Seketika itu juga, atmosfer di dalam ruangan berubah total.
*Bzzzt... Duar!*
Terdengar suara letupan kecil yang tajam dari dalam lemari besi tempat deretan modul server utama diletakkan di belakang mereka. Suara dengung kipas pendingin yang biasanya bising dan konstan mendadak senyap seketika. Seluruh lampu indikator LED yang tadinya berkedip hijau dan kuning dengan riang di permukaan mesin langsung padam total. Ruangan bawah tanah lantai tiga itu terperosok ke dalam kegelapan yang pekat dan absolut. Pendingin ruangan berhenti berembus, menyisakan keheningan yang mendadak terasa begitu padat, berat, dan mencekam, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam ruangan ikut terhisap habis dalam satu detik.
"Kan, apa aku bilang! Kamu malah merusak fasilitas kantor!" keluh Rania dari kegelapan. Suaranya tidak lagi terdengar kesal, melainkan agak bergetar hebat. Kegelapan di bawah tanah selalu memicu insting pertahanan diri manusia. "Arka, cepat nyalakan lampu ponselmu. Aku tidak bisa melihat jalan keluar."
Arka tidak menjawab. Dia meraba saku celana abu-abunya, mengeluarkan ponselnya, dan menekan tombol daya berkali-kali. Layar ponselnya tetap hitam mati total. Dia mencoba menekan tombol power pada laptopnya, namun perangkat itu juga tidak memberikan respons atau tanda-tanda kehidupan, bahkan lampu indikator pengisian daya pun mati. Arka mengernyitkan dahi di tengah kegelapan. Secara logis, jika terjadi arus pendek yang membakar sirkuit utama gedung, perangkat bertenaga baterai mandiri seperti ponsel dan laptop seharusnya tetap menyala. Ini adalah anomali fisik yang tidak masuk akal.
Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai. Satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu kini bukan berasal dari gawai mereka, melainkan dari pendaran redup berwarna biru kehijauan—warna cyan yang tajam—yang perlahan muncul dari celah-celah ubin lantai semen di bawah kaki mereka. Pendaran cahaya itu mengalir seperti cairan menyala, membentuk pola-pola garis lurus yang kaku dan presisi, mirip dengan diagram jalur sirkuit sebuah motherboard raksasa yang tertanam di bawah fondasi gedung Aethel Corp.
Arka tertegun. Logikanya masih mencoba mencari pembenaran ilmiah. Mungkin ada lapisan cat fosfor darurat yang ditanam di bawah lantai untuk panduan jalur evakuasi saat kebakaran? Namun, penjelasan rasional itu patah total saat dia mengalihkan pandangannya ke arah Rania yang berdiri dua langkah di sampingnya.
Di belakang tubuh Rania, udara yang tadinya dingin mendadak tampak bergelombang dan bergetar hebat, mirip dengan fenomena uap panas yang keluar dari permukaan aspal jalanan di siang hari yang terik. Gelombang udara itu perlahan-lahan memadat, menarik partikel debu dan bayangan kegelapan di sekitar ruangan untuk membentuk sebuah siluet tinggi yang mengerikan. Makhluk itu memiliki tinggi hampir dua setengah meter, dengan sepasang lengan kurus yang menjuntai sangat panjang hingga ujung jarinya menyentuh lantai semen. Sosok itu tidak memiliki mata, hidung, atau mulut yang jelas; wajahnya hanyalah kekosongan hitam pekat, namun tepat di bagian dahi, terdapat sepasang titik putih berpendar yang menyala terang seperti api kompor gas, menatap lurus ke arah pundak Rania dengan tatapan yang dingin dan lapar.
Jantung Arka mendadak berdegup sangat kencang hingga suaranya terdengar di telinganya sendiri. Hawa dingin yang sangat ekstrem mendadak berembus dari arah makhluk itu, membuat bulu kuduknya berdiri dan napasnya mengembus keluar berupa uap putih tipis. Arka memejamkan mata lalu membukanya kembali, mengucek kelopak matanya beberapa kali dengan kasar. Dia berharap apa yang dilihatnya hanyalah halusinasi visual akibat kelelahan bekerja menatap monitor dari jam delapan pagi tanpa istirahat yang cukup. Namun, sosok tinggi hitam itu tetap berdiri di sana, bahkan kini mulai melangkah maju dengan gerakan kaki yang kaku dan patah-patah, mengeluarkan suara gesekan tumit yang menyeramkan di atas semen basah.
"Rania... demi apa pun, jangan bergerak seonggok pun," bisik Arka dengan suara yang tertahan di tenggorokan, nyaris tidak terdengar. Segala teori sains, rumus fisika, dan logika dunia digital yang dia percayai serta pelajari dengan tekun selama tujuh belas tahun hidupnya mendadak runtuh dan hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
Rania yang merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk di tengkuknya mulai didera kepanikan hebat. Tubuhnya gemetar, namun dia cukup cerdas untuk menuruti nada ketakutan dalam bisikan Arka. Dia tidak berani menengok ke belakang, meskipun dia bisa merasakan ada sesuatu yang sangat besar dan asing sedang membungkuk di atas kepalanya. Sosok makhluk itu perlahan mengangkat tangan kanannya yang panjang dengan jari-jari meruncing hitam, bersiap untuk menyentuh pundak Rania yang rapuh.
*Brak!!!*
Pintu besi tebal akses masuk ruang server mendadak terbuka kasar dari luar, menghantam dinding dengan suara dentuman keras yang menggema di seluruh koridor bawah tanah. Seseorang melangkah masuk dengan santai di tengah kegelapan yang diterangi sirkuit biru tersebut. Orang itu tidak mengenakan pakaian pelindung atau membawa senjata api. Dia hanya mengenakan kemeja kerja biasa dengan lengan yang digulung hingga siku, dan di tangan kanannya, dia memegang sebuah keyboard komputer berbahan plastik tebal bersasis besi yang dia sambar dari meja resepsionis depan lorong.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau membaca mantra apa pun, pria itu melompat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Dia mengayunkan keyboard besi itu dengan satu gerakan memutar yang sangat kuat, presisi, dan bertenaga, langsung menghantam tepat ke arah bagian kepala atau titik menyala sosok hitam besar tersebut.
*Plak! Kretak!*
Suara benturan keras antara plastik tebal, besi, dan sesuatu yang padat menggema di dalam ruangan. Sosok makhluk tinggi itu terhuyung ke belakang akibat hantaman yang begitu telak. Tubuhnya bergetar tidak stabil selama setengah detik, mengeluarkan suara mendesis nyaring mirip dengan suara tegangan listrik tinggi yang bocor, sebelum akhirnya seluruh wujud hitamnya terurai menjadi kepulan asap hitam pekat yang dingin dan menghilang sepenuhnya ke dalam udara, terserap kembali oleh celah-celah ubin lantai yang bersinar.
Seketika itu juga, lampu-lampu fluoresen di langit-langit ruangan mendadak menyala kembali dengan suara dengung keras, membuat mata Arka dan Rania terasa sangat perih dan silau karena perubahan cahaya yang mendadak. Dengung kipas server kembali menderu, menandakan aliran listrik telah normal kembali.
Gavin berdiri tegak di tengah ruangan, tepat di samping Rania yang langsung jatuh terduduk di lantai karena lemas. Gavin memegang keyboard komputer yang kini posisinya sudah melengkung rusak, dengan beberapa tombol huruf seperti 'A', 'S', dan 'Control' yang sudah lepas dan berserakan di atas lantai semen. Gavin adalah mentor magang mereka, seorang programmer senior di Aethel Corp yang terkenal sangat pendiam, jarang tersenyum, dan selalu mengabaikan pertanyaan-pertanyaan tidak penting dari anak magang.
Pria itu mengembuskan napas panjang dengan santai, merapikan kembali kerah kemeja kerjanya, lalu menatap Arka dengan pandangan jengkel yang sangat mendalam.
"Kalian berdua, kemasi semua barang kalian ke dalam tas sekarang, dan ikuti saya ke ruang tengah divisi keamanan. Jangan ada yang tertinggal," kata Gavin dengan suara datar tanpa emosi, seolah-olah memukul hantu setinggi dua meter menggunakan keyboard adalah bagian dari rutinitas harian dalam deskripsi pekerjaan IT support di perusahaan ini.
______________