
Juang Mengawini Putri Taipan
Lee Seulbi|Bersambung
- Jumlah kata
- 30.5K
- Popular
- 117
- Subscribe
- 39
- Jumlah kata
- 30.5K
- Popular
- 117
- Subscribe
- 39
Sinopsis
Han Juang adalah seorang mantan narapidana, bekerja hanya sebagai montir di bengkel kecil miliknya sendiri. Saat frustrasi karena dikhianati kekasih yang akan dinikahinya, dia mabuk. Terbawa perasaan, tanpa sadar meniduri gadis tersesat yang ditolongnya, Krystal Liberty. Usut punya usut, gadis itu ternyata adalah putri seorang taipan—Sadam Liberty, penguasa bisnis properti dan perhotelan ternama kota. Sampai akhirnya Krystal dinyatakan hamil. Tanpa kualifikasi dan standar tinggi menantu Liberty, Juang bertanggung jawab—menikahinya. Apakah rumah tangga mereka akan berjalan mulus? Atau justru menjebak Han Juang si jelata dalam neraka?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1—Awal Mula Bertemu
Letak bengkel masih sekitar seratus meter dari jaraknya berjalan saat ini.
Ada konser gratis tanpa karcis sebuah band kenamaan di lapangan ujung yang membuat keadaan mendadak sepi di sekitaran.
Semua orang tumpah ruah ke acara itu. Bagi lelaki 27 tahun itu sendiri, lebih enak mendengarkan musik di yutup menggunakan headset sambil merebah. Dia tidak suka riuh keramaian yang membuat kusut urat kepala.
Han Juang.
Kantong plastik hitam berisi satu bungkus nasi rawon terayun-ayun di kiri tangannya, baru dia beli di kedai Mak Sugeng, satu-satunya yang masih buka di area Palang Pintu tempatnya hidup.
“Nggak! Nggak mau! Jangan paksa aku!”
Samar-samar teriakan tertangkap telinga, terhenti langkah Juang untuk menguatkan pendengarannya. “Suara siapa tuh?” tanyanya pada diri sendiri.
“Tolong! Aku gak mau ikut! Toloooong!”
Jelas bertambah, bukan dari radio pos ronda yang biasa diputar hansip. Juang tidak salah dengar. Telinganya masih berfungsi dengan sangat baik. Dia yang ganteng tidak congèan.
Langsung dia bergerak setelah bisa memastikan arah teriakan yang ditangkapnya.
Asalnya dari belakang bangunan kecil yang mengarah ke bagian palang pintu kereta api.
Sejurus pandangan Juang mendapatkannya. Ada dua orang sedang tarik menarik antar pria dan wanita. Sepertinya tidak menguntungkan salah satunya—si wanita.
“HEY!!”
Teriakannya lantang, membuat terentak dua orang di sana, menoleh bersamaan padanya dengan ekspresi sama, namun berbeda makna.
Dan wanita itu langsung berteriak meminta padanya, “TOLONGIN AKU!” Sambil kakinya terseok maju dan mundur, berusaha melepas diri dari tarikan. “Aku gak mau ikut dia!”
Sementara lelaki yang menariknya tidak menyerah, terus berusaha ingin gadis itu masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka. “Diem kamu! Ayo ikut!”
“Gak mau! Aku gak mau! ... Tolooong!”
Respon cepat Han Juang. “Lepasin, Bangsad! Gua patahin tangan lu, mau?!” Mendadak sok jagoan, sambil melangkah cepat ke arah mereka.
“Jangan ikut campur lu! Dia cewek gua!” hardik si lelaki, tampangnya pendek dengan tubuh berisi, hidungnya pesek berlubang besar.
“Bohong! Dia orang jahat! Aku gak kenal dia!”
“Diem!”
“Gua bilang lepasin!” ulang Juang. Dua tarikan saja, dia berhasil memisahkan wanita itu dari cekalan si pria pesek.
“Bangsad! Berani lu, ya—”
BUG!
Satu bogeman mentah kepalan tangan Juang berhasil mendarati rahang, pria pendek itu tersungkur dengan hidung menciprat darah.
“Sialan! Muka gua!”
Sekali lagi ...
BUG!
Lagi ....
BUG!
Dan berulang sekian kali, pria pendek tidak sempat melawan—sama sekali tidak.
“AMPUN! Gua pergi! Gua pergi! Jangan pukul gua lagi! Ampun!”
Juang mengabulkannya, pria itu terbirit pergi dengan mobil sedan yang dikendarainya, dalam keadaan wajah setengah bonyok.
Setelah sedan menghilang dan suasana kembali hening, Juang berbalik badan untuk melihat keadaan gadis yang baru saja ditolongnya. “Kamu gak apa-apa, 'kan?”
Dengan kaki gemetar, Gadis itu mendekatinya.
“Aku ... baik-baik aja. Makasih.”
“Sama-sama,” balas Juang, lalu bertanya tentang hal lain, “Kamu dari mana? Ngapain di sekitar sini malem-malem?” Seraya menyapu tampilan si gadis dari atas sampai ke bawah dengan lirikan. “Gak keliatan kayak belatung jalan,” cicit hatinya.
“Aku lagi cari rumah temanku. Tapi gak ketemu dan malah nyasar ke sini.”
****
Juang membawanya ke bengkel, setelah melihat gadis itu terlalu bingung dan ketakutan.
“Kamu ... kerja di sini?” tanya gadis itu, pelan dan kaku, sambil celingukan mengamati sekitar ruang.
“Iya. Juga tinggal.”
“Tinggal di sini? Di dalam bengkel?” Sembari diterima gadis itu segelas air yang masih hangat dari tangan Juang.
“Ya. Ini kan rumah juga. Cuma ada bengkelnya,” jawab ringan laki-laki itu, mengambil posisi duduk saling bersebrang. Nasi bungkusnya sedikit berantakan karena dibawa sibuk menghajar, dia membukanya tanpa terbeban dengan tampilan. “Makan yuk. Tapi cuma ada satu bungkus aja. Bisa kok dibagi dua.”
“Nggak! Aku gak usah. Kamu aja.”
“Yakin?”
“Iya. Kamu makan aja. Aku masih kenyang.”
“Ya, udah.”
Aroma nasi rawon berkuah kuning menyeruak ke penciuman, Juang tak tahan untuk segera melahapnya karena sudah terlalu lapar. Suap demi suap sibuk ke dalam mulut.
Sosok yang apa adanya, tidak sok menjaga imej, hanya ... sedikit urakan, gadis itu mulai sibuk memerhatikan.
Sepuluh menit kemudian ....
“Kamu mau pulang sekarang, biar kuanter pake motorku?" tawar Juang usai membereskan bekas makannya.
“Ng-nggak! Rumahku jauh di Pusat! Kalo boleh ... aku ... numpang tidur di sini dulu, gimana? Boleh gak?”
Juang melengak.
“Malem iniiii aja! Soalnya besok pagi aku mau pergi buat cari alamat temenku lagi! Kalo pulang akan jauh dan mungkin ayahku gak kasih izin.”
Sedikit menelisiknya karena nada dan eskpresi yang sepertinya dijual terpisah, tapi sadar, Juang tak ada urusan dengan itu selain kewajiban menolong.
“Kamu yakin mau nginep di sini?”
“Ke-kenapa?” Tiba-tiba ada kengerian di wajah gadis itu karena nada pertanyaan Juang.
“Umm ... nggak. Cuma ... di sini berhantu.”
“SERIUS?!” Meja berderak saat gadis itu terperanjat dari tempatnya.
Juang mengangguk, tapi langsung membantah sendiri dengan kekehan. “Aku hantunya.”
Dengan desah napas panjang gadis itu kembali duduk. Lelucon garing, tapi berhasil membuat anjlok isi dadanya. “Jadi boleh, kan?” tanyanya lagi setelah itu.
Tawa Juang mereda, perlahan berganti senyuman tipis untuk kemudian menjawab, “Boleh kok. Tapi kekurangannya ... cuma ada satu kamar aja.”
“Oh, itu ... aku bisa tidur di—”
“Tenang aja! Ada dua kasur, satu punya temanku.”
“Oh.” Lega napasnya, gadis itu tersenyum. “Syukurlah. Sekali lagi makasih ....”
“Juang. Panggil aku Juang. Itu namaku!"
“Ah, ya ... Juang. Makasih buat pertolongannya.”
“Sama-sama. Terus ... aku harus panggil kamu apa?”
“Itu ... Krystal, cukup panggil Krys aja.”
*
*
Pagi harinya di jam tujuh kurang sepuluh.
Sepasang mata mengerjap-ngerjap saat cahaya matahari di balik kaca tanpa gorden menembus wajahnya yang masih kusut.
Bangkit dengan satu telapak tangan bertumpu pada kasur, lalu menyeimbangkan tegak tubuhnya untuk terduduk.
Krystal.
Cukup terkejut dan tersentak, ketika seorang pria didapatinya tidur nyenyak di kasur lain sejarak dua meter dari posisinya berada.
Namun kemudian segera sadar.
“Haa, aku lupa. Malem aku minta nginep di sini,” cicitnya seraya mengusap wajah. “Mati aku kalau sampe Papa tau!”
Di tengah sulit pikiran, dia tertarik untuk menatap wajah Juang yang terlelap miring menghadapnya itu, kemudian terpaku, hingga lamat-lamat kian dalam memerhatikan.
Jika dilihat-lihat dengan seksama, lelaki itu cukup tampan, tubuhnya sangat tinggi untuk standar pria Jakarta.
Sejenak dia mendeskripsikan dengan pikirannya ...
Ternyata bagus rupa itu tidak biasa.
Sepasang mata berbingkai bulu-bulu lentik, alis hitam lebat memayung tegas, hidung mancung mencuat lurus, bibir merah tak tebal tak juga tipis seakan melambai minta dikecup. Hanya kulitnya saja tidak putih, tapi juga tidak begitu pekat.
Tanpa sadar Krystal tersenyum, menikmati suguhan pagi yang berbeda dari biasa kesehariannya.
Sialnya di tengah itu, Juang yang menjadi objek pikirannya tiba-tiba membuka mata, sontak membuatnya gelagapan—membuang pandang cepat-cepat, tidak ingin ketahuan memandangi nakal seperti wanita kelebihan hormon. “Mati aku!”
“Kamu kenapa?” Juang bertanya dengan suara serak, seraya mengangkat tubuhnya untuk duduk. Mengucek mata yang masih membayang khas bangun tidur.
“Ah, aku gak apa-apa!” kilah Krystal. “Cuma kebelet. Mau tanya kamu di mana toiletnya, tapi gak berani bangunin.”
“Oh,” respon biasa Juang, lalu menjelaskan di mana letak kamar mandinya.
Berserta ucapan terima kasih dengan suara kecil, Krystal bergegas bangkit untuk kemudian keluar kamar.
Sampai di tujuan, kembali ada senyuman kagum. Mulai dari kamar tidur hingga berakhir di toilet sekarang, semua bersih dan rapi.
Lelaki itu memang terlihat urakan, tapi semua yang ada di bangunan rumah bengkel ini nampak apik terawat.
Sekian saat setelahnya, dia keluar. Kembali dalam keadaan segar karena sudah membasuh muka.
Sampai di kamar, heran. Tidak ada Juang. Dua kasur sudah dalam keadaan rapi dengan selimut terlipat.
“Mau sarapan?” Terentak, lelaki itu tiba-tiba muncul dengan satu piring berisi macam-macam gorengan di tangan kanan.
“Tapi cuma ada ini. Nasi uduknya keabisan,” kata Juang sambil menaruh piringnya ke atas meja.
“Ah, iya. Gak apa-apa. Makasih," tanggap Krystal, berjalan mengikutinya.
Di meja yang sama, sudah tersaji dua gelas teh dengan asap masih mengepul.
“Makan deh.”
Krystal duduk dengan gerakan ragu. Sepotong pisang goreng diambilnya lalu digigit perlahan.
Sambil mengunyah, sikap Juang Samudra kembali merebut perhatiannya.
Pria itu sibuk melahap makanannya. Sesederhana sikapnya, tanpa sadar dan lagi-lagi, Krystal berani merasa terkesan.
Daftar bab
28 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








